How Children Fail

Oleh: Mula Harahap

Di tahun 1970-an pernah terbit sebuah buku yang menggegerkan dan bestseller yang berjudul “How Children Fail” karangan John Holt. Buku ini menceritakan hasil pengamatan sang pengarang–seorang guru SD di AS–selama bertahun-tahun terhadap para anak didiknya.

Dengan rinci John Holt memperlihat di dalam bukunya bagaimana anak-anak berpikir dan menciptakan jalannya sendiri dalam memahami berbagai persoalan. Cara atau jalan mereka memang tidak sama seperti yang dipakai oleh orang dewasa. Tapi ujungnya atau hasilnya tokh sama saja.

Ternyata anak-anak memiliki logika dan persepsinya sendiri dalam memahami pelajaran, dan yang oleh metode pendidikan “what so called” modern (hasil ciptaan orang dewasa) acapkali dianggap salah. Walhasil anak-anak itu acapkali dinilai bodoh.Buku itu tentu saja mendapat kecaman yang keras dari otoritas pendidikan dan para guru.

Buku karangan John Holt itu mengingatkan saya tentang cerita seorang anak (saya lupa namanya, tapi di kemudian hari ia menjadi seorang ahli matematika yang terkenal). Suatu hari, karena membuat kegaduhan di kelas, anak itu dan bersama teman-temannya sekelas mendapat hukuman dari guru. Mereka diharuskan menjumlahkan angka yang terdapat dari
1 sampai 100. Tidak sampai semenit kemudian–sementara teman-temannya masih sibuk menjumlah–si anak sudah berjalan ke depan menyerahkan pekerjaannya. Ternyata jawabannya pas seperti yang diinginkan guru yaitu: 5050. Ketika gurunya bertanya bagaimana dia bisa menjumlah dengan secepat itu, maka ia mejawab: “Gampang saja. 1 ditambah 100 sama dengan 101. 2 ditambah 99 sama dengan 101. Ada 50 pasangan angka yang seperti itu. Saya kalikan 101 dengan 50…..”

Ketika anak lelaki saya masih duduk di kelas 2 atau 3 SD dia juga pernah memprotes gurunya kepada saya. Anak itu harus menjawab soal “benar/salah” dari sebuah pernyataan yang berbunyi: “Di malam hari tidak ada cahaya matahari”. Anak saya mengatakan bahwa pernyataan itu salah. Tentu saja jawabannya dianggap salah oleh gurunya. Anak saya melakukan protes. Tapi karena dia seorang anak kecil, dia hanya berani melakukan protesnya kepada saya. “Lho, katanya bintang itu adalah matahari juga. Dan cahaya bulan itu adalah pantulan cahaya matahari. Jadi, kalau pada malam hari itu ada bulan dan bintang, berarti ada cahaya matahari, dong….”

Sejak membaca buku karangan John Holt, dan sejak mendengar protes anak lelaki saya itu (dan protes-protes lainnya dari anak itu), maka saya tidak terlalu menganggap penting hasil assesment yang dilakukan oleh otoritas pendidikan di sekolah. Apalagi otortas pendidikan di Indonesia. Saya pun tak pernah perduli apakah anak saya mau “masuk ranking” atau “tidak masuk ranking”.

Saya hanya berusaha mendorong anak-anak saya agar tidak sampai tinggal kelas, karena itu berarti pemborosan waktu dan biaya. Ada pun tentang ilmu pengetahuan (dan wisdom, ini yang lebih penting) biarlah mereka pelajari sendiri dari kehidupan ini, dan dengan cara mereka sendiri [.]

14 responses to “How Children Fail

  1. Tulisan yang sangat menginspirasi. Semoga saya bisa melakukan hal yang serupa kelak jika punya anak:) Salam kenal, ya.

  2. Tokoh yang dimaksud adalah Carl Friedrich Gauss, pak Mula. Ia adalah salah satu jenius matematika yang sukar dicari tandingannya.

    Kalau aku sih memilih untuk mendidik sendiri anakku. Capek kalau setiap hari harus membenarkan pengajaran yang salah yang diberikan oleh gurunya:mrgreen:

  3. Maludin Sitanggang

    Sudah tepatlah HKBP mengadakan rapat seefektif mungkin. Diluar negeri atau di negara maju, rapat puncak seperti ini sudah tinggal pengesahan saja. Sebelumnya tentu sudah dilakukan lobi-lobi terhadap peserta yang ikut rapat. Kalau pembahasan dalam rapat dimulai dari awal lagi, sudah bisa dibayangkan bagaimana pimpinan itu menerima dan menyimpulkan begitu banyak pendapat. Saya setuju bahwa HKBP sudah maju selangkah, sudah bisa melihat keefektipan waktu, tenaga, dan biaya. Yakinlah apalagi pembahasan anggaran pasti lebih banyak komentarnya, dan kadang tidak masuk akal. Selamat buat HKBP. Selamat buat peserta rapat, dan Selamat Natal 2008 dan Tahun Baru 2009.

