Si Olo: The Legend

Oleh: Mula Harahap

Setiap kultur mempunyai istilahnya sendiri untuk orang-orang yang hidup di atas atau di luar hukum. Di Italia mereka disebut bandit, di Inggeris mereka disebut outlaw, di New York mereka disebut mob, di Banten mereka disebut jawara, dan di Medan mereka disebut preman.

Sebenarnya preman berasal dari kata Belanda vrijman, yang artinya adalah orang sipil; bukan militer. Kurang jelas bagi kita mengapa orang-orang yang bertindak di luar hukum itu disebut sebagai vrijman (orang sipil). Mungkin dulu hanya militer-lah (militer Belanda) yang boleh mengancam-ngancam dan menakut-nakuti orang. Karena itu ketika di Medan ada orang yang bukan militer ikut-ikutanmengancam-ngancam dan menakut-nakuti orang maka dikatakanlah, “Akh, itu bukan kerjaan militer. Itu kerjaan orang sipil atau preman….” Lalu lambat-laun preman pun mendapatkan artinya yang baru.

Saya rasa Medan adalah sebuah kota di Indonesia yang paling kental budaya premanisme-nya. Padang, Palembang, Bandung, Jakarta, Surabaya dsb tentu memiliki “jagoan-jagoan” setempat. Tapi biasanya para jagoan itu hanya dikenal di kalangan remaja (yang masih mendewakan kekerasan fisik), di kalangan pedagang kecil (yang selalu harus membayar upeti kepada mereka) dan di kalangan aparat penegak hukum (yang hidup dari upeti preman, dan yang sesekali demi–menanamkan rasa ketenangan di masyarakat–pura-pura melakukan razia terhadap preman).

Tapi Medan berbeda. Di sana hampir semua kalangan (remaja, orangtua, pedagang, pendeta, dosen, dsb) mengenal dengan baik nama-nama jagoan yang gentanyangan di wilayahnya. Dan atas “kekhasan” yang dimiliki Medan atau Sumatera Utara ini, seorang ahli ilmu politik Dr. Verdi R. Hafidz (kalau saya tak salah ingat pernah mengajar di National University of Singapore) pernah melakukan penelitian tentang hal tersebut. Dan di dalam penelitiannya dia menggambarkan bagaimana kuatnya simbiose mutualistis yang terjadi antara preman, politisi, birokrat, polisi dan militer.

Ketika saya masih remaja (di tahun 1970-an) preman-preman (yang biasanya menapaki karirnya dari tukang peras bioskop) masih menguasai sepotong-sepotong wilayah. Di bilangan Mayestik (baca: kawasan di seputar bioskop Mayestic) kami mengenal nama Ucok Mayestik. Di bilangan Medan Baru kami mengenal nama Si Batu dan Si Dame (yang di pertengahan tahun 1960-an pernah “dibalbali” Paskah TNI
AU–dan karenanya menjadi semakin melegenda–karena mengeroyok Perwira Penerbang Silalahi–yang di kemudian hari menjadi Marsekal Madya, dan Perwira Penerbang Siagian–yang di kemudian hari juga menjadi Marsekal Madya). Di bilangan Kota Matsum, kami mengenal–kalau saya tak salah ingat–nama Iwan Aceh. Di bilangan pusat kota, kami mengenal nama Pendi Keling.

Tapi ketika saya kembali ke Medan di pertengahan tahun 80-an, saya mulai mendengar nama baru: Olo Panggabean (atau dengan panggilan yang lebih khas: Si Olo). Konon kabarnya ia juga adalah preman yang menapaki karirnya dari bilangan Mayestik, kemudian mendirikan sebuah organisasi kemasyarakatan bernama IPK–sebagai pecahan dari Pemuda Pancasila, menjalankan bisnis “racketing” dan berkembang ke bisnis kehidupan malam dan perjudian.

Tiba-tiba Si Olo menjadi “capo di capi” seantero Medan, seperti Joseph Gambino menjadi “capo di capi” (the boss of all bosses) dari New York City. Entah benar atau tidak, tapi orang selalu menyebut nama Si Olo di balik semua peristiwa kejahatan “racketing”, debt-collector dan beking atas suatu perselisihan.

