Bermain Golf

Oleh: Mula Harahap

Di pertengahan tahun 90-an saya pernah belajar golf dan sempat bermain di lapangan. Sebenarnya saya hanya menemani seorang kawan. Dia i ingin memperluas cakrawala pergaulannya dengan bermain golf. Tapi dia tidak tahu apa-apa tentang golf dan segan bertanya. Karena itu–seperti Jusuf Kalla–sayalah yang jadi bumper. (Anak-anak saya selalu mengeluhkan “kelebihan” saya yang satu ini. “Bapak ini suka norak dan malu-mauluin, deh…,” kata mereka).

Dengan polosnya kami pergi ke lapangan golf Ancol. Kepada petugas di meja resepsionis saya katakan bahwa kami ingin bermain golf di tempat tersebut. Petugas tersebut bertanya, apakah kami sudah pernah bermain golf dan punya peralatan. Saya katakan tidak. Lalu petugas itu mengatakan bahwa tempat kami bukanlah di situ. Namun dia berbaik hati memberikan informasi bahwa di Sawangan ada lapangan golf yang mungkin cocok bagi kami para pemula atau yang tak tahu apa-apa ini.

Kami pun pergi ke Sawamangan. Kembali saya yang menjadi bumper untuk mencari informasi. Saya memanggil seorang caddy, di antara puluhan caddy yang sedang menunggu panggilan itu, dan mengajaknya berbicara di mobil. Kepada caddy itu saya katakan keinginan saya. Ternyata dia menyambut kami dengan baik. Katanya langkah kami itu sudah tepat. Memang adalah lebih baik untuk langsung praktek darpada sekedar memukul-mukul di driving-range. Bahkan dia pun bersedia meminjamkan peralatan golf-nya bagi kami.

Beberapa hari kemudian, pagi-pagi benar, kami pun pergilah ke Sawangan. Sengaja kami pergi sangat pagi agar tidak beremu dengan banyak orang. Apalagi kami hanya bermodalkan sepatu karet. Si Caddy mengajar kami melakukan pukulan drive: bagaimana posisi tubuh, bagaimana cara memegang stick, dan bagaimana mengayunkan pukulan. Ternyata tidak terlalu sulit. Memang pukulan kami melenceng entah kemana-mana. Tapi kami disuruh jalan terus untuk kembali mengarahkan bola yang nyasar itu ke “track”-nya dan menuju lubang kedua, dan seterusnya.

Disebabkan oleh postur badan (badan saya lebih panjang dari kaki saya) maka sikap tubuh saya dalam melakukan pukulan selalu disalahkan oleh Si Caddy. Tapi saya katakan kepada Si Caddy, “Lho, saya lihat di televisi, Pak Harto juga mengambil sikap tubuh yang sama seperti saya…” Kata Si Caddy, “Pak Harto ‘kan Presiden. Dia boleh mengambil sikap tubuh yang dia mau. Bapak ‘kan bukan Presiden….”

Begitulah, selama dua atau tiga bulan, dua kali dalam seminggu, kami selalu pergi bermain golf di Sawangan. Sementara itu, kalau ada waktu luang, kami sempatkan untuk latihan memukup di driving range Ancol, Kemayoran atau Rawasari.

Peralatan pun mulai kami lengkapi. Tentu saja kami tidak membeli yang baru. Kami membeli yang bekas di kios yang terletak di kompleks lapo Batak dekat Lapangan Tembak Senayan. Saya juga punya sepatu putih yang khusus golf. Kalau saya melihat diri saya di depan cermin, saya selalu berkata dalam hati, “Bah, kau sudah seperti doli-doli pangepek tahun 60-an di Medan…”

Tapi ternyata saya memang tidak ditakdirkan Tuhan untuk bisa bermain golf. Perkembangan saya lambat sekali. Sementara kawan saya itu mengalami perkembangan yang pesat. Kemudian saya juga merasa bahwa golf itu sangat menyita waktu dan uang. Kalau sudah selesai bermain golf jam 12 siang, kami masih harus istirahat makan dan minum di restoran padang golf itu. Itu merupakan pengeluaran yang relatif tinggi bagi saya. Dan kalau sudah tiba di kantor, saya sudah lelah serta mengantuk. Praktis tak ada lagi hal lain yang bisa saya kerjakan.

Begitulah, lambat-laun saya mulai sering mangkir bermain golf. Dan saya semakin jadi kehilangan motivasi ketika, pada suatu hari, anak lelaki saya memberi komentar, “Mobil aja masih Kijang, koq nekad main golf. Ada-ada saja Bapak ini….”

Sementara itu kawan saya yang telah bertambah “maju” itu tak membutuhkan lagi kehadiran saya. Dia sudah menemukan rasa percaya dirinya dan kawan-kawan yang baru. Dia pun sudah berani untuk keluar dari Sawangan dan bermain di Ancol, Rawamangun, Halim dsb.

Akhirnya pada suatu ketika saya putuskan untuk melupakan samasekali mimpi bermain golf dan memperluas cakrawala pergaulan. Peralatan golf yang dulu saya beli seharga Rp. 3 juta di kios dekat Lapo Senayan, saya jual kembali di tempat yang sama dengan harga Rp. 1 juta lebih.

Sementara itu kawan saya sudah semakin maju saja. Kini dia sudah menjadi salah seorang pengurus di PGI (Persatuan Golf Indonesia). Dia sudah runtang-runtung bersama Jaro Wacik bermain di Bedugul, Batam, Merapi dsb.

Ada pun saya, oleh perjalanan nasib, akhirnya ikut juga runtang-runtung di PGI. Tapi yang terakhir ini adalah akronim dari Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia [.]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s