Ketika Ompung Mula Menunggui Gisella di Sekolah Minggu

Oleh: Mula Harahap

Sudah sejak beberapa bulan ini cucu saya Gisella (23 bulan) mengikuti sekolah minggu untuk kelas anak di bawah usia 3 tahun. Saya tidak tahu apa yang menjadi pertimbangan ibunya ketika mengikutkan anak yang masih sekecil itu dalam kelas sekolah minggu. Boleh jadi ibunya memang ingin agar sejak awal Gisella telah mendapatkan dasar-dasar kekristenan yang benar di dalam dirinya. Boleh jadi juga ibunya ingin agar Gisella mendapat kesempatan bersosialisasi dengan anak-anak sebayanya, setelah dari Senin sampai Sabtu hanya bergaul dengan orang-orang dewasa di rumah. Boleh jadi juga ibunya–sama juga halnya seperti ibu-ibu lain di dunia ini–ingin memamerkan kebolehan anaknya. Dan apa pun alasan ibunya, saya pikir, semua itu adalah sah-sah saja.

Selama Gisella mengikuti sekolah minggu maka ia sudah 2 kali tampil bernyanyi dalam kebaktian di gereja: Belasan anak di bawah 3 tahun dengan berbagai tingkah polah (dan dengan disertai oleh sejumlah baby-sitter atau orangtua yang berjongkok-jongkok di belakang mereka) berdiri di altar menyanyikan sebuah lagu yang kata-katanya berbunyi “Ke-a-es-i-ha….kasih. Kasih itu baik…., dan sebuah lagu berbahasa Inggris yang saya lupa kata-katanya. Dan sebagai ompung, saya juga tentu wajib untuk hadir (dan duduk di baris paling depan) dalam 2 kebaktian “istimewa” itu.

Gisela juga sudah pandai menyanyikan beberapa lagu di rumah; antara lain “Bapa terimakasih….” dan beberapa lagu lagi yang tak bisa saya ingat karena Gisella selalu menyanyikannya secepat kilat dan dengan pelafalan yang tak jelas.Gisella selalu pulang membawa gambar yang diwarnai atau ditempel, tapi yang warnanya atau tempelannya selalu keluar (atau tak pernah bisa memenuhi) bidang yang sudah dibatasi dengan garis tersebut. Gisella juga selalu bangga membawa pulang buku kehadiran dan aktivitas yang bentuk penilaiannya adalah tempelan satu gambar bunga atau kupu-kupu. Gisella juga sudah pandai berdoa. Maksud saya dengan pandai berdoa adalah, Gisella sudah bisa duduk diam beberapa saat sambil mengatupkan tangan (walaupun matanya jelalatan ke sana-ke mari) sementara ibunya atau ompung borunya melafalkan kata-kata doa sebelum makan, sebelum tidur atau sehabis tidur itu, dan ketika ibunya atau ompungnya tiba pada bagian yang mengatakan, “Terimakasih, Tuhan Yesus….” maka Gisella pun menyambarnya dengan mantap dan mengatakan, “Amin!”

Selama ini Gisella selalu ditemani di sekolah minggu oleh ibunya, ayahnya, Mbak Omah atau Mbak Nur, dan ompung borunya. Tapi kemarin, disebabkan oleh satu dan lain hal, Gisella ditemani oleh Ompung Mula. Jadi, begitulah, saya ikut duduk di bangku plastik yang sangat pendek itu, mendampingi Gisella. Di kiri kanan saya, ompung, ayah, ibu atau baby-sitter anak-anak lain juga melakukan hal yang sama: mendampingi, membesarkan hati dan mendorong buah hatinya masing-masing agar jangan takut dan untuk ambil bagian dalam apapun aktivitas yang diajarkan oleh Kakak Guru Sekolah Minggu.

Begitulah, selama menunggui Gisella bersekolah minggu, melihat tingkah-polah anak-anak kecil yang masih berusia di bawah 3 tahun itu, dan meresapi kelas yang “chaos” itu, berbagai pikiran muncul di kepala saya:

1. Tuhan itu adalah Tuhan yang mahakuasa. Kalau Dia mau, sebenarnya Dia bisa saja masuk ke dalam hati anak-anak yang berusia di bawah 3 tahun itu, memperkenalkan diri-Nya, kemudian–sebagai balasannya–anak-anak itu jadi mengenal-Nya, mengasihi-Nya dan percaya (beriman) kepada-Nya. Dengan cara demikian maka banyak sekali hal yang sebenarnya bisa dihemat: gereja tak perlu pontang-panting mengurusi departemen sekolah minggu, anak-anak muda gereja itu tak perlu bersusah-payah bangun pagi dan mengejar bus untuk bisa datang mengajar tepat waktu, dan ompung seperti saya tak perlu sakit punggung karena duduk di bangku plastik yang sangat kecil dan rendah.

