Elek hamu jo borumuna on, Tulang…..

Oleh: Mula Harahap

Saya sedang duduk-duduk di kantin yang ada di sebelah gedung pertemuan Batak itu; menunggu kedatangan teman-teman semarga saya yang lainnya. Hari itu –dalam pesta pernikahan itu–saya berfungsi sebagai hula-hula atau tulang dari mempelai perempuan.

Sebenarnya mempelai perempuan adalah orang Minahasa, yang kemudian diberi marga S, dan diadopsi secara adat menjadi puteri dari ito saya (saudara sepupu saya dari ompung martinodohon) yang menikah dengan seorang lelaki marga S. Adapun mempelai lelakinya, yang bermarga G, sebagaimana yang biasa terjadi dalam adat Batak, tentu saja adalah “bere” dari ito dan lae saya tersebut. Tapi apakah ibu dari mempelai lelaki itu adalah saudara kandung atau saudara sepupu dari lae saya yang bermarga S itu, saya kurang tahu jelas.

Tapi yang saya tahu jelas ialah bahwa untuk menjadi orangtua angkat dari perempuan Minahasa itu, ito dan lae saya sudah melalui sebuah perjalanan yang panjang. Sebelumnya ito dan lae saya itu telah menjalani dulu acara “mangadati” atau yang disebut juga “pasahathon sulang-sulang ni pahompu”. Memang 25 tahun yang lalu ito dan lae saya ini hanya menyelenggarakan pernikahan gerejawi. Tapi hal tersebut bisa saya mengerti karena ito saya itu tadinya adalah pemeluk agama Islam. Amangtua dan inangtua saya–yang juga adalah pemeluk agama Islam–tentu saja tidak bisa menyetujui puterinya menikah dengan seorang lelaki beragama Kristen dan apatah lagi, orang Batak Toba.

Tadinya–waktu saya menghadiri acara “mangadati” dari ito dan lae saya tersebut–saya pikir mereka melakukannya karena salah seorang dari anak mereka sudah waktunya untuk menikah. Tapi dua minggu kemudian–ketika saya diundang lagi untuk menghadiri acara “mangain boru”–barulah saya mengerti bahwa ternyata tujuan paling dekat dari acara “mangadati” itu adalah untuk mengadopsi puteri Minahasa itu. “Koq hidup harus sedemikian repotnya sih? Saya pikir salah satu bere ini yang hendak menikah,” kata saya kepada Ito saya waktu itu. “Memang bukan. Tapi yah nggak apalah, anggap saja sebagai persiapan. Nanti kalau berenya hendak menikah, kami sudah tak harus repot-repot lagi mangadati…”

Saya memang tidak pernah bisa mengerti kebiasaan “membatakkan” suku lain tersebut. Dan saya selalu menganggap kebiasaan tersebut sebagai “kurang kerjaan”. Tapi sebagai orang yang punya tata krama, maka kalau ada saudara saya yang melakukannya, dan saya harus terlibat di dalamnya, tentu saja saja saya akan menjalankan fungsi saya dengan sebaik-baiknya.

Begitulah, sementara saya sedang duduk berpikir-pikir sambil menunggu kedatangan teman-teman semarga saya, tiba-tiba datanglah seorang lelaki bermarga S dengan tergopoh-gopoh ke hadapan saya sambil berkata, “Tolong jo, Tulang. Elek hamo jo borumuna on…” Kemudian ia menarik tangan saya menerobos kerumunan orang yang sedang berdiri di depan pintu; menunggu prosesi masuk ke dalam gedung.

Mula-mula saya tak mengerti apa yang dimaksud oleh lelaki bermarga S itu. Saya pikir telah terjadi kesalah-pahaman. Mungkin disangkanya saya adalah bapak dari seorang anak perempuan yang sedang tersesat, menangis dan mencari-cari bapaknya. Kata saya kepada lelaki itu, “Saya tak membawa anak perempuan ke pesta ini….”

Tapi di sebelah kiri gedung pertemuan itu, di pinggir pelataran parkir, saya melihat ito saya–yang menjadi ibu dari pengantin perempuan itu–sedang menangis dan berteriak-teriak, dan beberapa orang sedang berusaha menenangkannya. Melihat kedatangan saya, orang-orang itu langsung menyisih dan memberi jalan, seolah-olah saya adalah dukun atau pawang yang dinanti-nantikan.

“Berapa rupanya uang yang sudah diberikannya…..? Menghina sekali dia….. Pulangkan itu…… Aku mau tinggalkan pesta ini,,,,” teriak ito saya.

“Jangan begitulah, Ma….. Malu kita….” kata Lae saya membujuk isterinya.

“Tidak perduli…. Kau saja yang pesta dengan saudara-saudaramu itu….. Aku mau pulang,” teriak ito saya itu lagi sambil meronta-ronta.

