Monthly Archives: June 2009

Kenangan dari Foto Masa Kecil

Oleh: Sal Hutahaean

Beberapa waktu lalu ketika saya pulang ke Laguboti, saya iseng-iseng membuka album foto-foto lama di rumah. Yang paling menariki adalah foto-foto hitam putih yang lucu-lucu. Yang terbanyak tentu adalah foto rame-rame, terutama foto suasana nikah, kemudian foto orang meninggal lengkap dengan wajah mayat yang kaku, foto kakak-kakak saya bergaya artis entah itu di kuburan, di pantai, atau di depan gereja, dan foto makan-makan dengan fokus foto terarah pada makanan di dalam panci. Lalu ada juga foto diri kami waktu kecil yang tak kalah lucunya.

Dari seluruhnya itu, yang paling menarik hati saya adalah satu foto diri saya semasa kecil berpose dengan seseorang. Seingatku foto itu adalah ketika saya masih kelas 3 atau 4 SD dan teman yang berdiri cengengesan di sampingku di dalam foto itu adalah Sumurung. Waktu itu usia saya sekitar 10 tahun, sedang Sumurung walaupun lebih pendek usianya sebenarnya dua tahun di atasku. Sumurung anak yang dekil, jarang mandi, dan wajahnya menunjukkan mimik anak Batak yang benar-benar jigil tampak jelas di foto itu. Jigil itu dua level di atas jugul, kombinasi lasak, gumarapus, licik, dan cengeng. Memang begitulah Sumurung, ia anak nakal, ia licik, ia emosional, dan lebih parah lagi ia unpredictable. Kami berteman, tapi seingatku hubungan kami seringkali mengalami pasang surut. Sebentar akrab, sebentar marsanding, kadang-kadang berkelahi,tapi kemudian akrab lagi bagai dua anak kembar.
Continue reading

Advertisements

Gea

Pengantar: Dalam sebuah milis yang mayoitas anggotanya adalah orang-orang Batak, saya pernah mempertanyakan tentang kemampuan bahasa Batak dalam menerjemahkan pikiran dan perasaan bangsa lain, terutama dalam konteks dunia masa kini. Rupanya salah seorang dari anggota milis, yaitu Sal Hutahaean, merasa tergelitik dengan pertanyaan saya tersebut. Secara sukarela dia mencoba menerjemahkan cerpen Anton Chekhov di bawah ini. Pekerjaan yang sudah dilakukan oleh Sal Hutahaean ini pantas diapresiasi. Karena itu, atas seijin beliau, saya turunkan karya terjemaan tersebut di forum ini.

Oleh: Anton Chekhov
Penerjemah ke dalam bahasa Batak: Sal Hutahaean

Tar piga ari na salpu hujou do si Julia Vassiliyevna, i ma guru-parorot ni anakhonhu, tu bilut parsiajaran.

“Pahundul ma jolo, Julia Vassiliyevna,” ningku. “Beta tapature ma dabudabunta. Nang pe ringkot di ho hepeng, alai diingot ho do ruhut ni adat, ai ndang hea disungkun ho garar ni upam. Saonari, huingot nunga satolop hian hita tolupulu rubel sabulan …”

“Opatpulu do.”

“Ndang. Tolupulu do. Husurat do tangkas dison. Tolupulu. Saleleng on pe, i do upa ni guru-parorot hugarar. Saonari, ala dung dua bulan ho, ba …”
Continue reading

Hari Ini 26 Tahun yang Lalu

Oleh: Mula Harahap

Hari Minggu malam tanggal 5 Juni 1983 itu, ketika saya, isteri dan kedua anak saya sedang bersiap-siap untuk tidur, pintu pagar diketuk. Di hadapan saya muncul namboru dan amangboru saya Hasibuan, serta amangboru saya Siahaan yang sebenarnya bermukim di Medan, dan mungkin sedang berada di Jakarta untuk suatu
urusan.

