Kenangan dari Foto Masa Kecil

Oleh: Sal Hutahaean

Beberapa waktu lalu ketika saya pulang ke Laguboti, saya iseng-iseng membuka album foto-foto lama di rumah. Yang paling menariki adalah foto-foto hitam putih yang lucu-lucu. Yang terbanyak tentu adalah foto rame-rame, terutama foto suasana nikah, kemudian foto orang meninggal lengkap dengan wajah mayat yang kaku, foto kakak-kakak saya bergaya artis entah itu di kuburan, di pantai, atau di depan gereja, dan foto makan-makan dengan fokus foto terarah pada makanan di dalam panci. Lalu ada juga foto diri kami waktu kecil yang tak kalah lucunya.

Dari seluruhnya itu, yang paling menarik hati saya adalah satu foto diri saya semasa kecil berpose dengan seseorang. Seingatku foto itu adalah ketika saya masih kelas 3 atau 4 SD dan teman yang berdiri cengengesan di sampingku di dalam foto itu adalah Sumurung. Waktu itu usia saya sekitar 10 tahun, sedang Sumurung walaupun lebih pendek usianya sebenarnya dua tahun di atasku. Sumurung anak yang dekil, jarang mandi, dan wajahnya menunjukkan mimik anak Batak yang benar-benar jigil tampak jelas di foto itu. Jigil itu dua level di atas jugul, kombinasi lasak, gumarapus, licik, dan cengeng. Memang begitulah Sumurung, ia anak nakal, ia licik, ia emosional, dan lebih parah lagi ia unpredictable. Kami berteman, tapi seingatku hubungan kami seringkali mengalami pasang surut. Sebentar akrab, sebentar marsanding, kadang-kadang berkelahi,tapi kemudian akrab lagi bagai dua anak kembar.

Ada satu kenangan yang tak mungkin saya lupakan bersama Sumurung. Kenangan tentang berjudi. Saya pernah berjudi dengan dia dalam jumlah rupiah yang tidak tanggung-tanggung untuk ukuran anak-anak! Kami berjudi berdua, saling berhadapan, hanya kami berdua, tidak ada seorangpun yang tahu. Ketika itu saya kelas 3 SD, sedangkan Sumurung kelas 5. Kami berjudi berminggu-minggu.

Awalnya, suatu waktu sepulang sekolah Sumurung mengajak saya main kelereng. Waktu itu kebetulan saya punya uang 50 rupiah. Ini kejadian tahun 70-an awal, saat itu rate durung-durung di gereja kami masih 5 rupiah, jadi untuk anak kampung seperti kami jumlah 50 rupiah itu cukup besar. Sumurung juga kebetulan punya uang yang jumlahnya kira-kira sama. Ia mengusulkan agar dalam bermain kami pakai taruhan, supaya seru katanya. Awalnya saya menolak, tapi dia pintar memanas-manasi, bilang saya penakut, sehingga saya pun jadi nekad bertaruh. Nah, kami bermain kelereng dengan taruhan 1 rupiah saja.

Setelah bermain berjam-jam ternyata kami berimbang. Dia menang sekali, saya sekali, begitu seterusnya. Jadi uang di tangan masih relatif tetap.

Menjelang sore hari Sumurung mengajukan lagi usul baru. “Kita lipatkanlah taruhannya,” katanya. Daripada disebut penakut, saya setuju saja dan kami pun bermain dengan taruhan dua rupiah. Ketika hari sudah mulai gelap dan biji kelereng sudah samar-samar tampak, kami menghentikan permainan. Saya gembira sekali. Saya menang sekitar 10 rupiah. Adapun Sumurung, mukanya yang dekil itu memerah, ia begitu gusar karena kalah, “Besok kita lanjut, ya,” katanya dengan nada mengancam.

Malamnya saya tidur nyeyak. Selain karena capek juga karena puas. “Aha dope, nga monang 10 rupiah.” Terbayanglah jajanan di sekolah yang enak-enak. Sepuluh rupiah lebih dari cukup untuk membeli sepiring mie gomak dan beberapa onde-onde singkong yang besar-besar. “Kalau besok main dan saya menang lagi, wah, saya bisa jajan terus setiap hari,” pikir saya dalam hati. Berbekal pikiran seperti itu saya pergi tidur.