2. Tapi rupanya untuk mengenal dan dikenal oleh Tuhan bukan begitu caranya. Anak-anak itulah yang harus lebih dulu mengenal dan “menjulurkan tangan” kepada Tuhan, dan barulah kemudian Tuhan balas menjulurkan tangan-Nya kepada mereka. Setelah itu barulah terjadi persahabatan, anak-anak itu menjadi percaya kepada Tuhan. Dan selama perkembangan anak-anak itu, dari kecil menuju dewasa, maka proses pengenalan, jatuh cinta dan percaya kepada Tuhan itu akan mengalami perkembangan pula.

3. Saya jadi teringat, bahwa ketika Gisella dibaptis maka salah satu pesan pendeta kepada orangtuanya ialah untuk mendidik Gisella agar mengenal Tuhan, mengasihi Tuhan, dan kemudian tiba pada waktunya menjadi percaya dan menyatakan kepercayaannya itu.

4. Proses Gisella mengenal Tuhan, mencintai Tuhan dan untuk kemudian menjadi percaya (beriman) kepada Tuhan ternyata adalah proses yang melibatkan pikiran dan perasaan. Dan apa yang sering dikatakan orang, yaitu bahwa iman tidak membutuhkan upaya pikiran dan perasaan, ternyata salah. Isi cerita, nyanyian, dan berbagai aktivitas yang diajarkan oleh Kakak Guru Sekolah minggu itu tentang apa, siapa dan mengapa Tuhan ternyata juga adalah hal-hal yang harus bisa dicerna oleh pikiran dan perasaan Gisella. Kakak Guru Sekolah minggu tidak pernah menceritakan hal-hal yang di luar jangkauan anak-anak kecil itu, dan ketika anak-anak itu bertanya lalu menjawab, “Itu adalah misteri Tuhan. Percaya saja, dan jangan pakai pikiran dan perasaanmu….”
Pikir saya, dus orang menjadi percaya (beriman) memang karena menggunakan pikiran dan perasaannya.

5. Doa-doa yang diajarkan oleh Kakak Guru Sekolah Minggu kepada Gisella juga bukanlah doa-doa meditasi dimana Gisella dan kawan-kawannya secara “mistis” bisa mengenali Tuhan. Doa-doa itu adalah doa-doa yang untuk mengertinya Gisella harus memakai pikiran dan perasaannya.

6. Saya tidak bisa menyelami pikiran dan perasaan Gisella. Saya tidak tahu sejauh mana kepercayaan (imannya) kepada Tuhan. Tapi yang bisa saya katakan ialah, kalau Gisella menemukan masalah-masalah dalam kehidupannya (kakinya tertusuk duri, mainannya diambil oleh anak yang lebih besar, dia ditinggal ibunya selama beberapa malam, perutnya lapar dsb) maka dia lebih banyak memanggil Mama Riri, Papa David, Mbak Omah atau Mbak Nur, dan Ompung Rieka atau Ompung Mula. Gisella belum pernah saya dengar mengatakan, “Oh, Tuhan alangkah sepinya hidup ini…..” (Tapi saya rasa itulah yang sehat. Kalau Gisella yang berumur 23 bulan itu sudah bisa memanggil Tuhan untuk mengatasi persoalan yang abstrak dari hidupnya, maka saya pasti akan menyuruh ibunya agar membawanya ke psikolog). Atau, kalaupun Gisella memanggil nama Tuhan untuk menjawab masalah-masalah dalam kehidupannya (kakinya tertusuk duri, mainannya diambil oleh anak yang lebih besar, dia ditinggal ibunya selama beberapa malam, perutnya lapar dsb) maka Tuhan yang ada dalam imajinasinya itu tidaklah lebih seperti orang-orang yang dikenalnya, yaitu Mama Riri, Papa David, Mbak Omah atau Mbak Nur, dan Ompung Rieka atau Ompung Mula

7. Saya pun tak tahu sudah sejauh mana Gisella mengenal Tuhan (Tuhan Yesus). Tapi saya pikir, pengenalan anak itu akan Tuhan pun masih sebatas hal-hal yang fisikal dan kasat mata. (Tentang wajah lelaki berambut gondrong, berjanggut dan berkumis yang ada di kertas kerja yang harus diwarnai dengan krayon itu dia selalu berkata, “Ini Ompung Mula…..”).

