Monthly Archives: June 2008

Menakar Rasionalitas Bangsa dan Skandal Tanjung Kodok

Oleh: Mula Harahap

Tahun 1983 terjadi gerhana matahari total di Indonesia. Mungkin disebabkan oleh panjangnya durasi waktu dan luasnya wilayah yang akan mengalami gerhana, maka sejak jauh hari peristiwa tersebut telah menjadi perhatian dunia internasional. Di Indonesia pun telah disusun berbagai rencana untuk menghadapi peristiwa alam yang jarang terjadi tersebut.

Rupanya peristiwa itu juga dibicarakan oleh Menteri Penerangan Harmoko (waktu itu dia baru beberapa bulan menjadi menteri) dengan Presiden Suharto. Seperti biasa, sehabis pertemuan, Menpen Harmoko menteri keterangan kepada wartawan dan dimulai dengan kalimatnya yang khas itu, “Bapak Presiden memberi petunjuk….”

Menpen Harmoko mengatakan bahwa Presiden meminta rakyat Indonesia agar pada saat gerhana nanti tinggal saja di dalam rumah. Pada waktu itu Indonesia berada dalam pemerintahan rezim totaliter, karena itu tentu saja tidak ada yang berani mempertanyakan apa alasan, atau apa yang ada di benak Presiden Suharto ketika ia mengeluarkan petunjuk yang seperti itu. Ada yang mengatakan bahwa Presiden Suharto kurang mendapat informasi tentang apa sebenarnya gerhana matahari tersebut, karena itu ia menyikapinya dengan ketakutan yang berlebihan.

(Di kemudian hari Harmoko mengatakan bahwa Presiden menyuruh rakyat untuk mengurung diri sebenarnya demi untuk melindungi kesehatan mata rakyat, yaitu agar jangan terlalu lama memandang proses gerhana tersebut dengan mata telanjang. Tapi kalau memang demikian duduk perkaranya, mengapa pula pada saat konferensi pers itu Harmoko–sebagai Menteri Penerangan–tidak memberi penjelasan yang lebih jauh tentang perintah “boss”-nya itu? Berarti dia juga tidak tahu apa sebenarnya gerhana matahari itu).

Continue reading

Advertisements

Ode Untuk Ibu dan Bapak Guru di SD dan SMP

Oleh: Mula Harahap

Tiga ratus sampai empat ratus anak lelaki dan perempuan berbaris di halaman sekolah yang ditaburi cangkang kelapa sawit. Kepala sekolah atau guru olahraga berdiri di depan–di atas sebuah bangku–memberi aba-aba seperti dirigen. Lalu anak lelaki yang kumisnya mulai tumbuh dan suaranya serak dan anak perempuan yang mulai mendapatkan haidnya yang pertama itu pun menyanyilah,dengan terpaksa.

“Immanuel, Immanuel nama sekolah kita. Immanuel, Immanuel Tuhan beserta kita. Rajin belajar sungguh bekerja. Tujuan kita paling utama….” Itulah lagu mars kami ketika masih di SLTP–empat puluh tahun yang lalu.

Tidak terasa waktu berlalu. Kini putera-puteri saya pun telah tamapt perguruan tinggi. Tapi berbagai peristiwa, guru dan teman-teman selama di SLTP dahulu, masih terbayang jelas di mata saya.

Continue reading

Sambar Gledek, Aceh Pungo dan Panggabean Gila Agama

Oleh: Mula Harahap

Bagi anak-anak, orang gila yang bergelandangan di sekitar sekolah tentu merupakan salah satu aspek yang paling sensasional dan menguasai kehidupannya. Orang-orang gila yang bergelandangan di sekitar sekolah selalu membuat hidup tercekam ketakutan dan hati berdebar-debar.

Ketika saya masih duduk di bangku SD, suasana kota Medan belumlah seramai sekarang. Orang-orang miskin dan orang-orang tidak waras, yang bergelandangan di jalan, masih bisa dihitung dengan jari dan dikenal oleh seantero kota.

Saya masih ingat, ketika saya masih di SD , ada seorang wanita kurang waras yang selalu melintas di Jalan Diponegoro. Ia selalu ditemani oleh seekor kera yang bertengger di tengkuknya, seekor kucing dalam kepitan tangan yang satu dan sebuah sapu lidi dalam kepitan tangan yang lain.

