Untuk Segala Sesuatu Ada Masanya: Mengenang Kosasih Iskandarsjah

Oleh: Mula Harahap

Sekitar jam 18.00 pada hari Jumat tanggal 10 Oktober 2008 itu isteri saya menelepon lewat telepon kantor. Saya baru sadar ternyata sejak siang telepon genggam saya sedang di-charge dan dalam keadaan mati. “Kosasih telah meninggal dunia di Singapura,” kata isteri saya. “Apa? Siapa yang memberi kabar?” tanya saya tak percaya. “Banyak orang. Saya kurang ingat. Dan mereka semua adalah orang yang tak berhasil menghubungi telepon genggammu…..”

Saya hanya bisa terhenyak dan mencoba membayangkan sosok Kosasih Iskandarsjah (Sie Tjien Boen); orang yang penuh dengan gagasan, selalu punya jawab, tak pernah diam, dan kalau berbicara selalu tergagap-gagap karena lidahnya kalah cepat dengan pikiran yang hendak dikeluarkannya dari kepalanya.

Saya sudah mengenal dan berkawan dengannya sejak 25 tahun yang lalu. Saya sudah mengenalnya sejak ia bekerja sebagai editor di Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Penerbit Panca Simpati, Penerbit Periplus, Penerbit Prenhallindo, Penerbit McGraw Hill, Penerbit Elsevier, Kepengurusan IKAPI Jakarta dsb

Pada awal Agustus 2008 lalu saya menelepon Kosasih yang bermukim di Singapura. Saya mengatakan kepadanya bahwa pada minggu ketiga bulan yang sama lembaga yang saya pimpin hendak menyelenggarakan pelatihan untuk memahami dan menguasai media–terutama media-media alternatif dan yang berkaitan dengan teknologi internet–bagi para pengerja gereja. Pelatihan tersebut akan diselenggarakan di Manado. Saya ingin sekali bila ia mau menjadi salah seorang instruktur sekaligus fasilitator. Kata saya menambakan, “Tapi anggaran kami terbatas sekali. Kami hanya bisa menanggung ongkos perjalanan Jakarta-Manado pulang pergi, biaya makan dan penginapan yang sederhana, dan honor sebagai instruktur sekaligus fasilitator yang juga tak besar-besar amat…..”

“Oh, saya mau,” kata Kosasih. “Kebetulan pada hari-hari itu saya memang memiliki beberapa urusan di Jakarta. Saya akan atur kembali jadwal saya…..”

Begitulah dari tanggal 25 sampai 29 Agustsus 2008 saya dan Kosasih berada di Manado. Selama dua hari pertama Kosasih membantu saya menjadi instruktur dan fasilitator pelatihan. Sebagaimana biasanya Kosasih tak pernah diam. Dengan penuh semangat tapi tetap sabar ia melayani pertanyaan para peserta tentang ABC-nya media internet; situs, portal, milis, blog, social networking dsb. Pada jam-jam istirahat Kosasih juga tetap membaur dengan para peserta dan ikut “nimbrung” dalam diskusi dan gurauan apa pun.

Karena pelatihan diselenggarakan dalam lingkungan gereja maka tentu saja diskusi dan gurauan pada jam istirahat juga akan menyerempet ke soal-soal tuhan, agama dan doktrin. Tapi sebagaimana biasanya, dalam pembicaraan-pembicaraan seperti itu–apalagi kalau menyangkut isyu yang terkesan fundamental–Kosasih yang liberal itu akan diam saja dan tersenyum-senyum. Nanti, kalau kami sudah berada di kamar, barulah Kosasih akan memberikan komentarnya kepada saya dengan gaya bicaranya yang khas itu, “Gawat,dah….! Kaco, dah….!” Lalu kami akan sama-sama tertawa terbahak-bahak.

Karena Kosasih adalah orang yang menguasai teknologi komputer dan intenet, maka tentu saja saya sangat merasa terbantu oleh kehadiran Kosasih. Bahkan Kosasih jugalah yang membantu saya untuk menyambungkan sebuah jaringan internet tanpa kabel ke tempat pelatihan yang berada di lereng perbukitan di selatan kota Manado itu.

