Category Archives: Kehidupan Diri Sendiri

“Ibu Guru, bapak saya hebat, lho….”

Oleh: Mula Harahap

Buku-buku psikologi perkembangan anak sering mengatakan tentang petingnya seorang bapak menanamkan citra dirinya sebagai sosok yang kuat dan melindungi di mata anak lelakinya. Saya sadar sekali tentang hal tersebut dan selalu berusaha untuk menjadi demikian. Tapi–mungkin disebabkan karena terlalu sering menonton filem-filem kekerasan di teve–entah apa pun yang saya lakukan, anak lelaki saya itu selalu lebih memuji bapak orang lain. Dia terutama sangat kagum dengan tetangga kami yang disapanya sebagai “Oom Nas”. Kawan itu memang memiliki postur tubuh yang jauh lebih berisi daripada saya, dan dadanya ditumbuhi banyak bulu “pulak”.
Continue reading

Advertisements

Video Itu, Saya, Keluarga dan Masyarakat

Oleh: Mula Harahap

Fenomena beredarnya video “mirip” Ariel Pieterpan dengan Luna Maya dan Cut Tari tiba-tiba menyadarkan saya betapa ukuran-ukuran moral sudah sangat berubah–di dalam diri saya dan di sekitar saya–sebagai akibat perubahan teknologi informasi dan komunikasi:

Kabar mengenai beredarnya video ini mula-mula saya ketahui ketika membaca beberapa situs berita di internet. Di dalam situs-situs tersebut ditamplkan pula “photo still” dari Luna Maya yang sedang berbaring sehingga membuat saya jadi sedikit “penasaran”. Tapi karena sejak lama saya sudah membangun sikap untuk tidak mau menonton orang yang memang tidak ingin ditonton, maka rasa penasaran itu bisa saya tekan.
Continue reading

Saya dan Facebook

Oleh: Mula Harahap

Kawan saya seorang Inggeris mengatakan bahwa kalau mereka naik kereta underground di London, maka mereka selalu berusaha untuk duduk tanpa bersentuhan dengan orang di kiri dan kanan, serta berusaha untuk menghindari kontak mata dengan orang di depan. Mereka selalu takut untuk mengganggu privacy orang lain, dan sebaliknya mereka juga tidak mau kalau privacy-nya diganggu. Bahkan pada jam-jam sibuk, ketika kereta sedang padat penumpang, mereka berusaha untuk menjaga “adat” tersebut.

Tapi kata kawan saya itu, hal yang sebaliknya berlaku di Indonesia. Kalau kita sedang naik kereta api, bus atau pesawat terbang kita selalu berusaha untuk melakukan kontak mata, senyum atau sapaan basa-basi dengan orang yang di sebelah atau di depan kita, untuk kemudian dilanjutkan dengan percakapan yang hangat dan intens. Kita tidak terlalu perduli kalau privacy kita diganggu, dan sebaliknya orang juga tidak segan untuk mengganggu privacy kita.
Continue reading

Cara Berpakaian yang Membuat Saya Merasa Nyaman dan Percaya Diri

Oleh: Mula Harahap

Saya selalu merasa nyaman dan percaya diri kalau memakai kemeja berwarna biru. Oleh karena itu, biar dibayar 1 juta rupiah pun, saya tak akan sanggup memakai kemeja warna merah jambu. Apalagi kalau krah dan ujung lengan kemeja itu berwarna lain–misalnya putih.

Sebagian besar dari kemeja saya adalah lengan panjang. Tapi entah kenapa saya tak pernah bisa membiarkan lengan kemeja itu menutupi seluruh tangan. Lengan itu selalu harus saya gulung sampai sebatas siku. Saya baru menurunkan lengan kemeja itu kalau memang situasinya menuntut saya untuk berpenampilan lebih formal.

Saya memang memiliki juga dua atau tiga kemeja lengan pendek. Tapi kemeja itu dulunya memiliki lengan panjang. Biasanya lengan panjang itu dipotong karena bahan kainnya dibutuhkan untuk mengganti bahan kantong dari kemeja yang sama; yang sudah “lecek” atau “retas” karena terlalu sering dimasuki oleh jari tangan.
Continue reading

Elek hamu jo borumuna on, Tulang…..

Oleh: Mula Harahap

Saya sedang duduk-duduk di kantin yang ada di sebelah gedung pertemuan Batak itu; menunggu kedatangan teman-teman semarga saya yang lainnya. Hari itu –dalam pesta pernikahan itu–saya berfungsi sebagai hula-hula atau tulang dari mempelai perempuan.

Sebenarnya mempelai perempuan adalah orang Minahasa, yang kemudian diberi marga S, dan diadopsi secara adat menjadi puteri dari ito saya (saudara sepupu saya dari ompung martinodohon) yang menikah dengan seorang lelaki marga S. Adapun mempelai lelakinya, yang bermarga G, sebagaimana yang biasa terjadi dalam adat Batak, tentu saja adalah “bere” dari ito dan lae saya tersebut. Tapi apakah ibu dari mempelai lelaki itu adalah saudara kandung atau saudara sepupu dari lae saya yang bermarga S itu, saya kurang tahu jelas.
Continue reading

Ulang Tahun Ibu

Oleh: Mula Harahap

Ketika di akhir tahun 1972 saya tamat SMA, kehidupan ekonomi keluarga kami sedang berada di titik nadir. Oleh karena itu saya tidak pernah berani membicarakan kepada ayah dan ibu tentang rencana melanjutkan sekolah. Padahal, di dalam hati, sebenarnya saya juga ingin seperti kawan-kawan melanjutkan sekolah di perguruan tinggi di Jakarta, Bandung, Jogja dsb.

Tapi pada akhir tahun itu, secara kebetulan, ulang tahun ompung saya dirayakan secara besar-besaran di Medan oleh anak-anaknya. Seorang namboru saya, yang bermukim di Jakarta, juga pulang ke Medan bersama suami dan anak-anaknya.

Rupanya kelanjutan sekolah saya menjadi pembicaraan antara namboru, amangboru, ayah dan ibu. Namboru menawarkan apakah saya mau ikut ke Jakarta untuk melanjutkan sekolah dan tinggal bersamanya. Tentu saja tawaran itu saya sambut dengan gembira, karena memang itulah keinginan saya, dan saya tak melihat jalan lain untuk bisa melanjutkan sekolah kecuali ikut dengan keluarga namboru.
Continue reading

Selamat Ulang Tahun

Oleh: Mula Harahap

Kami dibesarkan di dalam rumah yang tak mengenal budaya merayakan ulang tahun. Dulu kalau salah seorang dari kami berulang tahun, Ibu hanya berkata, “Oh, selamatlah, ya. Sudah tambah umurmu. Karena itu baik-baiklah kau….” Tidak ada pesta dan tidak ada kue tart. Karena itu kami sering terheran-heran kalau menghadiri pesta keluarga (pakai kebaktian segala) yang diadakan oleh namboru-namboru kami ketika salah seorang anaknya berulang-tahun.

Seingat saya hari ulang tahun paling istimewa yang pernah saya alami ketika masih tinggal dengan ayah, ibu dan adik-adik di Medan ialah ketika saya duduk di bangku SMP. Oleh ibu saya diberikan sejumlah uang yang bebas saya gunakan untuk apa saja. Uang itu saya belikan sebungkus rokok Dji Sam Soe untuk saya nikmati bersama kawan-kawan di sekolah dan buku “Merahnya Merah” serta “Ziarah” karangan Iwan Simatupang, yang saya baca sampai kepala pening karena tak kunjung bisa memahami apa maksud novel yang absurd itu.
Continue reading