Membangun Hubungan Editor-Pengarang

Oleh: Jackie Faber

Bagaimana cara membangun hubungan editor-pengarang?

Sama saja seperti membangun hubungan antara dua fihak di mana pun. Harus ada editor yang mendukung dan-pada saat yang bersamaan-juga tegas dalam menjaga pengarang agar tetap berada dalam jalur yang benar. Saya adalah editor yang telaten, tidak hanya dalam menangani naskah, tapi juga dalam menangani pengarang sebagai manusia. Saya mengenal dan menyenangi mereka. Sebaliknya mereka juga mengenal dan menyenangi saya. Begitulah cara kerja saya.

Bagaimana jika pola hubungan itu tidak terwujud?

Jika pola hubungan itu tidak terwujud, suatu naskah tetap saja bisa menjadi buku yang baik jika editornya memang baik. Tapi saya suka menganggap para pengarang saya sebagai sahabat. Jika hubungan terlalu impersonal ada saja kemungkinan pengarang tidak merasa bahagia dengan editornya, atau sebaliknya editor tidak merasa bahagia dengan pengarangnya.

Mengapa anda mencoba membangun pola hubungan seperti ini dengan pengarang?

Jika saya menandatangani kontrak dengan pengarang untuk menulis sebuah naskah, maka saya berharap naskah yang berikut juga akan jatuh kepada saya. Bahkan, kadang-kadang kami memang menandatangani kontrak untuk menulis dua naskah. Editor tentu tidak mau, bahwa setelah ia bekerja keras dan menghabiskan sejumlah waktu terhadap pengarang, maka di kemudian hari si pengarang berkata, “Buku saya kurang terjual baik di penerbit anda. Saya mau mencari penerbit lain.”

Bukankah pengarang akan meninggalkan suatu penerbit kalau bukunya kurang terjual baik?

Ya, dan itu acapkali terjadi.

Apakah anda membangun hubungan dengan pengarang semata-mata demi menjaga agar mereka tidak pindah dari penerbit anda?

Tidak. Saya membangun hubungan dengan pengarang karena mengganggap mereka memang sahabat.

Apakah hubungan editor–pengarang dalam buku non-fiksi berbeda dengan hubungan editor-pengarang dalam buku fiksi?

Ya. Di dalam buku non-fiksi situasinya lain. Seorang pengarang non-fiksi datang kepada anda dengan membawa sebuah gagasan. Dan gagasan itu sangat tergantung kepada subyek yang akan ditulis. Saya mengenal seorang pengarang non-fiksi yang buku terdahulunya sangat saya kagumi. Tapi saya tak suka dengan gagasan yang sedang ditawarkannya. Ia ngotot untuk tetap menulis gagasan yang ditawarkannya itu. Terpaksalah saya melepasnya untuk mencari penerbit lain. Dalam hal pengarang fiksi situasinya lagi. Karena itu hubungan yang dipupuk juga menjadi lain. Tapi apa pun situasinya, saya tetap ingin mengembangkan hubungan yang personal.

Siapakah yang paling bertanggung-jawab dalam membangun hubungan editor-pengarang?

Sukar untuk menjawab pertanyaan tersebut. Saya memang selalu menjaga, atau berusaha untuk menjaga, hubungan dengan pengarang. Saya merasa bertanggung-jawab atas kelanggengan hubungan itu; karena saya rasa memang itulah yang seharusnya dilakukan. Tapi dalam membangun hubungan dengan fihak mana pun saya selalu bersikap demikian. Saya rasa tanggung jawab tersebut harus datang dari kedua belah fihak. Saya rasa, pengarang membutuhkan seseorang sebagai tempat untuk menampung apa yang ingin mereka katakan, apa yang mereka risaukan dan apa yang menjadi persoalan mereka. Saya rasa peranan editor adalah untuk selalu hadir dan mendukung pengarang. Hal ini memang menyiratkan bahwa editor kadang-kadang perlu terlibat dalam persoalan pribadi pengarang. Tapi dalam banyak kasus hal ini sebenarnya jarang terjadi. Pada dasarnya hubungan itu harus bersifat profesional. Kalau pun ia menjadi bersifat pribadi, maka kadarnya berbeda dari pengarang yang satu ke pengarang yang lain.

