Politik Pencitraan dalam Kampanye Presiden AS

Oleh: Mula Harahap

Ketika Bill Clinton baru berada pada masa-masa awal kampanyenya menuju kursi kepresidenan dan primary belum digelar, tiba-tiba di kubu tim kampanyenya terjadi kehebohan. Mereka mendapat informasi bahwa dalam satu-dua hari ke depan akan ada seorang perempuan bernama Jenniffer Flower yang akan membeberkan kepada publik tentang hubungan gelapnya selama ini dengan sang calon presiden yang juga adalah mantan Gubernur Negara Bagian Arkansas itu.

Walau pun masyarakat AS adalah masyarakat yang relatif liberal dan permissive, tapi pembeberan skandal seksual yang dilakukan oleh seorang calon pejabat tinggi negara tidaklah bisa dianggap sepele. Masih banyak anggota masyarakat yang menuntut secara tinggi nilai-nilai moral dan etika dari para pemimpinnya. Dan bila isyu tersebut tidak ditangani secara baik-baik, maka dia bisa menjadi “bola liar” yang akan mempengaruhi penilaian terhadap sang pemimpin atau sang calon pemimpin, dan yang pada gilirannya akan menyebabkan larinya dukungan politik dan dana. Garry Hart seorang calon presiden dari Partai Demokrat sudah pernah mengalami nasib malang itu. Sebenarnya ia sudah masuk dalam daftar puncak yang akan dinominasi oleh partainya. Tapi malang baginya, suatu malam media massa memergokinya sedang berdua-duaan dengan seorang perempuan penghibur di yacht pribadinya yang berlabuh di Sungai Potomac–Washington DC. Media massa AS membeberkan foto-foto ketika perempuan itu turun dari mobil dan masuk ke yacht, dan juga membeberkan foto-foto isteri Garry Hart yang kelihatan sedih dan bingung. Lalu, seperti dalam permainan ular tangga, Garry Hart langsung tercampak dari pertarungan untuk dinominasi.

Karena itu tim kampanye Bill Clinton berunding untuk mencari solusi. Mereka memanggil Hillary Rodham Clinton.

“Besok lusa akan ada seorang wanita yang akan membeberkan hubungan gelapnya dengan suamimu, dan media massa pasti akan menanyaimu,” kata salah seorang ahli pencitraan di dalam tim tersebut. “Dan kalau media massa menanyaimu, maka inilah yang harus kau lakukan dan katakan. Pertama, kau harus kelihatan tegar. Jangan menangis. Karena, kalau kau menangis, akan banyak perempuan AS yang akan bersimpati padamu dan akan memasukkan suamimu dalam deretan para lelaki jahanam yang selalu berkhianat dan menyakiti hati isteri. Kemudian, pernyataan Jenniffer Flower tidak usah kau sangkal, dan tidak usah pula kau iyakan. Dan akhirnya, pakailah kostum yang segar dan cerah, dan berdandanlah secantik mungkin….”

Seperti yang telah diduga, dua hari kemudian Jenniffer Flower memang membeberkan kepada dunia hubungan gelap yang pernah dijalinnya dengan Bill Clinton. Hillary Rodham Clinton tentu saja menjadi kejaran media massa. Tapi ia tampil sebagaimana yang telah diskenariokan: tegar dan tenang. Dan kepada media massa ia berkata, “Kalau isyu itu saya sangkal, anda tentu tidak akan percaya. Tapi kalau isyu itu saya iyakan, saya yang tidak percaya. Karena itu biarlah isyu ini menjadi urusan saya dengan suami saya, dan akan saya selesaikan baik-baik…”

Sikap dan kata-kata Hillary Rodham Clinton memang sungguh menyelamatkan suaminya. Angka popularitas Bill Clinton hanya turun sedikit. Citranya sebagai seseorang yang akan menyelamatkan perekonomian AS tidak menjadi rusak karena tingkah-laku seksualnya. Banyak warga AS, yang ketika diwawancari media massa, berkata, “Yah, apa boleh buat? Semua lelaki juga sama seperti dia. Lagipula, yang sedang kita cari adalah seorang presiden, bukan pendeta tokh?”

Pertarungan untuk menjadi presiden di AS memang sebuah panggung politik yang menarik untuk diikuti. Suka atau tidak suka, disebabkan oleh sistem demokrasi dan kehidupan media massanya yang sedemikian rupa, maka pertarungan tersebut acapkali lebih merupakan pertarungan isyu dan citra dengan memanipulasi media massa. Karena itu juga tim inti kampanye seorang calon presiden selalu akan berisi seorang ahli isyu (lebih tepatnya ahli membuat atau mengalihkan isyu), seorang ahli pencitraan (yang mengatur bagaimana seorang calon presiden harus berpakaian, berjalan atau berkata-kata), seorang ahli periklanan, seorang publicist (yang mengatur hal-hal yang perlu atau tidak perlu dibeberkan kepada umum berkaitan dengan kehidupan calon presiden), seorang ahli periklanan, dan seorang ahli penulis pidato. Orang-orang inilah yang mengamati “trend” apa yang sedang “in” di masyarakat, apa yang telah dijual oleh lawan, dan apa yang harus dijual oleh calon mereka sendiri.

