Buku “Movie Tie-In”

Oleh: Esther Margolis

Apakah yang disebut sebagai buku “movie tie-in” itu?

Itu adalah buku pendamping dan pelengkap bagi sebuah filem yang sedang diputar di bioskop atau televisi. Tapi buku “movie tie-in” berbeda dengan buku senilukis yang diterbitkan dalam kaitan dengan pameran lukisan yang sedang digelar oleh sebuah museum, atau buku yang diterbitkan berkaitan dengan sebuah persitiwa yang sedang menjadi headline di berbagai suratkabar. Buku “movie tie-in” adalah buku yang sering saya sebut sebagai buku lintas media, dan yang ditujukan bagi pembaca yang ingin mengetahui lebih banyak lagi tentang cerita, pengetahuan, atau karakter dari sebuah filem yang sedang diputar di bioskop.

Apakah penerbit tidak menghadapi risiko dalam menerbitkan buku “movie tie-in”?

Penerbitan buku “movie tie-in” tentu saja mengandung risiko karena dia dipasarkan atas sebuah kegiatan atau peristiwa yang berada di luar kontrol penerbit. Studio-lah yang memiliki kontrol. Karena itu, jika studio merasa bahwa filem yang sedang mereka edarkan itu tidak terlalu sukses, maka hanya dalam waktu seminggu mereka bisa menarik filem tersebut dari peredaran nasional.

Sejauh mana hubungan finansil sebuah studio dengan novelisasi filem yang dibuatnya?

Studio-studio tersebut—terutama para penulis skenario—biasanya ikut kebagian atas hasil dari novelisasi filemnya. Dan Writer’s Guild of America sudah membuat sebuah patokan tentang novelisasi.

Apa-apa saja jenis buku “movie tie-in” itu ?

Jenis yang pertama ialah menerbitkan ulang buku lama yang dijadikan dasar pembuatan filem tersebut. Itu pasti merupakan kesempatan untuk mempromosikan ulang buku. Bila sebuah studio besar mengedarkan sebuah filem, maka itu artinya penerbit buku asli mendapat peluang untuk “numpang” di sebuah promosi iklan yang acapkali bisa memakan biaya sampai 20 juta dolar. Dan di sini belum termasuk promosi dari mulut ke mulut yang dilakukan oleh orang-orang yang telah menonton filem tersebut. Jika sebuah filem dipasarkan dan diedarkan sebagai sebuah filem besar, maka itu artinya ada fihak di luar penerbit yang rela mengeluarkan uang yang sedemikian banyak demi keberhasilan sebuah filem.

Jenis yang kedua ialah novelisasi, yaitu membuat dan menerbitkan novel berdasarkan skenario sebuah filem. Dalam 15 tahun terakhir ini novelisasi sangatlah populer.

Jenis yang ketiga ialah, membuat buku yang berkaitan dengan sebuah filem; baik itu dengan cerita atau pengetahuan yang ada di filem tersebut, maupun cerita atau pengetahuan tentang bagaimana filem itu dibuat,

Buku-buku “movie tie-in” ini harus bisa terbit bersamaan dengan beredarnya filem. Dan itu berarti kita hanya bekerja 6 s/d 12 bulan sebelum sebuah filem di-release. Jadwal kerja penerbit buku “movie tie-in” sangat ketat. Penulis yang diberi tugas untuk menuliskan novelisasi filem tersebut biasanya hanya diberi waktu 6 sampai 8 minggu. Misalnya, pada saat ini kami sedang mengerjalan novelisasi dari sebuah filem “western”. Kami baru mendapat persetujuan untuk menuliskannya kira-kira 3 minggu yang lalu. Sementara itu filemnya sendiri sudah harus selesai dan beredar 5 bulan dari sekarang. Ini berarti bahwa dalam 5 ½ bulan ini kami sudah harus mengontrak penulis, mengawasinya sampai selesai menulis, dan bahkan menerbitkan bukunya. Bahkan sering kali terjadi, bila sebuah filem telah mendapat “lampu hijau” maka pembuatannya bisa lebih cepat dari yang direncanakan, dan itu berarti lebih cepat dari pembuatan bukunya.

Beberapa buku “movie tie-in” kami yang berhasil adalah Rain Man, Karate Kid, Fisher King dan My Girl.

The Karate Kid ditulis sebagai novelisasi oleh seorang perempuan muda yang pernah menulis sebuah buku remaja yang memenangkan penghargaan. The New York Public Library menyebutnya sebagai satu dari dua puluh lima buku yang paling sering dipinjam oleh remaja. Dewasa ini banyak orang yang tidak menyadari bahwa The Karate Kid itu tadinya adalah sebuah seknario yang kemudian dibuat menjadi novel. Sebuah buku novelisasi acapkali berumur jauh lebih panjang dari filemnya sendiri. Semakin baik novelnya ditulis, dan semakin pas genre-nya, maka semakin besar pula peluangnya untuk berhasil.

Siapa saja orang yang boleh menulis novelisasi, dan berapa besar biasanya mereka dibayar?

Biasanya novelisasi didasarkan atas kerja borongan yang diberikan kepada penulis paruh waktu. Adakalanya penulis itu menuntut untuk juga mendapat bagian royalti. Tapi itu tergantung dari posisi tawarnya.

Penulis biasanya dibayar antara 7.500 s/d 10.000 dolar. Tapi penulis yang berpengalaman bisa memperoleh 10.000 sampai 12.000 dolar. Itu saja. Dan kalaupun mereka mendapat royalti, maka royaltinya hanya 1%.

