Hak Masyarakat Terhadap Hasil Informasi Investigasi Kecelakaan Pesawat Terbang

Oleh: Mula Harahap

Di saluran teve “Discovery” ada sebuah seri filem menarik yang berjudul “Air Crash Investigation”, yang membahas sebab-musabab yang terjadi di balik beberapa peristiwa kecelakaan pesawat terbang. Filem itu memang bersifat semi dokumenter. Disamping memperlihatkan wawancara dengan pihak-pihak yang berwenang terhadap keselamatan penerbangan, filem itu juga memperlihatkan rekaan kejadian yang dialami oleh para korban.

Tapi walaupun bersifat semi-dokumenter filem itu tentu dibuat dengan sungguh-sungguh. Ia bukan sebuah fiksi. Ia adalah sebuah filem yang dibuat dengan penuh rasa tangung-jawab, serta mengandalkan hasil investigasi yang dilakukan oleh para pejabat dan ahli yang kompeten. (Kalau tidak demikian, para pembuat filem itu pasti akan dituntut oleh fihak-fihak yang merasa dirugikan).

Dengan penayangan filem tersebut maka masyarakat (yang juga berhak untuk mendapatkan informasi) tahu dan paham apa yang terjadi di balik sebuah kecelakaan sebuah pesawat terbang, dan dengan demikian masing-masing fihak bisa mengambil pelajaran dari dalamnya.

Dari menonton serial “Air Crash Investigation”–misalnya–kita jadi tahu bahwa pesawat Boeing 747 milik maskapai penerbangan TWA yang meledak dan jatuh di lepas pantai timur AS itu ternyata bukanlah akibat dari tembakan peluru kendali AL AS yang sedang melakukan latihan di daerah tesebut, tapi karena panas yang luarbiasa tinggi yang terjadi di tangki bahan bakarnya sehingga mengakibatkan terjadinya ledakan besar. Kita juga jadi tahu bahwa ternyata pesawat Concorde di bandara Paris itu meledak karena pecahan bannya (yang meledak ketika pesawat
sedang berlari dilandas pacu) masuk ke mesin.

Kalau kita bandingkan apa yang dilakukan oleh “Discovery” dengan serial “Air Crash Investigation”-nya dengan apa yang terjadi di Indonesia, kita hanya bisa geleng-geleng kepala. Begitu banyak kecelakaan pesawat terbang yang terjadi di negeri ini, tapi jangankan sebuah laporan berbentuk filem semi-dokumenter yang mudah dipahami, laporan resmi dan terbuka dari Pemerintah (Komite Nasional Keselamatan Penerbangan) pun tak pernah kita baca di media massa.

Sebuah pesawat CN 235 milik Merpati Airlines menabrak gunung ketika hendak mendarat di bandara Husein Sastranegara-Bandung. Media massa melaporkan percakapan yang terjadi di kokpit dan terekam oleh pesawat lain yang kebetulan melintas di dekatnya. “Lho, lho, lho. Ini koq jadi begini?” kata pilot perempuan itu. Muncul spekulasi bahwa ada instrumen yang tidak beres di dalam pesawat tersebut. Tapi “sampai kucing bertanduk” kita–masyarakat–tak pernah tahu duduk perkara yang sebenarnya. Apalagi waktu itu B.J.Habibie–sebagai Dirut IPTN yang
membuat pesawat itu–sangatlah berkuasa.

Sebuah pesawat–lagi-lagi–CN 235 menghunjam tanah di lapangan terbang Curug ketika sedang berlatih untuk menjatuhkan barang seraya terbang. Seorang test-pilot terbaik milik IPTN menjadi korban. Di media massa kita membaca bahwa barang yang sedang dicoba hendak dijatuhkan itu ternyata menyangkut di pintu belakang. Akibatnya posisi pesawat menjadi vertikal dan jatuh menghunjam tanah. Muncul spekulasi bahwa tali yang dipakai oleh IPTN untuk menjatuhkan barang adalah tali plastik biasa. Seharusnya yang dipakai adalah tali khusus, dan yang bisa langsung putus bila barang yang hendak dijatuhkan itu tertahan di pintu pesawat. B.J. Habibie sebagai Dirut IPTN berang dan menggugat The Jakarta Post ratusan miliar. Tentu saja The Jakarta Post dan media massa lainnya jadi bungkan. Dan sampai sekarang kita tidak tahu duduk perkara yang sebenarnya.

