Saya Suka Jusuf Kalla

Oleh: Mula Harahap

Saya beberapa kali melihat Jusuf Kalla berbicara secara langsung. Ini adalah peluang bagi saya untuk mengenal sosok Jusuf Kalla lebih dekat ketimbang hanya melihat penampilannya di layar televisi.

Saya suka dengan cara Jusuf Kalla berbicara. Ia selalu berbicara apa adanya dan tak pernah mau berbicara hal-hal yang hanya bersifat slogan. Saya selalu memperhatikan, dalam acara-acara resmi dimana ia diminta untuk memberi sambutan, biasanya staf-nya telah membekalinya dengan teks. Tapi Jusuf Kalla jarang membaca teks tersebut. Sementara menunggu gilirannya untuk tampil, Jusuf Kalla memakai waktu sebentar untuk mempelajari teks tersebut. Setelah itu teks dikantonginya dan ia mulai menyampaikan sambutannya sesuai dengan situasi waktu itu. Karena itu sambutannya selalu segar.

Saya juga suka dengan gaya bicaranya yang terkesan “slebor” dan mengandung humor. Saya masih ingat suatu ketika ia memberi komentar tentang fenomena banyaknya turis Arab di Tugu, “Yah, sudahlah. Paling tidak kita punya anak-anak yang cantik dan ganteng untuk bintang sinetron di masa mendatang….”

Saya juga suka dengan kesederhanannya: kemejanya yang biru dan yang tak pernah dimasukkan ke dalam celananya itu. Saya lihat dia juga lama menenteng-nenteng HP “sejuta umat” merek Nokia itu. Saya pikir, orang dalam kapasitas seperti Jusuf Kalla tentu akan mampu membeli HP yang berharga belasan juta rupiah. Tapi rupanya Jusuf Kalla adalah orang yang lebih mementingkan fungsi. Sepanjang HP itu sudah bisa mencukupkan kebutuhannya untuk berkomunikasi, yah mengapa harus menggantinya?

Saya juga suka dengan kelincahannya dan obsesinya tentang “get things done”. Acapkali demi “get things done” itu Jusuf Kalla menjadi tokoh yang penuh kontroversi dan menjadi “sasaran tembak” banyak orang. Tapi tampaknya dia tidak terlalu memperdulikan hal tersebut. Saya pikir, pemimpin memang haruslah demikian: siap untuk dicaci-maki orang.

Kalau saya tidak salah dengar, Jusuf Kalla adalah anak sulung dalam keluarganya. Saya juga adalah anak sulung. Saya pikir, saya cukup mengerti akan “psikologi anak sulung”: sejak kecil kami telah terbiasa untuk menjadi pelopor dan pemimpin🙂

Saya sebenarnya sangat kepingin melihat Jusuf Kalla terpilih menjadi Presiden RI. Tapi saya sadar Jusuf Kalla memiliki beberapa “disadvantage” yang harus diatasinya agar ia bisa terterima oleh mayoritas rakyat:

Pertama bahwa ia adalah orang Bugis (baca: bukan orang Jawa). Ini adalah sebuah “disadvantage”. Saya berharap Tim Kampanye-nya bisa “mengutak-atik” hal ini menjadi sebuah “advantage”. Misalnya Tim Kampanye-nya bisa mengembangkan isyu: bahwa dengan memilih seorang presiden yang non Jawa, kita membuktikan kepada dunia bahwa kita (Indonesia) adalah sebuah bangsa yang besar dan demokratis, dan tak kalah dengan AS yang memilih seorang keturunan Afrika menjadi presiden. Isyu ini terutama akan laku dijual kepada pemilih-pemilih muda.

Kedua bawa penampilan fisiknya kurang menjual. Ia kurang gagah dan tampan. Tapi saya rasa hal ini bisa dibungkus dengan lebih menonjolkan kepemimpinan, kepeloporan dan kenekadannya.

Ketiga bahwa gayanya yang terkesan “slebor” dan apa adanya itu juga bertentangan dengan steretoipe pemimpin yang ada di benak rakyat. Tapi saya rasa ini juga bisa “dimainkan” oleh Tim Kampanye-nya. Sementara di ujung sana ada seorang calon presiden yang sangat perduli dengan penampilannya, mengapa tidak memposisikan Jusuf Kalla dalam ekstrim yang lain, yaitu calon presiden yang tak sempat memikirkan penampilan dan citra karena sibuknya bekerja [.]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s