Tag Archives: keadilan sosial

Anggaran Belanja Negara, Daya Stimulusnya dan Pemerataan serta Keadilan bagi Rakyat

Oleh: Mula Harahap

Bahwa belanja pemerintah melalui APBN bisa menjadi stimulus bagi kegiatan dan pertumbuhan ekonomi negara, itu saya setuju. Dengan kata lain, uang yang dibayarkan Pemerintah kepada seorang kontraktor gedung sekolah, akan dipakai oleh kontraktor itu untuk membayar tukangnya, dan uang yang diperoleh tukang itu akan dipakainya untuk membayar baju seragam anaknya kepada seorang pedagang di pasar, dan uang yang diperoleh pedagang di pasar itu akan dipakainya untuk mencicil pembelian rumahnya kepada seorang pengembang, dan uang yang diperoleh pengembang itu akan dipakainya untuk makan ayam goreng, dst. dst.

Tapi saya pikir daya stimulus itu baru bisa berjalan dengan baik kalau dalam pembangunan ada asas keadilan dan pemerataan. Kalau kontraktor yang membangun gedung sekolah itu hanya terpusat di satu atau sedikit kelompok konglomerasi (misalnya hanya Keluarga Bakrie, Keluarga Eka Cipta Wijaya, Keluarga James Ryadi
dsb) dan toko baju seragam dan warung ayam goreng itu juga hanya terpusat di satu atau sedikit konglomerasi (atau yang lebih parah lagi, konglomerasi yang sama dengan yang membangun gedung sekolah itu), maka uang itu hanya menggumpal di sedikit tempat, tidak mengalir kemana-mana, dan–ibarat oli–tidak memutar seluruh sistem.

Continue reading

Advertisements

Muhammad Yunus dan Kita

Oleh: Mula Harahap

Kedatangan Muhammad Yunus, dan kedatangan ekonom Peru Hernandez de Soto beberapa waktu yang lalu, membuat saya sedih dan tiba pada kesimpulan bahwa ternyata pendidikan kita telah gagal untuk menghasilkan pemimpin dan ilmuwan yang mengerti persoalan bangsanya, dan mampu melakukan sesuatu terhadap persoalan tersebut.

Kita–terutama para pengambil keputusan politik dan para ekonom–mengundang Muhammad Yunus dan Hernandez de Soto untuk mengajari kita tentang apa yang harus kita lakukan terhadap kemiskinan di Indonesia. Lalu kita manggut-manggut.

“Kemana saja kalian selama ini?” Barangkali itulah pertanyaan yang paling tepat untuk kita ajukan kepada para pengambil keputusan politik dan ekonom yang berkantor di puncak-puncak pencakar langit Jakarta itu.

Continue reading