Esoknya, benar juga. Kami bermain lagi sepulang sekolah dan saya pun menang lagi. Wajah Sumurung makin merah saja, merah seperti bunga rias. Marrara songon palang. Dia mengomel-ngomel tidak puas, sebentar bilang tanah tempat bermain kami tidak rata, sebentar lagi bilang saya bermain curang. Saya diam saja, hari itu dia memang kalah lebih banyak. “Besok kita main yang lain saja,” katanya cemberut di akhir permainan.

Ketika dia datang esok harinya, dibawanya kartu domino. “Marleccet ma hita,” ajaknya. Maksudnya main kartu gaple atau domino. Saya belum pernah main domino, karena itu saya pun di-training dulu oleh Sumurung. Setelah paham barulah kami bertaruh.

Walaupun taruhannya kecil-kecil, main leccet ternyata bikin uang cepat habis. Tentu saja saya yang kalah, namanya juga melawan guru sendiri. Untuk mengamankan sisa modal, saya pun mengajukan ganti permainan. “Saya belum mahir main kartu ini, kita main catur saja,” kata saya. Kami pun main catur. Tetapi baru bermain satu plat kami segera sadar ternyata catur terlalu lambat dipakai berjudi. Untuk menghemat waktu, taruhan pun kami tingkatkan.

“Lipat lima,” kata Sumurung.

“Ba i,” jawab saya setuju.

Kami bermain dengan taruhan 5 rupiah. Kalau di domino Sumurung unggul, untuk catur saya masih lebih baik. Ketika gelap mulai turun, Sumurung sudah kehabisan modal, dia kalah terus. Ketika permainan kami hentikan untuk hari itu dia terpaksa berhutang 5 rupiah. Itulah rupanya enaknya berjudi. Boleh berhutang.

Pada dasarnya kami adalah anak-anak yang jarang memperoleh uang dari orangtua, punya uang 50 rupiah adalah kejadian langka. Uang 50 rupiah yang saya punya adalah “berkah” yang saya peroleh dari saudara yang kebetulan berkunjung. Modal Sumurung, menurut ceritanya adalah uangnya sendiri yang dia dapat setelah memecahkan celengannya.

Singkat cerita, kami bermain judi hampir setiap pulang sekolah. Kami juga semakin rajin jajan. Ada perasaan bahwa dapat uang ternyata gampang. Dengan berjudi tidaklah susah dapat 5 atau 10 rupiah. Karena yang berjudi hanya kami berdua dan dua-duanya makin rajin jajan, tentu saja modal kami pun tidak bertahan lama. Uang di tangan segera habis untuk jajan mie gomak dan onde-onde singkong. Akan tetapi, karena nikmatnya judi sudah merasuk ke dalam otak, walaupun uang sudah habis kami masih tetap saja bermain. Bedanya, kali ini kami berjudi tanpa modal, menjudikan uang yang tidak ada, si utang-utang!

Begitulah. Berminggu-minggu kami berjudi dan dengan tekun menghitung “uang angan-angan” yang diperoleh. Supaya tidak ketahuan orangtua, apapun kami buat jadi judi. Kami bertaruh untuk permainan bola kaki satu lawan satu, bertaruh main layangan, bertaruh main ular-tangga, bertaruh mamak siapa yang lebih duluan pulang dari pasar, bertaruh sintua siapa yang memimpin doa ale amanami di sekolah minggu. Pokoknya, apapun yang terpikirkan kami buat bertaruh. Runyamnya, setelah berjudi tanpa uang cash, saya makin royal bertaruh dan tidak terlalu banyak pertimbangan. Akibatnya gampang diduga, saya sering kalah, sehingga hutang mulai menumpuk. Karena tergoda untuk segera melunasi hutang yang menumpuk itu, saya pun mengajukan taruhan dengan jumlah semakin besar. Kadang-kadang seratus rupiah, bahkan lima ratus rupiah!

Suatu waktu Sumurung tak lagi mau meladeni ajakan taruhan saya yang memang sudah tak masuk akal itu.

“Nga pagodanghu utangmu, sae ma hita,” katanya. Lalu dia lanjutkan, “Bayarlah …”

Saya pucat, saat itu utang saya sudah mencapai angka sepuluh ribu rupiah!

Setengah mati saya mengajaknya untuk main lagi, tak sedikit pun digubrisnya. “Bayarlah dulu, kalau tidak kukasih tahu sama ompung,” katanya. Sumurung memanggil ompung pada ibu saya.

Bah, gawat kawan ini, pikirku.

