Ode Untuk Ibu dan Bapak Guru di SD dan SMP

Oleh: Mula Harahap

Tiga ratus sampai empat ratus anak lelaki dan perempuan berbaris di halaman sekolah yang ditaburi cangkang kelapa sawit. Kepala sekolah atau guru olahraga berdiri di depan–di atas sebuah bangku–memberi aba-aba seperti dirigen. Lalu anak lelaki yang kumisnya mulai tumbuh dan suaranya serak dan anak perempuan yang mulai mendapatkan haidnya yang pertama itu pun menyanyilah,dengan terpaksa.

“Immanuel, Immanuel nama sekolah kita. Immanuel, Immanuel Tuhan beserta kita. Rajin belajar sungguh bekerja. Tujuan kita paling utama….” Itulah lagu mars kami ketika masih di SLTP–empat puluh tahun yang lalu.

Tidak terasa waktu berlalu. Kini putera-puteri saya pun telah tamapt perguruan tinggi. Tapi berbagai peristiwa, guru dan teman-teman selama di SLTP dahulu, masih terbayang jelas di mata saya.

Saya masih ingat bagaimana rupa bapak kepala sekolah di masa itu. Namanya Pak Simanjuntak. Tapi kami menyebutnya Pak Napoleon. Sebutan itu sebenarnya bukan ciptaan kami sendiri, tapi kami warisi dari orangtua kami. Pada zaman penjajahan dahulu, ia sudah mengajar di HIS. Dan karena posturnya yang pendek, dan kegemarannya memakai celana ketat, maka oleh murid-muridnya di masa itu ia dipanggil Pak Napoleon. Saya rasa ia juga menyenangi sebutan itu. Beberapa tahun yang lalu, ia meninggal dunia di Jakarta dalam usia yang sangat uzur. Saya membaca iklan kematiannya di harian Kompas. Dan di bawah namanya, anak-cucunya menerakan sebutan “Guru Napoleon”.

Pak Napoleon bukan guru seni suara. Ia adalah kepala sekolah dan bidangnya adalah ilmu pasti. Tapi disamping mengajar lagu mars sekolah, saya ingat, ia juga mengajar kami menyanyi bersahut-sahutan, seolah-olah kami–semua anak SLTP Immanuel–adalah instrumen musik dari sebuah orkestra. Kami dibagi dalam beberapa kelompok dan disuruh berdiri di siang bolong di halaman sekolah. Lalu mulailah anak-anak perempuan, yang suaranya tinggi, bernyanyi, “The
violin is singing…like lovely ringing…”. Kemudian kelompok yang lain akan menimpali, “The clarinet, the clarinet, make doodle-doodle-doodle dumb…”. Lalu anak-anak lelaki yang sudah mulai belajar merokok dan suaranya berat menimpali lagi, “The horn, the horn…awake you at mor…ning.”

Anak-anak pada masa kami memang senang memberikan sebutan kepada guru-guru tertentu–terutama guru-guru yang “extraordinary”.

Kami memiliki Bapak Simanungkalit, guru aljabar dan ilmu pasti. Pada masa itu, ia sudah relatif tua. Dan sebagaimana biasanya guru-guru bekas jaman penjajahan Belanda; Bapak Simanungkalit juga terkenal tegas dalam menegakkan disiplin. Tangannya gampang melayang,
terutama terhadap anak laki-laki yang selalu lupa akan rumus atau dalil aljabar atau ilmu ukur. Saya rasa, anak lelaki yang tak pernah merasakan tangannya hanyalah teman saya Allan Pattikawa. Allan Pattikawa memang selalu menguasai mata pelajaran yang diajarkan
oleh Pak Simanungkalit. Tapi, waktu itu, saya rasa alasannya untuk tidak memukul Allan lebih karena orangtua teman saya tersebut adalah koleganya dalam regu bridge Sumatera Utara.

