Panjang Umurnya, Panjang Umurnya

Oleh: Mula Harahap

Pada masa saya masih duduk di Sekolah Dasar–tepatnya di SD Kristen Immanuel, Jalan Diponegoro, Medan–hari ulang tahun anak belumlah dirayakan semeriah sekarang. Dulu belum ada tradisi untuk membagi-bagikan paket yang berisi aneka macam makanan bagi teman-teman sekelas, dan juga belum ada tradisi untuk mengadakan pesta eksklusif di McDonald atau Pizza Hut.

Anak-anak yang berulang tahun biasanya hanya membawa sekaleng “bonbon” ke kelas. Pada jam pelajaran selepas keluar main pertama, ibu atau bapak guru akan memanggil anak yang berulang tahun ke depan kelas, Lalu ibu atau bapak guru akan memimpin seisi kelas menyanyikan, “Panjang Umurnya”, “Selamat Ulang Tahun” atau “Pada Yang Tambah Umurnya”.

Karena merayakan ulang tahun seorang teman adalah sebuah peristiwa yang luar biasa, dan merupakan kesempatan untuk keluar dari “pekerjaan” belajar yang membosankan, maka seisi kelas akan bernyanyi dengan penuh semangat dan dengan suara yang setinggi-tingginya serta sesuka-sukanya.

Si anak yang sedang berulang tahun–terutama kalau dia adalah seorang anak lelaki–biasanya hanya berdiri sambil tunduk dan tersipu-sipu. Tapi akan ada saja anak yang sangat menikmati ketika dirinya menjadi pusat perhatian seisi kelas.

Setelah lagu selesai dinyanyikan (biasanya dengan melafalkan “serta muliaaaa” dan tepuk tangan yang sangat keras) maka anak yang berulang tahun akan berjalan dari bangku ke bangku membagikan “bonbon”. Biasanya setiap anak mendapat satu atau dua “bonbon”. Hal itu tak bisa ditawar-tawar lagi karena sudah merupakan petunjuk ibu atau bapak guru. Tapi ibu atau bapak guru akan mendapat privelese untuk mengambil berapa saja “bonbon” yang mereka mau. Kalau bentuk dan rasa “bonbon” yang ada di dalam kaleng tersebut seragam, biasanya pembagian akan berjalan cepat. Tapi kalau bentuk dan rasa bonbon itu bermacam-macam maka anak-anak akan bingung memilih mana yang harus diambil. Mereka mau yang ini, mau yang ini juga, dan mau yang itu, mau yang itu juga, sementara yang boleh diambil hanya satu atau dua.

Setelah selesai membagi “bonbon” kepada seisi kelas, anak yang berulang tahun masih harus juga membagikannya kepada seluruh guru dengan berjalan dari kelas ke kelas. Si anak yang berulang tahun tentu saja tidak boleh dibiarkan berjalan sendiri karena ini adalah hari istimewanya. Dia harus didampingi oleh anak yang lain. Biasanya seisi kelas akan berebut mengangkat tangan agar ditunjuk oleh ibu atau bapak guru untuk menjadi “dayang-dayang”. Berjalan dari kelas ke kelas mendampingi seorang teman yang sedang merayakan ulang tahun untuk membagikan “bonbon” adalah sebuah kehormatan dan kesempatan untuk keluar dari beban belajar.

Sama halnya seperti ketika berdiri di depan kelas, maka berjalan dari kelas ke kelas untuk membagikan “bonbon” kepada ibu atau bapak guru, oleh sebagian anak juga akan dirasakan sebagai sebuah siksaan, karena acapkali ia harus mendapat ciuman atau pujian dari ibu atau bapak guru di kelas lain itu dan mendapat berbagai komentar dari anak-anak yang menonton. Tapi ada juga anak yang sangat menikmati peristiwa seperti ini.

Membawa “bonbon” ke sekolah bukanlah sebuah keharusan. Anak laki-laki biasanya enggan melakukannya karena itu adalah pekerjaan “banci”. Tapi adakalanya, karena desakan orangtua, kita tidak bisa menolak. Ketika saya duduk di kelas lima SD saya pernah membawa “bonbon” ketika saya berulang tahun. Kata ibu saya, “Tidak baik kalau kau hanya dalam posisi yang menerima. Sesekali kau juga harus memberi….” Dan hari itu saya benar-benar merasa diri sebagai “banci”.

Kadang-kadang perayaan ulang tahun juga dilanjutkan dengan mengundang teman-teman sekelas untuk datang ke rumah di sore harinya. Kado atau hadiah yang diberikan kepada yang berulang tahun umumnya adalah beberapa buku tulis (yang di sampul belakangnya ada perkalian dari 1 sampai 10, dan ada slogan bahasa Inggeris “don’t put until tomorrow what you can do today”), beberapa pinsil, serutan, penggaris dsb.

