Hari Ini 26 Tahun yang Lalu

Oleh: Mula Harahap

Hari Minggu malam tanggal 5 Juni 1983 itu, ketika saya, isteri dan kedua anak saya sedang bersiap-siap untuk tidur, pintu pagar diketuk. Di hadapan saya muncul namboru dan amangboru saya Hasibuan, serta amangboru saya Siahaan yang sebenarnya bermukim di Medan, dan mungkin sedang berada di Jakarta untuk suatu
urusan.

Oleh karena di keluarga kami saling mengunjungi menjelang tengah malam sudah merupakan “adat”, maka saya tidak langsung menaruh kecurigaan atas kedatangan mereka. Saya mempersilakan mereka duduk. Tapi kemudian setelah sedikit berbasa-basi, amangboru saya Siahaan langsung angkat bicara. Katanya dia baru
mendapat telepon dari Medan yang mengabarkan bahwa laenya, yaitu ayah saya, sedang dalam keadaan kritis di RS Elizabeth.

Saya terkejut karena empat atau lima hari yang lalu saya masih bertelepon dengan Ayah di kantornya dan dia dalam keadaan baik-baik saja. Kemudian dalam empat atau lima hari ini pun tidak ada yang mengabarkan kepada kami tentang sakitnya ayah.

Amangboru mengatakan bahwa dia puntidak terlalu memahami apa yang menyebabkan Ayah sampai harus dibawa ke rumah sakit. Tapi ia mengatakan bahwa ia baru saja menerima kabar bahwa sanak-famili telah memutuskan untuk melayankan Pejamuan Kudus kepada Ayah. Oleh karena itu kami anak-anak yang ada di Jakarta–ada 4 orang–diminta segera pulang secepatnya.

Kami bertukar-pikiran sebentar tentang kemungkinan yang sedang dan yang akan terjadi. Saat itu juga saya memutuskan bahwa saya, isteri dan kedua anak akan segera pulang. Atas keputusan itu, amangboru saya Hasibuan mengatakan bahwa besok subuh ia akan datang menjemput dan membawa kami ke bandara. Kami terpaksa “go-show” dan berusaha untuk bisa berangkat pada penerbangan mana pun yang paling capat. Waktu itu bandara domestik masih berada di Kemayoran.

Setelah mencapai beberapa kesepakatan, namboru dan kedua amangboru saya undur diri. Mereka masih harus menghubugi keluarga adik saya Ronitua, dan ito saya Elizabeth serta adik saya Daniel yang ada di Pulom Mss, untuk mengabarkan hal yang sama, serta mengatur koordinasi untuk pulang ke Medan. Waktu itu tidak
banyak rumah yang memiliki telepon, karena itu pesan harus disampaikan secara fisik. Tapi sebelum mereka berangkat menghubungi adik-adik saya yang lainnya, saya minta kedua amangboru dan namboru agar membawa saya ke Kwitang.

Saya ingin menemui direktur keuangan tempat saya bekerja. Saya pikir, kalau terjadi sesuatu yang paling buruk dengan Ayah, maka tentu akan dibutuhkan banyak biaya. Karena saya tidak mempunyai uang, maka saya hendak meminjam uang perusahaan. Direktur Keuangan yang saya temui, yang kebetulan tinggal di kompleks kantor, memahami kesulitan saya. Tanpa banyak pertimbangan ia memberikan jumlah yang saya inginkan.

Kedua amangboru dan namboru masih menyempatkan diri mengantar saya ke rumah, sebelum melanjutkan urusannya menghungi adik-adik saya yang lain pada tengah malam itu. Saya tidak ikut lagi menemani mereka, karena saya harus membantu isteri saya mempersiapkan segala keperluan untuk pulang: mengepak pakaian dan membereskan rumah.

Waktu itu anak saya yang paling besaar masih duduk di Kelompok Bermain. Karena itu saya tak peru menguruskan izin baginya untuk meninggalkan sekolah. Saya pikir, biarlah kami menelepon sekolahnya dari Medan saja.

Jam empat dinihari, seperti yang telah disepakati, namboru dan amangboru saya Hasibuan datang menjemput dan membawa kami ke Kemayoran. Sementara kami menunggu, ito saya Elizabeth datang bergabung. Tidak lama kemudian, adik saya Ronitua dan isterina datang menyusul. Kemudian amangboru saya Siahaan datang
menyusul. “Saya juga disuruh pulang secepatnya oleh namborumu,” katanya.

Kemudian amanguda dan inanguda saya boru Sitorus, juga datang bergabung. Tapi mereka belum membawa pakaian. Kata mereka, begitu kabar yang terburuk datang, mereka pun akan segera pulang.

Adik saya Daniel tidak ikut bergabung. Katanya, hari itu adalah hari pertama ia akan menjalani ujian masuk di STT Jakarta, dan ia sudah memutuskan untuk menjalani saja ujian tersebut dan merelakan apa pun yang terjadi dengan Ayah.

Kami berhasil mendapat sejumlah tiket pertama untuk penerbangan dengan Mandala. Waktu itu telah diputuskan yang pertama kali berangkat adalah saya, isteri saya, kedua anak saya, serta ito saya Elisabeth. Sanak famili yang lainnya akan menyusul secepatnya.

Sejak menerima kabar tentang keadaan Ayah tadi malam, saya lebih banyak diliputi oleh perasaan bingung campur heran, ketimbang rasa sedih. Karena itu sepanjang malam itu saya bisa menyelesaikan berbagai urusan dengan tenang. Saya bahkan masih bisa mengetik sebuah makalah yang sebenarnya harus saya sampaikan pada sebuah pelatihan editor pagi itu. Makalah itu saya titipkan pada tetangga saya untuk diantarkan ke kantor Ikapi.

