Forrest Gump dan Teman-teman Lain Sejak Masa TK

Oleh: Mula Harahap

Saya memiliki beberapa teman semasa TK. Saya masih ingat beberapa dari teman tersebut karena pada umumnya kami bersama-sama melanjutkan ke SD, SMP dan SMA. Walau pun saya melanjutkan pendidikan ke SMA Negeri I, tapi di sana saya memiliki banyak teman dari Immanuel.
Ketika kami tamat SMP, SMA Immanuel masih relatif baru dibuka dan hanya terdiri dari beberapa kelas. Ada perasaan “aneh” untuk bergabung di sebuah sekolah yang muridnya sedikit. Karena itu pergilah kami berbondong-bondong ke SMA Negeri I. Tentu saja suasana di sini sangat hiruk pikuk. Kelas satunya memiliki sepuluh kelas, kelas duanya delapan kelas dan kelas tiganya delapan kelas!

Salah seorang teman yang tidak bisa saya lupakan ialah Marupa Napitupulu. Bersama adiknya Tohap Napitupulu, mereka adalah jago menyanyi. Dalam mata pelajaran seni suara adakalanya kami diminta menyanyi sendiri-sendiri di depan kelas. Biasanya anak lelaki hanya bisa menyanyi “Bendera Merah Putih”, “Dari Barat Sampai ke Timur” atau “Satu Nusa Satu Bangsa”. Tapi teman saya Marupa akan menyanyikan “Burung Tantina” yang dipopulerkan oleh Patty Bersaudara atau “Minah Gadis Dusun” yang dipopulerkan Titik Puspa. Untuk kebolehannya ini tentu saja ia mendapat nilai paling tinggi di seantero kelas.

Kami selalu bersama-sama di SD, SMP dan SMA. Kemudian setelah tamat perguruan tinggi Marupa hijrah ke Jakarta dan kami kembali sering bertemu. Suatu kali, saya mendengar kabar bahwa ia mendapat serangan kanker otak dan terbaring di RS Cikini. Ketika saya datang
membesuknya, ia sudah tidak bisa berbicara. Tapi ia masih bisa melafalkan nama saya. Saya menangis dan memeluknya. Beberapa waktu kemudian kembali saya mendengar kabar bahwa Marupa sudah tiada. Oleh keluarga diputuskan bahwa ia akan dimakamkan di Balige. Pada hari pemberangkatan jenazahnya, saya datang ke rumah duka dan ikut mengangkat petinya ke
mobil jenazah yang akan membawanya ke Bandara Sukarno-Hatta.

Teman saya yang lain lagi semasa di TK ialah Sylvanna Hutabarat. Entah mengapa, ketika di SD, guru selalu mendudukkan saya sebangku dengan Sylvanna. “Sana, kau duduk dekat paribanmu biar tertib sedikit…” kata Ibu Timor Siahaan ketika hendak menyuruh saya duduk dekat Sylvanna. Ibu saya memang bermarga Hutabarat.

Walau pun pernah sebangku di kelas dua, lima dan enam SD, tapi sebagaimana lazimnya anak-anak pada masa itu, kami tidak pernah berbicara satu sama lain. Tapi saya rasa kami saling memahami. Kalau dia melihat saya mulai mengoreksi tulisan pensil dengan memakai karet gelang, maka ia akan menyodorkan karet penghapusnya yang indah dan berbau harum itu kepada saya. Atau kalau dia melihat saya mulai menarik garis hanya dengan ujung buku tulis, maka tanpa berkata-kata dia akan menyodorkan penggarisnya kepada saya. Sebaliknya, kalau ada PR berhitung yang belum dibuatnya, maka saya akan menghadapkan buku tulis saya ke arah Sylvanna dan menunggu dengan sabar sampai dia selesai menyalin.

Ketika di SMA kami masih bersama-sama; tapi sudah tidak saling kontak lagi karena berlainan jurusan. Dan sejak itu saya tidak pernah lagi mendengar kabarnya.

Teman saya lainnya ialah Binsar Sihombing. Ia pandai bermain bola. Sebagaimana layaknya pemain bola, Binsar berjalan agak mengangkang. Karena gaya jalannya itu maka semasa di SD ia mendapat julukan “Si BeTe”–singkatan dari “Berat Telor”. Kami berpisah di SMP. Ia melanjutkan ke SMA Immanuel; sementara saya melanjutkan ke SMA Negeri I. Enam tahun yang lalu, setelah sekian puluh tahun, kami bertemu secara tidak sengaja di sebuah hotel di Singapura. Penampilannya ternyata belum berubah banyak.

