Cerita Tentang Daging dan “Osang-osang” Babi

Oleh: Mula Harahap

Hari Jumat yang lalu, dalam kapasitas sebagai hula-hula dalam upacara penguburan seorang lae, saya mendapat jambar setumpuk daging babi. Sebenarnya jambar yang menjadi bagian saya tidaklah terlalu banyak. Tapi semua abang, amanguda dan amangtua saya menyerahkan jambar-nya kepada saya. Mereka memang selalu begitu. Alasannya tentu bukanlah karena saya gemar memakan daging babi (saya jarang sekali memakan daging babi) tapi karena sayalah orang yang paling menurut untuk disuruh melakukan apa pun, dan juga karena mobil sayalah yang paling jorok. (Siapa pula yang mau membawa daging yang sudah dibiarkan terbuka sepanjang hari tanpa pendingin–dan mulai mengeluarkan bau yang kurang sedap–di mobilnya yang bersih dan wangi itu?). Begitulah, karena sudah kelelahan, daging itu hanya saya simpan di kulkas. (Bagaimana tidak kelelahan? Rabu sepanjang malam, Kamis sepanjang malam, dan Jumat pagi sampai malam saya ada di rumah duka).

Hari Sabtu, dalam kapasitas sebagai tulang, dalam urusan yang lain, saya kembali mendapat jatah setumpuk daging babi. Bahkan kali ini bukan hanya daging, tapi juga rahang babi. Sama seperti jambar yang saya terima hari Jumat, jambar yang saya terima hari Sabtu itu pun saya simpan di freezer kulkas.

Kemarin isteri saya mengeluh. Kulkas kami yang kecil itu sudah didominasi oleh daging babi. Beberapa makanan yang cepat rusak, yang seharusnya disimpan di kulkas, kini terpaksa disimpan di lemari dapur.

Saya tidak tahu mau dikemanakan daging yang banyak itu. Kalaulah daging itu bukan daging babi, maka pasti sudah saya berikan kepada orang-orang yang selalu berkumpul di pos jaga malam di dekat rumah saya. (Kalau ada makanan berlebih dari resepsi Ikapi–di kantor atau di hotel–dengan senang hati saya selalu membawanya ke rumah untuk diberikan kepada hansip, tukang ojek, dan tukang pemungut sampah yang selalu berkumpul di pos jaga malam tersebut). Tapi bagaimana mungkin saya memberikan daging babi kepada mereka?

Kalau daging itu dibuang begitu saja di tempat sampah, rasanya juga kurang elok. Apalagi tukang pemungut sampah hanya datang dua kali dalam seminggu. Bisa-bisa daging itu akan mengeluarkan bau yang tak sedap di seantero rumah, dan dilarikan kucing atau tikus kemana-mana.

Kemarin seharusnya saya menggali lubang di halaman dan mengubur semua daging itu. Tapi saya mempunyai kesibukan lain. (Dan cangkul pun tak kelihatan. Entah dimana pula diletakkan oleh pemakai yang terakhir). Tadi pagi barulah saya menemukan cangkul, menggali lubang dan menanam semua daging itu. Saya sampai ngos-ngosan.

Urusan jambar daging, di kota besar seperti Jakarta ini, memang sering merepotkan. Suatu kali, karena sudah kelelahan, rahang babi yang saya terima itu saya gantung di tiang bendera. Saya menggantungnya demikian, agar rahang itu tidak dilarikan kucing atau anjing kemana-mana (misalnya: ke halaman masjid di dekat rumah) sementara menunggu saya menggali lubang keesokan paginya. Tapi pagi-pagi subuh, ketika sedang bersiap hendak membuat lubang, saya melihat sudah ada beberapa tetangga yang berdiri di pinggir jalan dan memperhatikan rahang babi yang tergantung “setengah tiang” itu. Akh, mereka pasti sedang berpikir dan berspekulasi yang macam-macam tentang saya dan keluarga.

Ketika seorang tulang saya meninggal dunia, hal yang sama juga terjadi. Sebagai bere yang baik, ketika sedang merapihkan dan membersihkan rumah, sehabis upacara penguburan, saya melihat sebuah kepala kerbau masih tergeletak di tembok pagar dan penuh dikerubungi lalat hijau. Anak-anak tulang saya, yang lahir dan besar di Jakarta itu, pun tak tahu harus berbuat apa dengan kepala kerbau tersebut. “Bereslah itu, Lae,” kata saya. Lalu saya mengambil mobil dan menjemput 2 tukang gali dari By Pass. Malam itu saya suruh mereka menggali lubang besar di halaman rumah tulang. Tapi ketika kedua tukang gali itu sudah bersiap-siap hendak meletakkan kepala kerbau itu di lubang, terjadilah dialog yang lucu. “Ini madapnya kemana ya Oom?” tanya mereka dengan lugunya. Kata saya, “Letakkan dia menghadap atau berkiblat ke Tanah Batak….”

Kadang-kadang saya berpikir, barangkali sudah saatnya dilakukan sedikit improvisasi agar daging babi atau kerbau yang dipakai sebagai alat upacara adat itu tidak mubazir. Misalnya, membuat agar-agar yang berbentuk babi atau kepala kerbau, ditaburi dengan cream dan kismis serta es [.]

One response to “Cerita Tentang Daging dan “Osang-osang” Babi

  1. Maaf, Pak. Kenapa tidak diteliti dulu kandungan taneasolium?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s