8. Sampai nanti Gisella sidi (umur 16 atau 17 tahun) proses mengenal, mencintai dan menjadi percaya (beriman) kepada Tuhan, tentu masih akan tetap didominasi oleh proses yang mengandalkan pikiran dan perasaan. Tapi saya pikir itu adalah hal yang wajar dan normal; apalagi kalau Gisella belum pernah bersentuhan dengan misteri-misteri seperti kelahiran, kematian, diperlakukan tidak adil oleh alam semesta, atau diperlakukan tidak adil oleh kehidupan.Dan saya pikir lebih jauh lagi, adalah hal yang normal juga bila dalam masa pertumbuhan itu Gisella (sama seperti ibunya dan tulangnya dulu, atau ompungnya dulu) bertanya berbagai hal yang mengganggu pikiran dan peraaannya: Siapa isteri anak Si Adam? Apakah dinosaurus juga ikut dalam bahtera Nuh? Kalau Yesus adalah benar Tuhan, mengapa Dia tidak loncat saja dari kayu salib itu dan membunuh semua orang yang jahat padanya? Dan saya pikir adalah tugas ayah-ibunya, tugas ompungnya (kalau kami masih hidup), tugas guru sekolah minggu, dan tugas pendeta untuk menjawab semua pertanyaan-pertanyaan itu dengan baik sehingga dia bisa mengenal, mencintai dan mempercayai Tuhan yang tak bisa lagi “dikutak-katik” oleh pikiran dan perasaannya.

9. Sejalan dengan pertambahan usia dan pengalaman hidupnya, Gisella juga tentu akan mengalami hal-hal yang tak bisa lagi dijelaskan oleh pikiran dan perasaannya sekeras apapun dia menggunakannya: Mengapa orang harus mati? Kemana kita sesudah mati? Mengapa orang baik harus menderita? Nah, pada saat itulah dia harus “meraba” Tuhan dengan cara lain: melalui meditasi, saat teduh, ibadah yang hening tapi khusuk dsb dan mendapat pemahaman bahwa Tuhan yang “dirabanya” dengan olah batin itu adalah juga Tuhan yang dirabanya dengan olah intelektual: Tuhan yang Maha Besar, Maha Kuasa, Maha Suci dan (ini yang lebih penting lagi) Maha Kasih.

10. Proses seperti yang diuraikan pada butir 7 itu biasanya kurang diperhatikan oleh gereja-gereja mainstream dan tadisional itu. Pada saat-saat seperti itu selalu ada bahaya bahwa Gisella akan bergabung dengan sekte-sekte Kristen yang “aneh-aneh” atau latihan-latihan spiritual berbayar di hotel-hotel oleh kelompok yang tak jelas aliran agamanya dan acapkali bermotifkan komersil. Dan demi untuk bisa “meraba” Tuhan yang diperkenalkan oleh kelompok-kelompok itu, acapkali pula Gisella harus mengingkari pikiran dan perasaan baik yang selama ini telah dibangunnya. (Nah, pada saat itu Ompung Mula pasti sudah tidak ada lagi di dunia ini). Oleh karena itu Gisella perlu membutuhkan bimbingan yang benar dari gereja mainstream dan tradisional itu agar ia mengenali, memahami, mencintai dan mempercayai (beriman) kepada Tuhan secara seimbang: intelektual, emosional dan spiritual.

Itulah pikiran saya sementara menunggui Gisella di sekolah minggu kemarin. Pikiran itu menjadi terputus ketika Kakak Guru Sekolah Minggu mengajak anak-anak berdiri serta menyanyikan lagu penutup. Lalu— bersama-sama dengan banyak ibu-ibu dan mbak-mbak lainnya–saya pun meninggalkan kelas sekolah minggu “batita” itu sambil menuntun Gisella berjalan menggendong sebuah “goody bag”, bingkisan dari seorang temannya yang sedang merayakan ulang tahun, dan bingkisan mana sering juga disebut oleh Kakak Guru Sekolah Minggu sebagai hadiah dari Tuhan [.]

One response to “Ketika Ompung Mula Menunggui Gisella di Sekolah Minggu

  1. Mengenal Tuhan dengan pikiran dan perasaan. Terima kasih Pak Mula karena telah berbagi tentang tingkatan pertumbuhan rohani seorang anak. Itu sangat berguna bagi saya dalam mendidik anak saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s