Mengkutak-katik Google Translate

Oleh: Mula Harahap

Sebagai orang yang pernah menerjemahkan beberapa buku maka saya merasa bahwa pekerjaan menerjemahkan itu bukanlah pekerjaan yang mudah.. Disamping harus mengganti arti kata-kata dari bahasa yang satu ke bahasa yang lain, kita juga masih harus memahami maksud kalimat atau alinea dari satu bahasa, dan menuliskannya kembali dalam kalimat atau alinea dari bahasa yang lainnya sehingga pembaca bisa menangkap pikiran dan perasaan yang disampaikan oleh si penulis. Dan lebih jauh lagi, kita juga harus bisa menyampaikan kepada pembaca “style” atau gaya bertutur si penulis.

Menurut hemat saya pekerjaan menerjemahkan menuntut kemampuan logika dan rasa bahasa. Karena itu, walaupun dewasa ini sebenarnya sudah tersedia sejumlah program komputer untuk penerjemahan., tapi saya tidak tertarik untuk mencobanya–apalagi membelinya, Kata saya dalam hati, “Mesin tidak memiliki otak dan hati. Bagaimana mungkin dia bisa melakukan pekerjaan menerjemahkan secara baik?”

Saya baru mencoba program penerjemahan beberapa hari yang lalu, yaitu ketika Google menyediakannya secara cuma-cuma di internet.

Mula-mula saya memasukkan sebuah alinea dari tulisan saya ke “mesin” Google: “Suatu kali ketika sedang berkunjung ke Medan dan menumpang becak dayung saya melintas di dekat patung polisi seperti yang saya gambarkan di atas. Untuk mencairkan kebekuan suasana antara diri saya dan tukang becak yang berwajah keras itu saya nyeletuk, ‘Heh, bagus juga patung polisi ini…’”

Di layar komputer saya muncul daftar bahasa yang bisa saya pilih. Saya meng-klik bahasa Inggeris. Dalam hitungan sepersekian detik Google Translate menyajikan hasilnya:

“A time when a visit to Medan and I paddle rickshaw ride through in the near future as the statue of the police in my description above. To withdraw necrosis atmosphere between myself and becak drivers of a certain kind of face that I nyeletuk hard, ‘Hi, also good police this statue …’”

Saya tersenyum-senyum membaca bahasa Inggeris yang disajikan oleh Google Translate ini. Tapi mengingat bahwa yang mengerjakan terjemahan ini adalah mesin–dan itu dilakukannya dengan secepat kilat–saya cukup kagum juga. Saya pikir-pikir Google Translate ini–terutama yang dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggeris–akan ada gunanya bagi saya.

Ketika saya harus menuliskan sesuatu dalam bahasa Inggeris (bukan bahasa sehari-hari saya) maka saya sering tergagap-gagap untuk mencari suatu kata atau idiom yang tepat. Saya pikir Google akan sangat membantu saya untuk memberikan kemungkinan kata, idiom, bahkan pengalimatan menurut versinya. Tentu saja versi Google itu sangat jauh dari benar dan pas. Tapi dengan telah tersedianya sebuah kemungkinan pilihan, maka saya tak perlu lagi berpikir lama-lama sambil berkata, “Apa, ya….? Apa, ya….?” Plus menggaruk-garuk kepala.. Biasanya bila telah ada sebuah kemungkinan pilihan, barulah saya terinspirasi untuk mencari kemungkinan pilihan lain yang lebih baik.

Kemudian saya mencoba melihat bagaimana Google menerjemahkan sebuah alinea berbahasa Inggeris ke bahasa Indonesia. Saya mengambil sebuah berita dari CNN dan meng-klik tombol bahasa Indonesia-nya.

Aline dari CNN itu berbunyi demikian:” President-elect Barack Obama met with his former rival Sen. Hillary Clinton to see if she would be interested in a role in his administration, two sources told CNN Friday.”

Versi bahasa Indonesia-nya menurut Google demikian: ” Presiden terpilih Barack Obama bertemu dengan mantan saingan Sen. Hillary Clinton untuk melihat apakah ia akan tertarik dalam peranan dalam administrasi, dua sumber kepada AFP Jumat.”

Terjemahan Google lumayan baik. Tapi yang membuat saya tak mengerti ialah mengapa ia harus menerjemahkan CNN dengan AFP?.

Masih banyak versi kalimat atau alinea yang saya masukkan ke Google dari bahasa Indonesia atau Inggeris, dan melihat hasilnya dalam bahasa yang sebaliknya.