Karena suatu penyakit, kulit Pak Simanungkalit menderita bercak-bercak putih yang lebar. Oleh
anak-anak pada masa itu ia dijuluki “Si Belang” atau “Si Macan”. Tentu saja sebutan ini tak pernah didengar oleh Pak Simanungkalit. Teman saya Johny Siregar, atau Si Ompung, pernah memanggil, “Manungkalit…” Dan gara-gara itu saja, Si Johny sudah mendapat hantaman
babak-belur. Tapi bagaimana pun, Pak Simanungkalit memang guru yang baik. Sampai sekarang saya tidak lupa ajarannya tentang persamaan kwadrat. “A tambah be kali a kurang be, sama dengan a kwadrat kurang dua abe tambah be kwadrat. Hapal anak, hapal anak….” Dan, kalau ada anak yang tidak hafal, terutama anak perempuan, maka ia akan berkata marah, “Entok kau,
entok kau….”

Ada lagi guru kami bernama Bapak A.T. Sibuea. Ia mengajar ilmu bumi. Suaranya sengau dan postur tubuhnya luarbiasa kecil. Anak-anak di masa itu menjulukinya “Pak Semekot”; singkatan dari “semeter kotor”. Ketika saya baru tiba di Jakarta, tahun tujuh puluh tiga, saya mendapat kabar bahwa Bapak A.T Sibuea meninggal dunia. Saya merasa sedih, karena belakangan,
setelah berkenalan dengan ibu saya dan ternyata sama-sama dibesarkan di Laguboti, ia menjadi baik kepada saya.

Guru lain yang juga tak mudah untuk saya lupakan ialah Bapak Nadapdap. Oleh anak-anak ia disebut “En De”, sesuai dengan singkatan namanya pada daftar pelajaran. Bapak En De mengajar administrasi. Wajahnya selalu “sumringah” dan tak pernah marah. Dan seperti biasanya
tabiat anak-anak, guru yang sukar marah cenderung menjadi bahan guyonan. Tapi saya tidak pernah ikut-ikutan untuk mengganggu Bapak En De. Saya selalu mendapat nilai baik dalam mata pelajarannya. Saya tidak tahu mengapa saya diberi nilai baik; padahal acapkali saya tidak pernah menghapal apa yang diajarkannya. Belakangan baru saya tahu, bahwa saya mendapat nilai baik, karena satu pertanyaannya pada kertas ulangan sering saya jawab sampai satu atau dua
halaman. Ternyata Bapak En De senang dengan “bualan” saya.

Sampai usia seperti sekarang ini saya masih suka melafalkan lagu “Mr. Johnson”, “Old MacDonald Has A Farm” atau “Twinkle-twinkle Little Star” dalam bahasa Inggeris dengan aksen Batak. Inilah yang saya pelajari dari Bapak Silitonga. Ia mengajar agama dan bahasa Inggeris. Seperti halnya Bapak Nadapdap, Bapak Silitonga juga tidak pernah marah. Ia terus saja mengajar walau pun kelas sudah di ambang anarki. Pada masa itu, di dalam hati, saya sering menilai sebenarnya bapak yang satu ini lebih tepat menjadi pendeta ketimbang menjadi guru. Anak-anak memberi
sebutan “Si Lutung” kepada guru yang satu ini. Saya tidak tahu, mengapa ia mendapat sebutan itu. Wajahnya memang tidak tampan; tapi tidak juga terlalu jelek. Bahkan, di mata saya waktu itu, ia mengesankan Abraham Lincoln. Saya rasa, sebutan itu hanya derivatif dari kata Silitonga. Hal lain yang tidak saya lupakan dari guru yang satu ini ialah, bahwa ia selalu menaruh
perhatian yang lebih terhadap teman sekelas saya Endang Sujarti. Apapun yang ditanyakannya kepada seisi kelas, selalu lebih dahulu dialamatkan kepada Endang.

Guru-guru perempuan tentu saja mempunyai tempat tersendiri di hati kami–para lelaki remaja yang sedang di masa puber.

