Tentang Malaysia Yang Mengklaim Segala-galanya

Oleh: Mula Harahap

Sebuah situs berita “tujuhbelas.net” menurunkan ulasan panjang-lebar tentang dugaan Malaysia yang mengklaim begitu banyak produk kebudayaan Indonesa.

Saya bukan mau mendukung Malaysia. Tapi saya mau mengajak kita–orang Indonesia–agar berpikir tenang, memahami duduk persoalan yang sebenarnya, dan bisa mengambil sikap yang setepatnya terhadap Malaysia (dan ini pun masih perlu dipisah-pisahkan, apakah Malaysia dalam pengertian negara, warganegara, bangsa, badan hukum yang berdomisili di Malaysia, dsb), dan mengambil sikap yang setepatnya sebagai negara dan bangsa Indonesia dalam memelihara dan mengembangkan kebudayaannya sendiri.

Dengan berpikir tenang, memahami duduk persoalan yang sebenarnya, dan bisa mengambil sikap yang tepat, maka dunia akan melihat bahwa kita memang adalah negara dan bangsa yang besar. Bukan negara dan bangsa yang emosional, tidak pakai otak, dan hanya berani ribut di negeri sendiri. Dan ributnya pun hanya “hangat-hangat tahi ayam”. Setelah 1 atau 2 hari kita sudah melupakan persoalan, lalu kembali sama-sama menghancurkan negara dan bangsa ini demi kepentingan jangka pendek.

Media massa kita itu bukannya mencerahkan, tapi justeru membuat rakyat dan bangsa ini menjadi tambah bodoh. Dan salah satu contoh kebodohan itu adalah seperti yang diperlihatkan oleh mahasiswa Banten 2 atau 3 hari lalu: Membakar bendera Malaysia di Serang. Mengapa tidak membakar bendera Malaysia di depan Kedubes Malaysia di Jakarta, atau–kalau lebih jago lagi–membakarnya di depan gedung parlemen Malaysia di Kuala Lumpur?

Saya mengikuti semua pemberitaan di seputar “insiden tari pendet” ini dengan seksama, dan kepala saya menjadi tambah pusing. Orang yang tak mengerti hak cipta, paten, merek dagang, kebudayaan, kesenian, konvensi PBB mengenai “national heritage”, dan sejarah (ini yang paling penting) bicara seperti orang
jago. Padahal ini adalah suatu hal yang berbahaya: Karena ketika tuduh-tuduhan yang tak punya dasar hukum itu dipatahkan oleh pengadilan Malaysia, pengadilan Indonesia, atau pengadilan internasional, kita bisa tambah frustrasi.

Dari cara media massa memakai kata “klaim” saja, sudah kelihatan bahwa kita sebenarnya tak mengerti persoalan. Bahwa ada gadis Bali menarikan tarian pendet di depan menara kembar Petronas, apa yang salah dengan itu, dan apa yang diklaim di sana? Memang, boleh jadi, dengan melakukan hal itu badan pengembangaan pariwisata Malaysia ingin memancing turis datang ke Malaysia. Tapi iklan itu sebenarnya kontra produktif untuk Malaysia. Turis yang bodoh sekali pun akan tahu bahwa tarian seperti itu bukanlah tarian Malaysia. Itu tarian Bali.

Dari 32 tuduhan yang dibeberkan oleh “tujuhbelas.net” ini pun kelihatan sekali bahwa kita hanya asal bicara, tapi tak jelas dan tak berdasar:

Malaysia itu memang ingin sekali mengembangkan kebudayaan Melayu dan menjadikan Kuala Lumpur sebagai pusatnya. Tapi itu bisa terjadi karena Indonesia tak pernah ambil pusing dengan kebudayaan Melayu yang disandang oleh suku-suku bangsa yang ada di sebagian besar Nusantara ini. Indonesia itu (terutama di masa rezim Orde Baru) lebih perduli dengan kebudayaan Jawa-Mataram.

Jadi kalau para pemilik naskah Melayu kuno di Aceh, Riau, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan dsb menyerahkan naskah-naskah mereka ke museum nasional, perpustakaan nasional atau Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia, maka jangan salahkan Malaysia. Itu salah Indonesia yang tak pernah mau memperhatikan dan merawat khasanah Melayu. Lihatlah apa yang kita lakukan dengan “heritage Melayu Deli” di Sumatera Utara sana. Kita meruntuhkan banyak sekali bangunan peningalan kesultanan Deli, Langkat, Asahan dsb dan menggantinya dengan ruko.