Saya baru mulai merasa sedikit sedih ketika dalam penerbangan ke Medan itu saya melirik ito saya Elizabeth yang duduk pada bangku di seberang kiri saya. Dia duduk bersama anak saya yang lelaki. Tapi sepanjang perjalanan itu dia terus memangku paramannya itu dengan mata yang terpejam dan sesekali terhidak-hisak.

Jam 10 atau 11 pagi kami tiba di Polonia. Kami dijemput oleh namboru saya nyonya Siahaan. Begitu ia melihat ito saya, ia langsung memeluknya dan menangis tersedu-sedu. “Bapakmu sudah tidak ada,”katanya. Dan saat itu barulah saya ikut menangis.

Di rumah saya melihat orang sudah banyak berkumpul. Ayah sudah terbujur kaku di atas dipan ditunggui oleh Ibu, kedua adik lelaki saya, tiga namboru, seorang uda dan inanguda, serta beberapa keluarga dekat lainnya.

Setelah kedatangan kami, maka rombongan yang tadi berkumpul di Kemayoran itu pun muncul satu-persatu. Mula-mula yang muncul adalah adik saya Ronitua dan isterinya. Kemudian amangboru saya Siahaan. Kemudian amanguda dan inanguda saya boru Sitorus serta namboru dan amangboru saya Hasibuan. Setiap kali mereka
muncul terjadi kegemparan besar. Orang menangis bersahut-sahutan.

Tapi hal yang juga menimbulkan kegemparan besar ialah ketika siang itu datang seorang utusan dari kantor ayah membawa sebuah surat di dalam sampul cokelat. Surat itu adalah surat saya yang berisi foto-foto pembaptisan puteri saya seminggu yang lalu. Ayah memang beberapa kali menelepon saya meminta agar
segerea mengirimkan toto=foto tersebut. Dan kepada Ibu pun rupanya dia selalu menceritakan keinginannya untuk melihat foto cucunya yang belum pernah dikenalnya itu. Karena itu album kecil tersebut langsung diletakkan Ibu di dekat kepalanya sambil berkata, “Bereng ma foto ni pahompum on…..”

Ternyata beberapa hari yang lalu ayah menderita flu ringan. Karena dia memang telah terbiasa menderita penyakit seperti itu, maka Ibu dan kedua adik saya yang tinggal di Medan tidak pun terlalu memperhatikan keadaannya. Ia dibiarkan saja memakan obat flu yang biasa dimakannya, beristirahat sendiri, dan mengambil
makanan seta minumannya sendiri manakala terbangun dan lapar.

Ibu dan sanak famili betapa gawatnya keadaan Ayah hanya secara kebetulan saja. Malamitu namboru saya nyonya Siahaan datang ke rumah untuk menjemput Ibu dan Ayah untuk menjenguk seorang famili yang sedang sakit. Ketika masuk ke mobil Namboru, Ibu berkata, “Ai ibotom pe marsahit do saonnari. Ndang boi dohot
ibana…..”

Kebetulan Namoru ditemani oleh seorang puterinya yang sedang kuliah di bangku terakhir Fakultas Kedokteran. Karena itu, mendengar keterangan Ibu, Namboru mengurungkan perjalanan sebentar dan berkata kepada puterinya, “Turun dulu kita, Inang. Kita lihat dulu tulangmu…..”

Ayah memang masih sadar dan masih sempat bercakap-cakap dengan itonya itu. Tapi dari puteri namboru, Ibu mendapat keterangan bahwa Ayah sudah mengalami dehidrasi. Malam itu juga Namboru memutuskan untuk membawa Ayah ke rumahnya. Karena puterinya adalah seorang mahasiswi Fakultas Kedokteran maka diharapkan keadaan ayah bisa dipantau secara lebih baik.

Ternyata ayah hanya satu malam berada di rumah Namboru. Keadaannya memburuk dengan cepat. Keesokan paginya ia dilarikan ke RS Elizabeth. Berbagai upaya dilakukan untuk mengatasi keadaannya. Rupanya dehidrasinya sudah sangat parah. Karena itulah malam tersebut sanak famili di Medan sepakat untuk memanggil pendeta dan malayankan perjamuan kudus kepadanya, dan sepakat pula untuk segera
memanggil kami pulang ke Jakarta.

Jam 5 atau 6 pagi Ayah pun meninggal. Karena waktu itu hubungan telepon belum begitu baik, maka ketika berkumpul di Kemayoran kami belum tahu bahwa Ayah telah meninggal dunia.

Sementara siang itu kami mulai berbicara tentang persiapan pemakaman Ayah, datang pula berita dukacita yang lain. Seorang amangboru saya, Gultom, meninggal dunia pula. Isterinya adalah boru dari amangtua Ayah; bukan ito kandung. Tapi dalam kekerabatan Batak hubungan itu terhitung masih sangat dekat. Orang-orang
yang akan mengurusi pemakaman Ayah adalah juga orang-orang yang akan mengurusi pemakaman Amangboru. Karena itu, melihat kondisi jenazah, maka diputuskan agar seluruh sanak-famili memusatkan perhatian dulu untuk memakamkan Amangboru, dan sehari kemudian barulah memakamkan Ayah.

Ayah dimakamkan mengikuti tradisi Batak Angkola. Petinya ditutupi dengan “hombung” yaitu cungkup kayu yang ditutupi kain putih dan diberi sulaman benang merah campur hitam. Prosesi pemakamannya diiringi oleh beberapa anak serta berenya yang bertindak sebagai hulubalang yang dilengkapi dengan tombak-tombak,
banner-banner dan payung-payung “harajaon”. Dan kepadanya pun diberikan gelar, yang disampaikan kepada anak saya, yaitu cucu panggoarannya: Baginda Tunggal Kuayan [.]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s