Monthly Archives: July 2009

Tentang Lagu “Jadul” dan Youtube

Oleh: Mula Harahap

Ketika saya duduk di bangku SD (1960-1966) sarana yang paling utama untuk mendengar lagu populer adalah radio (yang ada “mata kucing”-nya yang berwarna hijau itu). Tape recorder masih merupakan barang langka, dan piringan hitam hanya dimiliki oleh orang-orang kaya.

Karena itu kalau kami hendak menyalin teks sebuah lagu (Ernie Johan, Patty Bersaudara, Tety Kadi dsb) maka yang kami andalkan adalah radio. Bila lagu yang kami senangi itu sedang diperdengarkan di radio dalam sebuah acara “pilihan pendengar”, maka kami pun buru-buru mengambil pensil untuk mencatatnya. Tentu saja dalam satu kali mendengar, kami tak bisa mencatat seluruh teks lagu. Kami harus menunggu sampai lagu tersebut diperdengarkan kembali di radio. Cilakanya pada masa itu stasiun radio hanyalah RRI. Karena itu untuk berhasil mencatat teks sebuah lagu secara lengkap dan benar dibutuhkan waktu beberapa hari. Dan karena itu juga, pinsil dan buku catatan selalu harus stand-by di dekat radio.
Continue reading

Intelijen, Orang-orang Binaan dan Drakula

Oleh: Mula Harahap

Ketika Suharto berkuasa intelijen memelihara sejumlah orang binaan untuk menjadi informan atau agen pembusukan, yang ditanamkan ke dalam organisasi sosial atau politik yang dianggapnya memiliki potensi untuk mengganggu kekuasaannnya. Ada orang binaan di partai politik, organisasi agama, organisasi buruh, organisasi
mahasiswa, organisasi wartawan, dsb.

Semua informan atau agen pembusukan itu, dengan didukung oleh sebuah angkatan bersenjata yang berdisplin dan patuh, bekerja untuk melayani Sang Maestro Suharto dalam melanggengkan sebuah pemerintahan yang represif dan otoriter.

Tapi ketika Suharto terjungkal dari kekuasaannya maka jaringan kerja yang terkoordinasi baik antara angkatan bersenjata, intelijen dan orang binaan itu menjadi berantakan. Tiba-tiba muncullah faksi-faksi dalam angkatan bersenjata yang saling bersaing dalam memperebutkan kekuasaan dengan memanfaatkan orang-orang binaan (yang tadinya melayani kepentingan Suharto) untuk kepentingan faksi-faksi itu (atau lebih tepatnya: boss dari faksi-faksi itu).

Continue reading

Saya Memberi Nilai Sembilan untuk Pernyataan Presiden SBY

Oleh: Mula Harahap

Kalau Presiden SBY, yang selama ini terkenal santun dan sangat berhati-hati dalam berbicara, sampai mengeluarkan kata-kata seperti dalam pernyataannya Jumat, 17 Juli 2009 yang lalu, maka hal itu tentu sudah diperhitungkannya benar. Kita bahkan bisa melihat bahwa pernyataan itu diucapkan berdasarkan sebuah teks tertulis. Oleh karena itu pernyataan tersebut boleh dikatakan “hati-hati bin hati-hati” atau “he mean it”.

Saya tidak melihat bahwa ada yang berlebihan dalam pernyataan Presiden SBY. Bahkan menurut hemat saya memang begitulah seyogianya pernyataan seorang presiden di sebuah negara yang demokratis.

1. Secara Eksplisit Pernyataan Itu Tidak Mengait-ngaitkan Hasil Pemilu:

Saya sudah melihat rekaman video pernyataan tersebut di youtube, dan melihat intonasi serta ekspresi wajah Presiden SBY. Saya juga sudah membaca transkripsi pernyataan itu–yang tersedia di banyak situs internet–dua atau tiga kali.
Continue reading

Bagaimana Saya (Seorang Pemilih JK) Melihat JK Setelah Pemilu Presiden/Wakil Presiden

Oleh: Mula Harahap

Ketika melalui media massa saya membaca gelagat bahwa JK tidak diajak lagi oleh SBY sebagai calon wapres-nya dalam pemilu 2009-2014 maka saya adalah orang yang berpendapat bahwa sebaiknya dia diam saja sampai masa jabatannya sebagai wakil presiden berakhir, untuk kemudian memposisikan diri sebagai guru bangsa.