Ketika saya masih kecil, saya selalu merasa tersiksa kalau memenuhi undangan teman yang merayakan ulang tahun. Ibu saya–yang terampil dalam menjahit–selalu memaksa agar saya memberikan hadiah buatan tangannya sendiri. Kadang-kadang saya harus membawa sapu tangan yang disulam dengan berbagai ornamen dan nama teman yang berulang tahun, kantongan tempat sisir yang diberi gambar-gambar dari potongan kain, atau pengukur tinggi badan yang penuh dengan kristik. Kata saya kepada Ibu, “Mak, ketahuan kalilah kita orang miskin. Mengapa aku tidak boleh memberikan hadiah buku tulis saja?” Jawab Ibu, “Inilah hadiah yang istimewa. Apalah artinya buku tulis? Semua orang bisa membelinya di kedai sampah….” Tapi waktu itu jawaban Ibu tentu saja saya anggap hanya sebagai alasan yang dibuat-buat.

Kesempatan mengunjungi rumah teman adalah sebuah pengalaman yang berharga. Ada-ada saja hal baru yang bisa kita lihat dan membuat kita terkagum-kagum di sana. Ketika saya diundang oleh teman sekelas saya Johnny Pardede untuk merayakan ulang tahunnya di rumahnya di Jalan Majapahit, saya terkagum-kagum melihat rumahnya yang besar itu. Saya pikir, kalau saya main “alip berondok” di rumah itu saya tidak bakal bisa ditemukan. (Dan di rumah itu ada pula beberapa harimau yang telah di-off-set dan yang matanya terbuat dari gundu).

Ketika saya diundang oleh teman sekelas saya Jabat Sidauruk untuk merayakan ulang tahunnya di rumahnya Jalan Padang Bulan, saya terkagum-kagum melihat sebuah mesin yang diperagakan oleh abangnya kepada kami. Kalau kami berbicara di depan mesin itu, lalu beberapa tombol ditekan-tekan, maka tak lama kemudian akan tedengar lagi suara kami seperti aslinya. Bahkan suara anjing yang menggonggong di kejauhan pun bisa disimpan dan dikeluarkan oleh mesin itu.

Ketika saya diundang oleh teman sekelas saya Ronny Chen untuk merayakan ulang tahunnya di rumahnya di Jalan Karim M.S, saya terkagum-kagum melihat bahwa di halaman belakang rumahnya ada lapangan bulutangkis yang terbuat dari semen. (Bukan lapangan bulutangkis yang terbuat dari tanah dan diberi garis pembatas dari deretan kulit kerang seperti yang ada di dekat rumah saya).

Tapi tentu saja ada juga perayaan ulang tahun yang tidak memberi kesan apa pun, bahkan cenderung menyebalkan. Saya pernah diundang oleh seorang anak perempuan teman sekelas. Tapi ketika saya datang di rumahnya dia hanya sibuk bermain dengan saudara-saudara sepupunya. Saya tidak digubrisnya. Apalagi waktu itu hanya sayalah satu-satunya teman sekelas yang datang. Padahal saya sudah datang dengan memakai baju yang paling bagus, yaitu baju yang dibeli Ibu ketika merayakan Natal dan Tahun Baru. Ketika pulang ke rumah dengan setengah menangis saya berkata kepada Ibu, “Akh, orang itu tak tahu sopan….”

Sebagaimana layaknya seorang anak kecil yang sedang dalam pertumbuhan (yang seperti ulat sutera akan melahap apa saja dengan tak henti-henti), maka urusan makanan dalam perayaan ulang tahun adalah juga hal yang selalu menarik perhatian saya. Saya selalu menceritakan kepada Ibu dengan antusias makanan apa saja yang saya temukan di rumah teman. Tapi adakalanya juga saya hanya berkata kepada Ibu, “Alaaah, kami cuma makan bihun goreng dan minum teh manis. Kue tart-nya pun hanya dinyanyikan saja, tapi tak dipotong dan dibagi….” [.]

3 responses to “Panjang Umurnya, Panjang Umurnya

  1. Wah, aku jadi ingat, waktu TK dulu aku juga diundang ke ultah-nya Yona Pardede (anaknya Bapak Rudolf Pardede). Aku juga terkagum-kagum melihat rumahnya yang besar banget. Ah, Immanuel…. Aku pun punya banyak kenangan manis dan lucu sewaktu bersekolah di sana. Aku suka sekali baca cerita-cerita di blog ini. Aku izin link ke blogku ya, Amang…?

    Silakan, Ito !

  2. Hahaha, lucu banget yang ini nih : “Alaaah, kami cuma makan bihun goreng dan minum teh manis. Kue tart-nya pun hanya dinyanyikan saja, tapi tak dipotong dan dibagi….”

  3. Tetty Simanjuntak

    Hahaha….Dari tadi asik baca beberapa tulisanmu. Lagi nunggu kelas, nih, jam 6. Ok, show time. Kapan-kapan baca lagi. Seru cerita-ceritamu, Mula. Ketawa-ketawa sendiri aku kayak orang sedeng.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s