Dari Merak Ke Bakaheuni

Oleh: Agan Harahap

Kapal ferri yang saya naiki siang itu nampaknya sudah renta. Dengan karat di sana-sini, berjalan tertatih-tatih mengarungi Selat Sunda menuju pulau Sumatera. Memang bukan kali pertama ini saya naik kapal ferri. Dulu sewaktu masih duduk di kelas 4 SD, saya pernah menyeberangi Selat Sunda bersama bapak dan adik saya dengan bus Makmur menuju Medan. Sebagai hadiah hiburan karena saya tidak naik kelas🙂

Setelah bertahun-tahun kemudian, kemarin siang saya dan Bello kembali menyebrangi Selat Sunda. Yeahh! Sebuah perjalanan dinas yang cukup istimewa. ( Hmm, buat saya, ini mungkin semacam napak tilas yang cukup menggetarkan hati, ya. Haha).

“Sepanjang kitaa masih teruss beginiii.. takkan pernah ada damai bersenandung… “ Lagu yang dibawakan oleh Trio Ambisi itu lantang terdengar menyesaki gendang telinga saya.. Sang “dj” nampaknya terlalu memaksakan kapasitas volume tape tua yang sudah tidak ada rangkanya itu. Ia duduk dengan tenang sembari menunggu kaset-kaset jualannya laku sambil sibuk mengutak-utik hp-nya. Mungkin sedang ber-sms ria dengan sang kekasih nun jauh disana.

Beberapa penumpang yang berada di lambung kapal pun ikut terhanyut dengan pikirannya masing-masing sambil bersenandung pelan atau sekedar menggoyangkan kaki mengikuti irama yang cukup menyayat-nyayat itu. Di kejauhan tampak beberapa sopir truk yang sedang tertidur lelap. Mungkin letih setelah menempuh perjalanan yang jauh.

“Senyum dan tawa hanya sekedar sajaaa…..” Yeah, that’s it! Kuping saya mulai kehilangan daya tahannya dalam mendengar ulah sang “dj”. Ditambah guncangan-guncangan ombak yang rasanya semakin mengaduk-aduk perut yang ringkih ini. Daripada saya terlarut dalam kerinduan akan pacar dan ditambah lagi oleh rasa mual, saya pun memutuskan untuk jalan berkeliling melihat kapal. Meninggalkan Bello yang duduk di warung sambil sibuk mengunyah lemper

Tak jauh dari tempat duduk kami, ada lapak penjual kacamata. Hmm, memang murah, namun kurang meriah. Tapi lumayan juga pikir saya untuk sekedar melindungi mata dari silaunya matahari yang bersinar cukup gencar siang itu. Setelah tawar-menawar, sebuah kacamata merk RB-Space seharga 25 ribu pun bertengger menghiasi muka saya. Haha!

Di sebelah lapak kacamata, ada tukang tatoo. Awalnya saya berpikir bahwa lapak itu hanya menerima tatoo temporary saja, setelah saya mendekat, ternyata benar-benar tatoo! Seorang mas-mas dengan potongan rambut dan kumis yang khas sedang meringis menahan gempuran ‘mesin tatoo home made’ sang juru rajah yang terlihat kalem dengan sesekali menghisap rokok samsu nya. Di depan tukang tatoo, tampak seorang tukang pijat yang mengenakan kopiah dan baju koko terlihat duduk bersahaja menanti pelanggan.

Bosan akan bau solar dan bunyi mesin kapal, saya pun beranjak ke atas untuk melihat-lihat keadaan di ruang tunggu penumpang. Ah, lagi-lagi tukang kaset! Umpat saya dalam hati. Kali ini “Biring Manggis” (sebuah lagu daerah Karo) yang diputar kencang dalam irama house music. Dan lagi-lagi sang “dj” cuek saja seakan tidak perduli akan nasib penumpang kapal yang mungkin saja tersiksa dengan musiknya yang memaksa masuk ke dalam relung sanubari penumpang yang sedang mabuk laut.

Tak jauh dari situ, di dekat wc umum, tampak seorang pria yang baru saja muntah terlihat sedang duduk menahan bising dan mual seraya memijat-mijat kepalanya.

Ada-ada saja kejadian menarik yang terjadi di atas kapal ferri itu. Di depan tangga, seorang bapak tampak sibuk mengintip (entah apa) melalui teropong yang dipinjam dari anaknya. Sementara sepasang suami-isteri terlihat bertengkar dengan menggunakan bahasa daerah yang tidak saya mengerti. Tak jauh dari pasutri tadi, tampak seorang pria dengan kaus tanpa lengan terlihat ‘genit’ mencoba memancing percakapan dengan seoang bapak yang menanggapinya dengan dingin.

“Assalamualaikum wrwb! Bapak-bapak dan ibu-ibu, kami datang di kapal ini demi memenuhi amanah dari guru kami untuk membantu sesama….!” Dengan suara yang cempreng namun keras, seorang pria paruh baya sukses menarik perhatian saya dan orang-orang yang di dalam ruang tunggu itu. Sehabis mengucapkan salam perkenalan, dia bercerita mengenai perjalanan dan pengalamannya dalam menuntut ilmu silat di sebuah perguruan di daerah Banten. Setelah bercerita panjang lebar dengan gaya sok wibawa dan sok heroik, dia pun mengeluarkan botol berisi minyak mujarab temuan gurunya yang disimpannya dalam sebuah kantung hitam. Konon katanya minyak itu terbuat dari berbagai jenis tumbuhan dan doa. Tanpa menunggu lama, saya langsung saja meninggalkan tempat itu sebelum ia melanjutkan bualannya. Tapi lumayanlah pikir saya, setidaknya ada sedikit hiburan.

