Tentang Ompung Saya dan Laguboti

Oleh: Mula Harahap

Sampai saya duduk di bangku kelas 2 SMP, saya masih sempat mengenal ompung boru saya dari fihak ibu, yang kami panggil dengan sebutan “Ompung Boru Hutajulu”. Walau pun sejak awal tahun 50-an Ompung–yang telah menjanda itu–telah menetap di Jakarta, tapi sesekali ia pulang ke Laguboti. Dan dalam perjalanan pulang-pergi ke Laguboti itu tentu saja ia akan
tinggal di rumah kami di Medan. Sebagai seseorang yang telah lama menetap di Jakarta tentu saja Ompung sangat fasih berbahasa Indonesia. Karena itu saya sangat senang bercakap-cakap dengan Ompung dan bertanya tentang berbagai hal, terutama tentu tentang masa kecilnya di Laguboti.

Ompung adalah cucu dari Raja Ihutan bermarga Hutapea yang tinggal di Lumban Balian. Ibunya adalah Boru Hutapea, sedangkan ayahnya adalah Hutajulu yang berasal dari Lumban Bagasan. Ada pun ibunya Ompung, yaitu isteri dari Raja Ihutan, adalah Boru Hutahaean. Sejak kecil Ompung telah ditinggal mati oleh ibunya. Karena ayahnya menikah lagi, maka ia pun diasuh oleh
kakek dan neneknya, yaitu Raja Ihutan dan isterinya Boru Hutahaean.

Sebenarnya Ompung sangat disayang oleh kakek dan neneknya. Tapi ia tidak betah tinggal bersama mereka. Ompung terutama tidak merasa cocok dengan neneknya. Menurut pengakuan Ompung, neneknya–sebagai isteri seorang kaya–sangat kejam memperlakukan orang-orang
yang menggarap sawahnya atau yang berhutang kepadanya. Ompung juga sering malu melihat tingkah neneknya. Kata Ompung, kalau sedang mengikuti kebaktian di gereja, dan ada khotbah pendeta atau penatua yang kurang berkenan kepada neneknya, maka langsung saja neneknya
membalikkan badan, memunggungi si pengkhotbah lalu bersungut-sungut sambil terus meramu dan menumbuk sirih.

Karena itu ketika beranjak remaja, atas kemauannya sendiri, Ompung pergi meninggalkan rumah kakek dan neneknya dan tinggal bersama suster-suster Jerman yang ada Laguboti. “Mereka memakai baju putih dan sepatu karet putih, dan mereka banyak makan sayur….” itulah kesan Ompung tentang suster-suster Jerman itu, dan itu jugalah yang membuatnya tertarik untuk tinggal bersama mereka. Suster-suster Jerman itulah yang mengajarinya membuat roti, membuat mentega, membaca, menulis dan menyanyi. Salah satu lagu yang dipelajari Ompung dari suster-suster Jerman itu, dan yang suka dinyanyikannya di depan saya ialah: “Dulu saya masih bodo…..Orang tawa-tawa…..Duduk seperti bojak….Berdiam di rawa…”

Kalau Ompung diberi tugas oleh suster-suster Jerman itu berbelanja ke pasar, ia sering bertemu dengan neneknya dan selalu dibujuk untuk pulang. “Lihatlah, betapa kurusnya badanmu sekarang. Suster-suster Jerman itu hanya bisa memberimu sayur sebagai makanan. Pulanglah kau, aku bisa memberimu makan daging setiap hari,” begitulah kata neneknya. Tapi Ompung selalu menolak untuk pulang.

Di kemudian hari Ompung berkenalan dan dipersunting oleh seorang pemuda–anak pendeta–bermarga Hutabarat, yang menjadi guru sekolah rendah di Laguboti. Dari perkawinan ini lahirlah 3 anak perempuan dan 1 anak lelaki. Kemudian ketika suami Ompung yang pertama meninggal karena penyakit, Ompung menikah lagi dengan salah seorang dari adik suaminya. Pada waktu itu,
seorang perempuan (yang ditinggal mati oleh suaminya) menikah dengan salah satu adik suaminya, adalah praktek yang biasa terjadi di Tanah Batak. Dari pernikahan yang kedua ini lahirlah 3 anak perempuan, dan salah satu di antaranya adalah ibu saya.