Pada hari menjelang pelatihan Kosasih memang sempat ngomel-ngomel kepada saya karena ternyata tempat pelatihan tidak memiliki–paling tidak–jaringan Telkom yang bisa dipakai untuk internet. “Bagaimana, sih?” tanya Kosasih. “Kata kau jaringan wireless sudah ada?”

“Lho, jangan salahkan saya,” kata saya. “Jauh-jauh hari saya memang sudah memastikan kepada penyelenggara apakah tempat ini memiliki fasilitas wireless. Kata mereka ada. Tapi ternyata yang dimaksud dengan wireless adalah loudspeaker yang ada di pojok sana,” kata saya sambil menunjuk sebuah loudspeaker portable yang biasa digotong-gotong olah ibu/bapak pendeta kalau memimpin kebaktian di rumah jemaat atau di kuburan. “Gawat, dah…,” kata Kosasih sambil tertawa.

Selama masa pelatihan saya dan Kosasih tinggal sekamar. Bila telah selesai bersenda-guau dengan para peserta kami masih bercerita ngalor-ngidul tentang apa saja sampai lewat tengah malam. Percakapan kami biasanya serius tapi hanya di seputar hal-hal yang oleh orang lain mungkin akan dianggap sebagai tetek-bengek dan ngawur. Salah satu topik pembicaraan kami waktu itu adalah tentang fenomena belalang sembah (mantis) dalam melakukan hubungan seks. Sebagaimana diketahui, setiap kali selesai melakukan hubungan seks, belalang sembah betina pasti akan membunuh dan memakan jantannya sampai habis. “Apa sih arti fenomena ini?” tanya saya.

“Artinya, kalau kita laki-laki atau jantan, maka kita harus tanggung-jawab. Kalau kita sudah memberi sperma atau anak kepada perempuan atau betina pasangan kita, maka kita harus mampu memberinya pendidikan dan makanan, agar generasi yang akan datang itu menjadi lebih baik. Kalau tidak mampu memberikan pendidikan dan makanan, yah seperti belalang sembah itulah, berikan saja diri kita agar menjadi sumber protein….” Lalu kami sama-sama tertawa terbahak-bahak.

Pada hari ketiga kami berada di Manado, tiba-tiba Kosasih jatuh sakit. Sepanjang malam ia tidak bisa tidur dan hanya mengerang-ngerang karena perutnya terasa melilit. Saya tidak tahu apa yang terjadi, karena itu saya hanya bisa memijat kakinya dengan harapan dia lupa akan sakit yang mendera perutnya.

Kosasih sebenarnya masih akan memberikan satu sessi pelatihan lagi. Tapi kata saya kepadanya, kalau tidak kuat dia tidak perlu memaksakan diri. Bahkan kalau perlu ia kembali saja ke Jakarta atau Singapura. Hanya, tentu saja, kami harus menanyakan dulu pendapat dokter, apakah ia cukup aman untuk bepergian dengan pesawat terbang. “Akh, tidak apa-apa. Besok juga sakit ini sudah hilang, koq,” kata Kosasih.

Keesokan harinya Kosasih memang berhasil menyelesaikan sessi yang menjadi tanggung-jawabnya. Tapi saya melihat bahwa Kosasih sengaja menahan rasa sakit itu dan memaksakan diri, karena mukanya pucat, tubuhnya bercucuran keringat dan suaranya sangat pelan. Malamnya saya memutuskan untuk membawa Kosasih ke rumah sakit. “Pasti ada yang sesuatu yang gawat dan tak beres,” kata saya.

Kami berada di antara Manado dan Tomohon. Karena itu kepada orang-orang saya bertanya mana rumah sakit yang besar dan relatif baik yang harus kami datangi. Kami dianjurkan untuk pergi ke RS Bethesda di Tomohon. Maka malam itu juga pergilah kami ke sana.

Seorang dokter jaga di Bagian Gawat Darurat meminta perut Kosasih dirontgen. Lalu setelah mempelajari foto itu ia berkata, “Tampaknya dia harus dirawat inap dan menjalani operasi.” Mendengar itu saya dan Kosasih menjadi panik. Kami berdua hanya “sebatang kara” di kota yang berada di ujung utara Sulawesi itu. Sementara itu isterinya belum berhasil kami hubungi karena sedang latihan koor di gereja.

