Intelijen, Orang-orang Binaan dan Drakula

Oleh: Mula Harahap

Ketika Suharto berkuasa intelijen memelihara sejumlah orang binaan untuk menjadi informan atau agen pembusukan, yang ditanamkan ke dalam organisasi sosial atau politik yang dianggapnya memiliki potensi untuk mengganggu kekuasaannnya. Ada orang binaan di partai politik, organisasi agama, organisasi buruh, organisasi
mahasiswa, organisasi wartawan, dsb.

Semua informan atau agen pembusukan itu, dengan didukung oleh sebuah angkatan bersenjata yang berdisplin dan patuh, bekerja untuk melayani Sang Maestro Suharto dalam melanggengkan sebuah pemerintahan yang represif dan otoriter.

Tapi ketika Suharto terjungkal dari kekuasaannya maka jaringan kerja yang terkoordinasi baik antara angkatan bersenjata, intelijen dan orang binaan itu menjadi berantakan. Tiba-tiba muncullah faksi-faksi dalam angkatan bersenjata yang saling bersaing dalam memperebutkan kekuasaan dengan memanfaatkan orang-orang binaan (yang tadinya melayani kepentingan Suharto) untuk kepentingan faksi-faksi itu (atau lebih tepatnya: boss dari faksi-faksi itu).


Pada saat yang sama, ada pula sejumlah elemen di angkatan bersenjata yang tidak merasa “happy” dengan proses demokratisasi yang sedang terjadi dan berusaha untuk mengembalikan keadaan ke era represif dan otoriter. Tapi karena proses demokratisasi ini sedang dipantau oleh dunia, mereka tidak bisa lagi menggunakan
tangannya sendiri secara langsung. Mereka memakai tangan-tangan orang sipil, yaitu orang-orang binaannya selama ini, untuk menimbulkan kekacauan agar rakyat kembali memilih sistem pemerintahan yang represif dan otoriter, atau sebagai kekuatan pemukul untuk menghadapi kekuatan yang pro demokrasi.

Permainan kotor untuk menimbulkan kekacauan tentu juga tidak terlepas dari kepentingan materi. Jasa pengamanan perusahaan-perusahaan multi-nasional yang beroperasi di Indonesia adalah bisnis yang sangat berkembang pesat.

Saya rasa inilah yang terjadi di balik banyak peristiwa konflik, kerusuhan dan teror yang melanda negeri ini sejak tumbangnya Suharto: Kerusuhan Mei, Pam Swakarsa, Kerusuhan Ketapang, Peledakan Masjid Istiqlal, Kerusuhan Ambon, Laskar Jihad, Kerusuhan Poso, Kerusuhan Timika dsb.

Untuk bisa mencium bau busuk ini sebenarnya tak dibutuhkan kepiawaian intelijen dari kita. Cukup dibutuhkan sebuah daya kritis dalam membaca dan menganalisa berbagai peristiwa yang diberitakan oleh media massa. Dari situ akan terlihat banyak sekali cerita yang tidak nyambung atau tidak masuk di akal.

Walau pun ABRI telah berubah menjadi TNI dan Polisi, dan TNI juga telah mereposisi dirinya, tapi saya rasa kebiasaan buruk ini belumlah bisa dihilangkan. Oknum-oknum di angkatan bersenjata yang dulu di era Suharto biasa bermain dalam operasi-operasi kotor ini masih sehat walafiat sampai sekarang. Walaupun kini mereka tidak lagi memiliki jabatan formal (mereka sudah pensiun) tapi bagaimana pun mereka masih memiliki pengaruh di bekas organisasi atau kesatuannya.

Demikian juga halnya dengan orang-orang binaan yang kadang-kadang disebut juga sebagai preman politik, preman agama dsb itu. Tidak gampang untuk mencuci otak dan menyadarkan mereka akan pentingnya proses demokratisasi yang sedang kita jalani ini. Bahkan di tengah iklim sulitnya ekonomi dan berusaha, maka menjadi
preman adalah sebuah binis dan lapangan pekerjaan yang menggiurkan.

Sementara itu, bibit-bibit untuk preman baru pun tidaklah terlalu susah diperoleh. Proses liberalisasi yang sedang kita jalani ini memungkinkan siapa saja untuk membentuk organisasi apa saja dan dengan tujuan apa saja sehingga menimbulkan potensi konflik yang besar di masyarakat. Dan di dalam organisasi yang bermunculan itu akan ada saja orang yang memang hadir bukan untuk membuat Indonesia yang lebih baik melalui organisasinya, tapi justeru hadir untuk memperbesar konflik.

Walau pun kita sudah menyelenggarakan pemilu legisltaif dan pemilu presiden di tahun 2009 ini secara lebih aman dan damai, tapi janganlah kita langsung bersikap “taken for granted” dan menganggap demokrasi akan tumbuh dengan sendirinya.

Diperlukan senantiasa sikap kewaspadaan dan kesadaran bahwa proses demokrasi ini masih sangat rapuh: Elemen-elemen eks angkatan bersenjata yang tidak menginginkan negara ini menjadi sebuah negara demokrasi dan orang-orang binaannya atau preman-preman itu, masih sehat-walafiat dan segar bugar.

Sebagian dari mereka bahkan kini menjadi pembina, pengurus atau anggota partai politik dan yang selalu berbicara tentang demokrasi. Boleh jadi mereka memang sedang bertobat. Tapi kita tetap perlu menyadari bahwa mereka tak ubahnya seperti serigala, singa atau harimau yang sedang dijinakkan. Sesekali bila
mencium bau darah segar nalurinya untuk menjadi liar dan buas akan terbangkitkan.

Oleh karena itu mari kira sama-sama menjaga agar kehamonisan sosial tidak terluka dan mengeluarkan bau darah, sehingga membuat drakula-drakula itu (meminjam istilah SBY) kembali terangsang [.]

2 responses to “Intelijen, Orang-orang Binaan dan Drakula

  1. Tampaknya tidak ada permainan bersih, Bang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s