Camp untuk Mengisi Libur Panjang Anak-anak

Oleh: Mula Harahap

Ketika anak-anak saya masih duduk di bangku SD, bulan Juni seperti sekarang ini adalah bulan yang menggelisahkan bagi saya. Anak-anak itu akan menjalani libur panjang sekolah. Sementara itu, karena pekerjaan, saya tidak mungkin mengambil cuti panjang menemani mereka berlibur. Paling-paling saya hanya bisa mengambil cuti selama 2 atau 3 hari dan menemani mereka ke luar kota.

Saya selalu kasihan melihat anak-anak, karena sebagian besar libur panjang itu akan mereka habiskan di rumah. Sebenarnya bisa saja saya mengirimkan mereka ke tempat sanak-saudara di kota lain. Tapi mereka tidak mempunyai teman bermain yang sebaya di sana. Karena itu paling-paling, sama seperti di Jakarta, mereka hanya akan menghabiskan waktu di dalam rumah.

Dulu saya selalu berangan-angan, alangkah tertolongnya saya kalau saja di Indonesia ini ada banyak pilihan “camp”, sebagaimana halnya di AS, untuk anak-anak yang sedang menjalani libur panjang sekolah ini. Di sebuah majalah AS saya pernah membaca iklan display yang menawarkan berbagai ragam “camp”:
kemiliteran, biologi, tenis, astronomi, kehutanan dsb. Camp-camp itu tentu sangat memperkaya jiwa anak. Disamping bertemu dengan banyak teman baru, mereka juga berkesempatan menjalani aktivitas yang menjadi minat dan kegemarannya.

Ketika anak-anak masih SD maka camp yang tersedia hanyalah “bible camp” yang diselenggarakan oleh gereja selama 3 atau 4 hari di luar kota. Sebenarnya, disebabkan oleh beberapa pertimbangan, saya tidak terlalu suka mengirim anak-anak ke “bible camp”. Pertama, kegiatan itu selalu ada dan selalu mereka ikuti setiap tahun. Kedua, mereka hanya bertemu dengan kawan yang itu-itu saja, yaitu kawan sekolah yang sebagian besar juga adalah kawan sekolah minggu. Ketiga, saya kepingin kalau anak-anak memiliki keseimbangan wawasan dalam kehidupannya (baca: jangan hanya meikirkan agama melulu).

Kepada seorang teman yang menjadi anggota Mapala UI saya pernah mengutarakan cita-cita tersebut. Mapala UI atau Wanadri tentu mempunyai sumber-daya manusia yang baik untuk menyelenggarakan sebuah camp pencinta alam. Saya katakan, saya rela membayar sejumlah uang, asalkan selama sebulan penuh anak-anak saya dibimbing dengan baik dan mengalami banyak pengalaman baru yang menyenangkan. Tapi angan-angan saya itu tak pernah terealisasikan.

Sampai sekarang pun saya melihat belum banyak ragam camp yang bisa menjadi pilihan orangua. Sebagian besar masih tetap saja “berbau agama”: pesantren kilat, bible camp, dsb.

Baru-baru ini di sebuah radio swasta saya mendengar promosi sebuah camp untuk anak-anak. Tapi gagasannya juga sama cilakanya dengan camp-camp yang berbau agama itu. Bahkan, mungkin, lebih cilaka lagi. Selama 3 atau 4 hari, dengan bayaran lebih dari 5 juta rupiah, anak-anak itu akan menjalani “motivational training” seperti yang biasa dijalani oleh orang-orang dewasa itu. Dengan gaya salesman kelas wahid, si penyelenggara camp menjelaskan kepada pendengar, perubahan apa saja yang akan terjadi pada diri anak setelah pulang mengikuti camp selama 3 atau 4 hari itu.

Kalau waktu itu si penyelenggara camp ada di dekat saya, pasti saya sudah menghardiknya. Dia memakai trik-trik psikologi untuk mem-“brain washed” anak. Saya pikir itu adalah sesuatu yang sangat merusak jiwa anak [.]

2 responses to “Camp untuk Mengisi Libur Panjang Anak-anak

  1. Benar,Pak. Saya ikut prihatin dengan kondisi seperti itu di negeri ini. Mungkin sedikit sekali orang tua yang punya “kenginan” seperti Bapak. Sedikit sekali tempat wisata/berlibur yang punya tema “natural”. Saya pun prihatin dengan anak-anak sekarang yangg sepertinya terlalu sering berada “di rumah” sehari-harinya. Keluar pun ke mall, warnet, gaming center dsb. Sosialisasi yang “real” di lingkungannya malah kurang atau tidak ada sama sekali. Waktu kecil saya banyak bermain bersama teman di lingkungan. Sekarang? Hampir setiap perumahan ttidak banyak saya temui ada anak-anak yang bermain di gang bersama-sama memainkan permainan tradisional.

    Saya pikir Bapak perlu menyiapkan waktu khusus, contohnya pada saat Bapak mengambil cuti panjang, Bapak bisa mengajak keluarga melakukan kegiatan di alam bebas untuk beberapa hari atau minggu. Paling bagus mengajak mereka ke taman nasional yang lumayan jauh letaknya dari ibukota atau di luar Jawa. Biasanya d isana ada petugas KSDAH yang setiap hari bertugas. Saya pikir kalau kita bisa berkoordinasi jauh-jauh hari sebelumnya, mereka akan senang bisa membantu. Mirip perjalanan safari ke Afrika yang kita lihat di televisi.

  2. Merda mangajun

    Apa yang salah dengan camp agama, Pak? Saya baru saja menyelengarakan camp untuk anak-anak gereja, dan di situ diajarkan leadership, disipline, friendship, survival dan mengagumi alam ciptaan Tuhan lewat keseimbangan alam. Saya mengajarkan cara menghitung umur tanaman, memperkirakan tinggi tanaman dan melihat ketergantungan alam di sekitarnya. Mereka juga ketemu dengan teman-teman dari gereja pelosok yang tidak pernah mereka temui sebelumnya. Mereka belajar menghitung plastik yang dipakainya setiap hari dan dari situ melakukan evaluasi mengenai bagaimana mengurangi pemakaian plastik. Saya juga sudah mengelilingi setengah dunia tapi saya tetap berfikir, agama adalah fondasi yang paling sempurna untuk setiap anak. …Allah adalah sumber pengetahuan.

    Aha, kalau camp agama dengan kurikulum yang seperti itu saya setuju sekali. Yang saya khawatirkan adalah kalau camp itu menjadi seperti sebuah camp agama di AS yang diperlihatkan oleh sebuah filem dokumenter pemenang Oscar (saya lupa judulnya): Mendidik anak menjadi “cupet” dalam berpikir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s