Jika anda tidak mendengar kabar dari pengarang anda, apakah anda selalu menelepon mereka?

Ya. Saya selalu menelepon dan menyapa pengarang saya. Saya menyapa Sara Partesky-paling tidak-sekali dalam seminggu. Saya menyapa Elmore Leonard-paling tidak-sekali dalam seminggu. Saya menyapa Belva Plain sekali dalam seminggu. Saya menyapa Maeve Binchy, yang tinggal di Irlandia, sekali dalam beberapa minggu.

Kalau anda tidak menelepon mereka, apakah mereka akan menelepon anda?

Kadang-kadang, ya. Kalau mereka menghadapi masalah, mereka pasti menelepon saya. Lagipula, kalau semua hal berjalan lancar, mengapa pengarang harus menelepon saya? Editor perlu menelepon pengarang secara teratur untuk mengetahui apa yang terjadi dengan diri mereka. Tapi kalau panggilan telepon itu membuat pengarang menjadi risau atau panik, tentu saja jangan dilakukan.

Jika batas waktu penyerahan naskah sudah tiba dan pengarang belum juga menyerahkan naskahnya, maka biasanya mereka berada dalam keadaan panik. Kita tentu tidak ingin membuat pengarang bertambah panik. Karena itu saya tak suka menelepon dan berkata, “Jika pada tanggal sekian-sekian naskah belum rampung, maka jangan harap buku anda terbit pada pertengahan tahun ini…” Anda perlu menguasai seni kapan harus menelepon dan kapan tidak menelepon.

Bagaimana dengan pengarang yang tidak memiliki editor seperti anda, yang dibiarkan bekerja sendiri, tak pernah disapa dan merasa terkucil?

Ya, saya rasa kasus seperti ini banyak terjadi. Jika pengarang memiliki agen, maka ia bisa mengadu kepada agen. Agen akan menelepon editor. Tapi jika pengarang tidak memiliki agen, maka saya tak tahu apa yang harus saya katakan. Berarti pengarang itu memang kurang beruntung. Tak pernah saya bisa membayangkan bahwa ada editor yang tidak membangun hubungan dengan pengarang. Memang saya pernah mendengar hal seperti itu. Tapi sebagian besar editor yang saya kenal tidak begitu.


Apakah anda pernah gagal dalam membangun hubungan dengan pengarang?

Ya.

Lalu, apa yang anda lakukan?

Biasanya pengarang-lah yang melakukan sesuatu. Biasanya ia mengadu ke penerbit atau editor in chief. “Editor anda yang bernama si anu itu memang hebat. Tapi secara pribadi kami tak bisa cocok…”

Kalau hal seperti itu terjadi, apakah penerbit akan memberikan editor lain untuk mendampingi sang pengarang?

Tergantung. Tapi pada prinsipnya hal itu perlu dibicarakan baik-baik. Apalagi kalau pengarang itu adalah pengarang yang anda bina dan andalah yang membawanya ke penerbit dimana anda bekerja. Dalam karir saya di dunia penerbitan yang rada panjang ini, hal seperti itu pernah terjadi dua kali.

Apakah pekerjaan editor?

Pertama-tama, editor mencari dan mendapatkan naskah. Saya adalah editor yang agak ketinggalan zaman. Saya juga senang mengedit naskah. Jika saya menandatangani kontrak penulisan dengan seorang pengarang, maka saya juga yang mengedit naskah tersebut. Jika saya masih muda dan ingin menjadi “bintang” seperti yang dilakukan oleh para editor jaman sekarang, maka yang perlu saya lakukan hanyalah mencari sebanyak mungkin naskah dan menyerahkan proses pengeditannya kepada para editor lain.

Jika anda sudah mendatangani kontrak penulisan sebuah naskah atau buku, maka bagaimana proses editorialnya?

