Category Archives: Kehidupan Masyarakat

Video Itu, Saya, Keluarga dan Masyarakat

Oleh: Mula Harahap

Fenomena beredarnya video “mirip” Ariel Pieterpan dengan Luna Maya dan Cut Tari tiba-tiba menyadarkan saya betapa ukuran-ukuran moral sudah sangat berubah–di dalam diri saya dan di sekitar saya–sebagai akibat perubahan teknologi informasi dan komunikasi:

Kabar mengenai beredarnya video ini mula-mula saya ketahui ketika membaca beberapa situs berita di internet. Di dalam situs-situs tersebut ditamplkan pula “photo still” dari Luna Maya yang sedang berbaring sehingga membuat saya jadi sedikit “penasaran”. Tapi karena sejak lama saya sudah membangun sikap untuk tidak mau menonton orang yang memang tidak ingin ditonton, maka rasa penasaran itu bisa saya tekan.
Continue reading

Advertisements

Ranjang Pengantin

Oleh: Mula Harahap

Perjalanan naik bus pergi atau pulang ke Sumatera Utara selalu menyenangkan. Banyak sketsa-sketsa kehidupan yang menarik untuk diamati. Salah satunya seperti yang saya sajikan berikut ini:

Menjelang sore, bus Makmur yang saya tumpangi dalam perjalanan Medan-Jakarta, berhenti di sebuah kedai kopi di Siborong-borong untuk mendinginkan mesin, menaikkan penumpang baru, dan memberi kesempatan kepada penumpang lama beristirahat. Saya duduk minum kopi semeja dengan sang supir.

Sebagaimana diketahui dalam sistem pengelolaan bus di Sumatera Utara, supir tidak mempunyai wewenang apa pun dalam pengambilan keputusan untuk menerima penumpang. Wewenang tersebut ada pada cincu sebagai wakil sang pemilik bus, dan calo setempat. Karena itu ketika melihat sebuah tempat tidur dinaikkan di atap bus, sang supir teman saya minum kopi itu hanya bisa mengernyitkan kening.
Continue reading

Oh, Salon!

Oleh: Mula Harahap

Pada malam menjelang hari pemberkatan dan pesta pernikahannya, puteri saya menginformasikan kepada saya, bahwa pada jam 02.00 dinihari nanti dia sudah harus berada di salon. Rupanya puteri saya dan calon ibu mertuanya sudah membuat kesepakatan, bahwa puteri saya, isteri saya, calon ibu mertuanya, calon iparnya dan seorang gadis “pandongani” akan didandani di sebuah salon yang sama.

“Apa?” tanya saya, “Jam dua dinihari pergi ke salon? Apakah tidak bisa pergi ke salon jam enam? Tokh acara baru akan dimulai jam sembilan. Kita ini mau berpesta atau cari penyakit?”

“Soalnya yang akan didandani di salon itu bukan hanya kami, Pak,” kata puteri saya. “Banyak orang-orang lain yang akan didandani di sana.”

“Lalu, mengapa pula kalian harus memilih didandani di salon yang ramai seperti itu?”

“Katanya, salon ini terkenal baik di kalangan perempuan-perempuan Batak, Pak,” kata puteri saya lagi.

Continue reading

Profesi dan Panggilan

Oleh: Mula Harahap

Bila dilihat dari akar katanya “profesi” itu adalah pengakuan kepada publik. Pengakuan seseorang kepada publik tentang keahlian dan kompetensi yang dimilikinya terhadap aspek kehidupan tertentu. (Dan sebaliknya tentu, pengakuan publik terhadap keahlian
dan kompetensi yang dimiliki seseorang itu).

Dalam kehidupan modern ini sewajarnyalah kalau seseorang harus bisa hidup dari keahlian dan kompetensi yang dimilikinya. Sebab hanya dengan demikianlah ia semakin bisa mengembangkan keahlian dan kompetensinya, dan memajukan peradaban.

Profesi (pendeta, arsitek, penulis, dokter, pengacara, guru dsb) bukan sekedar “cari makan” atau “numpang hidup”. Kalau seseorang memiliki suatu keahlian atau kompetensi tertentu, tapi demi untuk “cari makan” atau “numpang hidup” ia terpaksa harus melakukan pekerjaan lain, maka pekerjaan itu tidak bisa disebut sebagai profesinya, dan dia bukan seorang profesional.

Continue reading

Tentang Memakai “Senjata Yang Satu Itu”

Oleh: Mula Harahap

Dari sejarah kita belajar bahwa untuk bisa menaklukkan sebuah masyarakat, etnis atau bangsa secara efektif, maka disamping memakai tombak, pedang, pistol atau peluru kendali yang biasa; maka kita juga perlu memakai (tergantung dari bentuknya) tombak, pedang, pistol atau peluru kendali yang “satu itu”.

Orang-orang Spanyol tahu benar akan hal itu. Ketika pada abad ke-15 atau 16 mereka menaklukkan Amerika Tengah dan Selatan, maka “senjata yang satu itu”-lah sebenarnya yang lebih banyak menyalak. Hasilnya kita sama-sama tahu: Sebuah Amerika Tengah dan Selatan yang berbudaya Spanyol, yang selama berabad-abad “pasrah bongkokan” kepada Raja dan Ratu Spanyol, dan yang
lelaki serta perempuannya ganteng-ganteng dan cantik-cantik seperti yang banyak terlihat di telenovella itu

Continue reading

Patung-patung Gubernur Sutiyoso

Oleh: Mula Harahap

Gubernur DKI Sutiyoso merencanakan hendak membangun tiga puluh patung pahlawan di Jakarta. Di titik-titik tertentu pada jalan yang memakai nama pahlawan, akan dibangun patung penyandang nama jalan tersebut. (Seukuran patung Pemuda di Bundaran Senayan–Si
Singamangaraja!).

Kata Sutiyoso, patung-patung itu perlu didirikan agar generasi muda tidak melupakan pahlawannya.(Lho, guru-guru kita di SD, SLTP dan SLTA yang rapel gajinya ditunda-tunda itu; apa saja kerja mereka selama ini?)

Continue reading

Saya dan Lagu Dangdut

Oleh: Mula Harahap

Saya rasa, ada beberapa faktor yang membuat saya menyenangi sebuah lagu populer seperti dangdut. Faktor yang pertama adalah melodi. Melodinya tentu harus enak terdengar di telinga. Dan karena saya adalah orang kebanyakan, maka melodi itu tak perlu selalu harus berkaitan dengan kaidah seni.

Ukuran “enak” itu memang sukar untuk dirumuskan. Tapi–paling-tidak– melodi itu janganlah rumit-rumit amat, seperti lagu seriosa. Cukuplah ada empat atau lima baris rangkaian nada yang bisa saya nyanyikan sebagai “batang tubuh” lagu tersebut. Lalu empat atau lima
baris rangkaian nada lagi sebagai refrein. Bagaimana pun, saya menyanyi hanya untuk menghibur diri; bukan untuk mendapat nilai tinggi agar lulus ujian, atau mendapat pujian dari kritikus musik.

Continue reading