Daya Kenyal Orang Indonesia dan Pancasila dalam Beberapa Bahasa Etnis

Oleh: Mula Harahap

Ketika Indonesia diterpa krisis di tahun 1998, yang mengakibatkan jatuhnya rezim otoriter Suharto yang telah berkuasa selama hampir 30 tahun itu, banyak orang yang meragukan akan keutuhan dan kelanjutan dari NKRI. Akankah Indonesia ini mengikuti sejarah negara-bangsa yang pernah diperintah oleh sebuah rezim tangan besi seperti Yugoslavia atau Uni Soviet, yang kemudian berantakan dan bubar setelah rezim itu turun?

Tapi tak kurang juga banyaknya orang yang optimis akan keutuhan dan kelanjutan Indonesia. Saya masih ingat pada waktu itu Prof. Dr. Emil Salm berkata, “Bila krisis yang menimpa Uni Soviet dibandingkan dengan yang menimpa Indonesia, maka krisis yang menimpa Uni Soviet itu tidak ada apa-apanya. Tapi lihatlah, negara itu langsung bubar dan berantakan, sementara kita masih tetap utuh…”

Pada masa itu terbit pula sebuah buku, kumpulan tulisan dari berbagai ilmuwan sosial dan politik AS, yang diberi judul Indonesia Beyond Suharto. Buku yang diterbitkan oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama itu juga berangkat dari pertanyaan yang sama. Tapi kemudian setelah menguraikan dan menelaah beberapa aspek kehidupan Indonesia (permainan, kesenian, humor, dsb) buku tersebut tiba pada kesimpulan: Orang Indonesia mempunyai daya kenyal yang tinggi. Mereka memiliki kreativitas-nya sendiri dalam mempertahankan persatuan dan kesatuannya.

Saya pikir apa yang dikatakan buku itu memang benar. Segetir, seberat dan segawat apa pun sebuah persoalan, pada waktunya–dengan tersenyum–kita selalu bisa tiba pada sebuah konsensus dan melanjutkan urusan dengan baik-baik.

Dalam mengenang hari lahirnya Pancasila, yaitu pada hari ini 1 Juni 2009, baiklah kita tetap optimis dan mengingat apa yang lama disinyalir oleh para pengamat sosial dan politik AS itu: Kita mempunyai kreativitas sendiri dalam menjaga persatuan kita. Bahkan Pancasila, yang merupakan sebuah ideologi terbuka itu, bisa kita tafsirkan dengan bercanda dan dari perspektif budaya masing-masing, tapi sebenarnya substansinya tidak berubah. Dia memang merupakan jati-diri yang khas dari setiap etnis, tapi sekaligus juga menjadi sumbangsih bagi jati diri bangsa:

Pancasila dalam Bahasa Batak:

1. Unang adong na pajago-jagohon di jolo ni Debata.

2. Maradat tu sude jolma.

3. Punguan ni halak Indonesia.

4. Marbadai… marbadai, dungi mardame.

5. Godang pe habis, saotik pe sukkup.


Pancasila dalam bahasa Ambon:

1. Torang samua tau cuma ada Tuang Allah, yaitu Tete Manis.

2. Orang Ambon sama harus tau adat.

3. Acang deng Obet harus bisa bakubae.

4. Paitua deng maitua harus bae-bae di rumah rakyat

5. Samua harus bisa jaga diri karna Ambon lapar makan orang.


Pancasila dalam bahasa Manado:

1. Cuma boleh ba satu Tuhan.

2. Selalu adil kong ja pake ontak.

3. Torang samua satu, Bangsa Indonesia.

4. Tu rakyat musti selalu bakumpul kong bicara bae-bae supaya selalu ada kaputusan gagah yang semua trima deng sanang hati.

5. Voor seluruh rakyat Indonesia, nyanda ada tu ja baku kase beda-beda perlakuan.

Silakan anda memberikan penafsiran lain menurut warna budaya masing-masing. Hidup Pancasila dan jayalah Indonesia! [.]

One response to “Daya Kenyal Orang Indonesia dan Pancasila dalam Beberapa Bahasa Etnis

  1. hermanto zhang

    Sayang sekali tidak disertakan artinya dalam bahasa Indonesia, karena ini kan bukan terjemahan resmi Pancasila, tetapi semua untuk humor saja !!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s