Monthly Archives: October 2008

Marga-marga Batak dalam Mosaik Besar Kebudayaan Indonesia

Oleh: Mula Harahap

Beberapa hari yang lalu di harian Kompas ada sebuah berita kecil tapi menarik tentang Presiden SBY. Dalam sebuah kesempatan bersantai ketika sedang melakukan kunjungan kerja–saya lupa entah kemana–Presiden SBY melontarkan guyonan tentang situasi kehidupan ekonomi masyarakat yang digambarkan dalam kata-kata yang sebagian besar memiliki padanan bunyi dalam marga-marga Batak.

Kita juga tentu pernah mendengar guyonan yang sama, yaitu tentang bensin yang sudah naik menjadi enam “pasaribu” rupiah, kehidupan yang semakin bertambah “silitonga” dan “girsang”, minyak tanah yang semakin langka dan rakyat yang terpaksa menebang “pohan-pohan” untuk dijadikan kayu bakar, dan kehidupan yang sudah tidak punya “harahap” lagi. Dan di akhir guyonannya Presiden SBY masih menyempatkan diri untuk berkata, “Tapi besan saya juga Pohan, lho! Hehehehe….”

Continue reading

Advertisements

Senang Bersama Yesus….He-he-he

Oleh: Mula Harahap

Cerita tercecer di bawah ini adalah pengalaman ibu saya ketika mengikuti kebaktian di HKBP Pulomas tahun 2004 yang lalu. Saya mencoba menuturkan apa yang diceritakan oleh ibu saya secara apa adanya dan mempostingnya di sini karena–menurut hemat saya–cerita ini bisa menggambarkan secara tepat tentang bagaimana kalau urusan politik dibawa-bawa masuk ke ranah agama.

SENANG BERSAMA YESUS. HE-HE-HE

Ketika kebaktian sedang berlangsung, menjelang khotbah, ada pengumuman yang mengatakan bahwa kami akan mendengarkan puji-pujian dari grup vokal ‘Senang Bersama Yesus’.

Continue reading

Pendeta dan Komputer

Oleh: Mula Harahap

Di pertengahan tahun 90-an, dalam perjalanan bermobil ke Medan, saya mampir satu malam di rumah seorang pendeta muda di kompleks HKBP Jl. Kapten Ruslan–Palembang.

Sepanjang malam itu kami ngobrol ngalor-ngidul. Entah mengapa, pembicaraan kami juga menyerempet ke soal gereja dan teknologi komunikasi/informasi. “Kau harus menguasai teknologi komputer,” kata saya berteori kepada pendeta itu. “Sebagian dari masa depan gereja akan sangat tergantung pada hal tersebut….”

Tentu saja pendeta itu hanya diam menatap saya. Tapi, saya rasa, saya tahu apa yang sedang berkecamuk di benak pendeta miskin dari sebuah organisasi gereja yang bernama HKBP itu. Karena itu kepada pendeta itu langsung saya katakan, “Nanti sepulang dari Medan akan saya kirim satu perangkat komputer. Pakailah itu untuk belajar…”

Continue reading

Cerita Tentang Komputer

Cerita Tentang Komputer

Oleh: Mula Harahap

Fisik komputer, yang dulu dikenal sebagai PC (personal computer) itu, baru saya lihat di pertengahan tahun 80-an. Tapi sebelumnya, melalui majalah-majalah luar negeri, saya memang sudah banyak membaca tentang kemungkinan perubahan gaya hidup dan gaya kerja yang akan terjadi akibat kehadiran komputer tersebut.

Komputer yang pertamakali saya lihat itu ada di ruangan salah seorang direktur dari perusahaan tempat saya bekerja. Karena dia seorang yang gemar akan hal-hal teknis, maka saya lihat dia asyik sekali dengan komputer tersebut. Ketika kami rapat anggaran, dia sendirilah yang memindahkan angka-angka yang kami bicarakan dari papan tulis ke komputer, untuk kemudian dihitung sendiri oleh komputer dan hasilnya disajikan dalam bentuk tabel yang rapih.

Continue reading

Ketika Aktivis LSM Ramai-ramai Terjun ke Ranah Politik Paktis

Oleh: Mula Harahap

Pada waktu negara India baru berdiri, lembaga yang menyantuni orang-orang papa, yang didirikan oleh Bunda Theresa di Calcutta, belumlah sebesar dan setenar sekarang. Bunda Theresa pun masih banyak sekali menghadapi tantangan dalam mewujudkan cita-citanya.

Tapi cobalah kita bayangkan apa yang terjadi jika pada waktu itu Bunda Theresa mengambil sikap seperti yang dianut oleh banyak aktivis LSM Indonesia dewasa ini: “Gerakan civil society yang menjadi ranah perjuangan kita ini kalah kuat dengan ranah negara/politik. Karena itu kita juga harus terjun ke politik praktis agar bisa lebih efektif dalam mewujudkan cita-cita perjuangan. Dan seraya terjun di ranah politik praktis sekaligus kita memperbaiki kehidupan politik yang busuk ini…..”

Continue reading

Untuk Segala Sesuatu Ada Masanya: Mengenang Kosasih Iskandarsjah

Oleh: Mula Harahap

Sekitar jam 18.00 pada hari Jumat tanggal 10 Oktober 2008 itu isteri saya menelepon lewat telepon kantor. Saya baru sadar ternyata sejak siang telepon genggam saya sedang di-charge dan dalam keadaan mati. “Kosasih telah meninggal dunia di Singapura,” kata isteri saya. “Apa? Siapa yang memberi kabar?” tanya saya tak percaya. “Banyak orang. Saya kurang ingat. Dan mereka semua adalah orang yang tak berhasil menghubungi telepon genggammu…..”

Saya hanya bisa terhenyak dan mencoba membayangkan sosok Kosasih Iskandarsjah (Sie Tjien Boen); orang yang penuh dengan gagasan, selalu punya jawab, tak pernah diam, dan kalau berbicara selalu tergagap-gagap karena lidahnya kalah cepat dengan pikiran yang hendak dikeluarkannya dari kepalanya.

Continue reading

Ompung Odong-odong

Oleh: Mula Harahap

Entah mengapa, kalau melihat saya, cucu saya yang bernama Gisella, dan yang baru berumur 2 1/2 bulan itu, selalu bertingkah. Mula-mula dia akan tersenyum dan menggeliat-geliatkan tubuhnya. Kemudian kalau saya belum juga memberikan reaksi dia akan mengangkat-angkat pantatnya dan menggerak-gerakkan kedua kaki dan tangannya seperti orang sedang mengayuh becak. Dan kalau saya masih juga belum memberikan reaksi, maka mulailah dia mendorong-dorong tubuhnya ke atas dengan menekan kedua kakinya di atas seperai–seperti belatung atau jentik-jentik nyamuk–seraya mengeluarkan suara, “Ehek…ehek….ehek…” Kalau sudah sampai di fase yang terakhir ini, tentu saja saya akan jatuh hati dan mengangkatnya dari tempat tidur.

Continue reading