Siapa yang mencari dan mempekerjakan penulis untuk proyek novelisasi itu?

Para editor buku-buku “movie tie-in” di penerbit buku mass market, atau orang seperti saya, yaitu yang bertindak sebagai “packager” untuk sebuah studio atau produser.

Bagaimana cara mempelajari ketrampilan ini?

Biasanya dengan dibimbing oleh editor. Saya sering memperkenalkan bentuk novelisasi ini kepada sejumlah pengarang dan mengajar mereka bagaimana membuat novelisasi yang baik.

Apakah anda memiliki kader penulis, yang sesewaktu bisa dihubungi untuk menulis novelisasi?

Semua penerbit memiliki hal seperti itu.

Apa persyaratan untuk menjadi kader anda?

Mereka harus memiliki pengalaman yang banyak dalam menulis fiksi, dan punya jejak rekam yang baik dalam memenuhi janji penyelesaian pekerjaan.

Dalam hal kepemilikan hak cipta, apa bedanya novelisasi dengan novel biasa?

Dalam novel biasa, hak cipta sepenuhnya berada di tangan si penulis. Tapi dalam novelisasi, hak ciptanya berada di tangan studio. Dengan ketrampilan dan pengalaman yang ada padanya si penulis mencoba mengubah cerita dari sebuah bentuk (filem) dan mengubahnya menjadi bentuk yang lain (novel) dengan tidak mengubah alur cerita dan karakter.

Sebesar manakah pasar penulisan buku “movie tie-in”?

Tidak terlalu besar, karena memang tidak terlalu banyak filem yang memiliki potensi untuk dijadikan novel.

Apakah ada penulis yang memiliki nama besar yang juga menulis novelisasi?

Pada tahun 1960-an ada sebuah filem menarik berjudul Fantastic Voyage yang dibintangi oleh Raquel Welch. Di filem itu diperlihatkan bagaimana Raquel Welch melakukan perjalanan menyelusuri berbagai organ tubuh manusia. Editor buku “movie tie-in” di Bantam Books meminta Isaac Asimov untuk menulis novelisasinya. Isaac Asimov tertarik dan senang melakukannya. Sampai sekarang novelisasinya atas Fantastic Voyage masih terus mengalami cetak ulang.

Apa yang bisa anda sarankan kepada penulis yang ingin menulis buku-buku “movie tie-in”?

Ini adalah pasar penulisan yang sangat terbatas. Cobalah identifikasi editor buku “movie tie-in” yang ada di sebuah penerbit, dan mintalah agar mereka memasukkan nama anda dalam daftar penulisnya. Bacalah sebanyak mungkin novelisasi. Dan baca jugalah sebanyak mungkin skenario yang telah dibuat novelisasi-nya.

Apakah ada peluang bagi seorang penulis yang belum berpengalaman untuk dikontrak menulis novelisasi?

Peluangnya satu dalam sejuta. Tapi sebagaimana halnya yang terjadi dalam kehidupan ini, maka apa pun bisa saja terjadi.

————–

Esther Margolis, direktur dan penerbit dari Newmarket Press, menyelesaikan pendidikan strata satunya dalam bidang pendidikan, dan kemudian menyelesaikan pendidikan strata duanya dalam bahasa Inggeris. Ia mengawali pekerjaannya di tahun 1961 dalam bidang kesekretariatan pada divisi promosi Dell Publishing.

Setelah setahun bekerja di sana, ia pindah ke Bantam Books untuk menjadi asisten promosi, dan pada tahun 1965 menjadi direktur publisitas yang pertama dari perusahaan penerbitan tersebut. Dia berkarir di Bantam Books selama 17 tahun, dan pada akhirnya menjadi senior vice president; sebuah jabatan yang membawahi semua departemen pemasaran yang ada di perusahaan tersebut.

Selama berkarir di Bantam, Esther Margolis melakukan banyak inovasi, termasuk di antaranya adalah author tour, yang di kemudian hari dijadikan model oleh industri penerbitan. Pada awal tahun 1970-an, author tour sangatlah popular dan menjadi salah satu komponen utama dalam pemasaran buku hingga saat ini.

Pada tahun 1980, Esther Margolis meninggalkan Bantam Books dan mendirikan Newmarket, yaitu sebuah perusahaan penerbitan dan komunikasi, yang di dalamnya juga terdapat sebuah imprint penerbitan buku bernama Newmarket Press.

Newmarket Press menerbitkan sekitar 15 judul buku dalam setahun—dan umumnya adalah buku-buku non-fiksi—yang mencakup buku pengembangan kepribadian, perawatan balita, pendidikan anak, referensi popular, dan referensi tentang filem. Di antara buku-buku “movie tie-in” yang diterbitkan oleh Newmarket Press terdapat buku pendamping bagi filem “The Age of Innocense”, “Dracula” karya Bram Stroker, dan “Dance With Wolves”.

“Kami adalah penerbit kecil yang independent,” kata Esther Margolis. “Tapi kami menerbitkan buku-buku arus utama. Beberapa buku kami ada yang terjual lebih dari 300 ribu eksemplar.” Margolis juga bertindak sebagai konsultan terhadap bisnis penerbitan, pemasaran dan pembuatan novelisasi filem bagi studio seperti Columbia, TriStar dan Universal.

Wawancara ini dicuplik dari buku “Books Editors Talk to Writers” karangan Judy Mandell. Penerbit John Wiley & Sons, Inc., 1995. Alihbahasa oleh Mula Harahap.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s