Oleh karena itu, ketika JK kemudian (dalam satu proses yang sangat cepat) memutuskan untuk juga maju sebagai calon presiden dan bersaing dengan SBY, maka saya menganggapnya konyol. Bagaimana pun dia tidak akan mungkin mengalahkan popularitas SBY. “Kayaknya ini bukan lagi kalkulasi politik, tapi sudah urusan darah orang Bugis,” kata saya dalam hati. Dan saya sudah membayangkan bahwa seusai Pemilu JK akan habis dan hancur.
Continue reading

Kenangan Semasa Masih Bersekolah di SR PSKD Kwitang VII

Oleh: Mula Harahap

Saya bersekolah di PSKD VII (Jl. Sam Ratulangi) antara tahun 1963-1964. Saya dan adik-adik mengikuti ayah dan ibu. Ayah saya berencana untuk mencari pekerjaan baru di Jakarta. Tapi entah mengapa, setelah delapan bulan di Jakarta, ia mengurungkan rencananya dan kami semua kembali ke Medan.

Selama beberapa bulan di Jakarta kami tinggal di rumah Ompung (ibu dari ibu saya) yang terletak di Jalan Timor 19 Pavilun. Ada pun rumah induknya ditempati oleh Keluarga Hasan Basri, yang dikemudian hari pernah menjadi Ketua Majelis Ulama Indonesia. Rumah itu terletak di penggalan Jalan Timor yang dekat ke Jalan Sunda dan berada dalam satu barisan dengan rumah bintang filem Baby Huwae yang dikemudian hari dikenal sebagai Lokita Purnamasari.
Continue reading

Gereja yang Berkomunikasi di Tengah Pergumulan Masyarakat dan Bangsa

Oleh: Mula Harahap

Indonesia yang Sedang Berubah:

Selama 10 tahun terakhir ini situasi sosial dan politik Indonesia telah mengalami perubahan yang signifikan. Dari sebuah masyarakat dan bangsa yang dulunya tersentralisasi dan diatur secara otoriter, kini Indonesia telah menjadi sebuah masyarakat dan bangsa yang terdesentralisasi dan demokratis.

Kekuasaan tidak lagi terpusat di tangan segelintir elit yang berada di ibukota negara, tapi sudah menyebar kemana-mana. Propinsi dan kabupaten baru sebagai akibat kebijakan desentralisasi terus bermunculan. Kini Indonesia memiliki 33 propinsi dengan lebih dari 500 kabupaten/kota. Dan setiap tahun jumlah propinsi dan kabupaten/kota terus bertambah. Penyelenggaraan kehidupan bernegara pun kini lebih dititik-beratkan di level kabupaten/kota,
Continue reading

Mengembangkan Kebiasaan Menulis

Oleh; Mula Harahap

Saya percaya bahwa kita semua adalah orang yang pernah menulis. Hanya saja disebabkan oleh anggapan yang salah tentang menulis dan kepenulisan, kita merasa diri bukan penulis dan karenanya menjadi segan untuk menulis.

Sampai pada level tertentu, menulis itu bukanlah bakat. Menulis itu adalah sebuah kemampuan, yang seyogianya dimiliki oleh semua orang yang sudah tahu “tulis-baca”, karena setiap hari tokh. kita tokh menulis. Kita menulis memo, kita menulis surat, kita menulis proposal, kita menulis laporan, dsb. Tapi kemampuan itu tidak kita pelihara dan kembangkan. Bila tidak ada kebutuhan untuk berkomunikasi dengan sebuah sosok yang nyata, kita cenderung untuk tidak menulis.
Continue reading