Kehilangan Guru

Oleh: Sal Hutahaean

Ibu Santun adalah guru saya ketika SD, empat puluh tahun lalu. Orangnya kecil, mungil, dengan wajah yang selalu tampak ceria. Wajahnya mirip Sherina cilik, dengan jidat yang selalu mengerinyut manis. Sosok Ibu Santun sebenarnya bisa disebut ringkih, karena selain bertubuh kecil, ia pun pendek, dan agak kurusan pula. Akan tetapi, keceriaan yang selalu tampil di wajahnya menghilangkan kesan tubuh yang ringkih itu, yang ada adalah sosok guru yang lincah dan menyenangkan.

Ibu Santun seorang guru yang baik. Seingatku, beliau tidak pernah marah. Ia termasuk berperilaku sabar untuk seorang guru muda yang usianya saat itu belum mencapai tigapuluh tahun. Ia membimbing murid-muridnya dengan kesabaran seorang ibu. Dia memang telah menjadi seorang ibu kala itu. Kewajiban mengajar murid sekolah dan kewajiban mengasuh bayinya dikerjakannya bersamaan.

Setiap hari, ia pergi ke sekolah dengan membawa tas besar berisi perlengkapan bayi, memegang payung warna-warni, dan menggendong bayinya di punggung, dililit selendang berbahan kain sela kotak-kotak. Tas dan bayi itu saja, kalau digabungkan sudah hampir mendekati ukuran tubuhnya yang kecil. Ia harus berjalan dengan beban seberat itu menapaki jalan mendaki menuju sekolah kami yang letaknya agak di ketinggian. Jaraknya ada lebih dari dua kilometer. Meskipun demikian, keceriaan tidak pernah meninggalkan paras wajahnya. Selalu begitu.

Saya selalu merasa ada suasana yang hangat jika berada di samping Ibu Santun. Mungkin teman-teman yang lain juga merasakan kehangatan yang sama. Nyata demikian, karena beliau selalu dikelilingi murid-murid. Walaupun ketika itu ia
adalah guru kami di kelas satu, murid-murid dari kelas lain pun tetap senang
berada di dekatnya. Kalau Ibu Santun mau mengajar, bayinya dititipkan pada anak-anak sekolah yang lebih besar itu. Mereka dengan senang hati menjaga bayi itu di luar pintu kelas. Kalau semua anak sekolah sedang belajar, tidak jarang Ibu Santun membawa anaknya ke dalam kelas. Mengajar sambil menggendong anak di sekolah ketika itu adalah hal biasa.

Walaupun Ibu Santun ramah, entah bagaimana caranya, beliau berhasil menanamkan sopan-santun hubungan guru dan murid pada kami. Mungkin karena sudah karakternya juga. Selain ramah dan menyenangkan, Ibu Santun juga seorang guru yang tegas. Di samping suka pada Ibu Santun, kami juga segan padanya.

Pagi hari, sebelum masuk kelas, kami selalu dibariskan dulu di halaman sekolah kami yang luas. Anak-anak kelas satu berbaris paling timur, kemudian pada baris berikutnya anak-anak kelas dua, begitu sterusnya hingga anak kelas enam di ujung barisan paling barat. Kalau Ibu Santun yang memimpin upacara, dia selalu mengajak kami berdoa. Dialah yang memimpin doa itu. Setelah berdoa lalu bernyanyi. Lagunya “Satu Nusa Satu Bangsa,” atau “Padamu Negeri.” Ada juga lagu rohani berbahasa Batak, seperti “Husomba Ho Tuhan,” atau “Tuhan Debata Sai Ramoti Ma.” Kami suka lagu-lagu itu.

Setelah bernyanyi, Ibu Santun akan menyeru dari depan, “Maaata …” Maka kami pun serentak melanjutkan ucapan itu dengan semangat. Sekuat suara kami.

