Menyembah Tuhan, Menyembah Berhala, Iman dan Kebudayaan

Oleh: Mula Harahap

Kemarin pagi, ketika hendak mengantar cucu saya untuk mengikuti perayaan paskah anak-anak sekolah minggu di Monas, secara tak sengaja saya mendengar khotbah dari seorang pendeta kesohor yang disiarkan oleh sebuah radio “kristen” di Jakarta. Di dalam khotbah tersebut si pendeta mengecam praktek-praktek penyembahan berhala. Kalau saja si pendeta mengecam praktek-praktek penyembahan berhala yang dilakukan oleh umatnya (orang-orang Kristen), mungkin saya tak terlalu ambil pusing. Tapi si pendeta juga mengecam orang-orang yang suka menyembah pepohonan atau patung dan menutupinya dengan sarung “checkers” hitam-putih, orang-orang yang suka memberikan sesaji dimana-mana, dan orang-orang yang suka membangun kuil dimana-mana.

Kebetulan 2 minggu yang lalu–selama 3 hari–saya berada di Bali. Dan kebetulan pula selama 3 hari itu saya tidak melakukan hal-hal yang penting kecuali berjalan kesana-kemari, terkagum-kagum dan berpikir-pikir tentang masyarakat yang memiliki kebudayaan yang sangat padu, harmonis dan eksotis itu. Oleh karena itu khotbah si pendeta membuat saya naik pitam (sudah seperti FPI saja kawan itu) dan berpikir tentang beberapa hal:

Pertama, saya jadi berpikir tentang menyembah tuhan dan menyembah berhala. Kapan sih sesuatu itu disebut sebagai tuhan, dan kapan pula dia disebut sebagai berhala? Kalau berhala (dalam pemikiran kita) adalah tuhan yang dibuat oleh manusia, maka secara antropologis bukankah semua tuhan itu juga adalah buatan manusia? Atau, kalau yang disebut sebagai tuhan itu adalah suatu gagasan yang sophisticated, dan yang disebut sebagai berhala itu adalah suatu gagasan yang banal, maka bukankah kita juga sering mengkorupsi gagasan tentang tuhan yang maha tinggi, maha besar dsb itu menjadi gagasan yang murahan dan menjadi berhala? Lihatlah doa-doa yang kita panjatkan itu. Doa-doa itu juga acapkali sama saja dengan mantera-mantera yang diucapkan oleh mereka yang kita tuduh sebagai penyembah berhala itu.

Kedua, saya jadi berpikir tentang relasi antara agama dengan unsur-unsu rkebudayaan lainnya seperti kesenian, hukum/adat, ekonomi dsb. Saya pikir, tidak ada “agama import”, kecuali Hindu Bali, yang sedemikian padunya dengan unsur-unsur lain dari kehidupan masyarakatnya sehingga menciptakan sebuah peradaban yang sedemikian kaya. Terlepas dari apakah agama itu menyembah tuhan atau berhala, tapi kalau melihat kekayaan budaya (materi dan non-materi) yang dihasilkan oleh masyarakat penyandang agama tersebut, maka saya pikir itulah “agama yang benar”.

Ketiga, saya berpikir tentang keputusan Pemerintah Hindia Belanda di awal tahun 1930-an (atas desakan raja-raja Bali dan para antropolog internasional) yang melarang dengan keras pekerjaan misi Kristen di Pulau Bali. Walaupun saya adalah seorang Kristen, tapi sekarang–saya pikir–saya bersyukur dengan keputusan tersebut. Kalau saja Pemerintah Hindia Belanda tidak mengeluarkan larangan tersebut, maka kita pasti tak akan pernah memiliki Bali seperti yang kita miliki sekarang. Bali akan menjadi sama seperti etnis lainnya yang mayoritas beragam Kristen di kepulauan nusantara ini: miskin secara budaya, dan (boleh jadi) miskin pula secara iman.

Catatan:

Menurut pikiran saya, iman dan kebudayaan adalah sebuah masalah penting yang dihadapi oleh gereja-gereja di Indonesia. Tapi herannya saya tak melihat ada desk (apalagi departemen) yang berkaitan dengan soal itu di PGI, dan juga di sinode-sinode gereja anggotanya.

