Hidup Saya Yang Penuh Dengan Angan-angan

Oleh: Mula Harahap

Sampai saya duduk di bangku kelas dua SD saya belum pernah melihat buah anggur sungguhan. Saya hanya melihatnya dari gambar yang ada di buku; terutama buku cerita-cerita Alkitab untuk anak-anak.

Sebenarnya kota tempat saya tinggal yaitu Medan adalah sebuah kota besar. Dan walau pun masa itu adalah masa konfrontasi dengan Malaysia, tapi saya rasa toko-toko tertentu pasti ada yang menjual buah anggur. Tapi buah anggur tentu saja adalah konsumsi keluarga-keluarga kelas atas, bukan konsumsi kami “orang susah” ini.

Suatu kali oleh teman sekelas saya diberi beberapa butir kismis. (Dan kismis juga bukanlah sesuatu yang bisa saya temukan setiap hari). Nah, karena tahu bahwa kismis adalah buah anggur yang dikeringkan, maka datanglah pikiran di kepala saya: Kalau kismis ini direndam di air, maka dia pasti akan kembali menggelembung dan menjadi buah anggur. Wuah!

Kismis itu tidak saya makan. Saya menyimpannya dengan hati-hati di kantong baju saya dan membawanya ke rumah. Sesampai di rumah saya memasukkannya di gelas yang berisi air. Satu hari, dua hari, tiga hari saya menunggu tapi kismis itu tetap saja keriput dan tak berubah menjadi anggur. Akhirnya dengan kecewa air di gelas itu terpaksa saya buang dan kismisnya saya kunyah.

Saya juga pernah berangan-angan ingin menjadi petinju dan memiliki sarung tinju. Tapi saya sadar bahwa sarung tinju adalah sesuatu yang mahal dan tak mungkin saya minta dari ayah saya. Tapi setiap siang di depan rumah saya selalu melintas tukang loak (tukang “goni botot”,
kata orang Medan) yang bersedia membeli barang rongsokan apa saja: botol, koran dan besi bekas.

Saat itu saya mempunyai sebuah magnit yang saya bongkar dari dinamo sepeda. Saya suka memain-mainkan magnit itu di pasir. Timbullah sebuah gagasan yang “brillian” di kepala saya: Pasir ini adalah besi. Kalau saya bisa mengumpulkannya sampai satu karung dan menjualnya ke
tukang “goni botot”, saya akan memperoleh cukup uang untuk membeli sepasang sarung tinju.

Begitulah, setiap pulang sekolah, selama berhari-hari saya selalu berjongkok di pinggir jalan mengumpulkan “biji besi” itu dengan magnit. Tapi perbuatan saya itu rupanya menarik perhatian seorang bapak, tetangga saya. Ia bertanya apa sebenarnya yang sedang saya lakukan. Dengan bangga saya menceritakan kepadanya cita-cita saya untuk menjual besi guna mencari uang membeli sepasang sarung tinju.

Tetangga saya tertawa. Kepada saya ia menerangkan bahwa pasir itu bukanlah besi. Ia hanya mengandung sedikit saja besi. Dan untuk menjadi besi ia masih harus diolah. Lalu kepada saya diterangkannya tentang proses membuat besi. Saya kecewa. Pasir besi yang sudah terkumpul sampai setengah karung itu kembali saya tebarkan di jalan. Angan-angan untuk menjadi petinju pun selesai sampai di situ.

Ketika saya masih anak-anak ibu saya acapkali mengeluh karena saya selalu hidup penuh dengan angan-angan dan bergonta-ganti cita-cita. Sebenarnya sampai sekarang pun saya adalah orang yang selalu penuh dengan angan-angan. Tapi tentu saja ibu saya tak mengetahuinya lagi. Kini isteri sayalah yang selalu mengeluh.

