Monthly Archives: September 2009

Tentang Travel Writing, Tulisan Kisah Perjalanan, atau Sastra Perjalanan

Oleh:Mula Harahap

Beberapa tahun yang lalu saya pernah membaca (saya kurang ingat, apakah di majalah Newsweek atau Time) sebuah tulisan mengenai V.S. Naipaul dan proses kreatifnya. Penulis atau wartawan majalah tersebut bertanya mengapa akhir-akhir ini V.S.Naipaul lebih banyak menulis kisah perjalanan ketimbang novel.

Jawaban V.S.Naipaul (kalau saya juga tak salah ingat) kira-kira begini,”Dulu disebabkan oleh keterbatasan transportasi dan kurangnya kesempatan untuk bepergian kemana-mana, maka seorang penulis harus menciptakan cerita sebagai sarana untuk menyampaikan pikiran dan perasaannya. Tapi kini keadaan sudah berbeda. Seorang penulis sudah bisa dengan mudahnya bepergian ke berbagai tempat, menemui berbagai orang, dan menyaksikan berbagai kejadian. Seorang penulis sudah bisa memungut cerita yang dijumpainya dalam perjalanannya, dan memakainya sebagai sarana untuk menyampaikan gagasan, pikiran, dan perasaannya kepada pembaca. Dan dalam situasi yang seperti itu, untuk apa lagi seorang penulis harus selalu menulis novel?”
Continue reading

Siapakah Orang Yang Disebut Editor Itu?

Oleh: David Rosenthal

Sebutan-sebutan editor seperti associate editor, acquiring editor, editor, senior editor, executive editor, editor in chief, associate publisher dan publisher; apa artinya itu?

Sebutan itu bisa tidak berarti apa-apa, atau bisa juga berarti sesuatu yang berbeda. Hal tersebut tergantung dari perusahaan penerbitan itu sendiri. Di antara para editor memang ada pembagian tugas. Ada editor di dalam perusahaan penerbitan yang melulu menangani naskah yang diperoleh sendiri oleh perusahan penerbitan tersebut. Naskah yang diperoleh sendiri oleh perusahaan penerbitan berarti adalah naskah yang diperoleh oleh acquisiton editor, yang disamping mengedit sendiri naskah yang diperolehnya juga juga akan menyerahkan naskah yang diperolehnya kepada editor lain. Naskah yang diperoleh sendiri olehperusahaan penerbitan bisa juga berarti naskah yang diperoleh penerbit atau editor in chief, yang disamping menaruh perhatian terhadap aspek bisnis dari suatu naskah, juga mencari naskah.
Continue reading

Berpikir-pikir Tentang Bangsa dan Negara

Oleh: Mula Harahap

Bangsa itu adalah sebuah entitas budaya. Karena itu tidak salah kalau ada penyebutan tentang bangsa Batak, bangsa Jawa, bangsa Palestina, bangsa Cina dsb.

Dahulu sebuah negara (entitas hukum) memang hanya melingkupi sebuah bangsa atau kelompok manusia yang budayanya telah mapan dan padu itu. Kesultanan Aceh hanya melingkupi bangsa Aceh, kekaisaran Jepang hanya melingkup bangsa Jepang, kekaisaran Rusia hanya melingkupi bangsa Rusia dsb.

Tapi disebabkan oleh imperialsime dan migrasi manusia maka kemudian sebuah negara tidak lagi melingkupi suatu bangsa yang tertentu. Negara Malaysia melingkupi bangsa Melayu, bangsa Cina dan bangsa India. Negara Indonesia meliputi bangsa Jawa, bangsa Batak, bangsa Melayu dsb. Negara Israel meliputi bangsa Yahudi dan bangsa Arab.
Continue reading

Tentang Malaysia Yang Mengklaim Segala-galanya

Oleh: Mula Harahap

Sebuah situs berita “tujuhbelas.net” menurunkan ulasan panjang-lebar tentang dugaan Malaysia yang mengklaim begitu banyak produk kebudayaan Indonesa.

Saya bukan mau mendukung Malaysia. Tapi saya mau mengajak kita–orang Indonesia–agar berpikir tenang, memahami duduk persoalan yang sebenarnya, dan bisa mengambil sikap yang setepatnya terhadap Malaysia (dan ini pun masih perlu dipisah-pisahkan, apakah Malaysia dalam pengertian negara, warganegara, bangsa, badan hukum yang berdomisili di Malaysia, dsb), dan mengambil sikap yang setepatnya sebagai negara dan bangsa Indonesia dalam memelihara dan mengembangkan kebudayaannya sendiri.

Dengan berpikir tenang, memahami duduk persoalan yang sebenarnya, dan bisa mengambil sikap yang tepat, maka dunia akan melihat bahwa kita memang adalah negara dan bangsa yang besar. Bukan negara dan bangsa yang emosional, tidak pakai otak, dan hanya berani ribut di negeri sendiri. Dan ributnya pun hanya “hangat-hangat tahi ayam”. Setelah 1 atau 2 hari kita sudah melupakan persoalan, lalu kembali sama-sama menghancurkan negara dan bangsa ini demi kepentingan jangka pendek.
Continue reading