Ompung Odong-odong

Oleh: Mula Harahap

Entah mengapa, kalau melihat saya, cucu saya yang bernama Gisella, dan yang baru berumur 2 1/2 bulan itu, selalu bertingkah. Mula-mula dia akan tersenyum dan menggeliat-geliatkan tubuhnya. Kemudian kalau saya belum juga memberikan reaksi dia akan mengangkat-angkat pantatnya dan menggerak-gerakkan kedua kaki dan tangannya seperti orang sedang mengayuh becak. Dan kalau saya masih juga belum memberikan reaksi, maka mulailah dia mendorong-dorong tubuhnya ke atas dengan menekan kedua kakinya di atas seperai–seperti belatung atau jentik-jentik nyamuk–seraya mengeluarkan suara, “Ehek…ehek….ehek…” Kalau sudah sampai di fase yang terakhir ini, tentu saja saya akan jatuh hati dan mengangkatnya dari tempat tidur.

Setiap kali mengangkat ndoro puteri itu dari tempat tidur saya selalu menyanyikan lagu yang dulu suka dinyanyikan oleh mahasiswa-mahasiswa plonco dari USU (Universitas Sumatera Utara): “Hai, hai….hai na macam mana do dibikin kowe/Mambuat roha ni saya/Sehingga roha ni saya holan to you/Begitu banyak ladies-ladies yang kukenal/Sasada ho do pe na pasenang-senang roha ni saya/Hai, hai….hai na macam mana do dibikin kowe/Mambuat roha ni saya/Sehingga roha ni saya/Holan to you….”

Bermacam-macam cara harus saya lakukan dalam menggendong agar Gisella tidak bosan dan mau segera tidur. Ada kalanya saya menelentangkannya atau menelungkupkannya di atas bantal dan menggendongnya bersama bantal tersebut. (Inilah yang saya sebut sebagai model “menggendong raja-raja”). Ada kalanya saya menyandarkan dadanya di dada saya dengan dagunya bertumpu di bahu saya. Ada kalanya saya menyandarkan punggungnya di dada saya dan menahan pantatnya dengan satu tangan dan menahan dadanya dengan tangan yang satunya lagi. (Inilah yang saya sebut sebagai model “duduk di kursi”). Ada kalanya saya menjepit kepalanya sedemikian rupa sehingga kepala itu tersembunyi di bawah ketiak saya dan wajahnya menghadap ke bawah. (Inilah yang saya sebut sebagai model “mencari uang receh yang tercecer di tanah”).

Ketika menggendong Gisella dan berupaya menidurkannya maka saya tentu saja harus bernyanyi. Ada kalanya saya bernyanyi lagu-lagu rohani dari “Kidung Jemaat” atau “Buku Ende”. Ada kalanya saya bernyanyi lagu anak-anak yang dulu saya pelajari ketika masih di TK. Ada kalanya saya bernyanyi lagu-lagu nasional. Adakalanya saya bernyanyi lagu-lagu pop nasional (Panbers, D’Lloyd, Pance Pondaag, dsb). Ada kalanya saya bernyanyi lagu-lagu pop Batak. Macam-macam!

Ketika melihat saya bernyanyi menidurkan Gisella, anak lelaki saya pernah bertanya, “Bapak ini, sebenarnya, bernyanyi untuk menghibur cucu atau untuk menghibur diri sendiri, sih?”

“Menghibur diri sendiri, dong,” kata saya. “Pekerjaan menidurkan anak kepala batu seperti ini adalah pekerjaan yang berat, karena itu kita perlu menghibur diri sendiri….”

Kadang-kadang seluruh koleksi lagu yang saya hapal dari suatu “genre” sudah habis saya nyanyikan, tapi Gisella belum juga tidur. Karena itu terpaksalah saya menyanyikan lagu dari “genre” yang lain.

Istei saya–“orang gereja” itu–selalu memprotes kalau saya bertukar-tukar “track” lagu. Apalagi kalau pertukaran itu terjadi dari lagu rohani ke lagu cinta.

“Kamu itu, benar sedikit, ‘napa?!” kata isteri saya.

“Habis mau bagaimana lagi?” kata saya. “Hanya sebegitu lagu rohani yang saya hapal dengan baik…” Tapi gara-gara protes isteri saya itu, saya jadi terpikir untuk menciptakan sebuah alat yang memungkinkan saya untuk membaca “Kidung Jemaat” atau “Buku Ende” sembari menggendong anak kecil.

Tingkah-laku Gisella yang selalu merasa “excited” kalau melihat ompung doli-nya, mengingatkan kami akan “odong-odong”, yaitu sebuah kendaraan sejenis becak yang di atasnya terdapat kuda-kudaan atau kapal-kapalan yang bergerak naik turun disebabkan oleh mekanisme pedal yang didayung oleh Si Abang.

Odong-odong, yang dilengkapi dengan loud-speaker “sember” yang tak putus-putusnya mengeluakan lagu anak-anak itu, banyak berkeliaran di daerah pemukiman yang dihuni oleh penduduk kelas ekonomi bawah di Jakarta. Anak-anak selalu menunggu kedatangan odong-odong dengan harap-harap cemas, dan memaksa meminta uang seribu atau dua ribu rupiah dari orangtuanya agar bisa naik odong-odong selama beberapa waktu.

Oleh Gisella dan ibunya kini saya dipanggil sebagai “Ompung Odong-odong”. Dan karena panggilan itu, maka kini, kalau Gisella sudah tertidur dalam gendongan saya, dan saya harus meletakkannya di tempat tidur, saya selalu berbisik di telinganya, “Katakan kepada ibu dan bapakmu, ya? Kau sudah berhutang kepada ‘Ompung Odong-odong’ sekian ratus dikali sekian ribu rupiah…..” [.]

4 responses to “Ompung Odong-odong

  1. Indahnya menjadi ompung, ya, Pak? Cerita ini tidak lain dari menggambarkan betapa bangganya seorang kakek menimang cucu.

  2. Hmm, ‘mpe terharu bacanya. Senang banget yah, Amang, punya cucu? Si Belle juga cucu pertama untuk ompungnya yang sudah menunggu cucu bertahun-tahun dari abang-abangku. Kata Ompung Belle, sejak ada belle rasanya dunia ini seperti taman bunga…, disana-sini bunga. karena ada bunga-bunga hidupku yaitu borumu ini, pahompukhon si bunga-bunga hidup nami.

  3. Janpieter Siahaan

    Bah, sudah marpahompu rupanya Lae, ya. Selamatlah, ya. Semoga jadi ompung yang dapat dibanggakan keluarga. Horas!

  4. Tapi ompungnya gini-gini pernah muncul di tivi…TV One. Acaranya debat… Bener ‘gak, mpung? HehehehehešŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s