Kalau dulu saya sempat tidur enak karena menang, sekarang saya benar-benar tak bisa tidur lagi. Nilai 10.000 pada masa itu kira-kira setaralah jumlahnya dengan 1 juta uang sekarang. Bayangkan, anak kelas tiga SD punya hutang 1 juta rupiah. Padahal, pemasukannya hanya 20 rupiah seminggu, potong limper untuk durung-durung.

Sumurung pun mulai meneror saya. Setiap minggu saya harus menyetorkan uang padanya. Dari 20 rupiah yang saya peroleh dari ibu, 15 rupiah untuk Sumurung dan limper untuk tuhan. Saya takut memberi tahu siapa pun akan situasi finansial yang saya hadapi. Kalau ibu tahu, dia akan sedih karena saya berjudi. kalau kakak atau abang saya tahu, saya pasti akan dapat hukuman.

Setiap kali jumpa Sumurung, dia pasti menagih, padahal dia tahu saya tidak punya uang. Tapi tampaknya kawanku si dekil itu menikmati benar posisinya yang menguntungkan itu. Saya benar-benar benci padanya, tapi saya tak berdaya. Harapan saya hanya satu, Sumurung mau bermain lagi, sehingga saya bisa menang dan melunasi seluruh utang. Setiap malam saat mau tidur saya tak pernah lupa berdoa, “Tuhan, tolonglah agar Sumurung mau bermain lagi, sampai utangku lunas, kalau utangku lunas tuhan, saya tak mau berjudi lagi”. Tapi harapanku sia-sia. Tak ada tanda-tanda Sumurung akan mengubah putusannya.

Suatu hari, salah seorang kakak saya meletakkan tumpukan uangnya di meja belajar kami. Aku mengambil satu uang logam lima rupiah. “Uang kakak banyak, dia tidak akan tahu saya ambil satu, saya akan berikan Sumurung untuk menutup mulutnya yang semakin nyinyir itu,” pikir saya. Benar saja, kakak saya tidak tahu dan Sumurung pun senang saya beri tambahan 5 rupiah. Sejak saat itu, saya bukan hanya mengambil uang kakak yang ditaruh di atas meja, saya mulai lebih aktif mencari dimana kakak-kakak saya meletakkan uangnya. Awalnya tidak ada masalah, tetapi lama-lama mereka mulai curiga kenapa uang yang mereka simpan selalu berkurang. Saling curiga pun mulai terjadi di dalam rumah kami. Yang satu menuduh yang lain, tapi tidak ada yang mengaku.

Sementara itu, setiap malam ketika akan tidur, saya masih tetap berdoa, walau takut-takut. “Tuhan, saya bukan pencuri, tuhan. Tapi mau bagaimana lagi, Sumurung semakin rajin menagih, terpaksa saya mencuri. Tolonglah saya, tuhan. Tolonglah anakmu yang kecil ini, tolonglah tuhan, suruhlah sumurung agar kami bermain lagi, bantulah juga saya tuhan supaya menang, tolong tuhan, tolong. Aaaa… men!” Walau takut-takut saya berdoa dengan penuh keyakinan.

Minggu dan bulan berlalu, saya baru berhasil membayar beberapa ratus rupiah dari total utang yang sepuluh ribuan itu. Sumurung masih tetap tidak berubah, tampaknya tuhan pun begitu juga.

Saya sendiri semakin kurus, stress berkepanjangan. Sepanjang hari utang itu saja yang saya pikirkan. Saya dilanda kecemasan berganda, cemas kalau-kalau hutang saya terbongkar, juga cemas kalau-kalau pencurian yang saya lakukan ketahuan. Dalam himpitan persoalan yang berat itu, sempat juga saya berdoa, “Tuhan, bagaimana kalau kau matikan saja Si Sumurung itu…” Tapi itu juga tak dikabulkan tuhan. Bukannya mati, Sumurung tampaknya makin sehat saja, sementara saya makin menciut kurus.

Suatu malam, hujan turun dengan sangat derasnya. Esok paginya, seluruh persawahan di luar perkampungan kami tergenang. Pematang-pematang sawah rata ditutupi air. Banyak ikan peliharaan yang lepas dari empang-empang terbawa oleh air yang meluap. Siang harinya, ketika air sudah surut kembali, orang-orang berjejer di pematang sawah yang mulai mengering memegang joran pancing. Mereka memancing ikan-ikan mas yang lepas dari empang. Saya tertarik dan ikut bergabung, menapaki pematang sawah yang licin karena tergenang semalaman.