Fakta bahwa Ompung pernah menikah dengan 2 lelaki abang-beradik sebenarnya saya temukan sendiri ketika saya masih kanak-kanak. Ketika itu kalau Ibu berbincang-bincang dengan kakak-kakaknya dan merujuk kepada salah seorang saudara bapak mereka yang tinggal di Pematang Siantar, maka mereka selalu memakai sebutan yang berbeda-beda. Dan hal itu menarik perhatian saya . Saya bertanya kepada Ibu, “Mengapa Inangtua memanggil Ompung Siantar dengan amanguda, dan Mamak memanggilnya dengan amangtua?” Lalu Ibu pun menerangkan apa yang terjadi.

Dari kakeknya, Raha Ihutan itu, Ompung mendapat banyak hadiah sawah yang bertebaran di sekitar Laguboti. Rupanya pada jaman dahulu adalah praktek yang lazim terjadi kalau seorang anak perempuan yang telah menikah datang membawa babi kepada ayah atau kakeknya, maka fihak yang diberi makanan harus memberi imbalan. Menurut cerita Ompung, neneknya Boru Huatahean itulah justeru yang mengajarinya, “Kalau kakekmu hendak memberikan emas kepadamu, jangan terima. Mintalah sepetak sawah karena sawah akan tetap abadi….”

Sepeninggal Ompung di awal tahun 70-an maka tanggung jawab untuk mengurusi hasil sawah tersebut jatuh ke tangan Ibu, karena dialah satu-satunya dari mereka yang bersaudara yang paling dekat dari Laguboti, yaitu di Medan.

Di kampung dimana dulu kakeknya tinggal yaitu di daerah Lumban Balian, Ompung juga mendapat sepetak tanah dan sebuah sopo. Bila Ibu pergi ke Laguboti maka di sopo itulah dia tinggal. Sopo itu merupakan sebuah bangunan yang “los” tanpa sekat-sekat. Disanalah juga disimpan padi hasil panen.

Sawah-sawah yang kini diwarisi oleh Ibu dan saudara-saudaranya itu tidaklah terlalu luas, dan
hasilnya (setelah dibagi dengan apa yang menjadi hak para penggarap) tidaklah terlalu besar, apalagi setelah dibagi pula oleh Ibu dan 5 saudaranya. Tampaknya fungsi sawah dan sopo itu bagi Ibu dan saudara-saudaranya lebih merupakan sebuah ikatan sejarah dan kultural: bahwa mereka adalah bere dan cucu dari orang-orang bermarga Hutapea dan Hutahaean yang ada di daerah tersebut, dan mereka memiliki “legacy” untuk itu.

Ketika masa penjajahan Jepang dan Revolusi Kemerdekaan, ibu dan saudara-saudaranya mengungsi di Laguboti. Karena itu banyak sekali orang dan peristiwa yang melekat dalam kenangan mereka, yang selalu mereka percakapkan, dan yang secara tidak sengaja menjadi bagian dari kehidupan kami, yaitu para anak-anak yang senang menguping percakapan orangtua.

Dulu ketika saya masih muda, masih dicekoki oleh buku-buku “revolusioner”, dan belum memahami benar arti budaya, saya pernah berkata kepada Ibu, “Capek sekali-lah Mamak mengurus sawah-sawah itu. Bagikan sajalah sawah-sawah itu kepada para penggarap….” Tapi
Ibu membentak saya, “Sip ho! PKI do ho!–Diam kau! PKI memang kau!

Kampung tempat sopo yang dijadikan Ibu dan saudara-saudaranya sebagai markas bila mereka
berkunjung ke Laguboti itu hanyalah beberapa belas meter dari pinggir jalan raya yang menghubungkan Porsea dengan Laguboti. Kampung itu juga tidak terlalu jauh dari Pasar Sirongit.

Kami–anak-anak Ibu dan anak-anak saudaranya–banyak yang sudah pernah berkunjung ke Laguboti dan tinggal di “sopo” tersebut. Isteri saya–yang bukan perempuan Batak–juga pernah tinggal selama seminggu di sopo tersebut. Dan baginya pengalaman itu merupakan pengalaman yang sangat mengasyikkan. Tentu saja bila berkunjung ke daerah tesebut kedudukan kami adalah
yang paling “rendah” dalam struktur kekerabatan. Kami hanyalah “bere” atau “pahompu”. Dan semua yang bermarga Hutapea, Hutajulu atau Hutahaean yang kami jumpai di daerah tersebut adalah “tulang” atau “ompung”. Karena itu kalau berkunjung ke Laguboti kami selalu diwanti-wanti oleh Ibu “to behave ourselves”.