Nixon adalah seorang presiden yang cerdas tapi licik. Kepemimpinannya diwarnai oleh skandal Watergate yang sangat memalukan AS. Karena itu adalah sesuatu yang wajar kalau setelah era Nixon di AS muncul harapan akan tipe kepemimpinan yang berbeda. Nah, tipe itu rupanya bisa ditemukan di dalam diri seorang mantan Gubernur Negara Bagian Georgia yang bernama Jimmy Carter. Dia tidak terlalu cerdas. Tapi dia jujur dan bersahaja. Dan tentu saja “barang baru” ini sangat menarik bagi rakyat AS yang sudah letih dengan kepemimpinan Nixon. Maka dipoleslah Jimmy Carter sebagai seorang yang saleh, yang gemar membaca Alkitab, yang di waktu senggangnya selalu menyempatkan diri menjadi guru sekolah minggu, dan yang punya kehidupan keluarga yang manis dengan anak-isterinya, saudara-saudaranya, bahkan dengan ibunya. Nama Jimmy Carter langsung melejit. Dan di awal pemunculannya bahkan banyak politisi di Washington DC yang tidak terlalu mengenal Jimmy Carter sehingga ia dijuluki sebagai “Jimmy Who?”. Bahkan pada awal pemunculannya para tokoh Partai Demokrat sempat terpikir untuk menjegalnya. Mereka beranggapan bahwa adalah terlalu riskan bila seorang guru sekolah minggu yang berasal dari udik AS dibiarkan menjadi pemimpin dari sebuah negara adikuasa. Tapi apa mau dikata? Kehendak rakyat tak bisa dihalang-halangi. Akhirnya Jimmy Carter terpilih menjadi presiden.

Setelah empat tahun berada di bawah kepemimpinan Jimmy Carter, akhirnya rakyat AS sadar juga bahwa ternyata modal keluguan dan kesalehan tidaklah terlalu menguntungkan. Shah Iran sekutu AS yang paling baik itu digulingkan oleh sebuah revolusi tanpa AS bisa berbuat banyak hal. Bahkan kedutaan AS (plus beberapa personilnya) di Teheran disandera oleh para mahasiswa dan pengawal revolusi Iran selama berbulan-bulan. (Para sandera itu baru dibebaskan beberapa menit setelah Jimmy Carter menyerahkan jabatannya kepada Ronald Reagan).

Sebagai antitesa dari Jimmy Carter maka kini rakyat AS membutuhkan sosok presiden yang sedikit lebih garang. Lalu dipoleslah seorang mantan bintang filem kelas dua Hollywood, yang pernah menjadi Gubernur Negara Bagian Calfornia, bernama Ronald Reagan. Rupanya AS kini membutuhkan seorang koboi. Dan citra koboi itu jugalah yang sedari awal dilekatkan kepada Ronald Reagan oleh tim kampanyenya, yaitu Reagan yang suka mengendarai kuda dan berpostur tinggi besar. Selama masa kepemimpinanya, dan sesuai dengan harapan rakyat, perananan koboi itu jugalah yang dijalankan Reagan dengan baik Reagan. Ia memberi tembakan salto kepada Khadafi dengan membombardir Tripoli, ia menyerang Grenada dan ia menangkap Panama serta menyeretnya ke AS atas tuduhan melakukan perdagangan narkoba.

Presiden koboi memang membuat kepala AS bisa tegak dimana-mana. Tapi ekonomi dalam negeri menjadi tak terurus. Defisit anggaran belanja dari tahun ke tahun menjadi semakin besar. Akhirnya–setelah periode transisi di bawah kepemimpinan Geroge Bush Sr yang adalah protese sang koboi–rakyat AS mulai mencari sosok lain. Lalu muncullan seorang mantan Gubernur Arkansas bernama Bill Clinton. Dan mulailah tim kampanyenya memolesnya sebagai “juruslamat” ekonomi. Memang Bill Clinton bukanlah seorang lelaki yang suci. Bahkan boleh dikatakan dia adalah seorang lelaki yang brengsek dan “womanizer”. Tapi sedemikian piawainya para pembantunya memoles citranya sehingga ia tak bisa dijungkirkan hanya karena urusan perempuan.

Di periode keduanya sebagai presiden, Bill Clinton bahkan terjerumus dalam skandal seks yang lebih memalukan lagi dengan seorang remaja bernama Monica Lewinsky. Kubu Partai Republik sebenarnya sudah melihat peluang dari skandal ini untuk memakzulkannya sebagai presiden. Tapi–itulah hebatnya manipulasi isyu dan politik pencitraan–ketika kubu Partai Republik bertindak lebih keras, justeru popularitas mereka menjadi semakin menurun. Di AS langsung timbul opini terhadap para anggota parlemen dan senat dari Partai Republik: “Anda-anda ini mau mengurusi kehidupan seks Bill Clinton, atau mau mengurusi negara?” Terpaksa Partai Republik mengangkat gas dan menekan rem. Bill Clinton berhasil menyelesaikan 2 periode masa jabatannya sebagai presiden dengan selamat. Semua orang sadar bahwa ia bukanlah seorang yang punya reputasi moral yang baik. Tapi semua orang sadar bahwa ia adalah presiden yang menyelamatkan perekonomian AS [.]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s