Video Itu, Saya, Keluarga dan Masyarakat

Oleh: Mula Harahap

Fenomena beredarnya video “mirip” Ariel Pieterpan dengan Luna Maya dan Cut Tari tiba-tiba menyadarkan saya betapa ukuran-ukuran moral sudah sangat berubah–di dalam diri saya dan di sekitar saya–sebagai akibat perubahan teknologi informasi dan komunikasi:

Kabar mengenai beredarnya video ini mula-mula saya ketahui ketika membaca beberapa situs berita di internet. Di dalam situs-situs tersebut ditamplkan pula “photo still” dari Luna Maya yang sedang berbaring sehingga membuat saya jadi sedikit “penasaran”. Tapi karena sejak lama saya sudah membangun sikap untuk tidak mau menonton orang yang memang tidak ingin ditonton, maka rasa penasaran itu bisa saya tekan.

Dulu ketika video “Bandung Lautan Asmara” dan “Yahya Zaini dan Maria Eva” beredar, sikap itu jugalah yang saya anut. Walaupun saya sudah tinggal “sejengkal” untuk bisa melihat video tersebut (baca: video itu sudah ada di ponsel kawan yang duduk di sebelah saya) tapi saya tetap tak mau melihatnya. Saya pikir-pikir, disamping alasan “fairness”, maka hal lain yang menyebabkan saya tak suka menonton video itu mungkin juga disebabkan karena saya tak suka kalau hal yang sama terjadi pada diri saya. (Dan “kayaknya” di Matius 7:12 ada ayat yang senada tentang itu). Dan begitulah urusan video Luna Maya menjadi terlupakan sepanjang sisa hari itu.

Tapi malamnya ketika saya sedang berbaring-baring membaca koran di kursi panjang, anak lelaki saya yang sedang membuka-buka internet di seberang saya nyeletuk, “Bapak, sudah nonton video Luna Maya, belum….?” Jawab saya kepada anak saya, “Belum…..” Lalu saya jelaskan pula kepadanya sikap moral saya untuk tidak suka mengintip atau menonton orang tanpa sepengetahuan dan seizin yang bersangkutan.

“Bapak,” kata anak lelaki saya itu pula, “Tapi Si Ariel ini memang suka untuk ditonton orang koq….” Lalu anak bercerita panjang-lebar tentang betapa–menurut informasi yang diperolehnya dari temannya sekantor–Ariel ini memang punya kebiasaan untuk merekam semua hubungan seksual yang dilakukannya dengan perempuan, lalu kemudian memutarnya di depan kawan-kawannya sambil tertawa-tawa.

Mendengar penjelasan anak saya itu, maka seraya bangkit menuju ke komputer saya pun berkata, “Kalau dia memang ingin untuk ditonton, yah sebagai orang yang menjunjung tinggi sopan-santun, tentu kita harus menontonnya……”

Tapi ketika saya melongok monitor komputer, ternyata yang saya lihat adalah sebuah situs penggemar fotografi. Karena itu saya bertanya, “Lha, mana….?” Kata anak saya, “Ada di USB saya, tapi ketinggalan di kantor. Kalau harus di-down-load di sini, lama sekali. Bapak cari sajalah link-nya di Google, dan down-load sendiri…”

Saya pun kembali meneruskan membaca koran sambil meperlihatkan sikap “nggak butuh-butuh amat”. Tapi ketika anak lelaki saya itu telah masuk ke kamarnya, tentu saja hal pertama yang saya lakukan adalah mencari link video tersebut di Google. Tapi karena saya adalah orang yang tidak terlalu paham dengan teknologi komputer, maka saya tak tahu bagaimana cara men-down-load video tersebut. Akhirnya saya sibuk membuka-buka Facebook.

Besok paginya–hari Sabtu–ketika anak lelaki saya keluar dari kamar, saya berkata padanya dengan–pura-pura–secara sambil lalu: “Bapak tak bisa men-down-load-nya tadi malam. Tolong bantu dulu……” Kata anak saya, “Ya, ntar deh…..”

Tapi sepanjang hari Sabtu itu anak saya pergi entah kemana. Dan dia belum sempat men-down-load video tersebut. Oleh karena itu, malam harinya, ketika sedang bermain Facebook, secara iseng-iseng saya menulis status: “Tadi pagi saya suruh anak saya men-down-load video itu. Katanya “ntar”. Tapi entah dimana dia sekarang. Memang anak jaman sekarang tak hormat pada orang tua….”

