Kenangan Semasa Masih Bersekolah di SR PSKD Kwitang VII

Oleh: Mula Harahap

Saya bersekolah di PSKD VII (Jl. Sam Ratulangi) antara tahun 1963-1964. Saya dan adik-adik mengikuti ayah dan ibu. Ayah saya berencana untuk mencari pekerjaan baru di Jakarta. Tapi entah mengapa, setelah delapan bulan di Jakarta, ia mengurungkan rencananya dan kami semua kembali ke Medan.

Selama beberapa bulan di Jakarta kami tinggal di rumah Ompung (ibu dari ibu saya) yang terletak di Jalan Timor 19 Pavilun. Ada pun rumah induknya ditempati oleh Keluarga Hasan Basri, yang dikemudian hari pernah menjadi Ketua Majelis Ulama Indonesia. Rumah itu terletak di penggalan Jalan Timor yang dekat ke Jalan Sunda dan berada dalam satu barisan dengan rumah bintang filem Baby Huwae yang dikemudian hari dikenal sebagai Lokita Purnamasari.

Ketika saya tiba di Jakarta tahun ajaran sudah berjalan. Tapi hal itu ternyata bukan sebuah persoalan besar. Ompung saya yang merupakan warga jemaat GKI Kwitang itu mengenal baik Pdt. Isaak Siagian yang waktu itu juga menjabat sebagai Ketua PSKD. (Ompung selalu menyapa Pdt. Isaal Siagian dengan panggilan “ito”). Dengan menumpang becak, Ompung membawa saya dan adik saya ke rumah Pdt.Isaak Siagian di bilangan Kwitang untuk diperkenalkan. Dan Pdt. Isaak Siagian langsung berkata kepada Ompung, “Besok suruh cucmu datang ke Jalan Sam Ratulangi….” Begitulah, saya diterima di kelas IV dan adik saya (Elizabeth) diterima di kelas III; sama seperti kelas yang kami tinggalkan di Medan.

Di kelas 4 saya diajar oleh Encik Gultom. Saya ingat benar dengan Ibu Guru yang satu itu karena kalau datang mengajar dia seperti tidak perduli dan tidak punya persiapan. Saya ingat, dia naik sepeda ke sekolah. Rumahnya, kalau saya tidak salah ingat, di bilangan Tanah Abang. Encik Gultom tak pernah bersisir. Dia selalu mengikat rambutnya ke belakang secara asal-asalan. Dulu saya cenderung berpikir bahwa dia tak pernah mandi ketika berangkat mengajar.

Encik Gultom itu disiplin tak berketentuan. Kalau anak-anak tidak memakai dasi, langsung disuruhnya keluar dan tidak diperbolehkan mengikuti pelajaran. Lalu dia tidak perduli dengan apa yang dilakukan oleh anak-anak itu sepanjang hari.

Dulu kalau berbaris sebelum masuk ke kelas, beberapa kawan yang bandel sengaja mencopot dan memasukkan dasinya ke saku. Tentu saja anak-anak itu tidak diperkenankan mengikuti pelajaran sepanjang hari. Lalu pergilah anak-anak itu (termasuk saya) berman-main di Pasar Boplo atau di jalan-jalan di daerah Menteng.

Ketika berkeliaran di luar jam sekolah itu, tentu saja banyak sekali “pelajaran” yang saya peroleh. Pelajaran pertama yang sampai sekarang tak bisa saya lupakan ialah tentang seksualitas: Ketika sedang mencari-cari bungkus rokok (waktu itu bungkus rokok bisa dijadikan sebagai permainan) di bak sampah, kami menemukan pembalut wanita yang berdarah-darah. Waktu itu saya tidak terlalu mengerti apa fungsi barang yang dibuang di tempat sampah itu. Tapi kata kawan saya itu adalah perban yang dipakai untuk membalut kepunyaan ibu kita yang mengalami perdarahan karena melakukan hubungan dengan ayah kita. Gara-gara pendidikan seks yang salah kaprah itu, untuk beberapa waktu yang cukup lama saya menyimpan perasaan yang tersendiri tentang ayah saya. Kata saya dalam hati, “Alangkah sadis dan brutalnya orang ini…..”

Saya juga tak pernah bisa lupa dengan Encik Gultom disebabkan pada suatu hari–ketika kami sedang mengadakan acara di aula–ia berkata tentang diri saya dengan bahasa Batak kepada rekannya sesama guru, “Sogo rohangku mamereng on…..” Disangkanya saya tidak mengerti bahasa Batak. Karena itu bisa dibayangkan bagaimana traumanya saya–seorang anak kecil–ketika tahu bahwa dirinya tidak disukai oleh guru. Entah apa salah saya. Karena itu di rumah saya menangis dan menolak untuk sekolah. Oleh Ibu saya disabar-sabarkan degan alasan tidak lama lagi kami tokh harus kembali ke Medan. Dan memang, menjelang kenaikan kelas, saya kembali ke sekolah saya yang lama yaitu Perguruan Immanuel-Medan. Di sana guru yang mengajar saya adalah Boru Sihombing. Saya menjadi anak kesayangannya. Rupanya setahun sebelum mengajar di Perguruan Immanuel-Medan, Ibu Sihombing juga mengajar di PSKD Sam Ratulangi.