Oleh karena di keluarga kami saling mengunjungi menjelang tengah malam sudah merupakan “adat”, maka saya tidak langsung menaruh kecurigaan atas kedatangan mereka. Saya mempersilakan mereka duduk. Tapi kemudian setelah sedikit berbasa-basi, amangboru saya Siahaan langsung angkat bicara. Katanya dia baru
mendapat telepon dari Medan yang mengabarkan bahwa laenya, yaitu ayah saya, sedang dalam keadaan kritis di RS Elizabeth.
Continue reading

Daya Kenyal Orang Indonesia dan Pancasila dalam Beberapa Bahasa Etnis

Oleh: Mula Harahap

Ketika Indonesia diterpa krisis di tahun 1998, yang mengakibatkan jatuhnya rezim otoriter Suharto yang telah berkuasa selama hampir 30 tahun itu, banyak orang yang meragukan akan keutuhan dan kelanjutan dari NKRI. Akankah Indonesia ini mengikuti sejarah negara-bangsa yang pernah diperintah oleh sebuah rezim tangan besi seperti Yugoslavia atau Uni Soviet, yang kemudian berantakan dan bubar setelah rezim itu turun?

Tapi tak kurang juga banyaknya orang yang optimis akan keutuhan dan kelanjutan Indonesia. Saya masih ingat pada waktu itu Prof. Dr. Emil Salm berkata, “Bila krisis yang menimpa Uni Soviet dibandingkan dengan yang menimpa Indonesia, maka krisis yang menimpa Uni Soviet itu tidak ada apa-apanya. Tapi lihatlah, negara itu langsung bubar dan berantakan, sementara kita masih tetap utuh…”
Continue reading

Buset! Ini mah namanya orang kurang kerjaan, Mama…

Oleh: Mula Harahap

Ketika kedua anak saya masih duduk di bangku sekolah dasar, maka perselisihan yang paling sering saya alami dengan isteri saya ialah dalam soal membaca Alkitab. Isteri saya ingin sekali agar di rumah kami terbangun kebiasaan membaca Alkitab secara bersama-sama.

Isteri saya tumbuh dalam rumah yang memiliki tradisi seperti itu. Oleh karenanya wajar saja kalau dia juga ingin tradisi yang sama terbangun di rumahnya. Tapi cilakanya saya tumbuh dalam rumah dengan tradisi yang berbeda. Jangankan membaca Akitab, berdoa bersama saja, kecuali berdoa makan atau berdoa pada malam tutup tahun, pun kami tak pernah.

Saya bukan hendak mengatakan bahwa ayah saya seorang yang tidak percaya akan Tuhan. Saya rasa dia percaya sekali akan Tuhan. Setiap pagi, sebelum berangkat ke kantor, kami anak-anak selalu melihatnya berdoa.
Continue reading

Saya sih mau bolpen, bukan mau Yesus….

Oleh: Mula Harahap

Peristiwa yang akan saya ceritakan berikut ini sudah lama sekali berlalu. Tapi kalau mengenangnya saya selalu tersenyum-senyum:

Suatu sore saya diminta oleh kedua anak saya untuk mengantarkan mereka ke gereja guna mengikuti sebuah acara mendadak. Malamnya, ketika menurut perhitungan saya acara itu telah berakhir, saya kembali ke gereja untuk menjemput.

Ternyata acara yang berlangsung di Gedung Pertemuan Lantai 2 itu belum selesai. Tapi yang menarik perhatian saya ialah bahwa saya melihat anak lelaki saya sedang duduk seorang diri di lantai bawah dengan raut muka yang sangat “suntuk”.
Continue reading

Ranjang Pengantin

Oleh: Mula Harahap

Perjalanan naik bus pergi atau pulang ke Sumatera Utara selalu menyenangkan. Banyak sketsa-sketsa kehidupan yang menarik untuk diamati. Salah satunya seperti yang saya sajikan berikut ini:

Menjelang sore, bus Makmur yang saya tumpangi dalam perjalanan Medan-Jakarta, berhenti di sebuah kedai kopi di Siborong-borong untuk mendinginkan mesin, menaikkan penumpang baru, dan memberi kesempatan kepada penumpang lama beristirahat. Saya duduk minum kopi semeja dengan sang supir.

Sebagaimana diketahui dalam sistem pengelolaan bus di Sumatera Utara, supir tidak mempunyai wewenang apa pun dalam pengambilan keputusan untuk menerima penumpang. Wewenang tersebut ada pada cincu sebagai wakil sang pemilik bus, dan calo setempat. Karena itu ketika melihat sebuah tempat tidur dinaikkan di atap bus, sang supir teman saya minum kopi itu hanya bisa mengernyitkan kening.
Continue reading