Cinta Pertama

Oleh: Mula Harahap

Saya rasa, cinta pertama saya, atau rasa tertarik dan senang yang luar biasa terhadap perempuan, saya alami ketika saya berumur antara 4 atau 5 tahun. Usia ini saya ingat benar karena waktu itu adik saya yang nomor 2 (anak nomor 3 dalam keluarga) belum lahir.

Cinta pertama saya adalah kepada seorang ibu, tetangga sebelah rumah, ketika kami tinggal di sebuah rumah kontrakan di Lorong Roma, Kampung Sidorame, Medan.

Ibu itu memiliki 2 anak yang sebaya dengan saya dan adik saya. Suaminya seorang tukang kayu. Dan hal ini saya ingat benar, karena suatu hari, ketika anaknya bermain-main di rumah kami, anak itu memecahkan tombol (knob) laci mesin jahit Ibu, lalu oleh bapaknya tombol itu dilem sehingga utuh kembali dan tak meninggalkan bekas pernah pecah samasekali.

Dari hubungan marga, Ibu memanggil bapak tukang itu sebagai tulang dan memanggil isterinya sebagai nantulang. Karena itu saya memanggil mereka sebagai ompung.

Saya tidak tahu bagaimana persisnya saya jatuh cinta kepada ibu itu. Tapi ada suatu moment dimana–ketika saya masih kecil–ibu itu kelihatan begitu indah di mata saya. Dan potret dari moment itu tak pernah bisa hilang dari kepala saya, sampai saya berumur lebih dari 50 tahun seperti sekarang ini:

Suatu pagi subuh, ketika saya terbangun dan duduk di amben pintu dapur menunggui Ibu yang sedang bekerja, saya melihat ibu tetangga itu berjalan meninggalkan rumahnya, menjunjung sebuah keranjang besar dan hilang di kelokan jalan.

Ibu itu sehari-harinya berjualan sayur di Pasar Sentral Medan. Karena pekerjaannya itu, dan juga karena harus mengurusi anak-anaknya setelah pulang dari berjualan, maka tidak setiap hari saya bisa melihat ibu itu. Karena itu setiap kali saya bisa melihatnya, hati saya selalu diliputi rasa senang, dan saya berusaha untuk menatapnya berlama-lama. Saya ingat bahwa ibu itu memiliki sebuah tahi lalat di atas bibirnya.

Suatu hari, entah disebabkan oleh apa, saya mendapat pukulan sapu lidi di kaki dari ayah saya. Hukuman itu saya terima di halaman rumah. Saya ingat, ketika saya sedang menerima hukuman tersebut, ibu itu juga sedang ada di halaman rumahnya. Saya merasa malu sekali kepada diri saya dan tidak suka kepada ayah saya.

Di kemudian hari kami pindah dari rumah kontrakan di Lorong Roma itu ke sebuah rumah kontrakan lain di Jalan Madio, Kampung Sidodadi, Medan. Dengan perpindahan itu tentu saja “kisah cinta” saya kepada ibu tetangga itu pun mulai pudar.

Tapi suatu siang ketika sedang bermain-main di pojok jalan di dekat rumah yang baru itu (jalan itu merupakan pelintasan menuju Kampung Sidorame) secara tak sengaja saya bertemu kembali dengan ibu tetangga yang selalu membuat hati saya berbunga-bunga itu. Rupanya ibu itu telah selesai berjualan di pasar dan kini sedang dalam perjalanan pulang ke rumahnya.

Ibu itu menegur saya, “Hei, dimana rumah kalian sekarang? Apa kabar mamak?” Dengan serta-merta saya langsung menunjuk ke satu arah. Seingat saya hanya itulah yang saya lakukan. Saya tidak bisa berkata-kata. Tapi sementara menunjuk ke arah rumah, saya berharap ibu itu
akan mengikuti saya untuk mampir dan bertemu dengan ibu saya. Tapi ibu itu tidak berhenti. Dia terus berjalan. Tentu saja saya merasa kecewa.

Setelah peristiwa itu, untuk waktu yang cukup lama dan hampir setiap hari, kalau sudah sekitar jam sebelas siang saya sengaja bermain-main di pojok jalan dekat rumah dengan harapan bisa kembali bertemu dengan ibu itu. (Waktu itu saya masih juga belum bersekolah di TK). Tapi saya tidak pernah lagi bertemu dengan ibu yang di atas bibirnya ada tahi lalat itu.

Beberapa waktu yang lalu saya bercerita-cerita dengan ibu saya (dia berusia 79 tahun dan tinggal di Cibinong) tentang kehidupan di masa lalu. Entah mengapa perasaan di masa kanak-kanak yang pernah saya miliki terhadap ibu tetanggga yang saya panggil dengan ompung itu,
saya ceritakan juga untuk pertama kalinya kepda ibu saya.