3 responses to “Menyembah Tuhan, Menyembah Berhala, Iman dan Kebudayaan

  1. Mungkin Pak Pendeta itu perlu studi dulu di Bali sebelum menarik kesimpulan.

    Saya baru saja kemarin menjelaskan hal ini kepada Ibu saya yang Batak dan Kristen pulak. Sebagai suami dari istri orang asli Bali dan bekas pemeluk Hindu, saya mencoba menjelaskan hal ini kepada Ibu saya sesuai pandangan yang saya anut selama 5 tahun saya hidup di Bali ini. Saya jelaskan, sebagaimana kita yang Kristen meyakini bahwa Tuhan sendirilah yang bermanifestasi di dalam Yesus dan Roh Kudus dan didalam ke tritunggalan maka demikian pulalah keyakinan saudara kita yang meyakini bahwa adanya/hadirnya manifestasi roh atau penunggu di tempat2 yang disakralkan tersebut. Dan roh tersebut tidak diartikan berhala, karena sesungguhnya itu tidaklah disembah, melainkan diperlakukan selayaknya antar sesama dengan tujuan yang berbeda-beda (agar selamat, agar tidak terjadi sesuatu yang tidak baik dll) dan yang disembah tetaplah Sang Hyang Widi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa).

    Tapi Amang, di Bali ini pun Kristen sempat berkembang dan akhirnya menguasai suatu kampung yang bernama Blimbing sari, dan dsana terjadi perpaduan Kristen Bali yang cukup padu dan unik.

  2. Extra mundum nulla salus

  3. Benar Pak Pendeta , sebelum berucap ke publik sebaiknya pelajari lebih dahulu hakekat hidup dan intisari ajaran Hindu di Bali. Kata berhala tidak dikenal di Bali, Hindu di Bali mengenal konsep Tri Hita Karana-tiga konsep keseimbangan hidup yg berhubungan dengan tuhan, manusia dan lingkungan. Hindu di Bali menyembah Tuhan tertinggi yaitu Hyang Widhi. Mereka juga menjaga keseimbangan hidup dengan lingkungan baik dengan yg nyata maupun yg tdk nyata yg mereka sebut dgn alam skala dan niskala. Hubungan manusia dgn manusia, dari proses pernikahan, kehamilan, kelahiran, ber-masyarakat sampai kematian, demikian seterusnya. Hubungan manusia dengan dunia yg tdk nampak (niskala) disebut dengan Butha Kala, Hindu di bali tdk mangusik dan mengusir para Butha Kala namun menjaga keseimbangan krn merupakan ciptaan TUHAN. Hindu di Bali membuat sesaji yg bisa dinikmati keluarga mereka, namun sebelum menikmati mereka membawa ke pura untuk dimohonkan berkat kepada Tuhan. Kalau mereka membetnagkan kain di pohon itu sama sekali bukan penyembahan, ini merupakan hubungan manusia dengan lingkungan hidup agar tdk sembarang pohon ditebang krn merupakan pendukung timbulnya sumber air dan kelestarian lingkungan. Coba ke Bali lihat mata air terjaga dengan baik, ada dalam lingkungaa pura, pohon langka terjaga, di hampir semua jalan utama pohon besar tdk ditebang. Jadi kalau belum mengenal dengan baik, tolong Pak Pendeta jangan berkomentar di publik, krn saya malu sebagai orang Kristen yg pernah hidup di bali dan istri saya juga org Bali yg paham benar dengan ajaran Hindu di Bali meskipun ikut Kristen dengan saya sekarang. Apabila orang Hindu Bali mendengan kesimpulan Pak Pendeta , mereka geli mendengarkan krn nampak kedangkalan ilmu Pak Pendeta dan terkesan sok tau. Banyak banyak belajar agar jgn dikatakan katak dalam tempurung, mengagungkan dunia sendiri dan setetes embun dianggap samudra. Mohon maaf Pak Pendeta sebelum menikah saya seorang Muslim Bolmong dari Kotamobagu dan kami memilih Kristen karena Istri tidak mau masuk Islam, jadi kami ambil jalan tengah masuk Kristen. Ajaran Hindu dan Budha itu luar biasa dan terus terang sumber ajaran kedamian sejati ada di Bali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s