Keluar dari ruang tunggu tadi, ada tangga kecil yang langsung menuju ke tempat parkiran truk dan bus di bawah. Karena merasa sudah bisa beradaptasi dengan keadaan, saya memberanikan diri untuk turun sekedar melihat-lihat keadaan di sana. (Dalam bayangan saya, barangkali saja ada adegan panas ala filem “Titanic’” yang sedang berlangsung di tempat itu🙂 ).

Alih-alih melihat adegan panas, udara di bawah ternyata sangat panas. Selain tidak ada sirkulasi udara, beberapa kendaraan sengaja membiarkan mesinnya tetap menyala. Dekat tangga menuju ke atas, terlihat seorang mas-mas berkumis tebal memandangi saya dengan tatapannya yang sangar menambah gerah suasana saat itu. Akibatnya, dominasi karbonmonoksida bercampur bau solar dan tatapan sangar mas-mas berkumis tebal, membuat saya tidak betah berlama-lama di tempat itu.

Kembali di lambung kapal, nampak orang berkerumun. “Aha! Si tukang pijat yang bersahaja tadi telah menemukan mangsanya,” pikir saya. Tampak seorang bapak tengah bersila dengan seksama sementara sang juru pijat mengeluarkan ilmu-ilmu andalannya dalam menghalau angin yang bersemayam di dalam badan sang bapak. Sesekali terdengar bunyi “eeekk..” yang cukup keras. Tanda bahwa angin pun mulai takluk oleh kepiawaian sang juru pijat itu. Tak lama berselang, si bapak itu pun membuka bajunya dan sang juru pijat bersiap-siap mengeluarkan jurus pamungkasnya. Yeahh! Tampaknya bapak itu mengalami masuk angin yang cukup akut. Dengan tabung-tabung beserta pompa kecil, juru pijat meng-kop punggung sang bapak. Alhasil, sekujur punggung bapak itu pun dipenuhi motif bola-bola merah yang lucu. Terlihat kontras dengan tampang si bapak yang cukup sangar. Saya kembali terhibur senang.

Bosan dengan pemandangan itu, saya pun kembali ke warung. Kali ini Bello sedang mengunyah potato chips sambil mendengarkan handphone walkman-nya yang berisi lagu-lagu yang dikumandangkan oleh band-band pendatang baru blantika musik negeri ini.

Pulau Sumatera sudah terlihat di depan mata. Tak berapa lama lagi kami akan mendarat dan langsung akan menuju Bandar Lampung. Di depan saya, terlihat sebuah kaki yang menjulur dari atas bak truk yang sarat oleh muatan kubis. Nampaknya sang empunya kaki masih lelap tertidur. “Hmm.. masih belum bangun juga dia, mungkin terlalu capai setelah semalaman mengemudikan truknya,” ucap saya dalam hati.

“Tiap malam engkau ku tinggal pergi…Bukan, bukan, bukanya aku sengajaaa…. Demi kau dan si buah hati…. Terpaksa aku harus beginiii …” Suara nyaring Pance Pondaag itu mengalun sedih. Tapi cukup memberi warna pada suasana lambung kapal yang mulai sepi. Lalu, sambil membakar sebatang rokok, pelan-pelan saya nyanyikan juga lagu itu dalam hati. Kebetulan saya hafal. Sebab waktu masih di Bandung, saya, Jimi, Yopie dan Markus sering mengamen di angkot dengan membawakan lagu itu. Lalu terlintas di pikiran saya akan betapa kerasnya kehidupan bapak ini. Mengemudikan truk siang malam, meninggalkan jauh anak istri untuk upah yang jumlahnya tidak seberapa demi menghidupi dan menyekolahkan istri dan anaknya. Sementara banyak kawan-kawan saya yang hanya disibukkan dengan meng-upload dan men-tag foto dirinya di sebuah party tadi malam, seraya tergagap-gagap menggunakan blackberry terbarunya, sambil pusing berpikir tentang “enaknya makan dimana yah nanti siang?” dan disibukkan dengan sejuta persoalan-persoalan tersier lainnya.

“Kapal sebentar lagi akan mendarat, Para penumpang harap menuju kendaraannya masing-masing… “ Suara awak kapal yang terdengar dari speaker pecah membuyarkan lamunan saya. Setelah mematikan rokok, saya pun berjalan menuju bus yang siap membawa saya menuju Bandar Lampung [.]

One response to “Dari Merak Ke Bakaheuni

  1. solitude solitaire

    Om, Foto-fotonya kenapa tidak disertakan? atau paling tidak linknya kalau ada.

    Saya gaptek. Saya sangat menyadari akan ketiadaan foto tersebut, tapi tak tahu bagaimana cara memasukkannya. (Dan itu jugalah yang membuat, kalau anda perhatikan, semua postingan di sini nyaris tak disertai foto). Karena itu, akan saya usahakan. Terimakasih, atas komentarnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s