“… mata ni halak na mangelak amana,
jala malluk rohana mangoloi tona ni inana,
ingkon pulsikhonon ni pidong sigak di topi ni sunge,
jala parsurageon ni anak ni lali”

Di hari lain, dia akan berseru dari depan, “Biar …” Dan kami pun melanjutkannya dengan sekuat-kuat suara kami juga.

“Biar mida Jahowa do parmulaan ni hapistaran,
jala parbinotoan na badia do … hapantason”

Tentu saja kami belum mengerti apa arti ucapan-ucapan filosofis itu. Namanya juga anak baru kelas satu SD. Akan tetapi, dengan bertambahnya usia dan pemahaman, pada akhirnya dapat juga saya tangkap makna yang sangat dalam dari ucapan-ucapan tersebut. Lebih jauh dari itu, saya juga berkali-kali menemukan betapa dalam hidup ini kebenaran dalam ucapan-ucapan itu amatlah berguna. Betapa perlunya sikap takut akan Tuhan. Betapa bahwa dalam kerendahan hatilah seorang murid sekolah dapat mencapai prestasi. Takut akan Tuhan, hormat pada orangtua, semua itu adalah bekal yang sangat perlu dalam menjalani hidup.

Suatu hari, Ibu Santun tdak masuk mengajar. Kelas kami pun libur, tapi murid tidak diperbolehkan pulang. Kami bermain-main saja seharian di lingkungan sekolah. Menyenangkan sekali.

Akan tetapi, bukan hanya pada hari itu saja Ibu Santun tidak masuk mengajar. Tiga hari, lima hari, hingga seminggu beliau tidak hadir. Kami kehilangan. Bermain tidak menyenangkan lagi. Kami ingin belajar, tetapi Ibu santun tampaknya telah lenyap, hilang, tak ada yang tahu. Beliau hilang begitu saja, hingga suatu pagi ketika kami masuk kelas, sudah ada guru baru di kelas kami. Tampaknya, tidak ada orang dewasa yang merasa perlu memberitahu kami kemana ibu guru kami yang baik itu pergi. Mungkin mereka berpikir bahwa hal tersebut bukanlah urusan anak-anak. Begitulah rupanya, karena guru baru itu pun tidak pernah menyinggung nama Ibu Santun. Guru Kepala juga tidak pernah menjelaskan apa-apa.

Saya sendiri merasa sangat kehilangan waktu itu. Apalagi rumah Ibu Santun letaknya di desa yang satu arah dengan tempat tinggal saya, sehingga ketika pulang sekolah saya termasuk murid yang sering berjalan bersama beliau. Saya
selalu berusaha berjalan di dekatnya. Ada rasa bangga bila berjalan bersama ibu guru. Selain itu, saya senang mendengar beliau bercerita hal-hal baru sambil berjalan pulang. Cerita tentang kehidupan nun di balik gunung yang mengelilingi
wilayah kami, tentang kota besar, kehidupan di negeri-negeri yang jauh, tentang betapa luas negara kita, tentang salju dan kapal, pesawat terbang dan kereta api. Tetapi akhirnya saya harus kehilangan semua itu. Ibu Santun telah pergi
meninggalkan kami, entah kemana. Pergi begitu saja.

————————
Kenangan pada ibu guru saya ketika sekolah dasar di Laguboti. Beliau diciduk
aparat dan ditahan dengan tuduhan terlibat peristiwa Gerakan 30 September 1965.

3 responses to “Kehilangan Guru

  1. Pak Mula,cerita anda begitu menyentuh….

  2. Fisher Manalu

    Cerita yang menyentuh. Terima kasih atas sharing-nya, Pak..

  3. Subhanallah, betapa menyentuh hati cerita ini. Memang manusia itu dikenang akan kemampuannya seberapa jauh ia bisa menyentuh hati orang. Bekerja dengan hati…….. kemampuan semacam inilah yang perlu kita tingkatkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s