Dalam hal buku fiksi, maka biasanya saya menunggu sampai naskah tersebut selesai ditulis. Lalu saya akan membaca naskah itu seluruhnya. Tapi saya belum memberi komentar atau tanda di atas naskah tersebut. Saya merenungkannya. Kemudian saya membacanya lagi dan mencatat dengan teliti apa yang terjadi dalam setiap bab. Saya memang agak perfeksionis. Kemudian saya melihat buku catatan saya. Saya selalu menulis berbagai pertanyaan di buku catatan tersebut. Berdasarkan pertanyaan-pertanyaan itu saya menulis sebuah surat editorial kepada pengarang. Di dalam surat tersebut saya menerangkan bagian mana dari naskah tersebut yang saya rasa kurang baik, bagimana mengubah bagian itu, tokoh mana yang tak masuk di akal, apakah narasi atau uraiannya cukup; pokoknya segala hal yang membuat sebuah buku menjadi baik. Bila naskah yang telah diperbaiki itu kembali, maka saya akan membacanya sekali lagi. Biasanya naskah tersebut sudah baik. Tapi jika belum baik, maka saya akan kembali memberikan saran dan pertanyaan. Setelah itu, barulah naskah dikirim kepada copy editor.

Hal-hal apa saja yang anda minta dari pengarang untuk dilakukan di dalam surat editorial tersebut?

Saya meminta pengarang melakukan perbaikan. Biasanya pengarang tidak selalu keluar dari jalur. Biasanya mereka cukup baik; kecuali kekurangan di sana-sini. Ada pengarang-pengarang tertentu-terutama mereka yang menulis fiksi komersil, yang tidak punya pesan yang khas untuk disampaikan kepada pembaca, tapi yang sangat piawai dalam menulis-acapkali membutuhkan bantuan editor. Kepada mereka akan saya katakan, “Bagian ini tidak masuk di akal. Tokoh ini tidak boleh bertindak seperti ini. Di bagian ini perlu dimasukkan lebih banyak lagi tindakan.” Atau, kadang-kadang saya juga memberikan saran yang spesifik kepada mereka, “Mengapa orang yang selalu berbicara off-stage ini tidak anda masukkan saja sebagai tokoh yang ketiga?”

Apakah yang anda inginkan untuk dilakukan oleh pengarang?

Duduk dan menulis. Dan tulisan itu bukan sekedar mengatakan, tapi memperlihatkan. Mengatakan memang lebih mudah daripada memperlihatkan. Jika anda menulis, “Mary mengangkat gagang telepon dan menghubungi ayahnya. Ayahnya tinggal di Chicago. Tadinya ia adalah juru potong hewan, yang kemudian menjadi pengusaha daging kemasan, dan yang kemudian menjadi konglomerat,” maka inilah yang saya sebut sebagai mengatakan. Seharusnya pembaca bisa melihat ayah Mary melalui mata si penutur. Salah satu cara untuk mengukur apakah seseorang itu pengarang yang baik, ialah jika si pengarang memperlihatkan sesuatu kepada anda. Anda melihat sesuatu itu di dalam tindakan. Penulis yang baik tidak menulis secara hurufiah. Penulis yang baik tidak mengatakan, “Mary menatapnya dengan gembira”. Tapi biarlah melalui uraiannya si penulis bisa memperlihatkan kepada pembaca bahwa Mary memang gembira menatap laki-laki itu.

Pernahkah pengarang bersikeras untuk menolak saran yang anda berikan?

Ya. Adakalanya pengarang menolak melakukan perubahan yang saya usulkan. Kalau dipikir-pikir, sebuah buku memang milik pengarang , bukan milik editor. Pengarang seyogyanya mendengar apa yang dikatakan editor. Tapi, pada fihak lain, kalau apa yang diusulkan oleh editor itu sangat mengganggu sang pengarang, maka ia memang tak perlu harus mengikutinya.

Apakah keenggganan pengarang untuk melakukan perubahan bisa mengganggu penampilan sebuah buku?

