Monthly Archives: September 2008

Beberapa Catatan Terhadap RUU Pornografi

Oleh: Mula Harahap

Bila dibandingkan dengan draft yang sebelumnya (sekitar 2 tahun lalu) draft yang terakhir ini telah mengalami kemajuan yang sangat berarti. Namun saya masih merasa bahwa definisi pornografi itu sendiri masih kurang tajam. Padahal kalau definisinya dipertajam, maka beberapa kontroversi yang selama ini berkembang di masyarakat bisa diminimalisir.

Apakah suatu materi yang berkaitan dengan seksualitas itu menjadi pornografi atau tidak, sangat ditentukan oleh niat dan tujuan dari yang membuat dan mengedarkannya. Kalau sebuah materi yang berkaitan dengan seksualitas tidak dibuat dan diedarkan dengan sengaja untuk membangkitkan hasrat seksual di kalangan anggota masyarakat, maka materi itu tidak bisa disebut sebagai pornografi.

Rumusan pornografi yang lebih tajam juga akan melindungi ruang privat anggota masyarakat. Dan pada gilirannya bisa mencegah ketakutan sebagian orang bahwa undang-undang ini terlalu jauh masuk dan mengatur kehidupan pribadi orang.

Continue reading

Minyak, Urap dan Minyak Urapan

Oleh: Mula Harahap

Praktek keagamaan untuk mengoleskan, memercikkan atau menuangkan sebuah bahan berbasis minyak ke tubuh seseorang, dengan harapan agar orang tersebut mendapat kesembuhan, pensucian diri atau peninggian derajat, rupanya tidak dikenal dalam kebudayan Indonesia. Karena itu bahasa Indonesia tidak memiliki kata yang khusus terhadap praktek keagamaan seperti itu.

Tapi terhadap bahan berbasis minyak itu, walau pun pada awalnya dalam budaya Indonesia tujuannya bukanlah dipakai untuk upacara keagamaan, ada kata yang khusus untuk itu, yaitu “urap”, Karena itu praktek keagamaan untuk mengoleskan urap ke tubuh seseorang, yang pada dasarnya memang tidak dikenal dalam kebudayaan Indonesia, disebut saja sebagai “pengurapan”.

Continue reading

Ekonomi Pertanian Indonesia di Tengah Gelombang Ekonomi Global

Oleh: Mula Harahap

Dua atau tiga bulan yang lalu di media massa saya membaca bahwa harga CPO (termasuk harga tandan buah segar) sedang bagus-bagusnya dan para petani kelapa sawit tersenyum dimana-mana. Tapi minggu lalu (hanya dalam tempo dua bulan) saya membaca tentang petani kelapa sawit yang cenderung tidak mau memanen hasil pertaniannya karena harga tandan buah segar sangat anjlok. Kalau mereka mengupah orang untuk menurunkan tandan buah segar itu, mereka akan rugi besar.

Hal yang sama juga terjadi dengan kedelai. Rasanya belum terlalu lama ketika produsen tahu dan tempe berdemonstrasi di depan Istana Merdeka karena harga kedelai (terutama import) sangat tinggi. Lalu beramai-ramailah para petani menanam kedelai. Tapi kemarin saya membaca
bagaimana petani di Jawa Tengah mengeluh karena kedelai mereka hanya dihargai kurang dari Rp.6.000,- per kilogram. Dan harga kedelai import pun hampir sama dengan itu.

Continue reading

Mr. Schaal Yang Murah Hati dan Perusahaan Otobus “Akap” Yang Dimusuhi Semua orang

Oleh: Mula Harahap

Ketika saya baru menjabat sebagai Penatua, empat tahun yang lalu, kalau membaca Warta GKI Kwitang, saya selalu menemukan kalimat: “Persembahan d. schaal. Pada kebaktian pemberkatan nikah si anu. Sekian puluh ribu rupiah….”

Dan yang lebih menarik perhatian dan membuat saya terkagum-kagum ialah, entah siapa pun pasangan yang menikah, selalu saja “Mr. D. Schaal” ini memberikan persembahannya.

Saya jadi penasaran. Akhirnya, suatu ketika, saya bertanya kepada isteri saya: “Kau ‘kan orang lama di GKI Kwitang?”

“Ya,” jawab isteri saya.

“Apakah kau mengenal anggota jemaat yang bernama D. Schaal? Saya rasa dia orang Jerman atau Belanda….”

Continue reading

Oom Salahnama

Oleh: Mula Harahap

Saya tidak ingat apakah cerita tentang tetangga kami yang satu ini sudah pernah
diceritakan oleh adik saya Daniel Harahap dalam buku memoarnya “Anak Penyu Menggapai Laut”, atau belum. Tapi seandainya pun sudah, izinkanlah saya membaginya kembali:

Ketika masih kanak-kanak, kami tinggal di sebuah rumah besar warisan Belanda di kompleks perumahan pegawai dari sebuah balai penelitian perkebunan di Kampung Baru–Medan. Rumah besar berlantai dua itu dihuni oleh tiga keluarga. Di atas ada Keluarga Harahap, dan di bawah ada Keluarga Susilo dan satu keluarga lagi yang terdiri dari seorang lelaki tua keturunan Yahudi-Belanda dengan beberapa anak asuhnya.

Continue reading

Hidup Saya Yang Penuh Dengan Angan-angan

Oleh: Mula Harahap

Sampai saya duduk di bangku kelas dua SD saya belum pernah melihat buah anggur sungguhan. Saya hanya melihatnya dari gambar yang ada di buku; terutama buku cerita-cerita Alkitab untuk anak-anak.

Sebenarnya kota tempat saya tinggal yaitu Medan adalah sebuah kota besar. Dan walau pun masa itu adalah masa konfrontasi dengan Malaysia, tapi saya rasa toko-toko tertentu pasti ada yang menjual buah anggur. Tapi buah anggur tentu saja adalah konsumsi keluarga-keluarga kelas atas, bukan konsumsi kami “orang susah” ini.

Suatu kali oleh teman sekelas saya diberi beberapa butir kismis. (Dan kismis juga bukanlah sesuatu yang bisa saya temukan setiap hari). Nah, karena tahu bahwa kismis adalah buah anggur yang dikeringkan, maka datanglah pikiran di kepala saya: Kalau kismis ini direndam di air, maka dia pasti akan kembali menggelembung dan menjadi buah anggur. Wuah!

Continue reading

Konstitusi Yang Aneh: Anggaran Pendidikan 20% dari APBN

Oleh: Mula Harahap

Saya belum pernah melihat konstitusi yang seaneh konstitusi Indonesia, yaitu bahwa suatu cita-cita bangsa dinyatakan secara kwantitatif; dan bukan kwalitatif. Dan saya rasa hanya Indonesia-lah satu-satunya negara di muka bumi ini yang secara eksplisit mengatakan bahwa anggaran pendidikan minimal haruslah 20% dari APBN. Lagipula, untuk apa lagi mencantumkan pernyataan yang bersifat kwantitatif seperti itu? Tokh di pembukaan konstitusi sudah dinyatakan secara
tegas bahwa salah satu tujuan dari dibentuknya negara ini adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Pencantuman pernyataan atau tekad yang bersifat kwanititatif itu tentu saja membuat banyak kerepotan. Selama bertahun-tahun Pemerintah terpaksa harus melanggar konstitusi karena tak bisa memenuhi angka minimal tersebut. Dan siapa yang bisa menjamin bahwa di masa-masa mendatang, karena sesuatu alasan–misalnya perang–kita terpaksa harus menaikkan anggaran pertahanan dan terpaksa mengorbankan anggaran pendidikan?

Continue reading