Senang sekali rasanya ikut duduk di pematang sawah, menonton ke dalam air pelampung-pelampung pancing bergerak-gerak tanda umpan dimakan ikan. Kalau gerakan pelampung semakin liar, joran ditarik dan kilau kekuningan ikan mas yang terangkat menggelepar ke udara adalah tontonan yang benar-benar menarik. Tampaknya banyak ikan kelaparan di dalam air di bawah sana, karena sebentar-sebentar ada saja pancing yang terangkat membawa ikan.

Saking asiknya menonton, saya tidak menyadari seseorang ternyata mendekati saya dari belakang. Tiba-tiba sepasang tangan mendorong saya kuat-kuat ke dalam sawah. Saya panik tapi masih sempat mendengar suara orang yang mendorong tadi berteriak di belakang saya, “Sae utang!” Saya terjerambab jatuh tercebur ke dalam sawah, muka dan badan saya penuh lumpur, untung airnya tidak terlalu dalam lagi. Saya keluar dari dalam sawah, memandang orang yang saya benci itu masih tertawa berjingkrakan.

Saya malu, kesal, dan marah. Saya keluar dari lumpur dan siap-siap untuk membalas. Penghinaan seperti ini harus dibayar dengan perkelahian. Biarpun dia kelas lima saya tidak takut. Tetapi tiba-tiba saya sadar dengan apa yang sebenarnya terjadi. Si kunyuk dekil yang berjingkrakan disana masih terus berseru-seru, “Sae utang, … sae utang … sae utang.”

Sadar apa yang terjadi segera saya ikut larut dalam kegembiraan sumurung. Hilang sudah niat berkelahi, yang ada malah kegembiraan dan rasa lega yang sukar diceritakan. Saya ikut bersamanya berjingkrakan, berteriak-teriak, “Sae utang … sae utang … sae utang!”. Utang sudah impas, sudah impas, sudah impas. Ya tuhan, begini sajakah? Sebuah tolakan tangan ke dalam lumpur dan semua utang, semua kecemasan saya lunas saat itu juga? Semudah itukah?

Tapi memang begitulah, kami memang anak-anak, tapi kami punya aturan, jika sudah dikatakan sae utang maka tak ada hutang piutang lagi. Semua anak-anak di kampung kami tahu aturan itu. Rupanya sumurung yang dekil licik itu entah bagaimana ceritanya tiba-tiba seperti kesurupan malaikat, mengambil keputusan menganggap lunas hutang piutang kami hanya dengan imbalan satu tolakan ke lumpur yang benar-benar menggembirakannya.

Aku berjalan ke arah Sumurung, senyumnya merekah, wajahnya yang dekil berseri-seri. Dia letakkan tangannya di pundak saya, saya pun meletakkan tangan di pundaknya. Kami meniti pematang sawah, pulang sambil marsikedan-kedanan.

Bertahun-tahun kami terus berteman dan semakin akrab, hingga akhirnya saya harus bersekolah ke Medan dan sejak itu kami jadi jarang bertemu. Belakangan saya dengar Sumurung sudah jadi pengusaha di suatu kota di Sumatera. Saya pikir pekerjaan itu cocok dengan karakternya.

Saya belajar dari pengalaman traumatik berjudi itu, belajar untuk tidak pernah terjatuh lagi dalam perangkap judi. Kadang-kadang saya masih mau main turf, atau main joker karo, tetapi saya tak pernah lagi terperosok sampai kalap dalam berjudi. Saya sudah tahu batas-batasnya. Saya bisa mengatasinya. Kalau saya mendengar ada orang dewasa yang menggadaikan barang-barangnya, atau berhutang kesana-kemari karena kalah berjudi, saya biasanya tersenyum dan berkata dalam hati, “kasihan kawan itu, dia mengalaminya sekarang, saya sudah melewatinya ketika masih kelas 3 SD.” [.]

Penulis Sal Hutahaean bisa dihubungi di http://www.facebook.com/profile.php?id=1549723638&ref=ts

2 responses to “Kenangan dari Foto Masa Kecil

  1. Hahahahahaha. Gabe masihol mulak dakdanak iba, foank….

  2. Aku terhanyut setelah membaca seluruh isi cerita Ito. Huingot tikki dakdanak. Masihot tu akka dongan saparmeaman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s