Cara Berpakaian yang Membuat Saya Merasa Nyaman dan Percaya Diri

Oleh: Mula Harahap

Saya selalu merasa nyaman dan percaya diri kalau memakai kemeja berwarna biru. Oleh karena itu, biar dibayar 1 juta rupiah pun, saya tak akan sanggup memakai kemeja warna merah jambu. Apalagi kalau krah dan ujung lengan kemeja itu berwarna lain–misalnya putih.

Sebagian besar dari kemeja saya adalah lengan panjang. Tapi entah kenapa saya tak pernah bisa membiarkan lengan kemeja itu menutupi seluruh tangan. Lengan itu selalu harus saya gulung sampai sebatas siku. Saya baru menurunkan lengan kemeja itu kalau memang situasinya menuntut saya untuk berpenampilan lebih formal.

Saya memang memiliki juga dua atau tiga kemeja lengan pendek. Tapi kemeja itu dulunya memiliki lengan panjang. Biasanya lengan panjang itu dipotong karena bahan kainnya dibutuhkan untuk mengganti bahan kantong dari kemeja yang sama; yang sudah “lecek” atau “retas” karena terlalu sering dimasuki oleh jari tangan.
Continue reading

Advertisements

Anas itu, Esbeye banget….!

Oleh: Mula Harahap

Idealnya sebuah partai politik dibentuk karena tujuan ideologis. Dengan kata lain, karena saya memiliki pandangan tertentu tentang cara bagaimana negara ini diselenggarakan, maka saya menggabungkan diri dengan orang-orang yang memiliki pandangan yang sama dengan saya. Melalui penggabungan tersebut maka kami berharap akan bisa memperoleh legitimasi yang demokratis untuk berkuasa (atau ikut berkuasa) dalam penyelenggaraan negara. Dan legitimasi kekuasaan tersebut tentu saja kami (partai) peroleh dari kawan-kawan yang memiliki pandangan yang sama dengan kami, dan yang memberikan suaranya kepada kami dalam pemilihan umum.

Hakekat partai seperti tersebut di atas seyogianya berlaku di semua negara demokratis; di AS, Jepang, Rusia dan Indonesia. Tapi setelah Reformasi, dan setelah Indonesia memilih bentuk perpolitikan yang demokratis, saya justeru melihat banyak partai yang tak jelas ideologinya. atau terkesan hanya sebagai kumpulan orang-orang yang ingin berkuasa tanpa perduli bagaimana sebenarnya negara ini harus diselenggarakan.
Continue reading

Apa yang Akan Dilakukan Penerbit Setelah Buku Terbit

Oleh: Robert Weil

Hal apa saja yang bisa dilakukan oleh penerbit untuk mempromosikan bukunya?

Penerbit bisa memasang iklan. Penerbit bisa mengirim pengarang untuk sebuah tur promosi. Semua hal bisa dilakukan penerbit, tergantung dari jenis bukunya, pengarangnya dan target pembacanya. Tapi yang bisa saya katakan ialah bahwa pengarang janganlah terlalu berharap akan penerbit yang mau membelanjakan banyak uang dalam promosi. Dewasa ini biaya untuk tur pengarang ke 12 kota bisa menghabiskan biaya sampai 20.000 dolar. Dan di banyak perusahaan penerbit ini berarti bahwa tur pengarang hanya bisa diselenggarakan terhadap sedikit judul saja. Dewasa ini, di banyak perusahaan, yang mendapat anggaran promosi yang besar adalah buku yang memakan biaya besar dalam produksi. Dalam kasus buku fiksi, maka seberapa luas pembaca buku tersebut, juga bisa menjadi bahan pertimbangan.
Continue reading

Book Packager: Apa Yang Mereka Lakukan Untuk Pengarang dan Editor?

Oleh: Sandra J. Taylor

Ada berapa book packager di AS ?

Lebih dari seratus. Dan ini bisa dilihat di dalam buku Literary Market Place.