“Bah, sudah gawat. Sudah keluar gilanya boru Harahap ini,” kata saya dalam hati. Lalu tiba-tiba terbayanglah di mata saya beberapa namboru dan ito saya–para boru Harahap–yang kalau sudah marah sangat susah mengendalikan emosinya.

Dari potongan-potongan kalimat ito saya, maka saya langsung bisa membaca apa yang sedang terjadi. Rupanya telah terjadi kortsleting antara dia dengan para edanya atau minimal dengan eda yang menjadi ibu dari pengantin lelaki.

Tanpa banyak bicara, saya langsung memeluk ito saya kuat-kuat. Dan ito saya pun langsung membenamkan mukanya di dada saya; lalu menangis tersedu-sedu. Beberapa orang berusaha untuk menghentikan tangisan ito saya. Tapi saya memberikan isyarat agar mereka menjauh dan memberikan kesempatan kepada ito saya untuk melampiaskan emosinya. Sementara ito saya masih menangis tersedu-sedu (dia hanya berkata “huuu-uhuu-huuu” di dada saya), maka saya mencoba mencari tahu apa sebenarnya pangkal persoalan.

Persoalannya hanyalah urusan sepele: buku tamu. Tapi karena semua sudah letih dan tegang selama berhari-hari (dan itulah selalu “penyakit” pesta Batak) maka persoalan sepele pun acapkali bisa menyulut emosi.

Ternyata pihak pengantin perempuan membutuhkan tambahan buku tamu. Disebabkan waktu sudah sempit, dan tamu sudah berdatangan, maka pihak pengantin perempuan itu mengambil sebuah buku tamu milik pengantin lelaki yang memang berlebih. Dan sebenarnya ambil-mengambil buku tamu ini juga bukanlah suatu aib besar; karena kedua pihak yang sedang berpesta itu adalah mereka yang masih erat dalam hubungan darah. Tapi rupanya ada seorang ibu dari pihak pengantin perempuan yang menegur pihak pengantin laki-laki dengan berkata, “Koq buku tamu saja pun harus kalian ambil. Yang tak adanya uang kalian untuk membeli?” Dan rupanya–lagi–orang yang ditegur itu adalah anak dari ito saya tersebut. Dan rupanya–lagi–ito saya ada di sekitar meja penerima tamu itu ketika anaknya ditegur oleh pihak pengantin perempuan yang notabene adalah edanya.

Sementara saya sedang berusaha menyelesaikan insiden kecil itu, dari pengeras suara terdengarlah aba-aba yang mengingatkan rombongan pengantin perempuan agar masuk ke dalam gedung. Kata saya kepada seseorang, “Bilang kepada mereka, tunggu sebentar….”

Setelah emosi ito saya sedikit mereda, maka kepadanya saya berkata, “Jangan membuat malu saya; dan barisan hula-hulamu yang lain. Lagipula, kalau ujungnya harus berantakan, untuk apa saya harus bercapek-capek menghadiri acara mangadati dan acara mangain boru…?” Ito saya hanya mengangguk-angguk..

Kembali lagi terdengar aba-aba untuk mengingatkan rombongan pengantin perempuan agar masuk ke dalam gedung. Lalu kerumunan itu pun bergeser ke arah pintu masuk dan bersiap-siap. Tapi rupanya seseorang dari marga S itu masih kurang percaya bahwa situasi sudah aman. Oleh karena itu dia berbisik kepada saya, “Dongani Tulang ma jo antong boruni Tulang i sahat to panggung….”Sebenarnya saya adalah hula-hula di pesta ini. Saya memiliki rombongan dan prosesi yang tersendiri untuk masuk. Tapi demi menyelamatkan situasi (kalau-kalau ito saya itu tiba-tiba berubah pikiran) maka saya ikut berbaris dalam rombongan pengantin perempuan, dan berjalan tepat di belakang ito saya.

Inanguda saya, yang melihat saya berbaris masuk dalam rombongan pengantin perempuan, langsung menarik baju saya dan berkata, “Tempatmu bukan dengan rombongan pengantin perempuan,” katanya. Disangkanya pula saya tidak tahu prosedur dan adat. Tapi kepada Inanguda, saya hanya berkata, “Tenang saja. Nanti aku akan bergabung lagi dengan kalian….”

Lalu–tentu saja–saya pun berjalan masuk sambil ikut menggerak-gerakkan telapak tangan seperti orang sedang manortor, menyambut gerakan yang sama yang diberikan oleh pihak pengantin lelaki.

Setelah kami berjalan ke dekat panggung, saya berbisik ke ito saya, “Sudah. Naiklah kau, Ito. Pasang senyum sedikit….” Dan saya pun kembali menemui kawan-kawan semarga saya yang sedang bersap-siap untuk melakukan prosesi memasuki gedung {.]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s