Acapkali. Dan akibatnya bisa anda lihat ketika membaca resensi. Acapkali ketika membaca resensi kita menemukan kalimat yang berbunyi, “Buku ini membutuhkan penanganan seorang editor.” Berkali-kali kita meminta si pengarang agar membuang sebuah tokoh atau sebuah uraian dari naskahnya. Tapi ia berkata, “Tidak. Saya harus menulisnya menurut cara saya.” Akhirnya kita hanya bisa berkata, “Baiklah. Bagaimana pun buku ini memang buku anda…”

Apakah tugas editor yang paling sulit?

Menangani sebuah naskah yang kurang memuaskan dari seorang pengarang yang sudah terbukti baik dan memiliki reputasi. Saya bicara tentang buku fiksi komersil, bukan sastra. Editor telah mengusulkan berbagai saran, tapi sang pengarang hanya berkata, “Saya telah melakukan hal terbaik yang bisa saya lakukan.”

Tugas paling sulit berikutnya ialah menolak menerbitkan naskah dari seorang pengarang yang sangat kita kagumi. Baru-baru ini saya mengalami hal yang sama. Kami menerbitkan novel pertama sang pengarang. Novel itu luarbiasa baik. Tapi novelnya yang kedua sangat jauh di bawah novel yang pertama. Terpaksa saya harus mengatakan kepada pengarang, “Simpan saja naskah itu. Jangan terbitkan, karena ia akan menghancurkan karir anda. Tapi, saya mohon, jangan pula mencoba untuk menerbitkannya di tempat lain. Karir anda akan hancur. Simpan saja naskah itu di rak dan cobalah menulis hal lain yang anda senangi.”

Hal-hal apakah yang membuat anda senang terhadap seorang pengarang; tapi tidak senang terhadap pengarang yang lain?

Hal yang membuat saya senang terhadap seorang pengarang adalah karyanya dan kepribadiannya. Bahwa seorang pengarang selalu mengikuti apa yang saya minta, hal itu tidaklah serta merta-merta membuat saya menyenanginya.

Hal-hal apa pula yang membuat anda jengkel terhadap seorang pengarang?

Saya telah menghabiskan banyak waktu-kadang-kadang sampai sepuluh hari–untuk meneliti dan berpikir-pikir tentang sebuah naskah. Saya telah membuat sedemikian banyak catatan dan usulan tentang perbaikan naskah tersebut. Lalu, hanya dalam waktu tiga hari, si pengarang telah menyerahkan perbaikan naskah tersebut, dengan sedikit perubahan kalimat di sana-sini. Ini jelas bukan perbaikan. Dan ini menjengkelkan. Ketika anda telah berpikir keras tentang perbaikan sebuah plot, maka sang pengarang hanya berkata, “Aneh. Ini tak mungkin dan saya tak ingin melakukannya. Ini juga menjengkelkan.

Kadang-kadang kejengkelan itu terjadi begitu saja karena kepribadian yang tidak sesuai.

Pernahkah ada kasus ketika anda harus menyuruh pengarang pindah penerbit?

Pernah. Jika beberapa buku si pengarang yang anda terbitkan tak pernah sukses, maka walau pun anda menyenangi kepribadian si pengarang dan menyenangi buku-bukunya, maka anda terpkasa juga harus menyuruhnya mencari penerbit lain. Jika novel pertama terjual 7.500 eksemplar, lalu novel kedua terjual 3.500 eksemplar, maka kami akan berkata, “Tampaknya buku anda tidak jalan disini. Anda perlu mencari penerbit lain..” Lalu, dan ini acapkali terjadi, naskah berikut yang diterbitkan di penerbit lain itu menjadi bestseller. Sampai sekarang saya tidak mengerti apa yang membuat hal seperti ini terjadi. Mungkin juga waktu dan tempatnya yang tidak cocok.

Apakah ada lagi kasus lain ketika anda melepas sebuah buku dan buku itu menjadi bestseller?

