Sektor Finansial Yang Spekulatif dan “Bubble” Itu

Oleh: Mula Harahap

Dalam sebuah bukunya Lee Iacocca Presiden Direktur Chrysler Corporation itu pernah mengeluhkan betapa tidak adilnya dunia ini. Sebenarnya sokoguru perekonomian AS (dan dunia) adalah sektor real yang di dalamnya termasuklah para industriawan. Tapi entah mengapa
mereka kini hanya menjadi permainan dan bulan-bulanan sektor finansial. Orang-orang yang dengan penuh kerja keras dan kasih sayang dalam membangun pabrik yang mempekerjakan banyak orang itu gampang saja dicopot oleh orang-orang keuangan–para corporate raiders–yang bercokol di Wall Street yang sebenarnya tidak mengerti apa pun tentang industri. Mereka tidak pernah berpikir bagaimana membangun sebuah industri yang berkelanjutan. Yang mereka pikirkan hanyalah bagaimana menguasai industri tersebut, membuat sahamnya menjadi rendah, lalu memborong saham itu ketika harganya sedang rendah, lalu mengkutak-katik saham itu agar harganya menjadi tinggi dan cepat-cepat menjualnya ketika harga sedang tinggi, agar keuntungan berlipat- ganda. Mereka tidak pernah berpikir tentang perusahaan sebagai tempat
ribuan orang menggantungkan hidup, menyekolahkan anak dan membangun masyarakat yang bertanggung-jawab.

Gambaran betapa dingin, kejam dan serakahnya orang-orang di sektor keuangan yang bercokol di Wall Street itu bisa dilihat dalam filem “Others People Money”. Corporate raiders yang diperankan oleh Danny de Vito itu hanya perduli dengan “money”. Dia tidak perduli bahwa pabrik baja yang sudah tua dan sedang mengalami masalah itu adalah sebuah “organ kehidupan” yang sebagaimana halnya manusia juga memiliki perasaan. Dia tidak perduli bahwa walau pun gaji mereka sangat rendah, tapi karyawan-karyawan yang bekerja di pabrik tersebut merasa bangga dan senang. Yang diperdulikannya hanyalah bagaimana menguasai pabrik baja itu, mempretelinya sedemikian rupa, menutup yang tidak punya prospek dan menjual yang masih punya prospek.

Ketika mengikuti drama krisis keuangan yang sedang melanda AS ini, dua pikiran seperti tersebut di atas jugalah yang muncul di kepala saya.

Dan hari ini di halaman opini Harian Kompas saya membaca sebuah tulisan tentang betapa “absurd”-nya sebenarnya sektor finansial itu. Gaji orang-orang yang bekerja di perusahaan-perusahaan sekuritas itu bukan main tingginya, sementara sumbangsih mereka kepada kehidupan ekonomi ini sebenarnya tidak jelas.

Kerja mereka hanya mengukatak-katik harga saham, harga komoditas dsb. Kalau harga minyak bumi meroket sampai mendekati 190 dolar per barel, sebenarnya itu bukanlah gambaran sebenarnya dari kebutuhan dunia akan minyak berdasarkan hukum permintaan dan penawaran, tapi lebih karena permainan-permainan spekulasi. Demikian juga dengan “mortgage loan”
yang menjadi pemicu krisis ini. Ini hanyalah “bubble” hasil utak-atik orang-orang Wall Street.

Kalau saya adalah anggota Kongres AS, saya juga akan menolak untuk memberi talangan uang kepada perusahaan-perusaaan finansil yang sedang bermasalah itu. “Itu adalah hasil “kerakusan” mereka. Mampus sajalah mereka di situ….,” itulah yang saya katakan. Memang saya mengerti bahwa ekonomi ini sudah sedemikian kait-mengait. Dan kalau tidak dibantu dengan dana talangan, mungkin keseluruhan struktur ekonomi akan hancur. Tapi apa mau dikata? Biarlah kita belajar menata ekonomi negara (atau dunia ini) dengan sistem yang lebih adil dan manusiawi.

Karikatur Harian Kompas hari ini adalah sebuah gambaran yang sangat tepat akan apa yang sedang terjadi ini: Orang-orang sektor keuangan itu sedang meluncur turun di atas sebuah roller-coaster yang bernama “greedy”.

Saya tidak tahu bagaimana nanti dampak krisis di AS ini ke Indonesia. Tapi kalau pun krisis ini menjalar ke Indonesia, dan Pemerintah mencoba kembali membantu sektor keuangan (sebagaimana yang dahulu dilakukannya dengan Kredit Likwiditas BI), maka saya adalah orang
yang menolaknya. “Biar sajalah semua bank dan lembaga keuangan itu menanggung akibatnya sendiri. Pasar saham Indonesia mau hancur atau tidak hancur, itu tidak ada urusannya dengan rakyat kecil…..”

Tapi saya sadar bahwa saya hanyalah sebuah suara yang tidak berarti di tengah koor ekonomi pasar-bebas, neo-liberal dan kapitalis ini. Negara dan pemerintah kita juga sebenarnya sudah terjebak. Buktinya: Kemarin Presiden SBY menggelar Rapat Kabinet. Dan tahukah kita bahwa
disamping menteri-menteri maka dalam rapat itu juga hadir James Ryadi, Fransiscus Wellirang, Tomy Winata dan konglomerat lainnya [.]

One response to “Sektor Finansial Yang Spekulatif dan “Bubble” Itu

  1. Hallo, Bang Mula. Senang bisa bertemu kemarin di Cempaka Putih, kiranya ada kelanjutan untuk kerjasama kita. Salam kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s