Ada seorang guru–saya lupa namanya–yang mengajar Kesejahteraan Keluarga. Tubuhnya mungil dan wajahnya lumayan cantik. Kehadirannya di kelas selalu membuat “chemical” kami mendidih. Ia selalu diganggu oleh anak-anak lelaki yang sudah tidak lucu karena bulu kakinya yang mulai lebat itu. Pernah di suatu kelas, ibu yang cantik ini sampai menangis tersedu-sedu
karena tidak tahan mendapat “goyangan”.

Guru perempuan lainnya yang juga masih saya ingat ialah Ibu Dimen Tampubolon. (Sembilan puluh sembilan koma sembilan puluh sembilan prosen guru kami memang orang Batak!). Ibu Dimen mengajar Civic atau Kewarganegaraan. Pengajarannya tidak terlalu mengesankan saya, karena ia hanya menguraikan apa yang sudah ada di buku. Kadang-kadang, kalau bioritmenya lagi menurun, ia hanya menyalin ulang apa yang ada di buku ke papan tulis dan kami diminta untuk menyalinnya lagi. Saya ingat, suatu kali, pada jam istirahat, kami sedang duduk-duduk pada tembok jembatan sekolah yang mengarah ke jalan dekat Hotel Polonia. (Saya lupa nama jalan itu). Ibu Dimen membentak dan menyuruh kami pergi dari situ. Tentu saja kami bersikeras untuk
tetap di sana, karena saat itu adalah jam istirahat dan tidak pernah ada larangan untuk berada di sana. Sambil bersungut-sungut Ibu Dimen menawar becak. Lalu ia mencoba naik ke atas becak sambil menutupi bagian belakang roknya dengan tasnya. Dan ketika itu barulah kami mengerti, mengapa “out of the blue sky”, Ibu Dimen menyuruh kami bubar dari sana…….

Semasa di SLTP saya juga terkesan dengan seorang guru olahraga. Saya masih ingat, hari pertama ia mengajar di kelas kami, ia memperkenalkan dirinya demikian: “Nama saya Uli Godang Sihombing. Saya adalah juara ketiga dalam lari sekian ribu meter pada Pekan Olahraga Wilayah se-Sumatera yang baru lalu…”

Sebagaimana halnya olahragawan, Bapak Uli Godang Sihombing memiliki kulit yang rada merah, pori-pori yang besar dan otot-otot yang besar. Suatu hari, guru baru itu datang mengajar di kelas kami–Kelas IIA. Entah “setan” apa yang membisiki, tiba-tiba teman saya Abraham Lumy mencoba mengganggu Uli Godang.

“Besar kali, akh! Merah kali, akh! Tegap kali, akh!” kata Abraham berulang-ulang dan dengan suara yang sengaja dikeraskan. Bapak Uli Godang hanya diam saja dan berjalan mengitari bangku-bangku kami dengan kedua tangan bersilang di belakang. Abraham Lumy semakin menjadi- jadi, “Besar kali, akh! Merah kali, akh! Tegap kali, akh!”

Mungkin ia hanya ingin melucu. Tapi tiba-tiba Uli Godang berbalik dan memberinya pukulan-pukulan “hook” dan “upper-cut”. Abraham hanya bisa merunduk dan kami hanya bisa melongo. “Jangan mencoba-coba saya lagi, ya?” ujarnya tegas. Dan dengan peristiwa itu ia
sekaligus mereposisi dirinya sebagai guru yang perlu diperhitungkan di seantero Immanuel. Di kemudian hari, Abraham Lumy yang atletis itu ternyata menjadi salah seorang murid yang selalu mendapat nilai baik dalam mata pelajaran Uli Godang.

