Sebuah Pavilun di Jalan Timor

Oleh: Mula Harahap

Ompung mempunyai seorang putera (saya memanggilnya tulang) yang setelah menamatkan MULO di Medan (sebelum kedatangan Jepang) melanjutkan pendidikannya di AMS Yogyakarta. Selama masa pengungsian di Laguboti, yaitu pada masa Penjahan Jepang dan Revolusi Kemerdekaan, kontak antara Ompung dan puteranya terputus. Karena itu bukan main senangnya Ompung ketika selesai Penyerahan Kedaulatan ia menerima surat dari Tulang yang mengabarkan keadaan dirinya baik-baik saja. Dan di dalam suratnya bahkan Tulang mengabarkan bahwa dia telah menikah, bekerja dan menetap di Jakarta. Tulang mengundang Ompung untuk meninggalkan Laguboti dan menetap saja di Jakarta.

Pada masa Revolusi Kemerdekaan, Ompung Lelaki jatuh sakit, meninggal dan dikebumikan di Laguboti. Sementara itu dua puteri Ompung telah pula menikah dan tinggal di kota lain. Karena itu dengan berbagai pertimbangan, terutama masa depan bagi 3 puterinya yang masih remaja (salah satu di antaranya adalah ibu saya), Ompung pun memutuskan untuk berangkat ke Jakarta.

Mula-mula Ompung tinggal bersama Tulang dan keluarganya di sebuah rumah di jalan yang sekarang dikenal dengan Jalan Gunung Sahari Lima. Tapi rupanya Ompung dengan 3 puterinya yang masih remaja itu tidak terlalu serasi tinggal di rumah anaknya, apalagi dengan “parumaen” yang bukan wanita Batak: Ada sedikit perbedaan kultural di antara mereka.

Entah bagaimana ceritanya, kebetulan Ompung berkenalan dengan Pdt. Isaak Siagian, yang di awal tahun 1950-an telah menjadi pendeta jemaat di GKI Kwitang–Jakarta. Pada waktu itu di halaman belakang gedung gereja tersebut ada kamar-kamar petak yang disediakan bagi
orang-orang yang tidak mampu secara ekonomi sebagai bagian dari pelayanan diakonia GKI Kwitang. Waktu itu kamar-kamar tersebut dikenal sebagai “rumah miskin”. Ke sanalah Ompung pindah dengan ketika anaknya yang masih remaja tersebut. Hubungan Ompung dengan Tulang
tetap saja berjalan baik. Secara periodik Tulang selalu menjenguk ibunya.

Tapi kabar bahwa Ompung sudah tinggal di “rumah miskin” ternyata sampai juga ke Laguboti. Dan
sanak-famili tidak pernah mengerti apa yang terjadi. Tapi Ompung sebenarnya sangat “happy” dengan keadaannya itu. Selama tinggal di “rumah miskin” itu dua adik Ibu (inanguda saya) sempat menyelesaikan pendidikan SMP yang terputus pada masa Revolusi Kemerdekaan, dan kemudian melanjutkan ke SMA dan perguruan tinggi. Ibu memang kurang beruntung. Ketika Jepang masuk ia hanya sempat menamatkan HIS (setingkat SD) dan setelah itu tidak pernah lagi bersekolah. Ketika ia tiba di Jakarta usianya sudah terlalu tua untuk masuk di SMP. Karena itu ia merasa malu. Akhirnya ia hanya mengambil kursus menjahit di sebuah pendidikan yang diselenggarakan oleh seorang Belanda di Jalan Jawa atau yang kini dikenal sebagai Jalan H.O.S.
Cokroaminoto. Kalau kami sekarang melintas di jalan tersebut, Ibu selalu berkata, “Di sinilah dulu aku belajar membuat desain, menggunting dan menjahit pakaian……” Kadang-kadang kalau mengenang tentang hilangnya kesempatan pendidikan bagi dirinya Ibu selalu berkata, “Sebenarnya kalau tidak keburu terjadi perang, dan aku bisa bersekolah dengan baik, aku sudah menjadi pengacara yang bisa membela orang-orang miskin….”

Perkenalan dengan Pdt. Isaak Siagian (Ompung selalu memanggilnya “ito”), dan kesempatan tinggal di rumah diakonia GKI Kwitang, menyebabkan Ompung menjadi anggota GKI Kwitang. Dengan aksen Batak-nya yang kental Ompung selalu bangga menyebut dirinya, “Anggota
gareja hereformert….”, dan dia fasih menyanyikan lagu-lagu “Tahlil dan Nyanyian Rohani” karangan I.S. Kijne itu.

Pada masa pemudinya Ibu juga aktif dalam perkumpulan Pemuda GKI Kwitang. Salah seorang puteri Pdt. Isaak Siagian, yaitu Ny. Rondang Sugianto br. Siagian, yang aktif dalam organisasi gereja, kalau bertemu dengan saya selalu berkata dengan mata berkaca-kaca, “Dulu aku bergaul dengan ibumu. Kemudian ketika kau menjadi Penatua, aku bergaul dengan kau. Kemudian ketika
puterimu aktif di Komisi Sekolah Minggu, aku bergaul dengan puterimu….”

