“Ibu Guru, bapak saya hebat, lho….”

Oleh: Mula Harahap

Buku-buku psikologi perkembangan anak sering mengatakan tentang petingnya seorang bapak menanamkan citra dirinya sebagai sosok yang kuat dan melindungi di mata anak lelakinya. Saya sadar sekali tentang hal tersebut dan selalu berusaha untuk menjadi demikian. Tapi–mungkin disebabkan karena terlalu sering menonton filem-filem kekerasan di teve–entah apa pun yang saya lakukan, anak lelaki saya itu selalu lebih memuji bapak orang lain. Dia terutama sangat kagum dengan tetangga kami yang disapanya sebagai “Oom Nas”. Kawan itu memang memiliki postur tubuh yang jauh lebih berisi daripada saya, dan dadanya ditumbuhi banyak bulu “pulak”.

“Bapak kalau berantam sama Oom Nas, menang siapa, ya?” tanyanya pada suatu ketika. Atas pertanyaan seperti itu tentu saja kepadanya saya mencoba menjelaskan bahwa orang dewasa tidak mengenal budaya “berantam”. Kalau ada persoalan sebaiknya diselesaikan dengan bicara baik-baik. Tapi saya tahu, anak saya pasti tidak puas mendengar jawaban seperti itu. Karena itu kepadanya saya katakan juga, “Tapi kalau memang harus berantam, yah Bapak karate saja dia. Ciat…ciat… ciat!” Sayapun berusaha memperagakan semacam jurus karate. Anak saya diam. Saya tak tahu apakah dia memang bisa menerima penjelasan saya, atau hanya menganggap saya berkhayal.

Pada kesempatan yang lain lagi, anak saya berkata, “Yah, kalau ada orang jahat masuk ke rumah ini, saya panggil saja Oom Nas…” Sebagai bapaknya tentu saja saya merasa “sakit hati”. Anak saya lebih mengandalkan bapak orang ain ketimbang bapaknya sendiri dalam berurusan dengan orang jahat.

Begitulah, sepanjang waktu anak saya hanya sibuk membanding-bandingkan bapaknya dengan lelaki lain dalam urusan-urusan fisik, sampai kemudian terjadilah sebuah peristiwa yang “menaikkan” citra saya dan membuat anak saya terkagum-kagum dengan saya:

Anak saya dulu bersekolah di TK Penabur Jalan Gunung Sahari. Setiap pagi adalah tugas saya unuk mengantarnya ke sekolah. Dan nanti pulangnya barulah dia diantar dengan mobil antar-jemput. (Sebenarnya anak itu juga bisa diantar ke sekolah dengan mobil antar-jemput. Tapi, ya itu tadi, demi mengikuti anjuran buku-buku psikologi perkembangan anak, saya berusaha untuk mengantarnya dan memakai waktu sepanjang perjalanan ke sekolah itu untuk bercakap-cakap tentang segala hal).

Hari itu kebetulan adalah hari HUT ABRI (TNI). Di markas Komando Armada Barat yang terletak di Jalan Gunung Sahari itu sedang berlangsung upacara. Karena itu Jalan Gunung Sahari ditutup, dan Provost sudah menahan atau membelokkan kendaraan dari berbagai arah agar jangan masuk ke Jalan Gunung Sahari. Saya turun dari mobil dan berbicara kepada Provost tersebut. Saya mengatakan bahwa saya harus mengantar anak kecil ini ke sekolahnya di Penabur, dan tak mungkin dia saya turunkan di mulut Jalan Gunung Sahari III dengan Jalan Bungur Raya ini lalu saya biarkan berjalan sendiri ke sekolah. Tentu saja atas argumen itu mobil saya diperbolehkan lewat.

Tapi rupanya di mata anak saya, tindakan saya itu sangatlah heroik. Begitu masuk ke kelas, dengan mata berbinar-binar, dia langsung bercerita kepada Ibu Gurunya: “Ibu Guru tahu, nggak? Bapak saya hebat, lho. Tadi bapak saya ngomong sama tentara. Tentaranya punya pestol lho, Ibu Guru. Terus mobil kami dikasih lewat. Nggak ada mobil orang lain yang dikasih lewat…” (Cerita ini saya dengar di kemudian hari dari Ibu Guru). Tapi di rumah pun dia begitu. Begitu turun dari mobil antar jemput, dia langsung berteriak kepada ibunya, “Mama, Bapak hebat, lho….”

Kini anak saya itu sudah dewasa. Dia tidak memerlukan lagi citra seorang bapak yang hebat bagi pertumbuhan jiwanya.Dalam banyak kesempatan dia justeru sering merasa sudah lebih bisa dan lebih hebat dari saya. Sebagai seorang bapak tentu saja saya bangga dengan perkembangan itu. Tapi sebagai seorang manusia, sesekali saya rindu juga untuk diakui dan dianggap hebat oleh anak lelaki saya.

Suatu kali, larut malam, anak saya pulang. Begitu masuk di rumah dia bercerita bahwa dia baru bertemu dengan seorang yang dikaguminya. Rupanya seniman itu juga mengenal saya. “Sepanjang percakapan kami tadi, dia banyak memuji-muji Bapak, lho,” kata anak saya. Hati saya mulai berbunga-bunga. “He-he-he,” kata saya menanggapi dan seperti pura-pura tidak terlalu perduli dengan omongannya.

“Kapan dan dimana kalian bertemu?” tanya saya lagi dengan penuh rasa ingin tahu.

“Tadi. Di sebuah bar di Jalan Jaksa….” jawab anak saya. Dan saya langung menjadi lemas. “Akh, omongan orang-orang mabuknya rupanya yang kudengar,” kata saya dalam hati seraya berjalan masuk ke kamar🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s