Sebuah pesawat Airbus milik maskapai penerbangan Garuda menghantam bukit ketika hendak mendarat di bandara Polonia-Medan. Di media massa kita membaca laporan percakapan pilot pesawat tersebut dengan petugas menara kontrol yang kebetulan terekam oleh sebuah pesawat lain yang ada di sekitar tempat itu. Rupanya karena sekitar bandara Polonia diliputi oleh kabut asap (akibat pembakaan hutan) pilot mengalami kesulitan untuk mendarat. Karena itu ia minta dituntun oleh menara kontrol. Pilot memberitahukan poisisinya. “Belok kiri,” kata petugas menara
kontrol. Pilot ragu karena menurut pengalamannya dalam posisi yang demikian seharunya ia membelok ke kanan. Karena itu ia kembali bertanya kepada petugas menara, “Belok kiri?”. Kata petugas menara, “Ya, belok kiri”. Tak lama kemudian terdengar pilot berteriak, “Allahu akbar!”. Dan percakapan terputus. Kemudian di media massa kita juga membaca informasi bahwa orang yang seharusnya bertugas di menara kontrol sedang menjalankan sholat Jumat. Posisinya secara tidak resmi digantikan oleh seseorang yang sebenarnya tidak berwenang untuk bertugas di menara kontrol. Hanya itulah yang kita ketahui. Walau pun “black box” sudah ditemukan dan
diselidiki, tapi sampai sekarang kita–masyarakat–tak pernah tahu duduk perkara yang sebenarnya.

Sebuah pesaat Boeing 737 milik maskapai penerbangan Garuda terbakar di bandara Adisucipto-Yogyakarta. Dari media massa kita mengetahui bahwa pesawat tersebut ternyata mendarat dengan kecepatan yang sangat tinggi. Sampai sekarang kita tidak pernah mendengar laporan resmi penyebab kecelakaan tersebut. Tapi anehnya tiba-tiba kita membaca bahwa pilot pesawat tersebut (yang kebetulan selamat) kini menjadi terdakwa di Pengadilan Negeri Sleman-Yogyakarta atas kelalaiannya sehingga menyebabkan terjadinya kecelakaan.

Sebuah pesawat Boeing 737 milik maskapai penerbangan Adam Air yang berangkat dari Surabaya menuju Makassar kesasar atau melenceng dan mendarat di bandara Waingapu. Memang tidak ada korban jiwa. Tapi sampai sekarang–sampai perusahaan Adam Air bubar–kita tidak pernah tahu apa yang menyebabkan pesawat itu melenceng sedemikian jauh.

Sebuah pesawat Boeing 737 milik maskapai penerbangan Mandala gagal lepas landas, menabrak pagar dan jatuh di pemukiman penduduk di sekitar bandara Polonia-Medan. Sampai sekarang kita tidak tahu apa yang menyebabkan pesaat tersebut gagal lepas landas. Apakah pesawat itu kelebihan beban? Atau apa? Tapi di luar beredar desas-desus bahwa pesawat itu membawa durian yang luarbiasa banyaknya sebagai oleh-oleh dari seorang petinggi di Sumatera Utara.

Sebuah pesawat Boeing 737 milik–lagi-lagi–maskapai penerbangan Adam Air hilang dalam penerbangan dari Surabaya menuju Manado. Yang “lucu”-nya informasi pertama tentang hilangnya pesawat tersebut kita peroleh dari otoritas penerbangan Singapura. Isyarat radio (yang dipancarkan oleh pesawat bila berada dalam keadaan darurat) ditangkap oleh bandara Changi (baca: bukan Cengkareng, Juanda, Polonia atau Hasanuddin). Bahkan fihak Singapura sudah mengatakan bahwa pesawat itu ada di Selat Makassar. Tapi sementara itu kita sibuk mencarinya di pegunungan Sulawesi Barat. Kemudian kita menyewa sebuah kapal pencari milik AL
AS. Ketahuanlah bahwa pesawat itu sudah tenggelam di perairan Majene. Tapi karena bangkai pesawat itu berada 2.000 meter di dasar laut maka diputuskanlah untuk tidak mengangkatnya.