Saya tidak tahu apakah teman-teman saya ada yang masih mengingat saya. Tapi selama 8 bulan bersekolah di PSKD Kwitang VII itu ada beberapa teman dan persitiwa yang sampai sekarang–hampir 45 tahun kemudian–masih saya ingat.

Teman sebangku saya adalah Jimmy Lumaukun. Kalau saya tak salah ingat dia adalah anak perwira militer dan tinggal di bilangan Jalan Gondangdia Lama. Jimmy mempunyai abang bernama Rudy Lumaukun yang juga duduk di kelas yang sama dengan saya. Saya ingat, suatu hari ketika pelajaran bernyanyi di depan kelas, saya dan Jimmy menyanyikan lagu “Sang Bango” secara bersahut-sahutan. Saya rasa hal itu adalah sebuah “prestasi” yang sangat luarbiasa, karena biasanya kalau disuruh bernyanyi di depan kelas anak-anak lelaki hanya berani menyanyikan “Dari Sabang Sampai Merauke” atau “Bendera Merah Putih”.

Teman sekelas yang juga masih saya ingat dengan baik ialah Benny Tobing dan Franky Matulessy. Kedua anak itu juga tinggal di Jalan Timor. Kami selalu pergi dan pulang sekolah bersama-sama dengan berjalan kaki. Dan sepulang sekolah biasanya kami mampir agak lama di penjual ikan hias pikulan yang banyak mangkal di dekat sekolah St. Bellarnimus di Jalan Lombok.

Saya juga ingat teman sekelas yang bermarga Siahaan. Kalau tidak salah rumahnya terletak di Jalan Gresik. Suatu hari, ketika ia berulang tahun, saya pernah diundang datang ke rumahnya.
.
Saya juga ingat teman sekelas yang bernama Mawar Tobing. Kalau saya tak salah ingat, Mawar punya adik lelaki yang juga sekelas dengan saya. Anaknya kurus dan bungkuk. Encik Gultom selalu mengatakannya sebagai menderita TBC. Kalau saya tak salah ingat, Mawar tinggal di Jalan Sam Ratulangi, dekat kantor IDI sekarang.

Saya juga ingat teman sekelas-seorang anak Cina–penghuni PA Dorkas yang bernama Johny Tan. Suatu kali Johny Tan ini, karena di-bully-ing oleh Rudy Wattimena, terpaksa menonjok mata Rudy sampai bengkak. Akibatnya, Ibu Rudy datang mengadu ke sekolah. Ibu Rudy Wattimena orang Jepang.

Saya juga ingat teman sekelas yang bernama Rina Sitorus. Sosoknya mungil. Kayaknya dia anak perempuan yang paling “modies” pada waktu itu. Benny Tobing selalu mengklaim bahwa Rina Sitorus itu adalah pacarnya, dan anak lelakii lain tidak ada yang boleh mendekati Rina Sitorus🙂

Saya juga ingat teman sekelas bernama Gatot. Dia tinggal di Jalan Sam Ratulangi juga. Kalau saya tak salah ingat, ayahnya adalah seorang perwira tinggi TNI AD atau TNI AL.

Pelajaran yang paling saya benci ketika duduk di kelas 4 adalah Geografi. Saya harus menghafal kabupaten-kabupaten di Jawa Barat, yang pada waktu itu pun (sebelum jaman pemekaran seperti sekarang ini) sudah bukan main banyaknya.

Topik pelajaran mengarang waktu itu–sesuai dengan keadaaan politik–adalah: “Kalau Aku Jadi Sukarelawan” dan “Ganyang Malaysia”.

Pada waktu saya bersekolah di PSKD Kwitang VII jajanan paling populer yang menjadi santapan anak-anak setelah pulang sekolah adalah es-serut: es batu yang diserut, dicampur dengan sirop berwarna merah jambu, kelapa dan tape.

Di depan sekolah PSKD Kwitang VII itu saya juga selalu menemui penjual “arum-manis” yaitu gula yang digiling sedemikian rupa sehingga menyerupai kapas. Saya tidak terlalu suka memakan “arum manis”. Saya lebih suka melihat cara kerja mesinnya. Saya selalu terkagum-kagum melihat gula pasir yang bisa digiling sehingga menjadi serat yang menyerupai kapas.

Jajanan lainnya yang selalu membuat saya “excited” adalah gula yang dimasak sedemikian rupa dan ditiup–seperti orang membuat gelas–sehingga menjadi bentuk burung, ikan manusia dsb.

Semasa di PSKD Kwitang VII itu saya pernah ikut piknik sekolah ke Pantai Florida di Merak. Sampai sekarang kalau pergi ke daerah itu saya selalu ingin tahu dimana sebenarnya Pantai Florida itu. Tapi saya tak pernah berhasil menemukannya kembali. Piknik itu dilakukan dengan menumpang beberapa bus dan melewati kota Cilegon. Waktu itu Pabrik Baja Cilegon sedang dalam taraf pembangunan.

Itulah beberapa kenangan semasa saya bersekolah di PSKD Kwitang VII. Masih banyak lagi hal yang saya ingat. Tapi biarlah itu saya tulis dalam kesempatan lain [.]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s