Continue reading

Forrest Gump dan Teman-teman Lain Sejak Masa TK

Oleh: Mula Harahap

Saya memiliki beberapa teman semasa TK. Saya masih ingat beberapa dari teman tersebut karena pada umumnya kami bersama-sama melanjutkan ke SD, SMP dan SMA. Walau pun saya melanjutkan pendidikan ke SMA Negeri I, tapi di sana saya memiliki banyak teman dari Immanuel.
Ketika kami tamat SMP, SMA Immanuel masih relatif baru dibuka dan hanya terdiri dari beberapa kelas. Ada perasaan “aneh” untuk bergabung di sebuah sekolah yang muridnya sedikit. Karena itu pergilah kami berbondong-bondong ke SMA Negeri I. Tentu saja suasana di sini sangat hiruk pikuk. Kelas satunya memiliki sepuluh kelas, kelas duanya delapan kelas dan kelas tiganya delapan kelas!

Continue reading

Sebuah Kelas Yang Berbau Karbol

Oleh: Mula Harahap

Saya masuk TK Immanuel tahun 1959. Ketika saya masuk, kelas sudah berjalan selama beberapa bulan. Saya ingat benar akan hal ini, karena teman-teman saya sudah bisa menghafal beberapa nyanyian dan sudah terampil menempel-nempel kertas.

Ketika itu, tahun 1959, seluruh Perguruan Immanuel masih berlokasi di kompleks gereja GPIB, di Jalan Diponegoro. Hanya ada satu SD, yang terdiri dari enam kelas dan enam lokal, serta satu TK. Ruangan TK berada di ujung utara dekat Jalan Cut Meutia. Setahun kemudian, ketika murid-murid kelas enam SD tamat, barulah Immanuel membuka SMP-nya. Dan TK terpaksa dipindahkan ke kompleks asrama Bala Keselamatan di Jalan H. Samanhudi.

Continue reading

Sebuah Pavilun di Jalan Timor

Oleh: Mula Harahap

Ompung mempunyai seorang putera (saya memanggilnya tulang) yang setelah menamatkan MULO di Medan (sebelum kedatangan Jepang) melanjutkan pendidikannya di AMS Yogyakarta. Selama masa pengungsian di Laguboti, yaitu pada masa Penjahan Jepang dan Revolusi Kemerdekaan, kontak antara Ompung dan puteranya terputus. Karena itu bukan main senangnya Ompung ketika selesai Penyerahan Kedaulatan ia menerima surat dari Tulang yang mengabarkan keadaan dirinya baik-baik saja. Dan di dalam suratnya bahkan Tulang mengabarkan bahwa dia telah menikah, bekerja dan menetap di Jakarta. Tulang mengundang Ompung untuk meninggalkan Laguboti dan menetap saja di Jakarta.

Pada masa Revolusi Kemerdekaan, Ompung Lelaki jatuh sakit, meninggal dan dikebumikan di Laguboti. Sementara itu dua puteri Ompung telah pula menikah dan tinggal di kota lain. Karena itu dengan berbagai pertimbangan, terutama masa depan bagi 3 puterinya yang masih remaja (salah satu di antaranya adalah ibu saya), Ompung pun memutuskan untuk berangkat ke Jakarta.

Continue reading

Poti Parpadanan

Oleh: Mula Harahap

Ketika saya masih kanak-kanak, di rumah kami di Medan, tepatnya di kamar tidur Ibu ada sebuah peti berukuran 1 x 0,5 x 0,5 meter yang terbuat dari kayu jati. Kami selalu dilarang oleh Ibu untuk membuka peti tersebut. Sebenarnya kami dilarang untuk membukanya bukan karena
peti itu berisi uang atau rahasia penting, tapi lebih disebabkan karena Ibu tidak ingin kalau peti itu diacak-acak dan isinya berceceran kemana-mana.

Kami menyebut peti tua itu sebagai “poti parpadanan”, terinspirasi dari istilah “peti perjanjian” yang disakralkan dan diusung-usung oleh orang Israel dalam eksodusnya keluar dari Mesir menuju ke Kanaan. Peti itu tadinya lama teronggok di sopo Ompung Perempuan di Laguboti, tapi di kemudian hari oleh Ibu diselamatkan dan dibawa ke Medan. Isinya sebenarnya barang tetek bengek: foto, sketsa, buku tulis, buku bacaan dalam bahasa Belanda, kamera jaman baheula yang sudah tidak berfungsi dsb. Sebagian besar barang-barang itu adalah milik Ompung (ayah ibu) dan adiknya (amangudanya ibu) Hutabarat, yang selama masa Penjajahan Jepang dan Revolusi Kemerdekaan ikut mengungsi di Laguboti, kampung iserinya.Tapi bagi Ibu semua barang tetek-bengek itu tentu saja sangat berharga.

Continue reading