  4. Janpieter Siahaan

    Kita tetap dan harus mengawasi jalannya perkembangan pembelajaran anak dari sekolah.

    Peran aktif orang tua yang bekerjasama dengan para guru akan membawa percepatan pencapaian banyak kemampuan yang akan dimiliki oleh anak didik.

    Jadi jangan lepas tangan bagi kemajuan kecerdasan anak-anak kita. Berdoa adalah cara pembulatan kerja kita.

  5. Menurutku, anak sekolah jaman sekarang dikarbit agar cepat pintar, sehingga mereka kehilangan masa kecilnya, kehilangan budi pekerti, maka masa dewasanya ketika menjadi mahasiswa sering tawuran.

  6. Ketika anak saya baru dua bulan masuk Sekolah Dasar kelas satu sudah mendapat soal matematika/berhitung seperti ini: Satu ditambah berapa lagi supaya tujuh? Saya melihat kebingungan yang ada pada anak saya, dan saya berusaha menolongnya untuk mengerti.

    Suatu hari ketika dia ingin membeli roti seharga duaratus limapuluh rupiah, saya tanyakan kepadanya seperti ini: Kalau Bapak berikan uang seratus limapuluh rupiah, berapa lagi kamu minta dari Mama supaya bisa beli roti itu? Minta saja limaratus rupiah, Pak, nanti ada kembalian kok, katanya sambil berlari menyongsong pejual roti keliling langganannya itu.

  7. Anakkonhi do Hamoraon di au. Tp bagaimana harta kita yg berharga itu jd pusing sendiri karena mendapat pengajaran yg salah dari lingkungan (gurunya). Peran kita sebagai orangtua tentunya mengeliminir kepusingan dan kebingungan mereka (anak2 kita).

  8. Wah repot juga, ya? Jadi mikir ntar ndidik anak pake cara apa, ya?🙂 Homeschool dan sekolah formal sama-sama beresiko saya kira….

  9. Wah, jadi pengen baca bukunya langsung. Masih ada di Gramed, ga ya?

  10. Postingan/artikel yang bagus. Terimakasih!

  11. Assessment manusia memang tidak dapat diukur kebenarannya! Pun untuk diukur keabsahannya. Inspiratif dan membuka “courage”. Thanks a lot, Pak! Salam kenal juga🙂

  12. fidelis riyanto

    Tulisan Amang mengemblikan ingatan masa kecil saya. Ketika SD saya juga pernah mengalami hal seperti itu, Amang. Waktu itu ada pertanyaan dimanakah ibu kota Cina ? Saya jawab Beijing. Tapi jawaban saya disalahkan. Disebut bahwa yang benar adalah Peking. Saya protes. Saya bilang ibukota Cina sudah pindah ke Beijing! (Seperti yg pernah saya baca). Tapi protes saya malah ditertawakan. Dikatakan tidak mungkin ibukota negara pindah. Akhirnya saya diam. (Dan tidak dapat angka). Kemudian saya ketahui juga, bahwa India pernah memindahkan ibu kotanya. Juga indonesia. Tapi apa mau di kata? Gurulah pemegang otoritas di kelas.

  13. Waduh, sebenarnya ngasih anak-anak kita sekolah di public school lebih banyak ruginya daripada untungnya. Apa lagi kalo anaknya emang cerdas dan gifted. Mending diajar sendiri.

    Anakku, diajar baca sama guru TK-nya gak maju-maju, frustasi. Apalagi ia tidak lancar bahasa Indonesia dan belum kenal abjad. Udah aku ajar sendiri di rumah 1 bulan langsung bisa. Parents are the best teachers for their children.

    Contoh lain, anakku very talented dalam menggambar. Sangat jauh teman sebanyanya. Waktu diikutin lomba, dia ngeliat teman-teman yang lain gambar pemandangan, very simple, dia jadi ngikutin mereka. Kids learn by copying their surrounding.

    I think homeschooling is the best choice. And will be our choice, next.

  14. Comment Pak Singal juga benar. Saya suprise krn anak2 di Indonesia dimasukin TK dr usia 3 thn, diajar membaca 4 thn, masuk SD 5 thn.
    Mrk lupa sisi lain dari anak-anak ini. Let they invent their world.
    Anak2 karbit begini cenderung malas dan tidak tertarik belajar.
    Jadi ajari balita anda suka membaca, bukan membaca. Ajari mereka suka belajar, bukan belajar.
    For Schooling, saran dari ahli pendidikan terkenal (aku lupa namanya) Better later dan sooner (Lebih lama dimasukkin sekolah lebih baik).
    Kids should learn from their parents before. Learn the values and principles. Building their faith and character.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s