Facebook

Oleh: Mula Harahap

Saya orang yang tidak terlalu mengerti tentang teknologi komunikasi dan informasi, terutama tentang internet. Karena itu ketika saya diminta menulis sebuah artikel panjang tentang internet dan media, saya terpaksa mencari bahan di wikipedia. Saya kepingin tahu apa itu “citizen journalism”, “participative journalism”, “blog”, “youtube”, “livejournal” dsb.

Ketika membaca artikel tentang “facebook” saya tertarik membaca besarnya jumlah anggota “social networking” ini dan keunggulan-keunggulan dari “features” yang ditawarkannya. Apalagi saya juga pernah mendengar bahwa banyak calon presiden di AS maupun Indonesia
yang sudah ber-facebook-ria.

Kemarin dulu, karena didorong oleh “curiousity”, saya mencoba meng-klik hompepage “facebook” dan langsung “sign-up”. Saya pikir kalau saya nanti tak mengerti atau bingung, yah saya cukup meninggalkan saja apa yang sedang saya kotak-katik ini, dan tak akan ada yang marah. (Dalam mencoba-coba berbagai kemungkinan di internet hanya ada satu rumusan yang saya pegang: Jangan pencet-pencet nomor kartu debet atau kartu kreditmu. Hal-hal lain silakan pencet).

Entah apa yang saya pencet di “facebook” itu, tiba-tiba muncul tampilan sederet nama yang sebagian besar “kayaknya” memang saya kenal. Kata saya dalam hati, “Hebat sekali facebook ini! Dari mana dia tahu siapa-siapa saja kawan saya? Sudah seperti Tuhan saja dia….”

Tapi walaupun saya sudah menyadari bahwa salah-salah pencet dalam melakukan eksperimen di dunia internet tidak akan pernah “dimarahin orang”, tetap saja saya berhati-hati. Saya mencoba memencet nama yang benar-benar saya kenal, dan yang kalau pun terjadi kesalahan, dia pasti tidak akan marah.

Ketika saya sedang memencet-mencet entah apa saja yang ada di “facebook” itu tiba-tiba masuk telepon dari adik saya Daniel Harahap.

“Namamu sudah saya acc sebagai kawan di facebook,” katanya.

“Lho, dari mana kau tahu saya sedang mengkutak-katik facebook?” tanya saya terheran-heran. Dia memang pendeta. Tapi sejak kapan pula dia menjadi seperti Tuhan–yang tahu apa yang sedang saya kerjakan?

“Lha, aku ‘kan juga sedang membuka facebook di sini,” katanya. “C’mananya kau?”

Begitulah selama satu jam saya memanfaatkan Daniel untuk men-tutor saya dari jarak jauh mengenai “facebook”.

“Aku mau bertanya kepada kau,” kata saya kemudian. “Bagaimana facebook ini bisa tahu siapa-siapa saja kawan saya di dunia ini?”

“Mungkin mereka berafiliasi dengan Yahoo. Jadi mereka bisa menjaring orang-orang yang pernah kau hubungi lewat Yahoo….”

“Oh,kata saya.”

Sementara saya sedang memencet-mencet “facebook” itu kemudian masuk lagi posting dari anak saya: “Ck-ck-ck-ck…..” Hanya itu yang ditulis oleh “anak brengsek” itu.

Begitulah, dari pengalaman dengan DTA dan anak saya, saya beranikan diri memencet nama-nama lain yang saya kenal: Erwinthon Napitupulu, Muna Panggabean, Jan Calvin Pindo, Joas Adiprasetya dsb yang sudah menjadi anggota “facebook”. Tapi yang lebih membingungkan lagi ialah bahwa disamping mendapat kawan, saya juga mendapat “bonus” untuk berkenalan dengan kawan dari kawan saya. Bahkan kawan dari kawan dari kawannya saya.

Tadi malam selama berjam-jam saya masih sibuk dengan urusan “facebook”. Saya belajar membuat “note” pribadi, membuat note di “wall” kawan, menampilkan foto diri, dsb.

Sampai saat mengetik tulisan ini saya masih terus terkagum-kagum: Dulu untuk menjangkau dunia luar saya perlu perangko, kertas dan bis surat atau kantor pos. Dan tanggapan akan datang dalam 1 @ 2 minggu. Tapi sekarang saya hanya butuh sebuah komputer dan sambungan
internet. Lalu tanggapan akan muncul secara “real time”. Dan bukan hanya kata-kata yang bisa saya kirim, tapi juga foto atau filem tentang diri saya.

Saya rasa saya patut bersyukur kepada Tuhan karena masih diperkenankan hidup di dunia ini, di era Microsoft, Google, Yahoo dan Facebook ini [.]

5 responses to “Facebook

  1. OK, Amang, ketemu di Facebook kita yah. Ntar kita obrolin ASI panjang lebar🙂

  2. Nama Mula Harahap, pertama sekali aku kenal lewat sebuah tulisan yang membahas apa dan bagaimana ‘kolor bupati’ itu. Lebih lambat dari aku mengenal adiknya yang pendeta.

    Sekarang nama itu, telah menjadi sahabatku di fesbuk, setelah lebih dahulu menjadi temanku di dunia blog.Hahahahaha….Selamat datang di dunia fesbuk, Amang.

  3. Amang, sampe sekarang saya belum ngerti kali tentang facebook itu. Pusing kali. Ada wall-wall-nya segala. Belum lagi banyak kali invitation-nya, ada terima bung- lah, ada hugs-lah, ntah apa-apalah. Banyak kali macamnya.

    Males kali mo pelajarin si facebook itu. Jadi saya cuma accept, accept dan accept tapi enggak pernah ngirim apa-apa. Jadilah saya makhluk paling egois di facebook : cuma bisa menerima tanpa pernah memberi. Hahaha…

  4. Aha, begitu rupanya proses Tulang berkenalan dengan Facebook.
    Kalau aku, karena tertarik dari tulisan Budi Putra betapa dia begitu menikmati Facebook. Sejak itu, kuobrak-abriklah FB itu dan kucari teman sebanyak2nya…
    Ha ha ha…sampai kemudian, muncullah Tulang dan kutambahkan sebagai kawan.

  5. Facebook memang oke..hehe….. menjalin silaturahmi dengan teman-teman lama..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s