Beberapa tahun kemudian–masih di awal tahun 1950-an–Tulang mendapat rumah yang lebih besar di Jalan Timor–Menteng. Rumah tersebut memiliki paviliun. Dengan senang hati Ompung kembali tinggal bersama anaknya. Tapi tak lama setelah itu Tulang kembali mendapat sebuah rumah yang jauh lebih baik lagi di Jalan Tosari (yang kini dikenal sebagai Jalan Mohtar Kusumaatmaja). Rumah di Jalan Timor tersebut dioperkan Tulang kepada Kiai Haji Hasan Basri yang di kemudian hari pernah menjadi Ketua MUI. Tapi rupanya Ompung sudah merasa kerasan tinggal di paviliun rumah di Jalan Timor tersebut. Karena itu dengan Kiai Haji Hasan Basri tulang membuat “arrangement” bahwa paviliun tersebut baru akan diserahkan kepadanya setelah Ompung tidak ada. Memang di tahun awal tahun70-an setelah Ompung meninggal dunia barulah
paviliun tersebut diserahkan. Dan kebetulan waktu itu semua puteri Ompung yaitu Ibu dan kedua adiknya telah pula berumah-tangga.

Ketika masih kanak-kanak–dan tinggal di Medan–saya pernah beberapa kali berlibur ke Jakarta dan tinggal bersama Ompung di Jalan Timor. Bahkan selama 6 bulan saya sempat bersekolah di PSKD Jalan Sam Ratulangi. Banyak hal yang membuat saya senang dan betah tinggal bersama Ompung.

Pertama, tentu saja, bahwa Ompung sangat fasih berbahasa Indonesia. Walau pun kami dibesarkan dalam rumah dimana ayah dan ibu selalu memakai bahasa Batak, tapi sebagai anak-anak yang dibesarkan di Medan, kami tidak terlalu fasih memakai bahasa tersebut. Karena
itu memiliki Ompung yang bisa berbahasa Indonesia tentu saja adalah sebuah hal yang “lux”.Di tahun 1960-an Ompung berlangganan koran Sinar Harapan. Kalau sore hari Ompung akan mengambil kacamatanya dan duduk di teras membaca koran tersebut sampai tuntas.

Salah satu kenangan yang saya ingat dari Ompung ialah ketika kami mendengarkan laporan pandangan mata (lewat radio) final peebutan Piala Thomas antara Indonesia dan Denmark di Tokyo. Setiap kali pergantian set, Ompung selalu berjalan ke pojok kamar dan berdoa untuk
Ferry Soneville, Tan Joe Hok dkk. Memang waktu itu Piala Thomas dimenangkan oleh Indonesia dengan skor 5-4.

Ketika Presiden Kennedy ditembak di Dallas-Texas di suatu hari di tahun 1963, saya juga kebetulan sedang ada di rumah Ompung. Sayalah orang pertama di rumah yang mendengar berita tersebut. Ketika saya melaporkan kepada Ompung bahwa Presiden Kennedy telah meninggal dunia, Ompung menangis.

Ompung adalah orang yang sangat rapih dan bersih. Setiap sore ia selalu membersihkan kompor dan peralatan memasaknya sampai berkilat–seperti baru. Saya masih ingat, suatu kali saya duduk di dapur menemani Ompung membersihkan peralatan memasaknya. Ompung berkata kepada dirinya (atau kepada saya, saya kurang jelas): “Kalau Si Rosinta mau kawin dengan Si
Raja, saya akan berikan semua barang-barang ini kepada mereka…” Yang dimaksud Ompung dengan Si Raja adalah anak inangtua saya yang sudah duduk di bangku perguruan tinggi. Ada pun yang dimaksud dengan Si Rosinta adalah puteri dari tulang saya. Walau pun usia saya jauh di bawah kedua orang yang disebtkan Ompung itu, tapi ketika itu mendengar celotehan Ompung sempat juga saya merasa “kecil hati” karena tidak masuk dalam hitungan.. Di kemudian hari kedua orang itu memilih jalan hidupnya masing-masing, tidak sebagaimana yang diharapkan Ompung. Tapi dalam acara keluarga saya suka mengisahkan apa yang saya dengar itu sambil berguyon, dan bagaimana perasaan saya waktu itu.

Kalau sedang tinggal di rumah Ompung di Jalan Timor, maka sayalah yang selalu disuruhnya untuk membeli sirih, pinang, gambir dsb untuk dikunyahnya. Saya selalu berjalan kaki mencari pedagang pikulan yang menjual sirih di Laanholle, yang kini dikenal sebagai Jalan Sabang.

Pada waktu saya tinggal di Jalan Timor, gedung paling tinggi di Jalan Thamrin adalah Hotel Indonesia dan Kantor PBB. Wisma Nusantara dan Sarinah yang merupakan Pampasan Perang Jepang kepada Indonesia sedang dalam proses pembangunan.

Saya sering berjalan kaki dan mencari ikan sepat di kolam Tugu Selamat Datang yang ada di depan Hotel Indonesia. Tentu saja pada waktu Jalan Thamrin belumlah seramai sekarang.

Kini rumah di Jalan Timor dekat pojok Jalan Sunda itu sudah tidak ada dan telah menjadi bagian dari sebuah gedung di Jalan Thamrin. Sekarang, kalau saya kebetulan pergi ke Sarinah atau makan bakmi Gajah Mada di sebuah gedung di Jalan Sunda, saya selalu teringat akan kenangan yang pernah saya alami ketika tinggal di Jakarta bersama Ompung [.]

3 responses to “Sebuah Pavilun di Jalan Timor

  1. Wah, asyik juga jika kita memahami sejarah tempat-tempat bersejarah di negeri ini. Tidak semua orang bisa merasakan pengalaman unik ini. Awak yang kecilnya di kampung, boro-boro bisa merasakan mencari ikan sepat di Bundaran HI. Cerita yang menarik, Bos…

    Tengkyu, tengkyu, tengkyu……:-) –MH

  2. Bang Mula… enak sekali baca pengalamannya.. semoga sehat, yah..

  3. Iya. Pengalaman yang enak dibaca.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s