“Gawat, dah! Kalau saya harus menjalani operasi maka berarti paling tidak saya akan tinggal di sini selama tiga minggu. Isteri dan anak-anak ada di Singapura. Karena pekerjaan dan sekolah, belum tentu mereka bisa menemani saya….”

“Kalau kau harus tinggal di sini selama tiga minggu, maka saya juga akan tinggal selama tiga minggu menungguimu. Jangan khawatir. Tapi kalau gara-gara itu saya jadi kecantol dengan gadis Manado, kau harus tanggung jawab,” kata saya.

Setelah berdiskusi cukup lama kami putuskan untuk meminta opini dokter bedah. Dibantu oleh seorang perawat saya mendorong Kosasih yang berbaring di atas tempat tidur dorong itu untuk menemui dokter bedah di ruangannya.

Dokter bedah mempelajari foto rontgen dan memeriksa sekujur tubuh Kosasih dengan seksama. “Anda pernah menjalani operasi usus buntu?” tanyanya. Kosasih mengiakan. Lalu dokter bedah menjelaskan bahwa ini adalah hal yang lazim diderita oleh seseorang yang pernah mengalami operasi usus buntu. Rupanya akibat dari operasi itu maka susunan usus besar menjadi peka. Kalau terjadi sedikit gangguan–misalnya terlambat makan–maka usus besar itu akan “ngaco” dan tidak bisa menjalankan fungsinya untuk membuang kotoran. Akibatnya terjadilah sembelit yang menyebabkan sakit yang luarbiasa.

“Ini tidak perlu dioperasi,” kata dokter. “Cukup menjalani rawat inap dan puasa makan. Biasanya kalau pasien sudah bisa buang air besar, penyakitnya akan sembuh……” Kami pun menjadi sedikit tenang. dan malam itu Kosasih saya tinggalkan seorang diri.

Keesokan sorenya ketika kembali ke rumah sakit saya melihat Kosasih yang lasak itu sudah berjalan kesana-kemari sambil menenteng-nenteng botol infusnya dan bertelepon entah kepada sapa. “Saya sudah pup. Saya sudah sembuh,” katanya sambil tersenyum.

“Sudahlah” kata saya. “Malam ini kau menginap saja di sini. Besok pagi saya jemput kau, dan kita langsung ke bandara.” Besok memang adalah hari kepulangan kami ke Jakarta sebagaimana yang telah direncanakan semula.

Setelah pulang ke Jakarta saya menyangka Kosasih juga akan segera meneruskan perjalanannya pulang ke Singapura. Ternyata selama lebih dari seminggu dia masih runtang-runtung di Jakarta dan Bandung bersama dengan Aris Buntarman, satu lagi kawan saya, yang sama halnya seperti Kosasih, juga merupakan sebuah pribadi yang unik.

Beberapa kali Kosasih dan Aris Buntarman datang ke kantor saya dan mengobrol ngalor-ngidul sampai jauh malam. Seperti biasanya yang kami diskusikan hanyalah soal-soal yang bagi orang lain mungkin akan terkesan gila atau tetek-bengek, tapi bagi kami adalah sesuatu yang serius. Kosasih berbicara tentang mimpinya membangun sebuah portal intenet untuk pendidikan yang bisa diakses oleh siapa saja. Aris Buntarman berbicara tentang mimpinya melihat pohon sukun (bread fruit) ditanam dimana-mana. Saya berbicara tentang mimpi saya membuat orang-orang muda Indonesia yang mampu mengkomunikasan pikiran dan perasaannya secara lebih baik tanpa harus menghunus golok atau melemparkan bom molotov.

Akhir-akhir ini kalau kami bertiga sedang berkumpul, kami selalu lupa bahwa kami adalah orang-orang yang sudah relatif tua dan sudah masanya untuk hidup tenang dan tidak terlalu “grasa-grusu”. (Aris Buntarnan 60 tahun. Saya 55 tahun. Kosasih 52 tahun). Kami selalu merasa seperti orang-orang muda berusia 30 tahun yang masih dipenuhi dengan idealisme dan cita-cita tinggi.

