Berpikir-pikir Tentang Bangsa dan Negara

Oleh: Mula Harahap

Bangsa itu adalah sebuah entitas budaya. Karena itu tidak salah kalau ada penyebutan tentang bangsa Batak, bangsa Jawa, bangsa Palestina, bangsa Cina dsb.

Dahulu sebuah negara (entitas hukum) memang hanya melingkupi sebuah bangsa atau kelompok manusia yang budayanya telah mapan dan padu itu. Kesultanan Aceh hanya melingkupi bangsa Aceh, kekaisaran Jepang hanya melingkup bangsa Jepang, kekaisaran Rusia hanya melingkupi bangsa Rusia dsb.

Tapi disebabkan oleh imperialsime dan migrasi manusia maka kemudian sebuah negara tidak lagi melingkupi suatu bangsa yang tertentu. Negara Malaysia melingkupi bangsa Melayu, bangsa Cina dan bangsa India. Negara Indonesia meliputi bangsa Jawa, bangsa Batak, bangsa Melayu dsb. Negara Israel meliputi bangsa Yahudi dan bangsa Arab.

Karena telah hidup di dalam sebuah entitas hukum yang satu, maka bangsa-bangsa yang berbeda-beda itu pun kemudian lambat-laun menjadi sebuah entitas budaya yang baru, dan mencoba melihat dirinya sebagai sebuah bangsa yang baru pula. Karena itu di kemudian hari dikenal pula sebutan bangsa Malaysia, bangsa Indonesia, bangsa Amerika (AS) dsb.

Kalau saya sebagai warga bangsa Batak, yang merupakan warga dari bangsa Indoensia, maka kepada orang Jawa, yang juga merupakan warga dari bangsa Indonesia, kita memang sama-sama menyebut diri kita sebagai suku-bangsa (tepatnya, suku-bangsa Indonesa).

Tapi kalau saya berbicara dalam term global dan tentang orang Batak yang ada di seluruh muka bumi ini, maka tidak salah juga kalau kita menyebut diri sebagai bangsa Batak. Demikian juga dengan orang-orang Melayu. Kalau mereka memandang diri mereka sebagai sebuah kumpulan orang-orang dengan kebudayaan yang hampir sama, yang bertebaran di negara-negara Malaysia, Indonesia, Singapura, Brunei Darussalam, Filipina dan Thailand, maka tidak salah juga kalau mereka menyebut diri sebagai bangsa Melayu.

Bangsa-bangsa “baru” yang terbentuk karena adanya negara “baru” itulah yang disebut sebagai nation-state: nation-nya adalah Indonesia dan state-nya juga Indonesia.

Tapi disebabkan oleh kemajuan teknologi komunikasi, teknologi transportasi dan keinginan untuk menjadi lebih efisien maka akhir-akhir ini terdapat kecenderungan dari beberapa nation-state untuk melonggarkan entitas hukumnya (baca: entitasnya sebagai negara) dan membentuk sebuah ikatan baru yang lebih besar. Inilah yang terjadi dalam kasus Masyarakat Eropa. Ikatan hukum yang diperlonggar itu pada gilirannya tentu akan memperlonggar atau mengaburkan pula entitas budaya yang awal. Lalu besar kemungkinan akan terbentuk lagi sebuah bangsa baru yang lebih besar yang disebut sebagai bangsa Eropa. Daninilah yang oleh para pemikir sosial disebut sebagai “the end of the nation-state” [.]

2 responses to “Berpikir-pikir Tentang Bangsa dan Negara

  1. The end of the nation-state ? Mengaburkan budaya ? Gak terbukti, tuh. Bangsa Batak dengan budayanya tetap kekeuh kok, walo diikat oleh himpunan yang lebih besar, propinsi maupun negara RI.

  2. “The end of the nation-state”? Wowww… Sepertinya mereka tidak cukup melewati malam bermandikan bintang (nation/state), hingga memutuskan bulan (nation-state) pun digantikan matahari (nation><state). Sorry, my bad joke.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s