Saya tak habis pikir bagaimana orang-orang di markas besar Google di California sana bisa menyusun program komputasi–yang disamping harus memperhitungkan arti kata–juga harus memperhitungkan arti ungkapan atau idiom dan tata bahasa?

Memang, seperti yang saya katakan sebelumnya, hasil terjemahan Google masih jauh dari sempurna. Tapi kalau kita harus berkomunikasi di sebuah negeri yang bahasanya samasekali tidak kita kuasai (misalnya Latvia atau Lithuania) maka “bahasa tarzan” yang diberikan Google sudah sangat membantu kita untuk bisa selamat di negeri orang.

Akhirnya iseng-iseng saya mencoba memasukkan kata-kata yang tabu untuk diucapkan secara terbuka dan ingin tahu sejauh mana Google menguasainya.

Mula-mula saya masukkan kata “ng@%#&#” yang dalam bahasa Inggeris dikenal sebagai “four letters word”.

Google balik membalas dengan kata yang sama yaitu “ng@%#&#”.

Kata ini sebenarnya punya padanan bahasa Inggeris yang semua orang Indonesia juga tahu. Dan besar kemungkinan kata ini juga adalah salah satu kata yang paling sering dimasukkan orang Indonesia ke “search engine” Google dalam upaya mencari situs-situs yang “menarik”. (Saya mendengar bahwa salah satu dari banyak faktor yang diperhitungkan Google untuk mendefinisikan program terjemahannya ialah dengan mengacu pada kata-kata atau ungkapan yang masuk ke search engine-nya). Tapi mengapa pula Google tak mampu menerjemahkan kata yang sangat pasaran itu? Kata saya dalam hati, “Akh, Google, sok suci, Lu,”

Ketika saya memasukkan kata “panti pijat tradisional”, maka Google membalasnya dengan “traditional massage parlour”.

Tapi ketika saya memasukkan “monyet kau”, maka Google membalasnya dengan “love monkey”. Sementara, ketika saya memasukkan “kau monyet” maka Google membalasnya dengan “walking monkey”.

Akhirnya setelah bosan mengkutak-katik, saya memasukkan kata “taik kau”.

Google membalasnya dengan “are you”.

Dan ketika saya memasukkan kata “taik sama kau”, Google membalasnya dengan “you are the same”.

Ternyata di samping ilmu menerjemahkannya pun belum tinggi-tinggi amat, Google Translate punya temperamen tinggi dan suka bertengkar. Saya tak mau cari perkara dengan Google Translate dan tak mau mendengar kata-kata lain yang kurang sedap yang dilontarkannya kepada saya.

Karena itu kutak-katik Google Translate buru-buru saya sudahi🙂

8 responses to “Mengkutak-katik Google Translate

  1. Sebelum ada tranlasi bahasa Indonesia, saya sering menggunakan jasa toggletext.

  2. Ha-ha-ha-ha-ha-ha….. Lucu kali cerita Amang ini. Tapi saya coba dulu, ah …….

  3. wakakakkaaa….lucuuuu…ini Amang cerita lg iseng sama google ya.

  4. amang, kan orang batak ga ada kata maaf dalam bahasa batak.

    Manatau suatu saat google bisa mentranslet sampe bahasa batak (boleh dong berandai-andai), kira-kira satabi dibuat apa artinya dalam bahasa Inggris ya?” sory” kah?.

  5. Hehehehe…. bagus tulisannya. Saya dan suami pernah dibuat pusing juga sama si google translate ini. Waktu tinggal di Jepang, kami seringkali dapat email berbahasa Inggris dari rekan orang Jepang, tapi kalimatnya hancur-hancur gak karuan. Selidik punya selidik, ternyata dia buat surat dalam bahasa Jepang, lalu terjemahin lewat GT itu, dan langsung dikirim. Pantes aja hasilnya acakadut🙂

  6. Bwha…ha..ha.. Amang seolah-olah menyindir saya yang mengandalkan transtool untuk komunikasi dengan bahasa selain Jawa dan bahasa Indonesia. Good writing!

  7. Amang tahe. Lucccu na i. Sekkel na i……

  8. Ya, memang benar, aku pernah juga chatting sama temanku di Inggris. Karena bahasa Inggris-ku amburadul, aku coba pake GT, eh malah lebih hancurrr….Tapi kadang-kadang juga nyambung, tuh ? Ya, namanya juga mesin. Tapi mendinglah daripada ga’ tahu. Aku pake toggletext, juga sama aja. Hmmmmmm…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s