Begitulah, kami bercita-cita ingin mendirikan sebuah lembaga yang melakukan pelatihan dan konsultasi di seputar media, terutama dalam kaitannya dengan teknologi informasi dan komunikasi.

“Kita ini bukan orang bisnis. Dan kalau kita berbisnis selalu ngaco dah,” kata Kosasih. “Kita adalah orang yang suka bermimpi dan membuat sesuatu yang baru. Hanya saja, kalau sesuatu yang baru itu sudah tumbuh, kita harus cepat-cepat pergi. Jangan kita lagi yang memegangnya berlama-lama. Ngaco, dah….”

“Koq baru sadar sekarang?” kata Aris Buntarman. Lalu kami sama-sama tertawa dan jadi ingat akan berbagai bisnis masing-masing yang pernah kami kembangkan tapi kemudian, karena penyakit bosan, menjadi terlantar. Dan saya juga jadi ingat akan gurauan yang sering saya lontarkan kepada Kosasih, “Baru sekali saya bertemu orang Cina seperti kau. Orang Cina yang tidak tahu berbisnis…..”

Dari obrolan ngalor-ngidul beberapa kali di kantor saya, kami tiba pada kesepakatan bahwa kami akan membentuk sebuah lembaga non profit berbentuk yayasan. Kami tidak mengejar laba. Kami hanya mau mengejar idealisme. Tapi tentu saja dalam mengejar idealisme itu janganlah uang belanja yang sudah pas-pasan, dan yang seharusnya menjadi hak isteri, ikut lagi dikorbankan.

“Udah, dah. Kita ini cukup ngomong ngaco-ngaco saja kesana-kemari. Karena hanya itulah keahlian kita. Dan biarlah Azwan dan kawan-kawannya ini yang mengurus agar ngomong ngaco-ngaco kita itu ada sedikit duitnya untuk membeli bensin, rokok atau kopi,” kata Kosasih sambil menunjuk beberapa orang muda yang menjadi stafnya selama ini.

Saya merasa senang karena tiba-tiba–dalam usia saya yang sudah lebih dari 50 tahun ini–ada kawan yang bisa membaca kemampuan dan kelemahan saya, dan yang memberi semangat baru agar kehidupan ini tetap indah dan menarik.

Pada pembicaraan terakhir kami sepakat bahwa sehabis Hari Raya Idul Fitri, setelah Kosasih pulang ke Singapura dan kembali lagi ke Jakarta, kami akan pergi menghadap notaris. Pertemuan yang sudah menjelang tengah malam itu kami tutup dengan memakan nasi bungkus. Tadinya kami sudah hendak memesan pizza. Tapi kata Aris Buntarman, “Lho, ini bagaimana, sih? Lembaga belum berdiri dan pekerjaan belum ada, koq sudah makan pizza?” Kami pun sama-sama tertawa terbahak-bahak.

Hari Jumat 10 Okotober 2008 itu, setelah duduk mengingat masa-masa bersama Kosasih, saya tersentak untuk mengetahui apa rencana keluarga dengan jenazahnya. Tapi saya tidak mempunyai nomor telepon rumah maupun nomor telepon genggam isterinya. Yang ada pada saya hanyalah nomor telepon genggam Kosasih. Nomor itu saya putar. Pikir saya, kalau ternyata yang menerima di ujung sana adalah Kosasih saya akan bertanya, “Lho, kau ini bercanda atau apa?”

Ternyata yang menerima adalah salah seorang puterinya. Saya bertanya dimana ibunya. Katanya ibunya sedang pergi untuk mengurusi segala sesuatu sehubungan dengan keberangkatan mereka dan jenazah ayahnya besok ke Jakarta. Menurut keterangannya pagi itu Kosasih masih bekerja di depan komputer di rumahnya. Ia masih mengirim e-mail dan sms kepada beberapa kawan di Jakarta. Siang harinya ia pergi tidur. Rencananya jam 16.00 ia akan menemani salah seorang puterinya menghadiri sebuah acara di sekolah puterinya tersebut. Tapi ketika puterinya mencoba membangunkan, ayahnya sudah tiada. Diduga Kosaih menderita penyakit jantung yang selama ini dia sendiri pun tak menyadarinya..