Teman lainnya semasa TK ialah Harris Hutajulu. Perawakannya tinggi dan besar. Ketika di SD ia
mendapat julukan “Si Kingkong”. Ia mempunyai abang bernama Johnson. Kalau sekolah, mereka diantar dengan mobil pick-up yang di pintunya ada tulisan “CV. Johnson Julu”. Setamat SMP, Harris melanjutkan ke SMA Prayatna, dan dari sana ke ITB Bandung. Ketika di TK saya selalu menghindar dari Harris, karena ia selalu memiting saya sampai saya tidak bisa bernafas.

Teman lainnya lagi semasa TK ialah Pantas Hasibuan. Ia adalah anak bungsu dari beberapa saudara yang semuanya perempuan. Pantas adalah teman yang baik. Tutur katanya lembut dan ia selalu menghindari konflik. Ia selalu mnjadi sasaran tembak dalam permainan “bola bengek” dan kasti.

Ketika masih di kelas dua atau tiga SD, ibunya meninggal dunia. Seperti kebiasaan di masa itu, bila ada orangtua teman yang meningggal dunia, maka seisi kelas akan datang melayat. Sepasang anak perempuan, biasanya yang paling manis, akan berada pada bagian paling depan dari barisan, menjinjing karangan bunga. Bagi anak-anak seperti kami, peristiwa seperti itu
tentu merupakan saat yang menyenangkan, karena selama beberapa jam terbebas dari pelajaran sekolah. Tapi, saya ingat, peristiwa kematian ibu teman saya tersebut memberi kesan yang tersendiri bagi saya. Saya dihantui oleh ketakutan kalau-kalau peristiwa yang sama terjadi atas diri saya. Karena itu perjalanan melayat ke rumah Pantas bukanlah sesuatu yang menyenangkan bagi saya.

Teman semasa TK yang juga tidak mudah saya lupakan ialah Charles Manu. Saya tidak tahu apakah ia orang Ambon atau Timor.Ketika masih di SD, pemahaman geografis kita memang sangat terbatas. Semua orang yang berasal dari wilayah Indonesia Timur akan kita pukul-ratakan sebagai orang Ambon.

Yang saya tahu ialah bahwa sejak kecil Charles sudah ditinggal mati oleh ayahnya. Ibunya adalah seorang perawat senior di RS PTP II. Charles tinggal di perumahan rumah sakit tersebut, yaitu di Jl. Yos Sudarso No. 1D. Alamat dan nomor rumahnya tidak mudah saya lupakan, karena selama di SD–akibat kesalahan guru–alamat dan nomor itulah yang tercantum di buku rapor sebagai alamat dan nomor rumah saya.

Charles senang berlari. Semasa di TK dan di awal SD kami selalu beradu lari. Dan tentu saja, saya selalu kalah. Kemana-mana kami selalu berlari. Disuruh mengambil kapur di kantor guru; berlari. Pergi ke kamar mandi; berlari. Keluar dari kelas; berlari. Karena itu, ketika menonton filem “The Forrest Gump”, saya teringat akan teman saya Charles.

Kami masih bersama-sama di SMA. Kemudian ia melanjutkan ke ITB. Setelah itu saya mendengar kabar bahwa Chrales mundur dari ITB dan masuk ke Akademi Minyak dan Gas. Saya tidak tahu dimana Charles sekarang. Kalau saja kami bisa bertemu kembali, mungkin hal pertama yang akan kami lakukan ialah kembali beradu lari.

Teman lainnya lagi semasa TK ialah Johnny Pardede. Sejak kecil Johnny senang bermain bola. Karena itu, saya tidak merasa heran, ketika mendengar kabar bahwa ia menjadi pemilik sekaligus manajer sebuah kesebelasan terkemuka di Sumatera Utara.

Ketika duduk di kelas empat kami memiliki sebuah kesebelasan yang paling mentereng di seantero SD. Kamilah satu-satunya kesebelasan yang memakai kaus seragam. Kami patungan mengumpulkan uang. Lalu Johnny melengkapi uang yang terkumpul itu dan membelikan kaus
seragam di perusahaan tekstil milik orangtuanya. Tentu saja hanya seragam itulah yang membedakan kami dari kesebelasan lainnya. Kami tokh masih bermain bola dengan kaki telanjang. Hanya Johnny-lah yang memakai sepatu bola dan sarung tangan. Tapi hal itu tidak menjadi masalah bagi kami; karena Johnny selalu memilih posisi penjaga gawang. Jadi, kemungkinan kaki
beradu dengan sepatu tidak terlalu besar.

