Poti Parpadanan

Oleh: Mula Harahap

Ketika saya masih kanak-kanak, di rumah kami di Medan, tepatnya di kamar tidur Ibu ada sebuah peti berukuran 1 x 0,5 x 0,5 meter yang terbuat dari kayu jati. Kami selalu dilarang oleh Ibu untuk membuka peti tersebut. Sebenarnya kami dilarang untuk membukanya bukan karena
peti itu berisi uang atau rahasia penting, tapi lebih disebabkan karena Ibu tidak ingin kalau peti itu diacak-acak dan isinya berceceran kemana-mana.

Kami menyebut peti tua itu sebagai “poti parpadanan”, terinspirasi dari istilah “peti perjanjian” yang disakralkan dan diusung-usung oleh orang Israel dalam eksodusnya keluar dari Mesir menuju ke Kanaan. Peti itu tadinya lama teronggok di sopo Ompung Perempuan di Laguboti, tapi di kemudian hari oleh Ibu diselamatkan dan dibawa ke Medan. Isinya sebenarnya barang tetek bengek: foto, sketsa, buku tulis, buku bacaan dalam bahasa Belanda, kamera jaman baheula yang sudah tidak berfungsi dsb. Sebagian besar barang-barang itu adalah milik Ompung (ayah ibu) dan adiknya (amangudanya ibu) Hutabarat, yang selama masa Penjajahan Jepang dan Revolusi Kemerdekaan ikut mengungsi di Laguboti, kampung iserinya.Tapi bagi Ibu semua barang tetek-bengek itu tentu saja sangat berharga.

Kadang-kadang kalau “curiousity” kami sudah tidak tertahankan, kami diijinkan juga membuka peti itu, tapi selalu di bawah pengawaan Ibu. Dan itulah saatnya kami bertanya, “Ini apa, Mak? Ini untuk apa, Mak? Ini maksudnya apa, Mak?” Lalu dengan sabar Ibu mencoba menjelaskan apa yang kami tanya.

Sebenarnya tidak ada hal yang istimewa dan luarbiasa dari barang-barang yang ada di dalam peti itu. Tapi dari penjelasan Ibu kami bisa membangun gambaran tentang apa dan bagaimana ompung-ompung dari fihak Ibu itu.

Ternyata ompung lelaki kami dari fihak Ibu–dan adiknya itu–bukanlah lelaki yang garang dan berotot atau kalau menurut istilah jaman sekarang “manly”. Mereka adalah lelaki yang lembut dan yang lebih senang melakukan pekerjaan-pekerjaan berpikir. Karena itu, menurut cerita Ibu, ketika masa pengungsian di Laguboti mereka lebih banyak tinggal di rumah. Ompung Perempuan-lah yang pergi ke sawah dan menjalankan roda kehidupan rumah tangga. Ada pun Ompung Lelaki dan adiknya, yang ketika itu masih pemuda, lebih banyak tinggal di rumah, mengobol dan mencorat-coret sesuatu.

Adik Ompung Lelaki di tahun 1920-an sebenarnya sudah pernah kuliah di jurusan geodesi ITB (yang kala itu dikenal sebagai Bandung Hoghe Technische School). Tapi ia tidak menamatkan kuliahnya. Tentang penyebabnya ada bermacam-macam versi. Ada yang mengatakan bahwa dia
patah hati oleh seorang perempuan Belanda. Ibu sendiri pun, menurut pengakuannya, tidak pernah mengetahui penyebabnya yang pasti. Kalau ditanya, amangudanya itu lebih banyak tertawa dan mengalihkan pembicaraan tentang pengalamannya bekerja di ladang-ladang minyak
di Sumatera Selatan. Memang, setelah drop-out dari ITB ompung yang satu ini bekerja di BPM dan kemudian menjelang PD II kembali ke rumah ayahnya di Pematang Siantar, untuk kemudian tinggal bersama abangnya dalam pengungsian di Laguboti.. Tapi kendati pun tidak berhasil menyelesaikan pendidikannya di ITB, di kalangan keluarga, terutama keluarga Ibu, ompung yang
satu ini–yang notabene hanyalah anak seorang pendeta–telah menjadi mitos. “Dia satu lichting dengan Sukarno,” begitulah selalu kata orang-orang.

Salah satu isi “poti parpadanan” yang membuat kami–ketika masih kanak-kanak–sangat terkagum-kagum ialah 2 (dua) jilid buku ensiklopedi kekristenan yang ditulis dalam bahasa Belanda. Kalau kami berdsikusi tentang surga, neraka, malaikat dsb dengan Ibu maka ia juga selalu membuka buku tersebut. Kata Ibu, dulu kalau orang-orang bertanya tentang hal-hal mengenai surga, neraka atau malaikat, maka ayah dan amangudanya selalu merujuk ke buku tersebut. Ketika saya remaja, sukar bagi saya untuk bisa mencerna bahwa pada situasi perang ada orang yang kerjanya hanya duduk-duduk membaca, berpikir dan berdiskusi tentang surga, neraka dan malaikat.