Karena isyu video sedang hangat dibicarakan dimana-mana, maka tentu saja atas status yang demikian saya mendapat banyak tanggapan. Ada yang bercanda, dan ada pula yang serius mengajari saya bagaimana cara men-down-load, dan ada pula yang mau menawarkan rekamannya kepada saya, asal saja saya mau mengambilnya di rumahnya. Tapi hal yang membuat saya terkesan ialah bahwa banyak sekali dari yang menanggapi status itu adalah warga gereja dan yang masih terhitung sebagai “ito”, “boru” atau “inangbao” saya. “Bah, sudah maju sekali jaman ini,” kata saya dalam hati.

Besoknya–hari Minggu pagi–ketika saya hendak pergi ke gereja, saya melihat anak saya sedang duduk di depan komputer. Sambil mengikat tali sepatu–dan mengesankan sikap yang “tak butuh-butuh amat”–saya kembali berkata kepada anak saya, “Eee, nanti jangan lupa, kau down-load-kan dulu video itu….” Dan siangnya, selesai kebaktian, ketika saya kembali menyalakan ponsel, saya menerima pesan SMS dari anak lelaki saya itu, “Sudah saya down-load. Nama filenya Luna Maya. Selamat menikmati….” Dan ketika video itu saya tonton, tentu saja di mata saya (lelaki yang berumur 56 tahun ini) tak ada hal yang terlalu istimewa lagi di sana. Dan urusan video selesai sampai di situ.

Besoknya–hari Senin pagi–ketika tiba di kantor dan menyalakan komputer, maka di layar monitor langsung muncul pesan chatting dari anak lelaki saya, “Bapak, sekarang ada seri video yang lebih baru lagi. Ariel dan Cut Tari. Ha-ha-ha-ha! Ini link-nya……..”

Ketika link tersebut saya buka, kembali saya mendapat kesulitan untuk men-down-load. Tapi kepada siapa saya harus minta tolong? Karena di kantor ini saya adalah orang yang terhitung pimpinan dan salah satu yang dituakan, terpaksalah saya diam-diam saja. Tapi siangnya, ketika saya berjalan ke kantin, saya melihat di berbagai meja di kantor yang besar ini para karyawan–lelaki maupun perempuan, tua maupun muda, dan yang saleh maupun yang kurang saleh–sibuk menonton, tertawa-tawa, tersenyum-senyum dan menelengkan kepala. “Ada apa sih?” tanya saya kepada suatu kumpulan orang dan ikut bergabung menonton.

Dan siangnya, saya memanggil seorang anak buah yang terkesan “paling porno”. Kata saya kepada anak buah itu, “Tolong dulu kau down-loadkan video itu ke komputer ini….”

Sorenya, salah seorang adik saya berkirim SMS kepada saya, “Bang Mula punya video itu, nggak? Kalau punya, tolonglah bagi kepada saya….” Sebenarnya abang yang paling langsung dari adik saya itu adalah Daniel Harahap. Tapi entah kenapa, dari dulu, kalau ada urusan yang “aneh-aneh” dia tidak pernah berhubungan dengan abang yang masih sepantarannya itu. Dia selalu mem-by-pass hierarki dan langsung berhubungan dengan saya, anak yang paling tua ini.

Disebabkan tak mau mengecewakan adik sendiri, dan juga disebabkan selalu ingin menjaga citra sebagai abang yang bisa diandalkan untuk segala hal, maka tentu saja–dengan berbagai cara–permintaan adik tersebut harus saya penuhi. Besok sorenya (Selasa) saya mampir di kantor Yakoma-PGI (Pelayanan Komunikasi untuk Masyarakat dari Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia). Kepada seorang staf yang sehari-harinya bekerja mengurusi produksi audio visual, saya berkata, “Tolong dulu cari disc kosong, dan kau pindahkan dulu ini ke disc tersebut…” Lalu sementara dia membawa komputer laptop saya ke dalam, saya duduk minum kopi di dapur.

Karena terlalu lama menunggu proses pemindahan rekaman dari komputer laptop ke disc, maka saya pun masuk ke kantor Yakoma. Ternyata semua karyawan (lelaki maupun perempuan, yang liberal maupun yang fundamental) sedang mengerubung di depan layar komputer. Dengan gaya “jaim” saya pun berkata, “Bagus. Bagus. Sebagai lembaga yang mengurusi media dan komunikasi, kita memang harus selalu tahu apa yang sedang terjadi di masyarakat….”

Bermacam-macam komentar karyawan yang menonton video tersebut. Seorang perempuan yang terkenal sebagai “pejuang feminist” menyeletuk, “Wuah, wuah, ini tidak bisa. Ini namanya kekerasan terhadap perempuan….” Lalu kawannya yang lain–seorang lelaki–menyeletuk, “Yah, memang musti keras. Kalau tak keras bagaimana hubungan bisa terjadi….” Lalu semua tertawa terbahak-bahak.