Di media massa kita tidak pernah membaca berita tentang ditemukannya “black box” pesawat tersebut. (Mencari dan mengangkat potongan fuselage yang besar itu saja, di kedalaman 2.000 meter di bawah sana, sudah tidak mungkin. Lalu bagaimana pula ceritanya black box yang kecil itu bisa ditemukan dan diangkat?). Tapi kini tiba-tiba di situs internet telah beredar pula percakapan yang konon kabarnya adalah rekaman percakapan yang diambil dari black box. (Kapan dan bagaimana black box itu diambil?).

Sebagai akibat dimuatnya transkripsi yang konon kabarnya berasal dari black box itu maka otoritas penerbangan sibuk membantah. Sebagai warga masyarakat kita hanya bisa geleng-geleng kepala melihat cara-cara otoritas penerbangan kita melakukan penyelidikan dan membagi hasil penyelidikannya itu ke masyarakat. Kalau memang black box sudah ditemukan, yah laporkanlah kepada masyarakat bahwa black box sudah ditemukan. Dan kalau memang percakapan itu adalah rekaman dari yang ada di dalam black box, yah akuilah dengan benar. Janganlah kita membuat persoalan menjadi mengambang.

Kalau kita mengikuti pemberitaan media massa Indonesia dengan kritis, alih-alih menjadi tercerahkan, kita memang sering menjadi bingung atau bahkan gila. Dan karenanya, kalau kita melihat cara-cara otoritas penerbangan kita dalam menyelidiki dan membagi informasi penyebab kecelakaan pesawat kepada masyarakat dan dunia luar, maka tak perlulah kita heran kalau oleh Masyarakat Eropa maskapai penerbangan kita dianggap sebagai penderita penyakit menular dan yang perlu dijauhi [.]

7 responses to “Hak Masyarakat Terhadap Hasil Informasi Investigasi Kecelakaan Pesawat Terbang

  1. Gerda Silalahi

    Halo, Ompung Gisella🙂 Kalo gak salah (berarti benar), pernah baca kalo black box Adam Air sudah diangkat dari perairan Majene dengan bantuan alat dari AS. Namun yang diangkat hanya black box-nya.

    Rekaman suara pilot Adam Air yang beredar di internet sangat menarik untuk disimak. Ketua KNKT tidak berani menyatakan rekaman itu palsu, hanya bilang tidak asli karena yang original disimpan oleh KNKT dan bersifat rahasia. yang beredar itu kemungkinan diperoleh dengan cara yang tidak benar. sementara Menteri Perhubungan juga sibuk membantah dan secara explisit menyatakan rekaman itu palsu.

    Bisa diartikan yang beredar itu duplicate, dong? Bukan yang asli memang, tapi duplikasinya.

  2. Begitulah. ketika masyarakat Eropa memperpanjang larangan terbang bagi maskapai Indonesia, para pejabat sibuk mencak mencak dan protes, bukannya memperbaiki dan mencari akar permasalahan… Lucu ya, Pung.

  3. Dasar birokrat, pejabat, pemegang otoritas negeri ini mungkin, kebanyakan mondar-mandir (MM) dan makin bego aje (MBA), mereka tidak pernah memegang kunci pas, mur dan baut, tetapi pintarnya bukan main.

  4. Setuju. Tapi ngomong-ngomong, program Air Crash Investigation adanya di National Geographic, bukan Discovery Channel.

  5. Hak mendapat informasi yang sama berlaku pula pada kasus susu yang tercemar bakteri. Namun, Menteri Kesehatan malah akan melawan keputusan mengadilan yang mewajibkannya untuk mengumumkan kepada publik merek susu yang tercemar bakteri itu.

    Dari kasus kecelakaan pesawat dan susu ini bisa kita simpulkan, pemerintahan SBY-JK bukan saja probisnis, tapi siap mengorbankan keselamatan rakyat demi melindungi kepentingan modal. Korban Bencana Lapindo bisa cerita banyak tentang ini.

  6. Oomong-mong, Lae, aku titipkan di sini link artikelku mengenai putra almarhum Heri Santoso–korban pembunuhan dan mutilasi oleh Ryan–yang kini berbuka puasa tanpa ditemani ayahnya, sementara FPI dengan bahagianya mewartakan bahwa Ryan sudah bertobat :

    http://ayomerdeka.wordpress.com/2008/09/03/mirahel-belum-tahu-bapaknya-dibunuh-oleh-ryan/

  7. What to say? Pak Mula ini memang editor sejati. Lahir batin. Luar dalam. Jasmani rohani.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s