Tanggal 11 Oktober 2008 pagi saya, Aris Buntarman dan Widianto pergi ke Rumah Duka Sinar Kasih di Bogor. Kami memutuskan hendak menunggu jenazah Kosasih dan keluarganya di sana saja.

Ketika peti jenazah Kosasih diturunkan dari mobil, berbagai pikiran dan perasaan memenuhi kepala dan hati saya.

Pertama, saya berpikir, bahwa dalam menjalani kehidupan ini kita tidak ubahnya seperti semut-semut kecil yang sedang merayap di dinding atau lilin-lilin yang sedang menyala. Kalau Sang Pemilik Kehidupan menghembuskan nafas kekuasaannya dan berkata, “Cukup sampai di sini,” maka jatuhlah semut itu atau padamlah lilin itu. Siapa yang bisa membayangkan bahwa Kosasih yang selalu “ramai” itu bisa meninggal secara tiba-tiba dalam tidurnya?

Kedua, saya berpikir, kita mencoba melakukan dan menjalani berbagai hal dalam kehidupan ini. Tiba-tiba–oleh sebuah “kuasa”–kita dibuat menjadi samasekali tidak berdaya dan tidak berhubungan lagi dengan semua itu. Siapa yang bisa membayangkan bahwa Kosasih yang selalu lasak itu kini harus terbujur kaku–dengan mata terpejam–di dalam peti? Dan besok-lusa “ia” akan tinggal pula sendiri di sebuah pemakaman umum yang terpencil di kaki Gunung Salak sana?

Ketiga, saya berpikir tentang “wireless”, yang sempat menjadi bahan tertawaan kami di Manado. Besok lusa ketika memimpin upara pemakamannya di pekuburan Romo mungkin akan menggunakan “wireless” (loudspeaker) yang seperti itu. Tapi–pada fihak lain–pengalaman indah selama berteman dengan Kosasih adalah juga “wireless” yang selalu menghubungkan saya dengannya walau pun dia telah hidup di “dunia” yang lain.

Keempat, saya berpikir tentang legacy ala belalang sembah yang membuat kami sempat tertawa terbahak-bahak itu. Semasa hidup dan berinterkasi dengan orang lain di dunia ini kita juga tentu pernah menumbuhkan benih atau pohon dari berbagai gagasan. Lalu–seraya jasad kita membusuk dan kita akan sirna dari dunia ini–sejauh mana “protein” yang kita wariskan agar benih atau pohon dari berbagai gagasan yang pernah kita tumbuhkan itu hidup dan berkembang? Dan saya percaya bahwa Kosasih mewariskan banyak “protein” bagi benih atau pohon dari berbagai gagasan yang telah ditanamnya .

Akhirnya, kelima–sebagai perpaduan dari berbagai hal yang saya pikirkan di atas–saya berpikir-pikir tentang Kitab Pengkhotbah di dalam Alkitab. Terutama saya berpikir-pikir tentang Pengkhotbah 3 : 1-15:

“Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya. Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam…..Apakah untung pekerja dari yang dikerjakannya dengan berjerih payah? Aku telah melihat pekerjaan yang diberikan Allah kepada anak-anak manusia untuk melelahkan dirinya. Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir……Aku melihat bahwa tidak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada bergembira dalam pekerjaannya, sebab itu adalah bahagiannya. Karena siapa akan memperlihatkan kepadanya apa yang akan terjadi sesudah dia?”

Saya bisa membayangkan bagaimana reaksi Kosasih bila ia tahu bahwa saya terpaksa sampai membuka Alkitab disebabkan oleh kepergiannya yang membingungkan dan menyakitkan saya itu. Ia pasti akan mengatakan hal sebagaimana yang akhir-akhir ini juga sering dikatakannya secara bergurau kepada orang-orang yang mengenal saya, “Mula sudah bertobat. Dia sekarang sudah suka memikirkan soal-soal tuhan. Gawat, dah….”
.
Selamat jalan, Kosasih Iskandarsjah! Suatu ketika–entah kapan, tapi pasti–saya pun akan mengikutimu meninggalkan dunia yang fana ini [.]