Ya. Pernah ada pengarang yang kami lepas dan bukunya menjadi bestseller di tempat lain. Pengarangnya sangat membutuhkan uang. Kami menandatangi perjanjian dengan si pengarang untuk menulis sebuah kisah kriminal. Pengarang itu sedang meliput sebuah persidangan. Kami memberinya uang muka yang lumayan besar. Tapi di kemudian hari agen si pengarang datang kepada kami dan berkata, “Ia membutuhkan uang lagi. Dan tampaknya, kalau anda tak memberinya tambahan uang muka, ia tak bakalan menyelesaikan naskah tersebut.” Lalu salah seorang kolega saya editor berkata, “Hei, kami sudah menyokong pengarang ini selama tiga tahun. Kami sudah memberinya uang muka 35.000 dollar. Kami tak mungkin memberinya lebih banyak lagi. Silakan membawa proyekpenulisan itu ke penerbit lain. Nanti kalau si pengarang menerima uang muka, silakan mengganti apa yang telah kami bayar. Si agen dan si pengarang mencari penerbit lain. Dan ternyata di penerbit yang baru ini buku tersebut mengalami sukses besar. Memang, kami berhasil menerima apa yang telah kami bayarkan. Tapi, tentu saja, kami kehilangan kesempatan untuk mendapatkan keuntungan. Tapi apa mau dikata? Tak
mungkin bagi kami mengeluarkan uang terus-menerus, karena kami tak bisa meramalkan apa yang bakal terjadi.

Apakah ada saran lain yang ingin anda sampaikan kepada para pengarang?

Hendaklah pengarang mau mendengar apa yang dikatakan editor. Seyogyanya mereka mau menimbang-nimbang gagasan dan usulan editor.

Catatan:

1. Jackie Farber menjalani pendidikan universitasnya dalam bidang sejarah intelektual. Setelah tamat ia bekerja di perusahaan periklanan Gimbel di New York. Setelah menikah dan memiliki bebrapa anak ia memutuskan untuk berhenti bekerja penuh waktu dan mulai menjadi freelance editor. Kemudian ia kembali bekerja penuh waktu pada Bernard Geis Associates, sebuah penerbit (kini sudah tidak ada lagi) yang mengkhususkan diri dalam menerbitkan buku-buku best-seller dan yang memiliki nilai komersial. Menurut keterangan Jackie Farber, semua hal yang diketahuinya tentang seluk-beluk penerbitan buku, dipelajarinya semasa bekerja di Bernard Geis Associates. Disini ia bekerja selama 10 tahun; mulai dari editor kemudian menjadi senior editor. Kemudian Jackie Farber pindah ke Delacorte, lalu ke Morrow, lalu ke Random House, lalu kembali lagi ke Delacorte. Pada perusahaan yang terakhir ini ia menjabat sebagai vice president merangkap fiction editor sejak tahun 1988. Bidang garapannya adalah novel untuk wanita dan fiksi kriminal. Ia telah mengedit banyak buku best-seller, antara lain Pronto karya Elmore Leonard, Tunnel Vision karya Sara Partesky dan Whispers serta Daybreak karya Belva Plain.

Delacorte Press adalah sebuah perusahaan penerbitan yang telah berusia 30 tahun. Ia merupakan anggota yang sama besar dengan dua anggota lainnya yang berada di dalam kelompok penerbit Bantam Doubleday Dell. Dalam setahun Delacorte menerbitkan 66 judul buku hardcover. Dan hampir semua buku hardcover tersebut diterbitkan ulang dalam edisi paperback. “Kalau kami membeli naskah atau buku, maka kami membelinya untuk diterbitkan sebagai edisi harcover dan soft cover,” kata Jackie Farber. “Naskah atau buku yang saya beli, setelah diterbitkan oleh Delacorte biasanya akan diterbitkan lagi oleh Dell. Saya selalu berpikir komersial. Karena itu saya selalu berpikir antara Delacorte dan Dell.”

2. Tulisan ini diambil dari buku “Book Editors Talk to Writers”, sebuah buku kumpulan transkripsi wawancara tentang aspek editorial. Pewawancara dan Penyunting: Judy Mandell. Penerbit: John Wiley & Sons, Inc. Alihbahasa: Mula Harahap.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s