Barang lainnya yang menarik perhatian dan membuat saya berpikir-pikir ialah sebuah naskah lagu kebangsaan “Provinsi Tapanuli” yang ditulis dengan not-angka. Saya tidak tahu apakah lagu itu digubah oleh Ompung demi mengikuti sebuah sayembara atau hanya atas prakarsa sendiri. Pada waktu itu selama beberapa waktu Indonesia memang pernah memiliki bentuk negara serikat
dan banyak orang yang bermimpi bahwa daerahnya menjadi sebuah negara bagian yang otonom. Dan saya juga tidak tahu apakah lagu itu kemudian pernah diterima dan dinyanyikan orang.

“Poti Parpadanan” juga banyak berisi sketsa-sketsa wajah orang. Rupanya kalau sedang iseng Ompung Lelaki dan adiknya suka mengamat-amati wajah orang dan diam-diam melukiskannya di rumah. Kata Ibu, walau pun Ompung Perempuan suka tersenyum melihat wajah orang yang ada dalam sketsa itu, tapi ia selalu mengatakan kepada suaminya dan “anggi doli”-nya itu agar
menyimpan saja skesa itu baik-baik; jangan diperlihatkan kepada orang banyak.

Coretan-coretan berupa gambar desain suatu teknologi juga banyak kami temukan di dalam “Poti Parpadanan”. Saya suka tersenyum sendiri ketika membayangkan bahwa di jaman yang serba susah ada orang yang membawa pikirannya “melompat” dari realitas sehari-hari dan sibuk memikrkan hal-hal yang terjadi di luar sana.

Foto-foto jaman dahulu juga selalu menarik untuk dilihat dan bisa menceritakan banyak hal. Ada sebuah foto yang memperlihatkan Ompung Lelaki dengan 2 sahabatnya sedang berfoto di sebuah studio. Ketiganya memakai celana dan sepatuh putih, jas ketat warna hitam dan mengepit sebuah topi seperti yang biasa dipakai oleh “tuan-tuan kebun”. Tapi yang menarik ialah bahwa di jari mereka ada cincin. Cincin itu adalah buatan si pemilik studio: pada jari manis ketiga orang itu ditorehkan sebuah cat berwarna keemasan. Karena itu pemandangan menjadi “lucu”. Di permukaan foto yang sudah kusam dan menguning itu ada secercah warna emas yang berkilauan.

“Poti Parpadanan” selalu memberikan kami pelajaran sejarah dan sekaligus sarana untuk mengenali dan mengidentifikasi diri sendiri: Kalau di jaman yang serba susah seperti sekarang ini saya juga cenderung jadi “bodoh”, dan alih-alih berpikir bagaimana caranya mencari uang lebih banyak saya justeru lebih senang membaca-baca dan berpikir-pikir tentang hal yang
“aneh-aneh” dan “tinggi-tinggi”, maka mengertilah saya apa sebabnya. (Kalau adik-adik saya datang ke rumah, kami bisa mengobrol tentang hal-hal yang tak relevan dengan kehidupan kami–tentang Suharto, BBM, kura-kura, sate kerang dsb–sampai lewat tengah malam. Dan isteri saya selalu bingung melihat fenomena itu). Bakat itu ternyata memang sudah ada di dalam keluarga.

Akhirnya, begitulah, saya menulis 2 postingan yang terakhir ini sejak tadi pagi. Isteri saya sudah
berkali-kali menarik nafas panjang melihat ruang tamu yang berantakan dengan gelas sisa kopi, asbak penuh puntung rokok dan kabel komputer berseliweran kesana-kemari. Tapi dia tak berani mengatakan apa pun kepada saya. Paling-paling dia hanya akan mengatakan kepada anak-anak, “Orang itu memang sudah begitu dari sananya. Apa boleh buat?!” [.]

5 responses to “Poti Parpadanan

  1. Nice blog. Please visit me back

  2. Saya nge-klik blog ini karena blog ini tercatat sebagai salah satu yang dijadikan referensi untuk nge-klik blog saya. Ternyata, karena ada tulisan saya yang menjadi “possibly related posts” untuk artikel “Poti Parpadanan”, yaitu “Wanita Tangguh Itu Adalah Ibu”. Kisah yang saya tulis juga tentang seorang ibu, ibu saya sendiri, yang seorang perempuan Jawa asli. Tetapi meskipun ibu seorang perempuan Jawa, ibu memiliki hati dan tekad yang teguh (tidak seperti gambaran umum tentang perempuan Jawa yang lembek).

    Salam kenal untuk Pak Mula. Blognya bagus …

  3. Ternyata kita tidak bisa menghindar dari pepatah,”Buah tak jatuh jauh dari pohonnya”. Ha ha ha….
    Tradisi intelektual dan berbual-bual Tulang ini rupanya mengalir dari “atas”…Sebuah takdir yang mengasyikkan…

  4. Mata adalah jendela hati, pengetahuan adalah jendela dunia. Kenangan yang indah masa dulu dapat menjadi teladan bagi anak cucu nantinya.

  5. Memang, wajah, perilaku dan keseharian ibu kita lebih banyak mewarnai kehidupan kita sehari-hari, namun ayah kita mewarnai kehidupan surgawi kita. Perlu juga dianalisis Pak Mula Harahap. Terima kasih, sungguh kisah keluarga yang luar biasa. Sai gabe ma, sai horas ma. Love, Love n Love. (Todung Ltoruan email: todung_1950@yahoo.com dan situs web: todung.wordpress.com )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s