Dari seluruh judul buku yang terbit setiap tahun di AS, ada berapa yang dihasilkan oleh “packager”?

Pada tahun 1990 tercatat bahwa satu dari setiap enam buku yang terbit di AS dikerjakan secara paket (packaging) oleh book packager. Dan hal ini tampaknya sudah menjadi praktek yang semakin luas di industri penerbitan AS.

Menurut pendapat anda, apa yang menyebabkan praktek book packaging semakin meluas?

Kita sudah mengenal praktek book packaging sejak 20 tahun yang lalu. Dan tampaknya praktek ini akan semakin meluas. Praktek ini memampukan penerbit untuk menerbitkan lebih banyak judul buku setiap tahun. Praktek ini juga menyebabkan sebuah imprint atau penerbit baru bisa muncul dan berkembang dalam waktu yang relatif singkat.
Continue reading

Book Packager: Sudut Pandang Seorang Editor

Oleh: Sarah Dunn

Apakah book packager?

Book packager adalah seseorang yang menangani sebagian dari pekerjaan menerbitkan buku yang biasanya dilakukan di dalam perusahaan penerbitan, misalnya substantif editing, copy editing, desain, layout dan membuat indeks. Saya juga pernah berhubungan dengan packager yang datang menawarkan proposal. Lalu ia jugalah yang mengusahakan naskah itu sampai selesai ditulis, mengeditnya dan menyerahkannya dalam keadaan siap cetak. Dewasa ini book packager disebut juga juga book producer. Kadang-kadang mereka juga mempekerjakan orang lain lagi untuk mengedit, mendesain atau melayout naskah tersebut. Jadi, mereka tidak harus
mengerjakannya sendiri. Pokoknya, mereka menyerahkan package (paket) jadi.
Continue reading

Membangun Hubungan Editor-Pengarang

Oleh: Jackie Faber

Bagaimana cara membangun hubungan editor-pengarang?

Sama saja seperti membangun hubungan antara dua fihak di mana pun. Harus ada editor yang mendukung dan-pada saat yang bersamaan-juga tegas dalam menjaga pengarang agar tetap berada dalam jalur yang benar. Saya adalah editor yang telaten, tidak hanya dalam menangani naskah, tapi juga dalam menangani pengarang sebagai manusia. Saya mengenal dan menyenangi mereka. Sebaliknya mereka juga mengenal dan menyenangi saya. Begitulah cara kerja saya.

Bagaimana jika pola hubungan itu tidak terwujud?

Jika pola hubungan itu tidak terwujud, suatu naskah tetap saja bisa menjadi buku yang baik jika editornya memang baik. Tapi saya suka menganggap para pengarang saya sebagai sahabat. Jika hubungan terlalu impersonal ada saja kemungkinan pengarang tidak merasa bahagia dengan editornya, atau sebaliknya editor tidak merasa bahagia dengan pengarangnya.
Continue reading

Publisitas Dalam Penerbitan Buku Umum

Oleh: Esther Margolis

Para penanggung jawab publisitas di dalam perusahaan penerbitan tak ubahnya seperti ‘mak comblang’. Tapi alih-alih menghubungkan lelaki dan perempuan menjadi sepasang suami-isteri; mereka mencoba menghubungkan buku dengan kontak-kontak mereka di media massa. Keberhasilan dan kepuasan mereka adalah ketika mereka berhasil membangkitkan minat para reporter, penulis kolom gosip, penulis resensi buku, produser radio atau televisi, editor majalah dan fihak-fihak lain yang memiliki akses terhadap saluran komunikasi (yang berarti juga adalah akses terhadap publik).

Terlepas dari cara yang mereka lakukan dalam membangkitkan minat kontak kontak mereka di media massa tersebut–melalui obrolan ketika makan siang di restoran, makan malam dan minum koktail di sebuah jamuan, atau melalui obrolan telepon, surat-menyurat lewat pos, internet atau burung merpati–tapi tugas yang mereka emban dalam proses pemasaran
Continue reading