Soal tuduhan klaim merek dagang “Kopi Toraja”, “Sambal Bajak”, “Sambal Petai” dsb itu pun sama konyolnya. Itu adalah nama-nama generik. Semua orang di muka bumi ini bisa memakainya. Thailand dan Singapura pun banyak memproduksi produk makanan yang memakai nama generik Indonesia (untuk kemudian dijual lagi lagi ke Indonesia). Lalu apa salahnya kalau ada perusahaan di Malaysia yang juga membuat produk dan memakai nama generik yang sama? Kita saja yang bodoh dan lebih suka membeli produk makanan yang memakai formula dan nama asing.

Kemudian kita juga jangan lupa bahwa produk kebudayaan itu (apalagi yang hak ciptanya sudah menjadi “public domain”) tidak bisa dikungkung oleh juridiksi negara. Sambal petai, rendang, sambal nenas, dsb itu adalah makanan orang Melayu yang ada di Indonesia dan di Malaysia.

Dalam hal ulos pun sama saja kasusnya. Sepanjang negara atau perusahaan di Malaysia tidak mencuri desain ulos yang masih dilindungi oleh hak cipta (dan penciptanya ada di Tarutung, Balige dsb) maka itu sah-sah saja. Apalagi kalau mereka mencipatakan sendiri desainnya. Tak ada yang bisa melarang. Dan kita jangan lupa bahwa kain selembar itu menjadi “ulos” karena desainnya yang khas. Kalau desain itu berubah, dia bisa menjadi kain Toraja, Sumba, Flores dsb. Ada pun formula benangnya dan cara menenunnya sama saja di seluruh muka bumi ini.

Tuduhan pencurian lagu-lagu seperti yang diungkapkan oleh “tujuhbelas.net” itu pun sama saja konyolnya. Sebagian besar dari lagu-lagu itu adalah lagu-lagu rakyat yang sudah menjadi “public domain”. Dan kita juga jangan lupa itu adalah lagu-lagu yang berkembang di wilayah-wilayah kebudayaan Melayu Indonesia yang sejak dulu memiliki hubungan erat dengan Melayu di Semenanjung (dan yang di kemudian hari menjadi Malaysia).

Malaysia juga sering dituduh mencuri karena di acara-acara resmi kenegaraan mereka, mereka sering memperdengarkan lagu-lagu Indonesia. OK-lah mereka salah, karena tidak membayar royalti kepada pemegang hak ciptanya di Indonesia. Tapi kita pun suka menyanyikan lagu-lagu asing (Amerika) dalam acara resmi kenegaraan kita, dan tak membayar royalti. Sama saja.

OK-lah, mungkin ada beberapa formula produk kita yang dipatenkan oleh orang atau perusahaan di Malaysia dan diklaim sebagai invensi mereka. Tapi yang melakukan hal itu bukan hanya Malaysia. Jepang, Taiwan, Korea dsb juga melakukannya. Sekali lagi, ini bukan kesalahan mereka. Ini adalah kesalahan kita (pemerintah). Mengapa kita tidak mempatenkan formula jamu, kosmetik dsb itu?

Sekali lagi, saya bukan mau membela Malaysia. Tak ada urusan saya dengan Malaysia. Saya hanya ingin mengajak orang Indonesia agar lebih cerdas dan jangan sembarangan, karena kalau tidak, kita ini hanya menjadi sebuah bangsa “dildo”: Kelihatannya saja besar dan perkasa, tapi hanya ecek-ecek [.]

4 responses to “Tentang Malaysia Yang Mengklaim Segala-galanya

  1. Kalo emang Malaysia suka mengklaim segala milik indonesia, kenapa tuh gerombolan teroris Noordin M Top ga’ diklaim miliknya?

  2. Dalam hidup kita mempunyai etika. Hak milik tetaplah hak milik. Tidak dapat dibenarkan oleh alasan apa pun jika ada orang yang menggunakan hak milik kita tanpa seijin kita. Abang orang Batak saya pun orang Batak. Dari mana jalannya ulos Batak bisa mereka kenakan? Jangan menutupi kebodohan kita dengan kenaifan.. Kita mempunyai sejarah tentang budaya.

    Apakah kita sudah menyelidiki dengan benar tentang apa yang terjadi di sana? Soalnya, kita itu suka sekali ribut tanpa lebih dulu melakukan investigasi. Belum lama kita ribut menuduh Malaysia yang mengklaim Pulau Jemur di wilayah Riau. Ternyata yang dibicarakan Malaysia itu adalah Pulau Jemor, yang memang miliknya, dan ada di lepas pantai Port Klang.

  3. Ah,Malingsia….Indonesia negara gw, lo tw? Jd jgn jelek-jelekin Indonesia! Kurang ajar,,,,,

  4. Mereka nggak berhak. Mereka nggak kreatif. Mereka telah menghina Pribumi Indo’. Bangsa Indo’ diinjak-injak; masih bela mereka? Ya Ampun!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s