Perasaan dan Pikiran Saya di Seputar Pemunduran Sri Mulyani

Oleh: Mula Harahap

Saya bukan politisi dan tidak memiliki kontak-kontak dengan para politisi Indonesia. Oleh karena itu dalam menganalisa berita di media massa, saya lebih banyak mengandalkan tontonan atau bacaan yang tersurat maupun yang tersirat dari media massa itu sendiri. Dalam menganalisa perpolitikan di seputar Sri Mulyani ini pun halnya demikian.

Ketika Pansus Hak Angket sedang hangat-hangatnya bersidang dan memeriksa Sri Mulyani, saya membaca di sebuah media massa berita kecil tentang pertemuan yang diselenggarakan oleh Sri Mulyani di Hotel Darmawangsa. Pertemuan tersebut adalah pertemuan santai-santai. Diberitakan oleh media massa itu bahwa Sri Mulyani sedang bersantai-santai dengan sahabat-sahabatnya: makan, menyanyi dan menguatkan Sri Mulyani dalam masalah politik yang sedang dihadapinya.

Tapi saya tertarik dengan daftar orang yang hadir di dalam pertemuan tersebut: Mulia Lubis, Faisal Basri, Wiemar Witoelar, Goenawan Mohamad, Erry Ryana Hardjapamekas dsb. Orang-orang ini sebenarnya para intelektual dan yang dikenal luas sebagai “the man of integrity”. Saya kemudian berpikir-pikir, “Kalau orang-orang seperti Goenawan Mohamad dan Mulia Lubis menyempatkan hadir di dalam pertemuan tersebut, dan secara eksplisit menyatakan sokongan morilnya terhadap Sri Mulyani, tentu ini bukan main-main. Tentu ada sesuatu yang sedang akan terjadi terhadap Sri Mulyani….”

Beberapa hari kemudian saya membaca lagi berita di media massa tentang kesepakatan antara Presiden SBY dan Aburizal Bakrie untuk berdamai asalkan saja Sri Mulyani dimundurkan dari kabinet. Waktu itu berita yang disiarkan secara luas oleh berbagai media massa itu dibantah kebenarannya oleh fihak Presiden SBY dan Aburizal Bakrie. Tapi saya semakin yakin bahwa memang ada tekanan bagi Sri Mulyani untuk mundur dari kabinet. Hanya saja, Presiden SBY masih ragu untuk nyata-nyata memundurkan Sri Mulyani karena dia juga masih memiliki “fans”-nya, dan Presiden SBY–yang selalu perduli dengan politik pencitraan itu–sadar bahwa memundurkan Sri Mulyani begitu saja adalah tindakan yang sangat tidak populer.

Pada hari Kamis 5 Mei, akhirnya saya membaca berita di “detik.com” tentang Sri Mulyani yang akan mundur dari jabatannya dan menerima tawaran untuk menjadi Managing Director di World Bank. Kemudian saya juga membaca berita tentang Hatta Rajasa yang dipanggil secara mendadak menghadap Presiden, dan berita tentang rencana Presiden untuk memberikan keterangan pers siang tersebut. Kata saya dalam hati, “Akhirnya Presiden SBY yang peragu dan perduli akan politik pencitraan itu menemukan gracious exit….”

Siang itu juga, tanpa lebih dulu mendengar keterangan pers Presiden SBY, di status FB saya menulis:

“Kalau Sri Mulyani sampai pindah ke Washington DC, maka itu kegagalan SBY, yang selalu mencoba mencari solusi yang menyenangkan hati semua orang atas persoalan politik yang dihadapinya. Dan itu tidak baik bagi bangsa dan negara ini. Kelompok kepentingan itu akan semakin ngelunjak. Dan sampai 2014 kita akan terus jadi sandera ketidaktegasan SBY”. (Jam 13.57)

“Siapa pengganti Sri Mulyani? Tanya Aburizal Bakrie”. (Jam 14.04).

“Saya pikir-pikir kalau memang pada akhirnya Sri Mulyani menerima tawaran Bank Dunia maka itu adalah hal yang terbaik baginya (tapi bukan bagi Indonesia). Mengapa pula dia harus berjuang dan mati konyol di negeri para pencuri ini?” (Jam 14.48)

“Karena tekanan kelompok kepentingan itu, sebenarnya sudah lama SBY ingin mencopot Sri Mulyani. Tapi dia ragu, karena dia tahu keputusan tersebut sangat tidak populer. Untunglah ada Bank Dunia yang membantu SBY keluar dari kebingungannya. (Haiyyyaaa… Lu punya presiden is no good-laaahhh…..).” (Jam 16.08).

Begitulah, sepanjang hari itu saya hanya sibuk berpikir-pikir dan mengomentari perpolitikan Indonesia yang sedang terjadi di seputar Sri Mulyani. Dan malamnya, “sangkin palaknya” dengan konspirasi jahat yang terjadi atas diri Sri Mulyani, saya sempatkan untuk menulis esai: “Sri Mulyani, Media Massa dan Demokrasi”. Isteri saya, yang melihat saya sepanjang malam hanya sibuk menonton teve dan menulis, mengomel-ngomel, “Memangnya apamu sih Si Sri Mulyani itu? Koq sibuk dan sedih sekali kau ketika dia harus pindah ke World Bank?”

Saya katakan kepada isteri saya, “Saya bukan sedih karena Sri Mulyani harus pergi. Tapi saya sedih melihat kepemimpinan Presiden SBY, yang entah karena pertimbangan apa, tak berani pasang badan untuk membela anak buahnya dari konspirasi politik jahat. Dan saya sedih melihat nasib perjalanan Indonesia yang terombang-ambing karena ketidaktegasan Presiden SBY….”

Saya pikir kalau kita membaca pemberitaan media dengan sedikit lebih cermat, maka kita akan bisa membaca “langkah-langkah catur” dari para pemain politik yang kasar dan bodoh itu.

Oleh karena itu jugalah, ketika dua hari kemudian saya membaca berita tentang kesepakatan partai-partai koalisi di Cikeas, saya sudah tidak terlalu terkejut. “Itu sudah terbaca sejak jauh-jauh hari,” kata saya dalam hati. Dan di status FB saya menulis:

Presiden SBY membentuk “Sekretariat Bersama Parta-partai Koalisi Pendukunga SBY”, dan menetapkan Aburizal Bakrie sebagai Ketua Harian. Ini adalah pengukuhan bahwa Presiden adalah SBY dan Perdana Menteri adalah Aburizal Bakrie? Makanya, cepatlah kau pindah ke Wshington, Sri. Sudah semakin aneh dan lucu saja negara ini”.

“Kalau dalam terminologi pergaulan anak-anak, maka SBY itu sudah di-bullying oleh partai-partai pendukung koalisi”.

Itulah sedikit perasaan dan pikiran saya di seputar pengunduran diri Sri Mulyani {.}

2 responses to “Perasaan dan Pikiran Saya di Seputar Pemunduran Sri Mulyani

  1. Saya juga fans berat SMI, tapi bukan karena kepintarannya ataupun keberaniannya. Bukan. Tapi karena ia seorang MILF. Aahhaaiii….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s