Malamnya di rumah, isteri menyeletuk entah kepada siapa, “Seperti apa sih video itu? Koq dimana-mana orang heboh sekali dbuatnya…” Rupanya dia “termakan” juga dengan pemberitaan di berbagai acara infotainment.

Mendengar celetukan isteri saya, tentu saja saya pura-pura berkata, “Saya pun tak tahu. Tanya sajalah anakmu……” Lalu isteri saya pun berkata kepada anak saya yang sedang asyik menonton teve, “Ya, Bang, seperti apa sih video itu? Kasih lihat dulu sama Mama….”

Anak saya–yang rupanya sedang sibuk menonton–tanpa banyak berkata-kata langsung beranjak mengambil komputer laptop saya dan menyalakannya. Kata anak saya, “Nih, sebenarnya ada di laptop suamimu. Nonton, deh…..” Setelah gambar itu muncul, dia pergi menjauh dan meneruskan menonton teve. Tinggallah saya bersama iseri saya.

Sepanjang menonton video tersebut, isteri saya yang lugu dan polos itu hanya sibuk berkata, “Ck-ck-ck-ck….” Tapi kemudian pada suatu kesempatan dia bertanya entah kepada siapa, “Lalu kapan mereka orgasme?” Kata saya kepadanya, “Yah, jangan tanya kepada saya. Mana saya tahu? Tanyalah kepada Luna Maya atau Cut Tari……” Kemudian lagi, pada kesempatan lain dia menyeletuk sendiri, “Akh, nggak hebat-hebat ‘kali pun saya lihat punya Si Ariel itu…..” Lalu kata saya kepadanya, “Ya. Tapi yang jelas dia bisa mendapat Luna Maya dan Cut Tari, sementara saya cuma bisa mendapat kau…..” Kata isteri saya lagi menimpali, “Kubunuh kau….”

Setelah selesai menonton, isteri saya kembali duduk di depan teve, disamping anak lelaki kami. Tiba-tiba dengan nada sangat serius dia berkata kepada anak itu, “Hei, jangan sekali-kali kau bikin video yang begitu, ya Bang? Kalau sampai ada videommu yang seperti itu dan beredar pula, Mama bisa mati berdiri…..” Kata anak lelaki saya pula dengan bercanda, “Wuah, nasehat Mama sudah terlambat. Saya sekarang justeru sedang kejar tayang…..” Isteri saya memekik, “Heh?!” Lalu kata saya kepada isteri saya, “Akh, jangan kau dengar ocehannya itu. Anak orang gila itu….”

Sementara kami sedang mengobrol-ngobrol di depan teve, tiba-tiba ponsel saya berdering. Di ujung sana terdengar suara adik saya Daniel Harahap. Dia seorang pendeta. Rupanya fenomena beredarnya video ini membuat dia juga bingung dan terpikir-pikir. Itu bisa saya mengerti. Apalagi, dia masih mempunyai anak-anak yang duduk di bangku SD, yang masing-masing punya ponsel, dan yang masing-masing memiliki akses ke internet. “Bagaimana ya untuk menghadapi fenomena yang seperti ini?” tanyanya. Lalu kata saya kepadanya, “Wuah, saya nggak tahu. Anak-anak saya sudah dewasa. Justeru merekalah sekarang yang pusing, bagaimana menjaga bapaknya dari bahaya fenomena yang seperti ini…..” [.]

4 responses to “Video Itu, Saya, Keluarga dan Masyarakat

  1. eddy herwanto

    Ha..ha…ha…! rupanya kau sudah dapatkan video menyenangkan itu. Bagaimana dengan gaya Cut Tari..? 🙂

  2. Lucu kali cerita Amang. Hal yang sama terjadi juga sama saya, bahkan ibu-ibu “par ari kamis” juga sibuk minta mau lihat itu video…..Itulah Amang akibat gencarnya media yang memberitakan kasus ini (dan kebebasan pers yang kebablasan).

  3. Hahahaa.. Tapi saya pikir, Amang, Indonesia ini sebenarnya belum hancur-hancur kalilah moralnya, sampai-sampai hal yang beginian musti diributkan sampai ke tingkat Presiden. Menurut saya kalau sampai hal-hal begini tidak lagi diributkan (dianggap umum/wajar) oleh masyarakat, maka justeru di situlah Presiden harus khawatir dan harus meributkannya..

  4. Wah, sayang sekali, pertahanan Anda untuk tetap menjaga ‘fairness’ jadi kebobolan nih…!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s