Ibu tertawa terkikik-kikik. Lalu katanya, “Penilaianmu tidak salah. Nantulang itu memang manis dan lembut. Dan di atas bibirnya memang ada sebuah tahi lalat….” Tapi pada ujung pembicaraannya, masih dengan tertawa, Ibu berkata, “Ee’he….! Tak kusangka sebegitu
geteknya kau. Umur empat tahun sudah tahu melihat mana perempuan yang manis….”

Ketika saya becerita dengan Ibu, kami sama-sama tidak tahu apakah ibu tetangga yang saya panggil ompung dan yang pernah membuat hati saya berdebar-debar itu, masih hidup atau tidak. Tapi bulan Januari yang lalu, ketika saya pulang ke Medan, saya bercerita-cerita dengan seorang namboru saya.

Seperti biasanya kalau bercerita dengan sanak-saudara, pembicaraan akan ngalor-ngidul kesana-kemari. Tiba-tiba–entah dalam kaitan apa– Namboru berkata, “Kalian masih ingat Nantulang tetangga kalian di Lorong Roma dulu? Aku berjumpa dengan dia di sebuah pesta. Dia masih
hidup dan dia bertanya dimana mamak-mu sekarang….”

Kepada Namboru saya tidak menceritakan perasaan yang pernah saya miliki kepada perempuan yang dipanggilnya nantulang itu. Saya hanya diam-diam saja. Tapi di dalam hati saya tentu saja masih ada juga sebersit keinginan, kalaulah saya boleh melihat ibu itu kembali.

Tentu saja keinginan itu bukan lagi didasari oleh rasa senang seperti dulu (dan itu saya tahu pasti), tapi hanya oleh rasa ingin tahu. Saya ingin tahu bagaimana rasanya bertemu dengan seorang ompung-ompung yang kini mungkin sudah berusia menjelang 80 tahun, tapi yang 50
tahun lalu pernah membuat saya–seorang anak lelaki kecil yang masih ingusan–selalu merasa “excited” setiap kali melihat sosoknynya, dan yang juga membuat saya jatuh cinta dengan “bertepuk sebelah tangan”🙂

18 responses to “Cinta Pertama

  1. Gerda Silalahi

    Masyaollohhh, Bang Mula….! Getek kali kau, bah! Ajegile umur 4 tahun bisa jatuh cinta ama ibu-ibu yang sudah beranak 2. Bayangkan, anak balita jatuh cinta sama orang yang disebut ompung borunya dari segi partuturan! Apa kata dunia? Gawat kali.

    Umur segitu kurasa aku masih pake kompeng🙂 Kurasa aku bisa stroke mendadak kalo sampe anakku kaya Bang Mula ini kelakuannya. Suatu kali boruku Si Belle pernah nyelutuk, “Mam.., Ahmad Dani pacarku”. Gubrakk…Aku langsung hefffot investigasi darimana dia dapat ide
    gila itu. Ahmad Dani pulak, laki-laki picik dan memuakkan itu. Selidik punya selidik itu karena anakku mendengar obrolan mbak-mbak pengasuh di mobil antar jemput sekolahnya. Setelah diterangkan panjang lebar, baru dia ngerti arti pacar itu apa.

    Back to cinta monyetnya Bang Mula. Buset…, beneran jatuh cinta nih umur segitu? Buktinya bisa excited dan ingin selalu melihat si idaman hati, punya rasa malu ketika dipukul, speechless ketika akhirnya dapat kesempatan bicara langsung. Persis kaya cinta monyet anak ABG.

    Apa emang anak laki lebih cepat memiliki rasa tertarik pada lawan jenis yah? Aku ingat, waktu masih TK A, ada 2 anak laki-laki kembar yang sering banget menggoda aku. Namanya Chandra dan Putra. Pernah sekali mereka bilang, kamu pilih yang mana? Aku atau dia? Mattee ma !

    Btw.., hebat kali daya ingat Bang Mula ini, bisalah dia ingat kejadian 46 tahun lalu, saat dia masih umur 4 tahun ketika anak ibu itu memecahkan tombol laci mesin jahit di rumahnya. Detail banget lagi.

    Jadi gimana, Bang? Udah ketemu belum sama ompung itu? Masih tergetar gak? Pasti lain ceritanya kalo ketemu sekarang. Tahi lalat masih sama, tatapan mata mungkin masa sama. Tapi bagaimana dengan yang lainnya? Hehehe.