Kami mempunyai guru ilmu alam bernama “Bapak Bolang”. Tentu saja guru yang satu ini bukan orang Manado dan tidak ada hubungan keluarga dengan Boy Bolang. Nama guru yang satu ini adalah B. Simangunsong. Mula-mula, sesuai dengan inisial namanya di daftar guru, ia dipanggil Bapak “Be”. Tapi, entah bagaimana, di kemudian hari ia dipanggil “Bapak Bolang”. Matanya
memang selalu melotot. Dan terjemahan “melotot” dalam bahasa Batak adalah “bollang”.

Guru lain yang berkesan kepada saya semasa di SLTP adalah Bapak “EnGe”. Marganya Nainggolan. Dan didaftar guru ia diberi inisial “NG”.

Bapak “EnGe” mengajar sejarah. Saya rasa, kalau mengikuti kriteria ideal, ia adalah guru sejarah yang baik. Baginya, sejarah adalah cerita atau “reason” di balik sebuah peristiwa yang memberi dampak kepada kehidupan masakini. Sejarah bukanlah melulu deretan tanggal atau tahun untuk dihafal!

Dari menit pertama hingga menit keempatpuluh, mata pelajaran Bapak “EnGe” selalu diisi dengan bercerita. Ia bercerita tentang apa saja. Tentang Budi Utomo, Serikat Islam, Hammurabi atau Mohenjo Daro. Saya rasa, kalau sekarang saya menggandrungi sejarah, maka hal itu tidak lepas dari peranan Bapak “EnGe”.

Seperti halnya Bapak Nadapdap dan Bapak Silitonga, Bapak “EnGe” juga tidak pernah marah. Ia hanya menyeringai saja; walau pun kelas sudah diambang “chaos”. Tapi suatu ketika, entah mengapa, Bapak “EnGe” lepas kendali. Di sebuah kelas, ia menghajar seorang anak hingga anak itu menderita kerusakan di ginjal atau lever. Tentu saja orangtua si anak mengajukan protes, dan Bapak “EnGe” harus mengalami hukuman skorsing selama tiga bulan! Saya kasihan melihat Bapak “EnGe”.

Itulah beberapa kenangan mengenai ibu dan bapak guru semasa di SLTP. Walau pun mungkin ada hal-hal yang kurang mengenakkan dalam catatan yang saya utarakan; tapi secara keseluruhan saya menilai mereka semua sebagai guru-guru yang jujur dan penuh dedikasi.

Pada waktu itu, guru-guru datang dan pergi mengajar hanya dengan mengendarai sepeda. Dan sepeda-sepeda mereka, yang umumnya sudah tua dan penuh karat itu, diparkir berderet-deret di belakang kantor sekolah, di sebuah pojok yang di dekatnya kini telah berdiri Hotel Polonia. Pemandangan tersebut sangat kontras bila kita melihat mobil Mercedes, Impala dan Landrover yang mengantar-jemput anak-anak. Tapi, walau pun kehidupan mereka sangat bersahaja, mereka tidak pernah kehilangan kewibawaannya di mata kami para anak didik. Semasa di SLTP, saya tidak pernah mendengar ada guru yang menjual buku atau menyelenggarakan “private
lesson” kepada anak didiknya sendiri.

Guru-guru semasa saya di SD dan SLTP adalah guru-guru yang penuh integritas dan sangat menghargai profesinya. Dan dalam kaitan dengan integritas dan profesionalisme ini, saya teringat pula akan kisah guru kepala sekolah kami semasa di SD, yaitu Bapak “Meneer” Sibuea. Guru kawakan yang rambutnya sudah memutih ini selalu memakai kemeja lengan pendek dan berdasi.

Biasanya, beberapa hari menjelang pembagian rapor, sekolah menyelenggarakan pertemuan antara orangtua murid dengan masing-masing guru kelas. Waktu itu ada seorang teman sekolah kami yang orangtuanya menjabat kedudukan panglima sebuah angkatan. Pada hari pertemuan orangtua murid dengan guru, mungkin karena kesibukan, Bapak dan Ibu Panglima hanya mengutus ajudannya untuk mewakili mereka ke sekolah.