7 responses to “Untuk Segala Sesuatu Ada Masanya: Mengenang Kosasih Iskandarsjah

  1. Turut berduka-cita, Amang. Cerita belalangnya bikin aku senyum-senyum sendiri, teringat anakku. Ketika membaca buku tentang belalang (oya, setahuku selain belalang, ada juga sejenis laba-laba yang makan suaminya setelah bercinta), anakku komentar, “Untung aku bukan belalang. Kalau aku belalang, berarti aku anak yatim.”

  2. G. Aris Buntarman

    Kosasih itu kalau makan sangat cepat, berpikir cepat, belajar juga cepat, ngomong cepat, dan kalau jalan juga cepat seperti berlari. Saya kepontal-pontal mengikuti segalanya. Saya mendapat banyak sekali pengetahuan dari dia dan ikut terbakar ( excited ) betul dengan cita-citanya. Kami berdua sering bekerja 18 jam sehari. Pukul 2-3 pagi kami masih kontak Jakarta-Singapura di meja kerja kamar tidur kami masing-masing. Cita-cita besar Kosasih yang sudah dirintis di http://www.edu2000.org ini semoga tetap akan dinyalakan oleh keluarganya dan kami – sahabat-sahabatnya.

  3. Tribute yang sangat indah untuk seorang kawan yang begitu luar biasa. Selamat jalan, Pak Kosasih. May you rest in peace.

    Amang Mula, jangan lupa untuk melakukan general check up rutin.

  4. Dwiyana Iskandarsjah

    Pak Mula, Terima kasih untuk tribute yang sangat indah ini. Saya juga ingat, waktu itu di Sinar Kasih, ketika ada yang mengusulkan agar tangan jenazah di-‘ikat’ agar tatanan tangannya rapi, Bapak berkata: “Jangan, selama ini dia (Kosasih) tak pernah mau diikat”. Setuju, Pak.. Senang rasanya mengetahui ada banyak yang mengerti dia.

  5. Saya sangat kaget waktu membaca e-mail dari Bapak yang memberitahukan tentang Kepulangan Pak Kosasih ke rumah Bapa. Masih segar dalam ingatan saya tentang sosok beliau walaupun hanya sepekan bertemu dalam pelatihan di Manado. Juga masih segar dalam ingatan saya tentang kegigihan beliau dalam menghadapi kesakitan selama di Manado, karena saya sempat menjenguk dan mendoakan beliau waktu di rawat di RS Bethesda-Tomohon. Tapi itulah hidup–seperti semut dan lilin–ada yang lebih kuasa untuk mengambilnya yaitu Pemilik Kehidupan itu sendiri. Selamat jalan, Pak Kosasih. Semangat juangmu tak akan padam. Itu akan tetap hidup dalam hidup banyak orang yang telah memerima ilmu darimu. Saya dan keluarga turut berduka.

  6. Mang Engkos memang luar biasa. Hanya beberapa hari menginap di Cibubur karena acara Jambore Nasional di tahun 1985-1987 (lupa persisnya) dan hanya ketemu Mang Engkos beberapa hari telah bisa mengubah saya jadi bicara cepat tanpa sadar. Saya baru tahu saya sudah bermutasi bicara cepat sewaktu pulang dari Cibubur. Teman-teman merasa aneh dengan kecepatan bicara saya.

    Mang Engkos salah satu orang besar yang pernah saya kenal cukup dekat. Waktu masih di Gramedia dia yang ajarkan control macam macam perintah di Wordstar. Saya cuma bilang, Mang Kos belum tahu control E. Kontrol emosinya yang cepat meledak tapi hanya dalam beberapa menit berubah bicara pelan lagi…

  7. Pak Mula, I wish that I could read your tribute to Kosasih but my Bahasa is not good enough! I came across your comments searching the internet for referencest to him – I miss Kosasih a lot and some of the best times we spent together were when we were with you in Jakarta back in the 90s. What a loss this is to bear. I hope you are well and wish you all the best from Madrid , Spain, where I am now living. Kindest regards, Stephen Troth

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s