Kemarin, sepulang dari gereja, saya sibuk memeras daun cincau untuk membuat jelly cincau. Akibat musim penghujan, pohon-pohon cincau di halaman rumah saya merambat dengan lebatnya kemana-mana. Nah, sementara memeras daun cincau itu saya berceloteh tentang angan-angan memiliki tanah sekian hektar yang ditanami pohon cincau dan membuat cincau sebagai jelly yang bebas “chemical” untuk dijual di Carrefour. Kata isteri saya, “Akh, kau bersihkan dulu dapur dan panci-panci saya. Saya tak mau noda cincau belepotan kemana-mana. Setelah itu, kalau mau berangan-angan, silakan….”

Sebagai orang yang suka berfantasi dan berangan-angan, maka harus saya akui, saya tak terlalu betah ngobrol-ngobrol dengan lelaki sebaya saya. Apalagi para bapak-bapak Batak yang umumnya pragmatis dan tak punya fantasi itu. Boleh dikatakan hidup saya sebenarnya kesepian.

Salah seorang teman ngobrol saya yang paling pas–dari yang sedikit itu–bernama William Pangondion Harahap. Umurnya baru lima tahun. Dia adalah putera dari adik saya DTA.

Kalau William–yang tinggal di Palembang itu–datang berkunjung ke rumah saya, maka kami berdua (amangtua dan anak) akan duduk berhadap-hadapan di ruang tamu seperti layaknya dua orang dewasa. Lalu mengobrollah kami berlama-lama tentang pesawat terbang Airbus A-380,
tentang membuat perusahaan penerbangan “KNW (Kika-Nina-Willy) Airways”, tentang menangkap ikan paus biru di Samudera Atlantik, tentang bagaimana membuat kaca, atau tentang hal-hal yang sama-sama pernah kami tonton di Discovery atau National Geographic Channel. Dan dari sudut mata saya memandang, di kejauhan sana ada ibu dan bapak Si William yang menguping pembicaraan kami. Saya tahu mereka pasti takut kalau-kalau puteranya itu ketularan penyakit amangtua yang suka berangan-angan dan berfantasi [.]

5 responses to “Hidup Saya Yang Penuh Dengan Angan-angan

  1. Hahaha, mentornya Willy ternyata bapa tua-nya. Saya baca di “rumametmet” (di kategori “Keluarga DTA”). Willy bercita-cita jadi petugas lapangan terbang, hari lain ganti lagi jadi superman, hari lain ganti lagi. Senangnya punya bapa tua yang bisa nyambung.

  2. Janpieter Siahaan

    Ha…ha…ha…… terkadang memang ada saatnya anak-anak “enak” kita ajak bicara, agak nyambung gitu…..tapi kalau kita ladeni bicara terus… anak-anak belompatan topik bahasannya…. namanya juga anak-anak.

  3. He…he….Kita memang ada karena angan-angan…Angan-angan dari bapak kita yang ingin menikah dengan ibu kita untuk seterusnya dikaruniai anak…Saya pribadi sampai sekarang masih sering berangan-angan dan berfantasi….Dari situlah mimpi dan harapan saya bisa tercapai….Dengan doa tentunya…..

  4. Ha..ha..ha..lucu kali kau, Pung. Tapi aku pun agak agak mirip Ompung, orang yang sering diomelin istri karena mengungkapkan khayalan. Ha..ha.ha.. ternyata aku tak sendiri. (Lagi baca-baca tulisan Ompung nih.. sambil senyum-senyum. Kerjaan masih belum ngalir).

  5. Rudi Simanoengkalit

    Amang Harahap, dulu saya juga suka berangan-angan. Waktu berusia 3 tahun saya juga pernah punya pikiran ‘brilian’ seperti Amang. Saya kira kalau dijemur, maka air akan kering dan mengeras. Air saya tempatkan dalam botol dan ditaruh di terik matahari. Tetapi setiap saya periksa, airnya hilang dan saya curiga seseorang dengan diam-diam menumpahkan dan membuangnya. Setelah kelas 4 SD baru saya tahu betapa ‘dungunya’ saya waktu itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s