Teman yang lainnya lagi semasa di TK ialah Dharma Bakti Sitepu. Ayahnya pernah menjabat sebagai gubernur Sumatera Utara. Ketika di SD, kami sering diajaknya ke rumahnya di kediaman gubernur.

Dharma adalah teman saya dalam membicarakan berbagai hal di luar pelajaran sekolah.Pengetahuan umumnya luas. Karena itu kami bisa asyik membicarakan peristiwa yang kami baca di koran selama jam “keluar main”.

Sejak tamat SMA kami sudah tidak pernah lagi saling kontak. Terakhir, di tahun 1973, ia mengirim kartu pos ucapan selamat natal kepada saya dengan alamat di Bandung.

Sumihar Siahaan adalah teman semasa TK yang juga tidak mudah saya lupakan. Ia selalu mengganggu saya, karena gigi depan saya berlapis. Karena itu saya selalu menghindar dari Sumihar. Kalau saja saya bisa bertemu kembali dengan Sumihar, akan saya perlihatkan kepadanya bahwa gigi depan saya sudah tidak berlapis lagi.

Masih ada beberapa teman semasa TK yang masih saya ingat namanya dan saya kenang tingkahnya. Ada Reinhart Sihombing. Kami menyebutnya “Si Gareng”. Ayahnya seorang pegawai DLLAJR, atau “polisi timbangan” kata orang dahulu. Ada Evita Napitupulu. Ia mempunyai beberapa saudara di SD dan SMP. Ada Johnny Siregar atau yang kami panggil dengan “Si Ompung”. Ayahnya seorang tokoh PNI Sumatera Utara. Johnnya mengajar saya menyanyikan lagu mars PNI, “Marhaen Indonesia”. Suatu kali, ketika jam pelajaran seni suara, kami berduet dan menyanyikan lagu tersebut dengan lantangnya di depan kelas. Tentu saja ibu guru bingung
mendengar lagu yang sungguh sangat tidak biasa dinyanyikan anak sekolah itu! [.]

5 responses to “Forrest Gump dan Teman-teman Lain Sejak Masa TK

  1. Gerda Silalahi

    Astaga….Teman-teman TK pun masih diingat. luar biasa ingatannya perlu diperiksa nih, kok hebat benar daya ingatnya?

    Teman TK-ku juga teman SD-ku. Jadi masih bisa kuingat beberapa di antaranya. tapi tidak sedetail Bang Mula ini🙂

  2. Berat Telor? Istilah di Medan memang sering pakai kata telor ya, Tulang? Yang paling terkenal kayaknya “angkat telor” ya. Tapi istilah ini kurang begitu dikenal di Jakarta…

    Btw, teman TK-nya hebat-hebat. Masih diingat lagi. Itulah nilai plus kalau kita belajar di sekolah top pada zamannya.

    Iyalaaah, pulak. Kami ‘kan anak Medan, dan kau ‘kan cuman anak Langkat?! 🙂 –MH

  3. Luar biasa! Saya juga jadi teringat teman teman semasa SD, SMP dan SMA. Pasti dengan suasana berbeda dengan Bang Mula yang orang kota, dan saya yang orang kampung, tembak langsung ke Jakarta. Medan cuma lewat saja. He-he-he. Yang pasti membaca tulisan ini, mengingatkan saya akan mereka.

  4. Iseng googling dan menemukan blog ini. Sungguh bagus dan mengesankan. Bookmark adalah cara yang tepat yang bisa saya lakukan pada saat ini. Akhir kata, saya suka sekali Tom Hanks🙂

  5. Waktu aku baca BT (berat telor) itu, aku ketawa sampe tersedak, karena istilah itu juga masih kental di masa kami dulu. Ada juga kawanku yang dijuluki sama kek gitu, Bang.

    Waktu main bola bengek pake bola solo yang keras kali itu, Bang?

    Salam kenal, Bang Mula. Cerita masa dulu memang membuat kita bisa panjang umur.
    Horas tondi madingin, pir tondi matogu. Asi roha ni Tuhanta, leleng jala horas hita mangolu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s