Ketika masih duduk di bangku SMA dan rajin menulis cerita anak-anak di majalah Si Kuncung atau Kawanku, maka banyak insprasi cerita yang saya dapatkan selama berlibur di Laguboti. Saya pernah menulis cerita tentang anak-anak yang sebelum berangkat ke sekolah
harus bekerja dulu mengumpulkan kotoran babi yang berceceran dimana-mana guna dijadikan pupuk, atau cerita tentang nelayan kecil di pantai Danau Toba–yang berlumpur dan penuh enceng gondok–yang ada di daerah Laguboti (saya lupa nama pantainya).

Kini Ibu sudah semakin tua, lebih banyak menetap di Jakarta dan semakin jarang berkunjung ke Laguboti. Kami pun, anak-anak dari ibu dan saudara-saudaranya, juga demikian. Bagaimana mungkin kami pergi kesana dan memperkenalkan diri kalau tidak ditemani oleh Ibu atau para inanguda atau inangtua kami? Karena itu, akhir-akhir ini saya sering berpikir-pikir: Bagaimana
ikatan sejarah dan kultural itu bisa terus dipelihara, tidak saja sampai ke generasi Ibu, tapi juga ke generasi saya, atau bahkan generasi anak-anak saya?

Karena itu juga saya sering berangan-angan: Kalau saya punya waktu dan uang, saya mau pergi dan tinggal berlama-lama di Laguboti. Siang hari mengobrol di kedai kopi dan malam hari tidur di sopo yang penuh berisi padi dan tikus itu. Saya percaya bahwa akan ada saja inspirasi-inspirasi baru yang akan saya peroleh. Kalau pun inspirasi itu tidak bisa dibuat cerita, tapi paling tidak dia bisa “men-charge” baterai jiwa saya untuk melanjutkan kehidupan di negara-bangsa bernama
Indonesia yang kelihatan semakin musykil ini [.]

5 responses to “Tentang Ompung Saya dan Laguboti

  1. Horas Pak Mula, kalau boleh tau, judul dari lagu “Dulu saya masih bodo…..Orang tawa-tawa…..Duduk seperti bojak….Berdiam di rawa…” itu apa ya, Pak? Terima kasih.

  2. Di Laguboti kan sudah ada sinyal, Tulang? Jadi, janganlah takut nggak bisa ngeblog. Siapa tahu, suasana Laguboti bisa memberi inspirasi dahsyat, sehingga tercipta satu novel baru yang menjadi masterpiece (“kompor” mode on).

  3. Hidup di Medan atau di Laguboti rasanya sangat nyaman karena disana banyak warung kopi untuk sarana kumpul. Nah.. di Jakarta ini, hanya ada lapo tuak untuk kita bertemu (komunitas Batak ). Ini membuat hidup terasa sangat monoton dan membuat beban hidup makin tinggi. Kita hanya bisa main ke mall atau tempat hiburan lainnya yang minus guyub atau keakraban.

    Gimana caranya yah, Bang Mula, untuk membudayakan warung kopi seperti kita dulu di Medan, ada tempat untuk ngobrol, ada tempat baca koran, diskusi, bercanda, dll.

    Hidup terasa hampa bila hanya diisi untuk mengejar yang namanya materi atau alat kepuasan saja.. sedikit sekali ruang untuk kita berhenti sejenak, beristirahat, menyegarkan jiwa kembali dan kumpul dengan teman-teman yang senasib sepenanggungan. Kurindu suasana warung kopi seperti di Medan dulu, kalau di lapo tuak, nggak nyaman….soalnya tuak mengandung alkohol.

    Saya juga sudah lama berpikir-pikir tentang hal itu. Cobalah Lae “search” kata “kedai kopi” dalam blog ini🙂 –MH

  4. “Sip ho! PKI do ho!…” – Bah, garang kalilah namboruku itu ngomong. Hehehe, Boru Hutabarat….

    Benar, Lae. Di usia yang makin tua, kita suka berangan-angan mau menikmati kehidupan di kampung. Saya juga sering berpikir, di usia uzur mau tinggal di Hutabarat, Tarutung saja… Hmm. nyaman sekali bila melihat ekor ikan mas di kolam, seperti menunjuk langit, sewaktu mencari cacing dalam lumpur kolam. Gimana kabar, Lae?

  5. Wah, seru juga tuh kisahnya. Aku bisa membayangkan, betapa menyenangkan bisa tinggal berlama-lama di kampung kita yang indah tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s