Tag Archives: facebook

Saya dan Facebook

Oleh: Mula Harahap

Kawan saya seorang Inggeris mengatakan bahwa kalau mereka naik kereta underground di London, maka mereka selalu berusaha untuk duduk tanpa bersentuhan dengan orang di kiri dan kanan, serta berusaha untuk menghindari kontak mata dengan orang di depan. Mereka selalu takut untuk mengganggu privacy orang lain, dan sebaliknya mereka juga tidak mau kalau privacy-nya diganggu. Bahkan pada jam-jam sibuk, ketika kereta sedang padat penumpang, mereka berusaha untuk menjaga “adat” tersebut.

Tapi kata kawan saya itu, hal yang sebaliknya berlaku di Indonesia. Kalau kita sedang naik kereta api, bus atau pesawat terbang kita selalu berusaha untuk melakukan kontak mata, senyum atau sapaan basa-basi dengan orang yang di sebelah atau di depan kita, untuk kemudian dilanjutkan dengan percakapan yang hangat dan intens. Kita tidak terlalu perduli kalau privacy kita diganggu, dan sebaliknya orang juga tidak segan untuk mengganggu privacy kita.
Continue reading

Advertisements

Perasaan dan Pikiran Saya di Seputar Pemunduran Sri Mulyani

Oleh: Mula Harahap

Saya bukan politisi dan tidak memiliki kontak-kontak dengan para politisi Indonesia. Oleh karena itu dalam menganalisa berita di media massa, saya lebih banyak mengandalkan tontonan atau bacaan yang tersurat maupun yang tersirat dari media massa itu sendiri. Dalam menganalisa perpolitikan di seputar Sri Mulyani ini pun halnya demikian.

Ketika Pansus Hak Angket sedang hangat-hangatnya bersidang dan memeriksa Sri Mulyani, saya membaca di sebuah media massa berita kecil tentang pertemuan yang diselenggarakan oleh Sri Mulyani di Hotel Darmawangsa. Pertemuan tersebut adalah pertemuan santai-santai. Diberitakan oleh media massa itu bahwa Sri Mulyani sedang bersantai-santai dengan sahabat-sahabatnya: makan, menyanyi dan menguatkan Sri Mulyani dalam masalah politik yang sedang dihadapinya.
Continue reading

Antara Jamuan Cocktail dan Pesta Batak di Gedung Hermina atau Kolpatarin Itu

Oleh: Mula Harahap

Saya adalah anggota yang cukup aktif dari sebuah milis yang mayoritas angotanya adalah orang-orang Batak. (Sebuah milis yang membicarakan tentang Tuhan dan adat “pulak”. Bayangkanlah bagaimana gegap-gemptanya). Tapi setelah bertemu dengan Facebook kehadiran saya di milis tersebut memang menjadi kurang intensif. Beberapa kawan saya, anggota milis tersebut, rupanya melihat juga apa yang terjadi atas diri saya, dan mengeluarkan komentar atau guyonannya. Kepada mereka saya mengatakan bahwa ini adalah yang sangat biasa dan manusiawi: Semua orang akan asyik-masyuk dengan “barang baru”.

Tapi setelah 2 bulan menjadi anggota Facebook, saya rasa, saya sudah menemukan keseimbangan. Saya sudah tahu kelemahan dan kelebihan Facebook dibandingkan dengan media yang lainnya (milis dan blog).

Facebook itu ternyata adalah media untuk bertegur-sapa. Disebabkan oleh banyaknya feature yang ditawarkan olehnya, maka perhatian orang menjadi terbelah. Orang tidak punya waktu dan tidak suka berkomunikasi secara intens di Facebook.
Continue reading