Penyederhanaan Ideologi (Bercermin dari Sistem Demokrasi AS)

Oleh: Mula Harahap

Preferensi isyu-isyu dari dua partai politik besar (Republik dan Demokrat) yang menopang sistem demokrasi AS itu sebenarnya relatif ajeg dan terpolakan. Dan hal ini tentu juga adalah cerminan dari ideologi masing-masing partai tersebut.

Orang-orang Partai Republik umumnya setuju dengan pengurangan pajak (dan yang pada gilirannya berakibat pada pengurangan anggaran belanja negara). Dan uang yang seharusnya dipakai untuk membayar pajak itu sebaiknya dipakai untuk melakukan investasi swasta demi menciptakan lapangan pekerjaan. Orang-orang Partai Republik umumnya setuju dengan
kepemilikan senjata api oleh warga negara. Orang-orang Partai Republik umumnya menentang aborsi, dsb.

Sebaliknya, orang-orang Partai Demokrat umumnya setuju dengan peningkatan pajak demi peningkatan belanja negara. Dan belanja negara yang besar itu sebaiknya dipakai untuk mensubsidi kesehatan, pendidikan dan aspek-aspek kesejahteraan rakyat lainnya. Orang-orang
Partai Demokrat umumnya menentang kepemilikan senjata api oleh warga negara. Orang-orang Partai Demokrat umumnya setuju dengan aborsi, dsb.

Di antara kedua polarisasi besar itulah para politisi calon anggota House of Representative, Senat, Gubernur Negara Bagian atau Presiden “bermain”.

Boleh-boleh saja, terhadap sebuah isyu seorang politisi Partai Republik terkesan “demokrat”; atau sebaliknya seorang politisi Partai Demokrat terkesan “republik”. Tapi kalau diukur dalam keseluruhan isyu, orang Republik akan tetap “republik”, dan orang Demokrat akan tetap “demokrat”. Dengan lain perkataan, dalam mensikapi keseluruhan isyu tidak akan pernah terjadi bahwa seorang Republik menjadi terkesan “demokrat”; demikian pula sebaliknya. Di antara dua polarisasi itulah juga pendulum ideologi rakyat AS berdenyut dan bergerak.

Saya selalu mengimpikan bahwa kalau demokrasi Indonesia telah matang, dan bahwa kalau semua kekuatan politik di Indonesia sudah sepakat bahwa Negara Pancasila adalah bentuk negara yang final, maka Indonesia juga akan memiliki 2 polarisasi ideologi yang dimanifestasikan oleh 2 partai politik besar (atau paling tidak, oleh 2 kelompok besar partai-partai politik): Ada ideologi yang mengutamakan nilai-nilai agama dan kesalehan. Dan ada ideologi yang
mengutamakan nilai-nilai duniawi.

Selama periode 5 tahun–misalnya–kita dipimpin oleh partai politik atau kelompok partai-partai politik yang memiliki preferensi terhadap isyu-isyu: Rakyat harus sering-sering ke masjid, gereja atau vihara. Panti pijat, bar, kafe harus di-discourage. Pajak dan zakat harus ditingkatkan (dan adalah wajar, kalau orang sudah “dicekik” pajak maka dia tidak akan punya banyak peluang lagi untuk mengunjungi panti pijat dan bar). Anggaran yang besar karena peningkatan pajak dipakai
untuk mensubsidi pendidikan, kesehatan dsb.

Tapi rakyat tentu akan bosan kalau terus-menerus hidup dalam kesalehan. Karena itu ada masanya bandul politik akan bergeser ke polarisasi ideologi yang lain: Pajak dikurangi. Uang yang seharusnya dipakai untuk membayar pajak sebaiknya dipakai untuk menggalakkan investasi swasta. Dan kalau pajak sudah dikurangi, dan rakyat relatif memiliki lebih banyak uang di sakunya, maka wajar saja kalau mereka perlu ditolerir untuk sedikit “bermaksiat ria”. Karena itu
mengunjungi panti pijat, bar, kafe harus di-encourage🙂

Saya membayangkan bahwa dalam polarisasi ideologi yang “anti maksiat” akan bergabung partai-partai PPP, PAN, PKS, PDS, Bulan Bintang, dan Golkar. Lalu dalam polarisasi ideologi yang “pro maksiat” akan bergabung partai-partai PKB, Bintang Reformasi, Demokrat, dan PDIP.

Kalau ideologi dan isyu politik di Indonesia bisa dipolarisasikan, dan partai-partai politik bisa lebih disederhanakan dan dikumpulkan dalam 2 kelompok besar, niscaya kehidupan demokrasi akan menjadi lebih sehat. Pergeseran bandul politik dan denyut politik akan menjadi lebih terarah dan terkontrol. Kehidupan demokrasi Indonesia tidak menjadi seperti sekarang: Baju ideologi dan isyu yang diusung oleh partai (partai apapun itu) tidak jelas. Dalam menangkap isyu partai-partai bergerak kesana-kemari seperti “chaos”. Dan kita tidak pernah tahu partai mana yang “maksiat”, dan partai mana yang “tidak maksiat”. Semua terkesan sama-sama saleh, tapi juga sekaligus sama- sama maksiat [.]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s