    Salam dari ibu beranak satu, yang juga punya tahi lalat di atas bibir ^-*

    (Btw, kapan realisasi kelas menulisnya? Aku maulah jadi pesertanya. Kalo perlu, jadi panitianya).

  2. Botul kata Mamak. Tulang Mula ini getek kali…Umur segitu udah suka sama omak-omak. Gawat kita makjang…

  3. Tulang, dapat salam dari Erik Google. Katanya, suara tulang mantap kali…

  4. Horas, Amang! Salam kenal dari tano parserahan….

  5. imme hutajulu

    Mungkin perempuan bertahi lalat di atas bibir memiliki ‘sesuatu’. Ehemm…

  6. Jadi ingat aku akan ibu guruku yang mengajarku di kelas 1 SD. Sayang beliau sudah almarhumah karena sakit, padahal belum terlalu tua.

    Kalau ada guru yang kuanggap paling berjasa seumur hidupku, beliaulah orangnya. Aku sempat cemburu mendengar beliau mau menikah sewaktu aku duduk di kelas 2 SD. Haha….

  7. Bang Mula, ada ada saja tetapi hal seperti ini bisa terjadi kepada siapapun, he he he….

  8. Huahahahhahahahhaaa…
    Buset dah, anak kecil di jaman dulu jatuh cinta pada ibu2.. Salut buat Bapa tua😀

  9. Huahahah. Lucu sekali ceritanya, Amang. Waktu aku umur segitu kayaknya masih jatuh cinta sama boneka deh🙂

    Kunjungan perdana nih, Amang. Salam kenal ,ya. ^_^

  10. Jangan-jangan Bapatua punya poto tetangganya itu, yah? Jadi kek pilim “The Girl Next Door” kutengok. Hhehehe..😀 Salam kenal, Bapatua.

  11. JanPieter Siahaan

    Ini ceritanya benar nggak. yah ? (Aku enaknya manggil apa, yah ? Berubah-ubah terus.Manggil lae aja ya, biar akrab ) He..he..he…

    Teringatnya tahun berapa kejadiannya itu, Lae? Kalau nggak salah di Lorong Roma Kampung Sidorame, apa yang dekat gereja HKBP Sidorame sekarang, Lae ? Itu kan dekat Jalan Perjuangan juga, yah ? Bisa ke Kampung Durian atau ke Jalan Serdang lewat IPDN dulu ?

    Memang kenangan indah sulit untuk dilupakan, mungkin karena tahi lalatnya itu yah, Lae…

    Point pesannya : berbahagialah perempuan yang memiliki tahi lalat yang proporsional dan pada tempatnya, sehingga dapat mempercantik atau menjadi daya tarik tersendiri dan jangan mau diganti tahi lalat anda dengan tahi-tahi yang lain (He..he..he… maaf… misalnya tahi hidung atau upil ). Tahi lalat apa bedanya dengan “landong”, Lae? Matur nuwun……..

  12. Hai, apakabar? Sudah makan? Salam kenal. Ceritanya menarik. Kalau boleh saya ingin ikut berkomentar. Khususnya tentang komentar Ibu Gerda Silalahi.

    Saya, lelaki, sebaya dengan Pak Mula Harahap, juga ingat ‘cinta’ monyet pertama ketika masih di TK-B/TK-C. Mungkin benar bahwa anak lelaki lebih cepat ‘jatuh cinta’? Mesti ada suatu penelitian lebih lanjut.

  13. Tersenyum-senyum aku membaca pengakuan Lae Harahap ini. Alamaaak, jatuh cinta di usia balita, dan yang “ditembak” mamak-mamak pula hehehe…

    Mauliate untuk kisah pribadi yang menyegarkan ini (sambil terus senyum-senyum sendiri)…

  14. Nana Simarmata

    Haaaaahhaaaaaa (tertawa ngakak). Aduh, ceritanya unik sekali. Baru sekali ini aku tau ada anak umur 4 tahun pulak…jatuh cinta…sama ompungnya…Alahmakjang (kata orang Medan)…Salute to Amang masih ingat cerita baheula. Btw salam kenal ya, Amang?

  15. Amang, koq bisa sih ingat ? Aku yang umurnya baru 40 aja ga ingat siapa cinta pertamaku. Hehehe…, berkesan kali rupanya🙂

  16. Hahaha! Lucu ceritanya, Pak. Tapi real, lho. Kalo diinget-inget saya juga jatuh cinta pertama umur lima, dengan teman sekelas.

  17. Ikh, mantap kali cerita ini, buat awak ketawa sendiri. Salam kenal yach, Amang.

  18. Salam kenal, Bang Mula! Hahahahahahahahahaha….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s