Seorang anak namboru saya, yang bekerja mengatur dan mengamankan angkutan umum di bilangan Jalan Sei Wampu, dikatakan orang sebagai “anak buah Si Olo”. Seorang lagi anak namboru saya yang bekerja mengamankan kawasan di sekitar Jalan Mongonsidi (Kampung Anggrung), juga dikatakan orang sebagai “anak buah Si Olo”. (Dan ketika dia meninggal dunia karena ditikam orang, maka di rumah jenazah memang datang sebuah “bunga papan” dari Olo Panggabean. Dan bunga papan tersebut
menimbulkan decak kagum pada sebagian besar yang hadir). Ketika anak-anak T.D. Pardede berkelahi memperebutkan warisan ayah mereka, dan di Hotel Danau Toba terjadi “gang war”, maka orang mengatakan salah pihak yang berperang itu adalah “orangnya Si Olo”. Bahkan ketika HKBP bertikai dan terjadi perkelahian fisik di banyak tempat, maka orang juga menyebut bahwa ada “anak buah Si Olo” yang membantu sebuah kubu.

Orang Medan (atau Sumatera Utara) selalu menyebut “Si Olo” dengan perasaan kagum campur takut. Memang tidak semua orang Medan senang berurusan dengan Si Olo. Tapi semua orang pasti senang kalau namanya dikaitkan dengan nama Si Olo.

Si Olo pun kemudian menjadi sebuah legenda. Namanya menjadi nyaris sama saktinya dengan potret wajah Tuhan Yesus di salib atau dalam Perjamuan Terakhir: tergantung di mana-mana.

Orang berkata bahwa pengerusakan gereja tidak akan mungkin bisa terjadi di Medan, karena di sana ada Si Olo. Orang berkata bahwa FPI tidak akan mungkin merajalela di Medan, karena di sana ada Si Olo. Tempat kediamannya, yang catnya berwarna putih itu, oleh orang Medan pun disebut sebagai “White House”. Orang juga bercerita dengan decak kagum tentang Si Olo yang tak tersentuh ketika sepasukan Brimob datang mengacak-acak rumahnya.

Si Olo memang ahli “PR” yang piawai. Di kemudian hari, sejalan dengan pertambahan usianya, ia pun mulai melepaskan diri dari citra sebagai “pengusaha” racketing. Kini ia hanya dikenal sebagai pengusaha perjudian. Tapi bagi banyak orang, itu bukanlah sesuatu yang jelek dan mengerikan. Ia tokh hanya mengambil uang orang-orang Cina, yang sejak dari nenek-moyangnya memang telah memiliki darah penjudi. Ia–lewat para anak buahnya–tidak pernah lagi diasisiasikan dalam perkara pemerasan dan perkelahian dengan anggota masyarakat biasa.

Lambat laun Si Olo pun mulai menjalankan peran sebagai tokoh masyarakat. Dia sangat dermawan. Dialah yang membantu biaya operasi pemisahan anak kembar siam dari Serbelawan itu. Dialah yang membentu pengobatan isteri pelawak Doyok. Dan dia sering hadir dalam acara lelang amal yang diselenggarakan oleh gereja.

Setelah reformasi dan Indonesia masuk ke era demokratisasi dan liberalisasi, maka legenda tentang Si Olo pun semakin berkembang pula. Kini setiap kali terjadi pemilihan bupati atau walikota, namanya pasti akan disebut-sebut orang sebagai sponsor dari salah satu fihak (dan biasanya adalah fihak yang kemudian memenangkan jabatan tersebut).

Dia pun tidak lagi disebut sebagai “Si Olo”. Orang-orang Medan (atau Sumatera Utara) kini menyebutnya sebagai “katua” atau “komandan”. (“Ai hepeng ni komandan i do na mambahen monang si adui gabe bupati….”).

Ketika Kapolri Jenderal Sutanto memutuskan untuk memberantas praktek perjudian,maka orang kembali berpaling melihat sang “katua” atau “komandan”. Sang “komandan” adalah nemesis Sutanto ketika yang terakhir ini menjabat sebagai Kapolda Sumut. Apa yang akan dilakukan Sutanto? Ternyata tidak ada yang bisa dilakukan Sutanto. Konon kabarnya selama beberapa waktu sang “komandan” pergi “nyepi” ke Singapura dan Jerusalem, dan baru kembali lagi ke Indonesia setelah Sutanto tidak menjabat sebagai Kapolri.

Tadi pagi tersiar kabar bahwa sang “komandan” telah meninggal dunia di Singapura setelah menjalani perawatan selama beberapa hari. Seluruh kota Medan terhenyak. Berbagai komentar pun bermunculan dari hati yang lega, kagum campur sedih: “Nunga lao komandan i, bah….”–“Sslamat jalan ma di ketua i.”–“Kita kehilangan seorang tokoh masyarakat yang sangat dermawan…..”–“Bah boi do hape mate komandan i…” [.]

One response to “Si Olo: The Legend

  1. Hohooh! Ijin nge-post ulang ya, Tulang?

    Silakan, Bere🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s