Dan Bapak “Meneer” Sibuea, yang mengetahui bahwa yang datang bukanlah orang yang berkompeten untuk pendidikan si anak, langsung mengusir perwira pertama tersebut. “Saya mau bicara dengan orangtua si anak; bukan dengan supirnya!” katanya dengan lantang. Sang
ajudan pulang dengan tersipu-sipu. Tapi keesokan harinya datanglah ibu panglima meminta maaf kepada Bapak “Meneer Sibuea dan mengambil sendiri raport anaknya [.]

9 responses to “Ode Untuk Ibu dan Bapak Guru di SD dan SMP

  1. Gerda Silalahi

    Luarbiasa ingatan Bang Mula ini. Nama guru dan teman semasa SD masih ingat, bahkan omongan guru yang sudah berlalu 40 tahun lalu pun masih dihafalnya. Ck ck ck….

  2. Dulu, kesenjangan kekayaaan guru dengan siswa sebenarnya lebih jomplang dari sekarang (sepeda vs merci). Mengapa guru-guru sangat mencintai profesinya dan tidak tergoda untuk berbisnis? Jawabannya, “Karena dulu belum ada penerbit yang jualan buku di sekolah”. He he…

  3. Ha..ha..ha.. lucu kali cerita abang ini… Kayak cerita Amang DTA Harahap di Anak Penyu Menggapai Laut. Nulis terus yah, Bang…..

  4. Amang, sebagai mantan anak Immanuel, saya ingat juga sama Pak EnDe tapi yang lainnya gak ingat atau mungkin udah gak ngajar sm saya.

    Senang sekali membaca tulisan-tulisan Amang tentang masa kecil, jadi ingat masa kecil saya juga di Medan.

    Salam kenal dari saya, Amang, yang suka curi-curi ‘klick’ dari rumametmet🙂

  5. Mantap…
    Aku sama sekali tidak punya kesan yang berarti dengan Guru2 SD-SMP ku..
    Itu makanya aku tak mampu mengingat apapun tentang mereka.😦

  6. Dulu, pelajaran yang paling saya benci di SMP adalah ‘marende tujolo”. Guru kami kalau lagi malas ngajar pasti nyuruh marende tujolo, padahal bukan pelajaran seni suara.. (Horas, Amang MH, salut…….).

  7. Bapak daya ingatnya luar biasa, ya. Apa dicatat di diary? Saya menikmati isi cerita dan penuturan Bapak.

  8. Senyum-senyum aku baca tulisan abang ini. Hehehe….Pak Bolang, Pak eNDe dan Pak eNGe masih sempat mengajar aku di SMP Immanuel tahun 79-82.

    Pak “B”, semakin ngantuk, semakin bolang juga matanya. Hahaha…

    Kalau Pak eNDe memang gak pernah marah. Tapi kalaupun marah, tetap aja gak seru. Hehehe…Aku pernah ditampar sama Pak eNDe ini. Tapi karena memang dia orangnya bukan pemarah, dan kebetulan rada gemuk waktu itu, jadi tamparannya hanya sekedar, dan mendarat “halus” di pipiku. Hahaha…

    Pak eNGe kalo gak salah nama lengkapnya R.A Nainggolan. Dan kalo gak salah lagi “A”-nya adalah Adolf. Jadi kami dulu sering juga sebut dia Si ‘Hitler’. Hahaha…

  9. Bang Armyn. Lamo tak basuo, tiba-tiba ada yang tunjukin web ini. Sebagai salah satu nama yang termasuk dalam tulisan, saya menikmati ‘flash back’ 40 thn lalu itu. Masih ada beberap nama guru yang cukup berkesan bagi saya di kelas IIA, yaitu Pak Simangunsong. Kalau ibu guru yang cantik itu Ibu Purnama … lupa marganya. Lain kali aku ikutan nambah cerita-cerita seputar SD-SMP Imanuel.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s